
Arini keluar dari apartemen Bian, berlari menuju lift dengan deraian air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Masuk di dalam lift, tangisan Arini pun pecah. Ia tak dapat lagi menahan isakannya. Saat lift terbuka, Arini cepat-cepat mengusap air matanya, lalu berjalan setengah berlari menuju jalanan. Mengabaikan semua orang yang memandangnya aneh.
Sampai di jalan raya Arini menoleh kepalanya ke kiri dan ke kanan, sesekali mengusap air matanya. Saat ia melihat ojek yang lewat, ia segera melambaikan tangan dan menyuruh ojek itu menuju alamat kosnya.
*****
Tiba di tempat tujuan ojek itu menurunkan Arini, mengambil bayarannya dan berlalu pergi setelah membalas ucapan terima kasih dari Arini.
Arini masuk di kosnya dan langsung menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya secara kasar.
Selesai membersihkan tubuhnya Arini keluar dari kamar mandi dengan mata yang membengkak karena ia sudah menangis sejak kemari sore.
Arini melamun, entah apa yang ia pikirkan sekarang. Matanya hanya menatap kosong ke langit-langit kosnya. Hingga bunyi ponselnya membuyarkan lamunannya.
Drt... drt....
Arini melirik ponselnya sesaat, ternyata Dian yang menelepon dan ia hanya mengabaikannya. Matanya kembali menatap kosong ke arah langit-langit kosnya.
Tak lama kemudian, ponsel Arini kembali berbunyi, terpaksa Arini mengangkatnya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum... maaf Dian, aku nggak bisa masuk kerja hari ini. Kalau mau ketemu besok aja, ya... di kampus." Kata Arini tidak bersemangat dan ingin mematikan teleponnya secara sepihak. Tapi ia urungkan mendengar suara yang ada di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam... ini Arumi kak, bukan Dian." Kata Arumi menjelaskan kepada kakaknya bahwa ia yang tengah menelepon, dan bukan Dian.
Arini kaget dan melihat layar ponselnya. Benar saja, ternyata Arumi sang adik yang tengah meneleponnya.
"Kak... apa kakak mendengarkan, ku?" tanya Arumi karena tidak mendapat jawaban dari sang kakak.
Mendengar suara Arumi yang memanggilnya, Arini tersadar dari keterkejutannya. Dan langsung menjawab pertanyaannya.
"Iya... iya, kakak mendengarkan mu. Oh ya, bagaimana kabar ibu, Rum?" Arini menjawab sekaligus bertanya pada adiknya.
"Ibu, alhamdulillah sudah sadar dari operasinya kak, dan sekarang aku menelepon karena ibu ingin bicara." Jawab Arumi.
"Assalamu'alaikum... Rin, kamu bagaimana kabarnya? Apa kamu baik-baik saja di sana, Nak?" tanya ibu Syarah, ibunya Arini dan Arumi beruntun.
Arini yang mendengar suara lemah dari ibunya, tak bisa menahan air matanya. Lagi- lagi ia menangis tanpa suara, mendengar pertanyaan dari sang ibu.
Ibu Syahra yang tidak mendengar jawabannya dari anaknya, langsung memanggil namanya lagi. Arini yang mendengar pun langsung menjawab.
"Wa'alaikumussalam... iya, Arin baik-baik aja kok Bu, ibu bagaimana kabarnya?" jawab Arini berbohong, dengan suara sedikit parau dan balik bertanya pada ibunya.
Ibu Syahra mengerutkan dahi mendengar suara Arini.
"Apa kamu sedang menangis, Nak? Kenapa kamu menangis? Apa yang kamu sembunyikan dari ibu? Apa kamu sedang berbohong?" Ibu Syahra malah balik bertanya dengan suara lemahnya pada Arini, ia kawatir.
"A... Arin menangis, karena Arin bahagia, Bu. Ya... Arin bahagia karena ibu sudah sembuh seperti dulu. Arin tidak menyembunyikan sesuatu dan Arin tidak berbohong." Jawab Arini gugup, karena seperti biasa, ibunya selalu tahu bahwa ia sedang berbohong.
"Benar, kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari ibu?" tanya ibu Syahra sekali lagi, memastikan keadaan Arini.
"Iya, Arin tidak menyembunyikan sesuatu." Jawab Arini dengan nada senormal mungkin, karena ia takut ibunya curiga.
"Kata Adek mu, ada orang baik yang membayar biaya operasi ibu. Apakah itu temanmu?" tanya ibu Syahra.
Arini tertegun, mendengar pertanyaan ibunya. Ingatannya kembali pada kejadian dimana kenyataan pahit itu terjadi. Ia menggigit bibir, menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya. Air matanya tak henti- hentinya mengalir.
"Iya Bu, itu temannya Arin." Jawab Arini kembali berbohong, air matanya terus mengalir antara tidak enak karena telah membohongi ibunya dan kejadian yang menimpanya.
Percakapan itu berlanjut satu dua kata lagi, hingga telepon pun terputus.
"Maafkan Arin Bu, karena Arin sudah berbohong pada ibu. Arin takut, takut ibu akan kecewa dan kesehatan ibu akan terganggu." Gumam Arini di sela tangisannya.
Arini terpaksa berbohong kepada ibunya, karena ia takut, takut ibunya akan mengetahui bahwa anaknya telah kotor dan bukan lagi perempuan yang baik-baik. Ia takut, ibunya juga akan drop jika mengetahui semua hal itu sekarang, karena ibunya baru saja selesai dari operasinya. Maka dari itu, Arini berusaha menyembunyikan semuanya dari sang ibu, walaupun dengan cara berbohong padanya.
*****
Bian duduk di balkon apartemen, sambil memangku laptopnya. Sesekali ia menyesap kopinya, melupakan sejenak tentang semua kejadian yang menimpanya. Menjadi seorang mahasiswa dan mengelola salah satu perusahaan ayahnya lah yang menyebabkan ia sesibuk itu.
Fokus Bian terganggu oleh bunyi ponselnya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan ponselnya itu. Setelah ia menemukan ponselnya, ia menggeser tombol hijau. Mengangkat telepon yang tak lain dari Rio sang sekretaris.
"Hmm... ada apa?" tanya Bian memulai pembicaraan, matanya tetap fokus menatap layar laptopnya.
"Saya sudah menemukan pelaku yang menjebak Anda, Tuan." Jawab Rio.
Bian yang mendengar jawaban Rio, seketika fokus pada ponselnya. Menyingkirkan laptop yang ia pangku sendari tadi.
"Siapa?" tanya Bian dingin.
Rio diam sejenak, lalu menghela napas pelan.
"Dia adalah Tuan Marvel, sepupu Anda sendiri Tuan." Jawab Rio dengan suara pelan.
"Apa kamu serius?" tanya Bian dengan suara meninggi, spontan saja ia berdiri.
Bian masih mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Rio, tapi ia ingin memastikannya.
"Iya Tuan, Tuan Marvel telah membayar pelayan yang membawa makanan ke apartemen Anda kemarin. Lantas, menyuruh pelayan itu untuk memasukkan obat perangsang pada makanan yang Anda makan kemarin." Jawab Rio, menjelaskan.
Bian diam mendengarkan penjelasan dari Rio. Tangan kirinya mengepal kuat, wajahnya merah padam menahan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubun. Ia tak menyangka, bahwa sepupunya lah yang tega menjebaknya.
"Tuan Marvel melakukan semua itu karena ia ingin menjadi CEO di perusahaan Pratama Group, setelah mendengar ancaman dari kedua orang tua Anda, Tuan." Lanjut Rio, karena tidak mendengar suara tuannya.
"Hmm...." Bian berdehem.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?! Buat mereka semua menyesali perbuatannya, dan jangan biarkan hidup mereka tenang sampai mereka sendiri yang ingin menghilangkan nyawanya." Perintah Bian dingin pada Rio, dengan suara yang ditekan karena menahan emosi.
"Baik, Tuan." Jawab Rio singkat, menerima perintah dari tuannya.
*****
Bersambung...