My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Tidak Ingin Makan Sayur



Puas bermain di taman, Azzam mengajak Bian dan Arini untuk segera menuju ke mal. Ia sangat tidak sabar untuk mencoba semua permainan yang berada di sana bersama Bian dan mamanya.


"Ayo cepat, mah." Azzam antusias menarik Arini menuju tempat bermain yang terlebih dahulu ia ingin coba memainkannya.


"Iya sayang, pelan-pelan. Permainannya tidak akan lari." Ucap Arini mengikuti langkah mungil nan cepat Azzam.


"Hehehe... iya, permainannya tidak akan lari mah, tapi Azzam tidak sabar ingin memainkannya." Azzam cengengesan, memelankan langkahnya.


Bian tersenyum melihat tingkah kedua orang di depannya, ia baru saja kembali dari membeli koin untuk permainan nanti.


"Ayo... ayo... kita main." Azzam berlari mendekati permainan yang sudah di depan matanya itu.


"Om, koinnya." Azzam meminta koin yang sudah dibelikan oleh Bian.


"Om, duduk sini." Perintah Azzam, menyuruh Bian duduk di depan setir permainan mobil-mobilan. Bian menurut saja karena ini adalah hari libur yang sudah ia persiapkan untuk Azzam, jadi jika Azzam menginginkan sesuatu maka ia akan membelikannya dan jika Azzam menyuruhnya melakukan sesuatu maka ia akan melakukannya.


"Dan mama duduk di sini." Perintah Azzam lagi, menyuruh Arini untuk duduk di depan setir permainan mobil-mobilan di samping Bian.


"Eh... mama juga ikut?" tanya Arini yang mendapatkan anggukan dari Azzam.


"Tapi---"


"Jangan mengajak mama mu boy, karena dia takut di kalahkan oleh, Om." Ujar Bian, membuat Arini duduk di kursi kemudi mobil-mobilannya.


"Siapa yang takut di kalahkan oleh Anda, seharusnya Anda yang takut akan saya kalahkan nanti." Ucap Arini menantang, menatap sengit pada Bian. Berani-beraninya dia menganggap remeh seorang Arini.


"Hum... baiklah, ayo kita buktikan." Ucap Bian mengangguk, menerima tantangan Arini.


"Oke... sekarang ini koin untuk om, ini untuk mama." Azzam memasukkan koin bergantian pada permainan Arini dan Bian, lalu ia memasukkan koin untuk dirinya sendiri.


"Semuanya siap." Azzam memberi aba-aba dan memperbaiki posisi duduknya. Arini dan Bian saling menoleh sekilas, lalu mengcekeram setir permainan mereka kuat-kuat.


"Muuulai...!" Ucap Azzam membuat mobil-mobilan dilayar itu mulai bergerak.


Mereka bertiga mulai bermain, melajukan mobil masing-masing dengan kecepatan tinggi. Dan tak sengaja Bian menyenggol mobil Arini membuat kecepatan mobilnya terhambat.


"Eh... apa yang Anda lakukan?! Jangan curang ya...!" Arini memperingati Bian dengan tegas.


"Nggak sengaja." Ujar Bian, tapi mobilnya masih menyenggol mobil Arini. Membuat kecepatan mobil Arini terus menurun dan hampir jatuh di jurang permainan dalam layar itu.


Sedangkan mobil Azzam, ia terus melaju meninggalkan mobil Arini dan Bian di belakang.


"Apa yang kamu lakukan?" Ujar Bian panik karena Arini sudah membalikkan keadaan, mobil Bian sekarang di ambang jurang. Jika di senggol oleh mobil Arini sekali lagi maka akan benar-benar jatuh di jurang.


Arini melirik melihat kepanikan Bian, ia tersenyum semringah. Lalu bersiap menggerakkan setir mobil itu untuk kembali menyenggol mobil Bian.


"Tidaaakkk." Teriak Bian heboh sendiri, menahan pergerakan tangan Arini. Ia menggerakkan setir Arini ke semula agar mobilnya tidak tersenggol.


"Eeh... ini namanya curang." Ucap Arini berebutan menggerakkan setir mobilnya dengan Bian. Menggerakkan ke kiri dan ke kanan, dan otomatis mobil di dalam layar itu bergerak tidak terarah.


Sekarang mobil Bian berhasil lolos dari ambang jurang itu, ia mulai menggerakkan mobil secara normal dan menambah kecepatan dengan satu tangannya. Sedangkan tangan lainnya masih memegang setir mobil Arini.


Melihat itu Arini tidak terima, ia melepaskan salah satu tangannya untuk memegang setir mobil Bian dan membuat mobil itu juga bergerak tidak beraturan seperti mobilnya juga.


Jadilah mereka kembali beradu sengit, mobil yang mereka mainkan melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, arahnya tidak teratur. Tangan mereka berdua berdekatan saling menyilang karena menggerakkan mobil lawan masing-masing.


Mulai jengkel dengan perlakuan Bian, Arini pun menoleh berniat meneriaki Bian untuk melepaskan tangannya dari setir mobilnya. Dan ternyata hal itu juga di lakukan oleh Bian.


Membuat wajah mereka berdua saling berdekatan, kira-kira terpisah hanya lima sentimeter saja. Arini maupun Bian sama-sama bungkam, saling memandang satu sama lain dalam kesunyian keduanya. Hingga suara Azzam mengagetkan keduanya.


"Yeiiii... aku menang...." Azzam jingkrak, keluar dari kursinya lalu lompat mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Eh...." Arini dan Bian salah tingkah, menjauhkan wajah mereka.


"Om sama mama payah, masa di kalahkan sama aku yang kecil begini." Ujar Azzam berjalan mendekati orang dewasa yang baru saja ia kalahkan dengan sangat mudah itu.


Azzam berdiri di tengah-tengah kursi Arini dan Bian, lalu memegang tangan Arini dan tangan Bian dengan kedua tangannya.


"Ayo, sekarang kita ganti permainan." Ujarnya, menarik tangan Arini dan Bian.


Terlihat wajah Arini maupun Bian mulai kelelahan, sedangkan wajah Azzam masih ceria dan semringah untuk mencoba memainkan permainan lainnya.


Benarlah kata temannya, ternyata bermain dengan kedua orang tua lebih mengasyikkan dari pada hanya bermain dengan salah satunya. Dan Azzam kini merasakannya, ia sangat senang bisa bermain dengan mamanya dan juga Bian. Ya, walaupun Bian bukanlah papanya. Pikir Azzam.


Azzam sudah sangat merasa bahagia, akhirnya ia sekarang bisa merasakan bagaimana mempunyai keluarga yang lengkap seperti yang teman-temannya ceritakan.


*****


Setelah mencoba banyak permainan dan merasa lelah, Azzam mengajak kedua orang dewasa yang setia menemaninya bermain sejak tadi untuk mengisi perut mereka di restoran yang sudah ada di mol itu.


Dan di sinilah mereka, duduk dalam satu meja bundar dengan tiga kursi mengelilinginya.


"Mau pesan apa?" tanya Arini pada Azzam yang sedang duduk menyandar kepalanya di kursi. Dan ia memegang buku menu restoran.


"Terserah mama." Ujar Azzam menikmati posisinya beristirahat.


"Hm... mau pesan apa?" Dehem Arini bertanya pada Bian yang juga sedang bersandar beristirahat di kursinya.


"Aku juga terserah." Ujar Bian menoleh sekilas pada Arini.


Arini mulai memanggil pelayan restoran itu, dan memesan makanan dan minuman masing-masing satu porsi untuk mereka bertiga.


"Selamat makan." Para pelayan mengangguk undur diri, setelah mengantarkan makanan yang di pesan Arini tadi.


"Mah... aku nggak terlalu suka sama yang ini, yang ini, ini juga." Azzam menunjuk beberapa sayuran yang ada di piring makanannya.


"Sayang... kamu kan baru saja habis bermain dan menguras banyak tenaga, jadi harus makan sayur biar tenaganya cepat pulih dan full kembali untuk bermain." Ucap Arini memberi pengertian pada Azzam.


"Tapi, mah. Azzam nggak suka." Azzam menggeleng tidak ingin memakan sayuran itu. "Jadi aku makan yang ini aja yah...." Tunjuknya pada telur mata sapi yang sangat ia sukai itu.


"Nggak boleh gitu sayang, kamu harus tetap makan sayur walau hanya sedikit." Arini masih berusaha membujuk anaknya untuk memakan sayur itu. Hm... Azzam memang sangat susah jika di suruh untuk makan sayur, butuh ekstra bujukan baru ia memakannya, itu pun hanya sedikit saja.


"Benar boy, kamu harus makan sayur walau pun hanya sedikit." Bian ikut membujuk Azzam. "Sini biar om suap." Ucap Bian lagi, bersiap menyuapi Azzam.


"Aaaa...." Bian mendekatkan sendok pada mulut Azzam yang sudah berisi nasi dan sayuran yang diambilnya di piring Azzam.


Bukannya membuka mulutnya, Azzam malah beralih menatap miring makanan Bian.


"Itu om juga, sayurnya kenapa disisipkan? Pasti tidak mau di makan juga, 'kan?" Tebak Azzam melihat sayuran yang Bian sisipkan di antara nasi-nasinya.


"Eh... siapa bilang? Om makan kok." Bian mengelak.


"Kalau begitu ayo buktikan, Azzam mau lihat. Kalau om makan sayurnya, baru Azzam makan juga."


Bian mengambil air minumnya, meneguknya susah. Berusaha mengulur waktu dan mendapatkan keajaiban agar tidak memakan sayur-sayuran itu. Karena sungguh ia sangat tidak menyukai makanan berupa sayuran, yang menurutnya seperti memakan rumput.


"Ayo... tunggu apa lagi om." Desah Azzam, ingin melihat Bian memakan sayuran itu.


Wajah Bian kini pucat pasif, ia menatap sendok yang di pengganya untuk menyuapi Azzam tadi.


Melihat wajah pucat pasif Bian dan Azzam yang terus memaksanya untuk memakan sayuran, membuat Arini berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya karena takut mengganggu para pelanggan lainnya yang juga sedang makan di restoran itu.


Tanpa mereka bertiga sadari, ternyata ada sosok yang tengah melihat mereka dari kejauhan. Orang itu tidak mengalihkan pandangannya, ia mengucek matanya berulang kali takut-takut ia salah lihat.


*****


Terima kasih banyak atas doa dan dukungan dari para Reader tercinta, terima kasih banyak karena telah mendoakan kesembuhan untuk Author dan memberikan dukungannya untuk novel ini. Terima kasih...


Semoga para Reader sehat selalu, yang sakit semoga cepat disembuhkan... Aamiin. Dan jangan lupa tetap jaga kesehatan... ya.


Love you All...


*****


Bersambung...