My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Extra Part



"Papa... Mama... cepat, nanti kita terlambat." Suara bocah laki-laki itu lantang terdengar di lantai satu.


"Oh astaga, apalah yang dilakukan kedua orang tua kita Zaya, kenapa mereka lama sekali." Bocah laki-laki itu mengomel, menghampiri kereta dorong adiknya, Zaya Alvina Pratama.


Zaya yang memang tidak tidur mendengar omelan kakaknya dengan riang, ia menggerakkan kaki dan tangannya ke atas berusaha mengampai sang kakak.


Melihat wajah Zaya yang riang dengan sesekali berceloteh, raut wajah Azzam seketika berubah hangat. Rasa jengkel pada kedua orang tuannya hilang entah ke mana. Ia mengusap pipi Zaya dengan hati-hati, takut pipi adiknya yang masih empat bulan ini memerah kesakitan akibat ulahnya.


"Nanti kalau sudah besar jangan ikuti papa sama mama, mereka itu tidak tepat waktu."


"Aaaa." Zaya merespon, seolah menyetujui.


"Zaya harus ikut kakak, oke...." Ungkap Azzam lagi, merasa kepribadiannya pantas dijadikan panutan oleh sang adik, tidak seperti kedua orang tuannya yang banyak celah.


"Hm, kalau Zaya tidak ikut kami. Berarti ikut tetangga dong."


Azzam menoleh ke belakang, kedua orang tuanya turun dari tangga bersamaan.


"Enak saja, Zaya itu mirip aku." Ia melipat kedua tangannya di dada. Bagaimana ceritanya sang adik mirip tetangga, papanya memang banyak celah, dan salah satunya suka mengada-ngada.


"Kenapa Papa sama Mama lama sekali, sekarang sudah jam berapa?" Azzam melihat jam di pergelangan tangannya.


Arini dan Bian menjadi kikuk, "Kamu sih Mas! Lama dikamar mandi." Lirikan mata tajam Arini tertuju pada sang suami.


"Maaf sayang, lain waktu akan ku ulangi." Respon Bian tidak sinkron, dan langsung mendapatkan cubitan maut dari sang istri.


Azzam menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang tuanya yang malah saling berbisik, bukan bergegas ke tempat acara. Mereka semua sudah sangat terlambat.


"Ayo Zaya, kita pergi berdua saja." Azzam mendorong kereta bayi adiknya. Zaya tertawa senang keretanya bergerak.


"Eh, eh, kalian meninggalkan Mama sama Papa." Arini mengejar kedua anaknya, Bian mengikuti dari belakang.


*****


Mereka tiba di acara pernikahan yang begitu mewah, seluruh ruangan telah didekorasi dengan begitu indah dan menawan.


Terlihat dua pasang pengantin tengah menyalami para tamu undangan, acara kini tiba di penghujung.


"Tu 'kan, kita telat." Azzam memasuki ruangan besar itu dengan kedua orang tuannya, dan sang adik yang berada di gendongan mamanya.


"Iya, dan ini semua salah Papa. Maaf ya...." Bian sadar diri.


"Memang salah Papa!" Sahut Arini dan Azzam bersamaan.


Mereka berempat pun menuju pelaminan, pergi memberikan selamat pada sepasang pengantin itu.


"Selamat atas pernikahan kalian, Dian... Hana." Ucap Arini tulus. Akhirnya ia bisa menghadiri pernikahan sahabat serta sekretarisnya yang memilih menikah bersamaan di satu gedung milik keluarga Pratama.


"Woah, akhirnya kalian datang." Dian heboh melihat sahabatnya datang bersama keluarga kecilnya.


"Baby Zaya juga ikut ya... wah imut nya." Puji Hana, pada gadis mungil itu yang mengenakan gaun pesta senada dengan keluarganya.


"Iya, imut sekali." Lontar Dian ikut kagum.


Mereka berdua hanya fokus pada Zaya, melihat Zaya, memuji Zaya. Arini, Bian, Azzam, terabaikan. Pesona mereka bertiga dikalahkan oleh bayi yang baru lahir kemarin.


"Terima kasih, Tante-tante." Jawab Arini dengan suara dibuat mirip anak kecil.


"Hai Azzam, kau tidak iri dengan adikmu?!" Sapa Marvel, menggoda.


"Buat apa aku iri dengan adikku sendiri." Jawab Azzam tampak dewasa, dan dia serius mengatakan itu. Toh, keimutan dan kecantikan sang adik adalah turunan dari pesonanya. Azzam mengangguk setuju dengan pemikirannya.


"Eh, Tuan. Terima kasih atas donasi untuk pernikahan saya, saya tidak menyangka pernikahan saya akan semewah ini." Rio dengan sungguh, penuh ketulusan mengucapkan kalimat itu.


"Benarkah, Tuan?" Rio tampak berkaca-kaca, ia sungguh terharu. Akhirnya bisa cuti walaupun hanya dua minggu, tapi itu sudah lebih dari cukup menurutnya.


Anggukan Bian memberi jawaban, "Ah, bisakah aku memelukmu Tuan." Rio merentangkan kedua tangannya.


Bian melotot, "Jangan harap!" nanti dikira aneh-aneh oleh para tamu undangan.


Rio bukannya kecewa, malah tergelak.


Selesai mengucapkan selama pada sepasang pengantin, Bian dan Arini serta kedua anaknya pun turun. Mereka menghampiri meja besar dimana keluarga duduk. Ada mama Mira, tuan Dean, Alysha, ibu Syahra, serta Arumi dan suaminya, Rangga.


Belum juga sampai di sana, mama Mira dan Alysha sudah berebut untuk menggendong Zaya. Sementara mereka berebutan, tuan Dean memanfaatkan situasi, dan jadilah ia yang pertama menggendong cucu perempuannya.


"Papa!!!" sungut Alysha dan mama Mira bersamaan.


Azzam memaku dagunya dengan kedua tangan, pesonanya sempurna dikalahkan oleh sang adik. Tapi tak mengapa, ia tak iri.


Di atas panggung terdengar pembawa acara meminta perhatian, lalu dengan hebohnya ia mengumumkan akan diadakan acara lemparan bunga. Para tamu undangan riuh, para wanita segera merapat.


Rio, Hana, Diam dan Marvel, bersiap melemparkan bunga. Tamu undangan antusias, siap menangkap. Pembawa acara mulai menghitung mundur.


"Tiga, dua, satuuu...." Bunga pun dilempar, kaum wanita paling antusias menangkap. Dan bunga yang dilempar oleh Dian dan Marvel di dapatkan oleh seorang wanita muda yang kini tengah kegirangan.


Yang lain tidak putus asa, mereka mengincar bunga satunya yang dilempar oleh Rio dan Hana. Dan bunga itu...


"Eh, kenapa bunganya di lempar ke sini." Azzam dengan wajah polos, muka bingung, mengambil bunga itu. Sesaat, semuanya orang terdiam. Lalu gelak tawa memenuhi ruangan pesta.


"Ahahahah... kau mau menikah Azzam?!" Arumi yang pertama kali berkomentar, tawanya menggelegar tak mampu ia tahan. Wajah polos penuh kebingungan keponakannya, sungguh mengundang gelak tawa.


"Sayang, tawanya dikontrolkan ya... lihat, perutmu ikut bergerak." Rangga meringis melihat perut buncit istrinya, ia takut sewaktu-waktu meledak.


"Aku merasa tersinggung, sepertinya akan ada yang menikung ku." Alysha pura-pura sendu.


Tuan Dean yang terkenal akan ketenangannya, kini ikut tergelak. Azzam yang tak mengerti situasi, mengangkat bahu, tidak peduli.


Suasananya kebahagiaan, tercetak jelas di ruangan itu.


*****


Extra part untuk para reader tercinta, semoga suka dan terhibur. Terima kasih telah mau mengikuti novel ini sampai tamat, dan jangan lupa kepoin novel kedua author ya...


Judul : Sang Antagonis


 



Siapa yang menyangka ucapannya menjadi kenyataan?


Nayla Arthama, gadis lugu, lemah, dan terlalu baik, serta memiliki kepercayaan tinggi pada orang lain. Dikhianati oleh suami dan sahabatnya, Maya Sulastri, membuatnya menjalani kehidupan tragis.


Maya, sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara sungguh munafik. Ia sangat iri pada kehidupan Nayla dan merebut semua kebahagiaannya, mulai dari nyawa kedua orang tua Nayla, merebut suaminya, harta, bahkan nyawa yang satu-satunya Nayla miliki pun direnggut.


Ia mendorong Nayla ke dalam laut lepas nan dalam, lalu menertawainya dengan begitu bahagia, seolah kejadian kematian di depan matanya begitu lucu.


Andai kehidupan bisa diulang...


Nayla menggumam dengan nyawa yang hampir di ubun-ubun, melihat sahabat dan suaminya tengah memadu kasih dengan berciuman di atas kapal.


Keajaiban datang, Nayla diberikan kesempatan untuk mengulangi kehidupannya. Ia berinkarnasi, kehidupannya kembali pada tiga tahun yang lalu sebelum menikah dengan Barra.


Waktunya pembalasan!