
Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa momen bersejarah bagi Arini dan Bian akan segera di gelar di salah satu hotel termewah milik keluarga Pratama.
Hotel itu sudah di hiasi sedemikian rupa, menjadikannya tempat pernikahan termegah di sepanjang sejarah.
Tiang-tiang tinggi di bungkus ornamen terbaik, lantai marmer mewah mengilat, lampu-lampu gantung fantastis yang tak ternilai harganya.
Dan jangan lupa di setiap sudutnya telah di hiasi bunga mawar putih, yang tak ubahnya membuat ballroom hotel tersebut bak istana.
Ballroom itu sudah di penuhi oleh keluarga-keluarga terdekat, teman kerja, bahkan pengusaha terkemuka. Jumlah mereka tak bisa di hitung karena saking banyaknya relasi dari Tuan Dean Pratama.
Tuan Dean melangkah paling depan, diikuti oleh Bian dan Rio di belakang. Para undangan bertepuk tangan, saat calon mempelai laki-laki memasuki ruangan.
Sedangkan mama Mira, ia sibuk memperkenalkan cucu tampang nya dan Ibu Syahra calon besannya pada teman-teman sosialitanya.
Wajah-wajah bahagia menyambut kedatangan sang mempelai laki-laki, namun wajah-wajah itu tidak bisa menghilangkannya rasa gugup dari Bian sedari tadi.
Ya... dia berjalan dengan penuh karisma, di tambah dengan baju pengantinnya yang semakin membuat ketampanannya menguar hebat. Tapi, tidak ada yang tahu kalau dia sekarang sangat gugup, bahkan sampai berkeringat dingin.
Bian menghembuskan napasnya berulang kali, berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Tuan Dean langsung menyapa tamu-tamunya.
"Selamat bro, akhirnya lo menikah." Rangga datang menyalami tangan Bian.
"Dih... masih punya muka lo datang ke sini, setelah nyusahin orang buat urus masalah lo sama wanita liar itu." Timpal Rio melihat kedatangan Rangga.
Rangga melotot tidak terima, Rio balas melotot. Bagaimana tidak, pekerjaannya menjadi berlipat-lipat ganda karena ulah dari Rangga. Bian menyuruhnya untuk membantu menyelesaikan permasalahan Rangga dengan wanita itu.
"Udah-udah... ini hari pernikahan gue, kenapa kalian berdua harus bertengkar." Ujar Bian, sedikit geram. Masalah gugupnya saja belum hilang, di tambah lagi dengan masalah dua manusia ini.
"Oh ya, thanks atas ucapannya." Bian balas menyalami tangan Rangga, membuat Rangga tidak jadi bertengkar dengan Rio.
Dari belakang, suara tepuk tangan dari para tamu kembali riuh. Membuat perhatian ketiga pria itu teralihkan pada sumber yang membuat para tamu undangan bertepuk tangan.
Karena penasaran, sontak saja ketiga pria itu berbalik badan. Dan alangkah terpesonanya mereka bertiga, melihat pujaan hati mereka yang tengah berjalan menuruni anak tangga dengan anggunnya.
Arini berjalan menuruni anak tangga, gaun pengantin putih motif kebaya di pinggangnya sangat pas melekat pada tubuhnya, dan jangan lupakan tiara yang terpasang di rambutnya semakin membuatnya cantik.
Ia terus menuruni anak tangga dengan di bantu oleh Arumi yang menuntutnya berjalan, Dian dan Hana memegangi ekor gaunnya yang panjang.
Tak sadar..., Bian, Rangga dan Rio berjalan mendekati bidadari yang tengah menuruni anak tangga itu. Namun, pergerakan mereka di tahan oleh Alysha.
"Eh... kalian bertiga mau ke mana?" Ucap Alysha menahan ketiga pria itu.
Pandangan Bian, Rangga, dan Rio, tidak teralihkan dari bidadarinya masing-masing. Hanya kaki mereka saja yang terhenti.
Alysha geram bukan main karena tidak di perhatikan oleh tiga pria itu, ingin ia menjitak kepala mereka satu persatu, tapi malu dilihat oleh para tamu undangan. Akhirnya, Alysha pun memberi pelajaran kepada ketiga pria ini tanpa mengambil perhatian dari para tamu.
"Aukkff...." Ringis ketiga pria itu pelan, karena kaki mereka baru saja di injak oleh Alysha dengan sepatu hak tingginya.
"Kau!!!" Tunjuk mereka dengan sorot mata tajamnya, Alysha balas tersenyum manis tak berdosa.
"Heh... acara ijab qobul sebentar lagi akan di mulai, jadi kalian bertiga tidak akan ku biarkan bertingkah yang aneh-aneh." Ujar Alysha, menatap sinis pada ketiga pria itu.
"Dan kau... kakak ku yang paling tampan, silakan duduk di kursi mu." Perintah Alysha pada Bian.
Bian belum bergerak, masih memandang wajah Arini yang membuatnya terpesona, begitu juga dengan Rangga masih memandang wajah Arumi. Dan tanpa di suruh dua kali, Rio langsung duduk di kursi kanan meja tempat saksi.
Tak lama kemudian, Rangga menarik pelan lengan Bian agar menepati kursinya. Sehingga dengan begitu, acara akan cepat selesai dan dia bisa berbicara dengan Arumi.
Bian duduk di kursi yang sudah disediakan, begitu juga dengan Rangga, ia duduk di kursi sebelah kiri meja sebagai saksi.
Pengantin perempuan sampai, dan langsung menempati kursinya yang berada di samping kursi Bian.
"Cantik." Gumam Bian pelan, namun tidak di dengar oleh siapa pun, termasuk Arini di sampingnya.
Arini senantiasa menundukkan pandangannya, pikirannya berkecamuk, sedih, senang, gelisah, semuanya menyatu dalam hati dan pikirannya.
Sedih karena bukan ayahnya yang menjadi wali pernikahannya, senang karena anaknya sebentar lagi memiliki orang tua yang utuh seperti yang diinginkannya selama ini, dan gelisah karena ia tidak tahu perasaan apa yang bisa menggambarkan perasaannya kepada Bian sekarang. Tapi yang jelas, perasaan itu bukan perasaan cinta... ya, ia belum mencintai Bian.
Bian tidak mengalihkan pandangannya pada Arini walau sedetik pun, hingga pak penghulu berdehem pelan.
"Ehem! Bagaimana? Apakah bisa dimulai?" Tanya pak penghulu.
Bian melihat kepada pak penghulu, dan mengangguk pelan, sedikit ragu-ragu karena gugupnya.
Para undangan kini fokus akan acara sakral yang sebentar lagi akan di ucapkan oleh Bian, ijab qobul.
"Baiklah sekarang mari kita mulai." Ucap pak penghulu mulai memimpin acara.
Ia mengulurkan tangannya pada Bian untuk berjabat tangan, menjabat tangan Bian dengan erat, lalu mulai merapalkan ijab qobul mewakili wali pernikahan antara Bian dan Arini.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arini Kurniawan binti Azhar Kurniawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Bian dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya pak penghulu, seraya melihat ke arah para saksi.
"Sah!" Ucap para saksi dan para tamu undangan serentak.
Bian bernapas lega, para tamu riuh mengucapkan Alhamdulillah atas gelar baru dari anak pengusaha nomor satu di negara ini. Semuanya ikut bahagia, Mama Mira dan Ibu Syahra meneteskan air mata terbaru atas hubungan baru anak-anak mereka.
Pak penghulu memimpin doa untuk kedua mempelai, setelah itu Bian memakaikan cincin di jari manis Arini, dan begitu juga dengan Arini, ia memakaikan cincin di jari manis Bian.
Semua adegan itu tak luput dari jepretan kamera yang mengabadikan momen bersejarah mereka.
Tanpa Bian dan Arini sadari, ada sepasang mata yang menatap sendu sekaligus senang dengan pernikahannya mereka berdua.
*****
Bersambung...