My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Paket tak Dipesan



Akhir-akhir ini Arini selalu mendapatkan paket, baik berupa makanan, bunga, mainan untuk Azzam dan lainnya.


Yang membuat Arini bingung adalah paket tersebut tidak pernah ia pesan, tapi kenapa selalu terkirim atas namanya.


Hari pertama paket itu datang, Arini sudah menolaknya dengan tegas bahwa ia tidak pernah memesan paket itu dan ia juga dengan tegas tidak ingin menerimanya karena tidak tahu paket itu dikirim oleh siapa.


Tapi kurir yang mengantarkan paket itu tetap kekeuh dengan pendiriannya, bahwa Arini harus menerima paket itu karena nama dan alamat semuanya benar tertuju pada Arini. Dan akhirnya Arini menerima paket itu dengan terpaksa.


Yang membuat Arini lebih bingung lagi adalah paket itu selalu bertuliskan 'Forgive me' di setiap barang yang diterimanya.


Tok... tok...


Pintu rumah itu diketuk, dan dengan segera Arini yang mendengarkannya langsung membukakannya. Terlihat sesosok lelaki yang tak asing lagi bagi Arini dengan barang kiriman yang entah dari siapa yang selalu setia diantarkannya. Ya... dia adalah orang yang akhir-akhir ini selalu mengantar paket barang-barang itu.


Arini memutar jengah bola matanya, "Bisakah kau tidak mengantarkan paket-paket ini satu hari saja?" Ujar Arini mulai risih akan semua kiriman-kiriman ini, seraya menerima barang kiriman dari tangan kurir.


"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas." Jawab kurir itu, menyodorkan sebuah buku berukuran kecil untuk Arini tanda tangani. Arini menerima buku itu, lalu menandatangani nya.


Walau ada perasaan risih dan jengkel, Arini tetap sempat untuk mengucapkan terima kasih pada kurir yang telah mengantar barang-barang ini. Lalu ia pun masuk ke dalam rumah.


Baru saja Arini menutup pintu rumahnya, kembali pintu itu diketuk, dan lagi-lagi Arini pun membukakannya.


"Ada apa lagi?" tanya Arini yang mengira lelaki kurir tadi yang mengetuk.


"Maaf Nona, saya ingin mengantarkan paket atas nama Arini Kurniawan." Jawab orang yang mengetuk pintu itu yang tak lain adalah kurir yang berbeda. "Apakah Anda yang bernama Arini Kurniawan?" lanjutnya lagi bertanya.


"Ya, saya sendiri. Tapi maaf, sepertinya saya tidak memesan buket bunga itu." Kata Arini menolak menerima paket berupa buket bunga mawar merah besar.


"Tapi, nama dan alamat semuanya tertuju di sini Nona." Ujar kurir itu.


Arini menghembus napas panjang, "Paket dari siapa lagi ini?" runtuk Arini dalam hati, lalu terpaksa kembali menerima paket yang entah dikirim oleh siapa.


Arini masuk dengan membawa semua barang-barang yang baru saja di terima nya itu. Cukup susah bagi Arini untuk membawa kedua barang itu karena ukuran bunga yang sangat besar.


"Wow... wow... paket lagi?" Tanya Arumi yang melihat kakaknya masuk membawa kedua barang itu.


"Ya... seperti biasa." Jawab Arini meletakkan buket bunga dan sebuah paket yang belum ia buka.


"Apa orang itu tidak bosan mengirimkan semua ini?" tanya Arumi memerhatikan buket bunga dan paket yang masih rapi dengan bungkusannya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Arini tidak peduli.


"Hmmm... coba kita lihat isinya." Ujar Arumi membuka paket yang masih terbungkus. Arini acuh tak acuh saja melihat Arumi yang membuka bungkusan itu.


"Tu, kan. Paketnya berisi kata-kata maaf lagi." Kata Arumi yang hanya fokus dengan secangkir kertas tulisan maaf itu, mengabaikan barang dalam bungkusan yang sudah di bukannya.


"Eh... kok ini nggak ada tulisan maafnya?" tanya Arumi yang kini fokus menelisik sebuket bunga mawar besar.


Arini yang sedari tadi tidak terlalu memedulikan kegiatan Arumi, kini ikut menelisik sebuket bunga mawar itu. Ikut mencari secangkir kertas maaf yang biasanya ada di setiap barang yang diterimanya.


"Aneh, kok kertasnya nggak ada." Gumam Arumi yang masih mencari.


"Hm, memang tidak ada." Ujar Arini kemudian, mengingat paket itu diantar oleh kurir yang berbeda.


"Kok bisa, biasanya kan selalu ada." Ujar Arumi.


"Ya, bisalah. Kan kurir yang antar tadi berbeda." Jawab Arini kembali acuh.


"Ooo... pantas saja." Arumi mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi kakak tahu siapa yang kirim buket bunga ini?" tanya Arumi lagi. Arini mengangkat bahu tidak tahu dan tidak peduli.


"Diincar apa maksud mu." Arini menolehkan kepalanya pada Arumi.


"Ya... diincar jadi calon pendamping hidup mungkin." Ujar Arumi blak-blakan.


"Apa sih kamu, kakak aja nggak pernah terlalu kenal dan dekat sama laki-laki. Kalau pun kenal itu hanya teman bisnis dan tidak terlalu dekat."


"Justru itu. Karena kakak nggak pernah dekat sama laki-laki, jadi mereka ngincar tuh." Ujar Arumi menggoda kakaknya. "Apa lagi yang kirim sebuket bunga mawar besar itu, pasti dia ngincar bangat." Lanjut Arumi yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari sang kakak.


"Hahaha... silakan tingkatkan lagi usaha mu untuk melukai ku kak." Arumi dengan sigap menghindar dari lemparan itu sambil tertawa ngakak karena sudah berhasil menggoda dan membuat kakaknya kesal.


"Arumi Kurniawan...." Teriak Arini merasa kesal dibuatnya.


"Hahaha...." Kembali Arumi tertawa, berlari meninggalkan sang kakak di ruang tamu.


*****


"Bagaimana? Apa kalian sudah mengirimkan apa yang aku minta?" tanya seorang pria di seberang telepon.


"Sudah, Tuan. Dan langsung diterima oleh Nona Arini sendiri." Jawab orang yang diperintahkan oleh pria tersebut, yang tak lain adalah kurir yang mengantarkan paket pada rumah Arini.


"Bagus." Ucap pria itu tersenyum senang. "Terus kirimi dia sebuket bunga mawar besar itu setiap hari sampai aku sendiri yang datang mengirimkan padanya, baru kalian bisa berhenti mengirim." Lanjutnya lagi memerintah.


"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan sesuai perintah." Timpal lelaki kurir itu menyetujui perintah Tuannya, lalu satu dua kalimat kemudian telepon terputus.


"Arini, tunggu aku. Sebentar lagi aku akan datang menemui mu dan juga Azzam." Gumam pria yang mengirim sebuket bunga mawar itu. "Oh, sudah sebesar apa Azzam sekarang. Pasti dia sudah semakin lucu dan menggemaskan." Gumamnya lagi, kembali tersenyum senang.


"Hmm... jadi teringat masa itu, ketika kita bertiga bermain bersama." Ujarnya, mengelus fotonya bersama Arini dan Azzam di taman bermain.


Flashback on


"Paman macell...." Terlihat seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, berlari dengan langkah kecilnya menghampiri lelaki yang tinggi bugar penuh kharisma itu.


"Hai, boy. Jumpa lagi." Ujar pria yang dipanggil paman macell itu, lalu merentangkan tangannya untuk menyambut peluk hangat dari anak laki-laki tiga tahun ini.


"Maaf, kalau merepotkan Anda Pak." Perempuan yang sedari tadi mengikuti pangeran kecilnya dari belakang, kini angkat bicara melihat tingkah anaknya yang kini digendong oleh pria itu.


"Tidak apa-apa Arini, lagi pula saya sangat senang jika berada di dekat Azzam." Ucap pria itu, yang kini membuat Arini sedikit canggung. Karena pasalnya, mereka hanya teman kerja dan baru beberapa kali bertemu.


"Paman, nuaik itcuhh." Tunjuk Azzam pada salah satu permainan kuda-kudaan yang sedang berputar.


Azzam bertemu dengan pria itu pada saat ia mengikuti Arini pergi ke kantor. Mereka awalnya hanya saling menyapa, lalu selesai Arini bekerja pria itu mengajak Azzam untuk mengobrol bercanda tawa dan jadilah mereka berjanjian untuk datang bermain di taman bertiga.


“Yang itu?” tanya pria itu meyakinkan, seraya menunjuk permainan kuda-kudaan.


“Hm... hm....” Azzam mengangguk antusias.


“Baiklah, ayo kita naik kuda-kudaan.”


“Yeiii... ayouu.” Timpal Azzam girang di gendongan pria itu. Arini mengikuti mereka berdua dari belakang.


Jadilah hari itu mereka bermain bersama, menghabiskan banyak waktu untuk mencoba segala permainan, bercanda, berfoto, dan lainnya. Yang membuat keduanya tampak bahagia, tidak termasuk Arini karena ia masih merasa asing dengan pria ini.


Flashback off


*****


Bersambung...