
"Kaki mu kenapa sampai seperti ini?" Tanya Bian mengulangi pertanyaan, namun Azzam belum menjawab sama sekali. Ia hanya menangis dan menyembunyikan wajahnya di bahu Bian. Rupanya ia masih takut akibat perlakuan ibu Rahma serta orang-orang yang ikut menghina mamanya.
Mata Bian menyala merah menatap satu persatu orang yang ada di lantai itu, hingga pandangan jatuh pada sosok istrinya yang juga tengah mengusap air matanya. Hati Bian memanas, istrinya kini kembali mengeluarkan air mata berharganya oleh orang-orang sampah ini. Ia menutup matanya, menghela napas perlahan. Berusaha meredakan emosinya yang semakin memuncak saja. Kalau saja tidak ada anaknya serta istrinya di sini, ia sudah meluapkan emosinya di orang-orang tak berguna ini. Tapi tunggu, emosi ini bisa ia luapkan kapan saja setelah Azzam mau mengatakan sesuatu.
"Ayo cerita sama papa, kenapa kamu sampai seperti ini...? Jangan takut, tidak akan ada yang berani melukaimu selama papa ada di sini." Bian mengusap berulang kali punggung anaknya, menenangkan. Berharap anaknya mau bercerita apa yang telah terjadi padanya hingga membuatnya seperti ini.
Bagaimana pun, serta berapa lama pun, ia harus membuat anaknya ini berbicara serta menceritakan semua yang telah terjadi. Karena Bian tidak ingin anaknya tertekan dan menjadi takut di antara orang-orang sampah tak berguna ini. Kalau mau, sudah sejak tadi ia menayangkan pada istrinya, atau melihat CCTV langsung untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi kembali lagi, Bian ingin anaknya berbicara agar dia tidak tertekan dan menjadi takut.
"Ayo, pelan-pelan cerita sama papa." Ujar Bian merasa anaknya mulai tenang, ia mengusap air mata anaknya yang masih mengalir. "Tidak ada yang perlu kamu takutkan, papa ada di sini." Lanjut Bian meyakinkan anaknya. Azzam mengangguk, me-lap ingusnya dengan di bantu oleh papanya.
Orang-orang yang menonton sejak tadi, termaksud ibu Rahma. Mulai panas dingin karena takut serta khawatir akan aduan anak kecil yang ternyata adalah anaknya Bian Andi Pratama, keringat dingin semakin membanjiri tubuh mereka.
Mereka memberikan kode satu sama lain untuk pergi dan kembali ke aktivitas masing-masing.
"Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini seorang pun!!!" Tekan Bian memperingati mereka yang ingin beranjak pergi.
Orang-orang itu langsung mengurungkan niatnya, segera mengantupkan kedua tangan memohon permohonan maaf pada Bian. Masa depan suram mulai terlihat di depan mata, jika Bian tidak memaafkan mereka.
"Maafkan kami Tuan, kami tidak tahu kalau itu istri dan anak Anda." Salah satu karyawan memohon permohonan maaf mewakili taman-temannya, dan langsung diangguki setuju oleh yang lainnya. Ibu Rahma diam terpaku, mencerna baik-baik semua kebenaran ini.
"Benar Tuan."
"Iya Tuan."
Karyawan lain menyahut silih berganti, membenarkan ucapan teman mereka. Karena memang mereka tidak tahu kalau perempuan yang mereka katakan murahan serta anak kecil yang mereka katakan haram itu adalah anak dari Bian. Ya... tentu saja mereka tidak tahu, pernikahan yang di gelar mewah kemarin sama sekali tidak di siarkan di televisi maupun media sosial serta lainnya. Jepretan kamera di pernikahan mereka kemarin hanya dijadikan sebagai album kenangan mereka saja, jadi banyak yang belum tahu kalau pemilik Pratama Group ini sudah menikah bahkan memiliki seorang anak.
"Diam! Aku tidak menyuruh kalian untuk berbicara!" Ujar Bian menahan suaranya agar tidak meluap di depan anak dan istrinya.
"Wa-wanita murahan itu... ba-bagaiman bisa dia memiliki anak dengan laki-laki miliarder ini? Pasti dia memakai guna-guna untuk melabui laki-laki kaya ini!" Batin ibu Rahma mulai menyadari kenyataannya. "Argh... bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan!" Lanjutnya lagi mulai kentar-kentir.
"Ayo cerita." Bian masih berusaha untuk membuat anaknya bercerita, Azzam mengangguk mulai membuka suara.
Di sana, Rangga keluar dari lift bersama sekretarisnya. Ia melihat sekeliling, karyawannya tengah menunduk mengelilingi... Bian dan yang lainnya. Rangga mengernyit, apa yang telah terjadi? Batinnya bertanya-tanya, lalu ia melihat Rio dan langsung menghampirinya untuk menanyakan apa yang telah terjadi.
Bukankah mereka datang untuk memenuhi janji pada Azzam? Tapi kenapa malah berdiri di sini? Dan kenapa pula wajah Arini dan Azzam sembab seperti itu? Rangga semakin mempercepat langkahnya menuju tempat Rio berdiri, pasti telah terjadi sesuatu di sini. Apalagi ia melihat wajah kekasihnya yang sedang tidak baik-baik saja.
"T-tuan..., tadi saya tidak sengaja Tuan." Ibu Rahma semakin mendekati Azzam dan Bian, namun langkahnya terhenti karena bentakan dari Bian. Dan langsung membuatnya bersimpuh di situ untuk memohon permohonan maaf.
"DIAM! Aku tidak menyuruh untuk mendekat ataupun mengeluarkan suara di mulut menjijikkan mu itu!" Bian mendelik, menatap marah pada ibu Rahma.
Rangga kini sudah mendapatkan informasi kilas dari Rio, ia menatap para karyawannya serta para pengunjung yang datang dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Sekarang ayo lanjut cerita, jangan takut, papa ada di sini." Kembali Bian menyuruh anaknya untuk berbicara.
"Terus Azzam jatuh dari situ sampai sana, kaki Azzam sakit." Azzam menunjuk dari tempatnya berjalan tadi sampai tempatnya terpental. Rahang Bian mengeras membayangkan anaknya yang jatuh dan terpental jauh dari tempat awalnya. "Ibu itu tidak minta maaf pah, dan malah membentak Azzam, mama sama aunty Arumi. Azzam dikatain anak haram, mama sama aunty juga dikatain. Terus orang-orang itu juga ikut-ikutan hina mama tadi... hiks." Azzam sesegukan mengadukan segalanya pada sang papa. Napas Bian mulai naik turun, orang-orang ini sudah sangat keterlaluan.
Ia berjalan menghampiri istrinya, masih dengan menggendong Azzam. "Mas...." Arini tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya dapat memanggil nama suaminya.
"Sayang." Bian membawa istrinya dalam dekapan dengan satu tangannya, diciumnya kening sang istri untuk menenangkan.
"Tenang, aku sudah di sini dan maafkan aku sudah datang terlambat sehingga kalian mendapatkan hal tidak enak seperti ini." Bian mendekap istrinya erat, menghujaninya ciuman bertubi-tubi. "Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk orang-orang ini dan memastikan kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi." Batin Bian mulai melonggarkan dekapannya pada sang istri.
"Sekarang kalian berdua ke mobil dulu, nanti papa nyusul." Ujar Bian mengusap sisa-sisa air mata pada Azzam.
"Tapi pa---" Azzam mau menolak.
"Papa tidak akan lama." Bian memberi pengertian pada anaknya, membuat Azzam mengangguk patuh. "Sayang, kalian ke mobil terlebih dahulu. Aku akan menyusul sebentar lagi." Bian memberikan anaknya pada sang istri.
"Iya mas, tapi jangan lama yah...." Arini mengangguk patuh, mengikuti perkataan suaminya.
"Arumi tolong." Bian melirik adik iparnya agar membantu sang istri dan anaknya untuk keluar dari perusahaan ini.
"Baik kak." Arumi mengangguk, menghampiri kakak dan keponakannya. Lalu mereka bertiga pun keluar dari perusahaan itu.
Setelah melihat istri dan anaknya benar-benar keluar dari perusahaan, amarah Bian kini terlihat jelas, tangan terkepal kuat, rahang mengeras, serta mata tajamnya yang memindai satu persatu para sampah tak berguna yang berani menyakiti istri dan anaknya. Suasana di lantai itu kembali mencekam, bahkan lebih mencekam. Orang-orang berdiri gemetar, dengan jantung yang tak karuan. Ibu Rahma berulang kali me-lap keringat dinginnya yang tak berhenti keluar.
*****
Bersambung...