
"Tapi kenapa, Bi?" tanya Arini bingung, pasalnya baru kali ini bibi Juwita menolak menjual kuenya.
Bibi Juwita menoleh sekilas pada ibu-ibu yang baru saja berbicara dengannya tadi, lalu kembali menoleh pada Arini dan menggeleng pelan. "Maaf." Katanya pelan, karena tidak bisa memberitahukan alasannya pada Arini.
Arini yang melihat tingkah tidak biasa dari bibi Juwita, akhirnya mengerti alasan dari bibi Juwita menolak kuenya. Walau pun bibi Juwita tidak menjelaskan alasannya kenapa. Arini mengangguk pelan, lalu mengajak Arumi untuk kembali ke rumah kontrakan mereka seraya menenteng satu keranjang kue di tangannya.
Arumi yang melihat interaksi antara bibi Juwita dan kakaknya hanya menundukkan kepala, tidak ikut berkomentar. Ia tahu ini pasti akan terjadi, melihat ibu-ibu yang tidak biasanya berkumpul di warung bibi Juwita. Lalu Arumi pun mengikuti ajakan pulang dari sang kakak.
Melihat Arini dan Arumi berjalan menjauh dari warung, kembali mulut ibu-ibu itu berkomentar.
"Eh ibu-ibu, jaga suaminya ya... nanti direbut sama perempuan penggoda itu." Kata ibu Rahma orang yang sudah membuang kue Arini dan merupakan orang yang paling iri akan kesuksesan Arini dan keluarganya. Bagaimana tidak, kue yang ia buat tidak selaku dan seenak buatan Arini. Jadi, karena hal tersebut ia menjadi orang pertama yang membenci dan iri akan kesuksesan yang di dapat oleh keluarga Arini.
"Eh iya. Pasti dong, Bu. Kita harus pandai menjaga suami kita dari perempuan-perempuan ular sepertinya." Timpal ibu-ibu yang lain, sengaja mengeraskan suaranya, agar didengar oleh Arini dan Arumi.
"Ya, benar...." Timpal ibu-ibu yang lain, memandang sini punggung Arini dan Arumi yang menjauh. Lalu lanjut melontarkan hinaan-hinaan berikutnya.
"Dasar perempuan tidak benar, wajahnya saja yang sok polos."
"Perempuan sok alim."
"Pasti anak yang ia kandung hasil menjual tubuhnya, dasar perempuan pela**r"
"Ihhss... jangan-jangan ibunya kerja di club malam juga, jadi anaknya ngikut tuh."
"Sok cari uang halal pake jualan kue segala, nggak cukup apa uang hasil jual tubuhnya."
Suara hinaan demi hinaan masih terdengar sayup-sayup di telinga kedua saudara itu, tapi Arini maupun Arumi tidak menanggapi. Mereka terus berjalan, menuju rumah kontrakannya.
Menurut Arini hinaan demi hinaan itu seperti angin lalu saja, ia tidak terlalu memikirkan dan memedulikan hal tersebut. Toh, ini adalah hidupnya, ia yang menjalani, dan ia pula yang merasakan. Jadi, ia tak punya banyak waktu hanya untuk mendengarkan ocehan ibu-ibu yang mengomentari tentang kehidupannya dan keluarga. Yang penting apa yang dikatakan oleh ibu-ibu itu tidaklah benar.
*****
Arini dan Arumi berjalan pulang tanpa berbicara sepatah kata pun, entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Tapi yang jelas, perasaan keduanya sama-sama tidak enak.
Mendekati rumah kontrakannya, terlihat banyak orang berkerumun di sana. Arini mengernyitkan dahi, lantas bertanya kepada adiknya yang berada di sampingnya.
"Kira-kira ada apa ya, Rum. Kenapa banyak sekali orang di depan rumah kontrakan kita?" tanya Arini menoleh pada adiknya.
"Aku juga nggak tahu kak." Jawab Arumi menggeleng.
"Ya, sudah cepat Rum. Perasaan kakak nggak enak." Ujar Arini mempercepat langkahnya. Arumi mengangguk seraya mengikuti langkah cepat sang kakak.
"Ibu...!!!" panggil Arini dan Arumi bersamaan, melihat ibunya didorong oleh salah satu ibu-ibu di kerumunan itu. Mereka berdua semakin mempercepat langkahnya bahkan sampai berlari, melihat ibunya didorong. Kue yang Arini renteng sejak tadi sudah ia simpan di sembarang jalan karena panik melihat ibunya jatuh.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Arini dan Arumi bergantian ketika keduanya sudah ada di dekat sang ibu sembari mengecek seluruh tubuh ibunya, takut-takut ada yang terluka.
"Iya, ibu baik-baik saja." Jawab ibu Syahra, lalu memeluk kedua anaknya agar bisa tenang karena Arumi sudah menangis sedari tadi. "Apa kalian berdua juga baik-baik saja?" lanjut ibu Syahra, bertanya balik kepada kedua anaknya. Arini dan Arumi mengangguk, sesekali Arumi sesenggukan karena menangis, ia sangat takut melihat ibunya yang terpental akibat didorong.
Buuuk... buuuk....
Suara barang-barang Arini dan keluarganya di lempar keluar oleh para ibu-ibu.
Arini menoleh, melihat barang-barangnya berserakan. Lalu melepaskan pelukan dari sang ibu.
"Arin. Hati-hati, Nak." Ujar ibu Syahra mengingatkan, melihat Arini yang bangkit mendekati ibu-ibu yang melempar barang-barang mereka. Arini mengangguk lalu melangkah mendekati barang-barangnya.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa barang-barang kami di lempar keluar?" tanya Arini berusaha setenang mungkin, ia tidak mau gegabah dan memicu pertengkaran karena ibunya sangat tidak suka akan hal itu.
"Ada apa?" tanya salah satu ibu-ibu yang tak lain bernama ibu Rina selaku ibu RT di kawasan Arini tinggal. "Kamu tanya ada apa? Kenapa kami melempar barang-barang mu keluar?" tanya ibu Rina mengulangi pertanyaan Arini.
Arini mengangguk ingin mendapatkan jawaban. "Iya kenapa, Bu?" tanya Arini sopan, menghormati orang yang baru saja melempar keluar barangnya, karena dia lebih tua dari Arini.
"Kamu ini sok tidak tahu, atau apa? Jelas-jelas kami melempar keluar barang-barang mu, karena kami ingin mengusir kalian dari sini." Kata ibu Rina dengan penuh amarah. "Kenapa kalian diusir, itu karena kamu!! Ya... kamu penyebabnya Arini. Karena kamu yang hamil di luar nikah membuat kawasan kita jadi tercemar." Ujar ibu Rina penuh emosi, bahkan wajahnya ikut memerah. Bagaimana tidak, ia sudah ikut terprovokasi oleh ucapan ibu-ibu yang lain. Yang mengatakan bahwa suaminya sangat memperlakukan Arini dengan baik, jadi untuk menghindari terjadi sesuatu pada rumah tangganya ia ikut mengusir Arini dari rumah kontrakannya.
"Jadi sesuai kesepakatan bersama, kami harus mengusir kalian dari rumah kontrakan ini. Ibu-ibu yang mempunyai anak gadis, takut anak-anak mereka mengikuti perbuatan kamu yang hamil di luar nikah itu." Lanjut ibu Rina lagi.
"Tidak hanya itu, ibu-ibu di sini juga takut suami mereka di goda oleh mu." Ujar orang yang berada di belakang Arini.
Arini menoleh ke belakang, ternyata ibu Rahma yang berbicara. Rupanya ia mengikuti Arini dan Arumi sedari tadi.
"Makanya... kamu jadi perempuan itu jangan kegatalan, biar tidak hamil di luar nikah dan menjadi penggoda suami orang." Lanjut ibu-ibu yang lain, mendukung perkataan ibu Rina dan ibu Rahma.
"Betul itu, Bu. Betul." Ucap yang lain ikut membenarkan.
Arini terpojok tidak bisa melawan, walaupun apa yang di tuduhkan oleh ibu-ibu itu tidak pernah ia lakukan. Akhirnya dia hanya bisa menerima semua perlakuan ibu-ibu itu. Mau melawan, jumlah mereka kalah jauh, lagi pula ibunya pasti tidak suka akan hal itu.
"Ini uang bulanan kontrakan kalian yang tidak terpakai. Maafkan ibu Rin, kamu mendapatkan perlakuan seperti ini di kontrakan ibu." Ujar ibu Siska pemilik kontrakan kepada Arini.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa, terima kasih sudah mau mempersilakan kami tinggal di kontrakan ibu beberapa bulan ini." Kata Arini berterima kasih pada ibu Siska.
"Sudah Bu Siska, kenapa ibu mau berbicara dengan perempuan kotor itu." Timpal ibu Rahma. "Biarkan mereka pergi." Lanjut ibu Rahma lagi.
“Hustt... pergi dan jangan pernah kembali lagi dari sini.” Ucap ibu Rina dan ibu Rahma bersama, mengusir Arini dan keluarganya.
Arini menghentikan langkahnya untuk memungut barang-barangnya dan menoleh pada ibu Rina dan ibu Rahma bergantian, matanya tajam penuh geram, ibu Rina dan ibu Rahma sempat gentar melihat tatapan mata Arini. Tapi sebisa mungkin mereka berdua tidak menunjukkannya. Arini sebenarnya sangat geram, tapi ia mengendalikan kegeramannya itu, karena masih mengingat ibunya. Kalau bukan karena ibunya, pasti mereka sudah beradu mulut sejak tadi.
Akhirnya Arini dan keluarganya memungut barang-barang mereka yang berserakan, lalu memesan taksi dan menjauh dari kontrakan itu. Sebagian ibu-ibu tersenyum menang melihat Arini dan keluarganya pergi menjauh dari kontrakan. Sebagian lagi menatap prihatin dan tidak rela, karena sudah terlanjur suka dengan kepribadian Arini dan keluarganya termasuk kue yang Arini buat.
*****
Bersambung...