
"Mamaaa." Panggil Azzam berlari mendekati Arini, ketika melihat mamanya keluar dari ruang rapat.
"Sayang." Arini menghampiri Azzam lalu merentangkan tangannya untuk menggendong sang anak.
"Eh... maaf kak, tadi Azzam merengek mau ketemu sama kakak. Jadi aku bawa saja ke sini." Ujar Arumi menjelaskan sebelum kakaknya bertanya.
"Ya sudah, tidak apa-apa." Jawab Arini, mengusap rambut Azzam. "Azzam sudah makan?" Tanya Arini, masih mengusap rambut anaknya.
"Belum kak." Arumi yang menjawab, karena Azzam kini tengah fokus memeluk leher Arini dan menyimpan kepalanya di sana.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, menampakkan sosok Bian yang diikuti oleh Rio dari belakangnya, keluar dari ruangan rapat itu.
"Om...." Panggil Azzam, kepada orang yang baru saja keluar dari ruangan rapat itu.
Panggilan Azzam, membuat Bian maupun Rio melihat ke sumber suara. Dan di sana mereka dapat melihat Arini sedang menggendong Azzam, anak kecil yang Bian temui tadi di tengah jalan.
"Bukankah anak itu yang hampir kita tabrak tadi." Kata Rio melihat Azzam digendong oleh Arini.
Bian tidak menanggapi perkataan Rio, karena ia sedang berkelana pada pikirannya sendiri.
"Anak itu yang kutemui tadi pagi, dan wajahnya sangat mirip dengan ku." Batin Bian.
Arini membalikkan badannya, melihat siapa yang anaknya ini panggil sebagai om. Dan seketika itu, tubuh Arini menegang menyadari yang dipanggil oleh Azzam sebagai om itu adalah Bian.
"Sayang." Arini memanggil Azzam, seraya membawa kepala Azzam untuk berhadapan padanya lalu menyembunyikan kepala sang anak agar tidak terlihat oleh Bian. "Rum, ke ruangan ku." Ajak Arini berjalan cepat, dan Arumi mengikutinya. Tapi sebelum itu, ia memandang ke arah Bian dan Rio yang tidak memalingkan pandangannya terhadap sang kakak.
"Mama, om itu...." Kata Azzam memunculkan kembali kepalanya untuk melihat Bian, dan kembali Arini menyembunyikan kepala sang anak.
"Mama?" Gumam Bian pelan, melihat Arini dan Azzam menjauh.
Deg....
Jantung Bian berdetak tak karuan, memikirkan kebenaran tentang anak yang digendong oleh Arini.
"Apakah... apakah anak itu...?" Gumam Bian dalam hati.
"Ya... sekarang saya ingat, dia adalah nona Arini. Yang Tuan suruh saya antarkan di apartemen, bukan?" Tanya Rio pada Bian, baru mengingat Arini.
"Rio, kamu cari tahu tentang Arini dan anak yang ia gendong." Ujar Bian yang bukannya menjawab, malah menyuruh Rio untuk menyelidiki tentang Arini dan anak yang di gedongnya.
"Untuk apa, Tuan?" Tanya Rio tidak mengerti.
Bian membalikkan badannya, menatap tajam pada Rio sang sekretaris. Rio yang ditatap seperti itu, sontak saja langsung mengiyakannya.
"Ba... baik, Tuan." Ujar Rio gugup, menganggukkan kepalanya.
*****
"Mama, om tadi itu teman mama?" Tanya Azzam disela mengunyahnya.
"Kenapa sayang? Kamu kenal om tadi?" Arini malah balik bertanya.
"Tidak juga, tapi aku ketemu om itu di sekolah." Jawab Azzam, membuka mulutnya menerima suapan dari sang mama. "Om tadi teman mama?" Kembali Azzam bertanya karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Bukan." Jawab Arini singkat.
"Kenapa bisa ketemu sama om itu?" Tanya Arumi yang hanya melihat interaksi antara ibu dan anak sejak tadi.
"Oh... itu karena aku tadi ha---" Kata Azzam tertahan, karena tidak ingin menceritakan tentang kejadian yang menimpanya tadi. Takut mamanya akan khawatir.
"Kenapa sayang?" Tanya Arini karena Azzam tidak melanjutkan perkataannya.
"Itu mah... aku ketemu sama om itu tidak sengaja, yah tidak sengaja." Jawab Azzam cepat.
"Oh...." Arumi mengangguk, diikuti Arini yang lega akan hal itu. Karena itu berarti, Bian tidak tahu bahwa Azzam adalah anaknya.
"Kenapa juga kalau dia tahu? Dia tidak akan bisa mengambil anakku." Batin Arini, bertekad.
"Mama." Panggil Azzam, membuyarkan lamunan Arini. "Lagi." Lanjut Azzam membuka mulutnya agar Arini kembali menyuapinya.
"Iya sayang." Arini langsung menyendok makanan dan memasukkan pada mulut Azzam.
"Mama makan juga." Azzam mengambil alih sendok dari Arini, lalu ia menyuapi mamanya.
"Hmm... Aunty nggak disuapin, nih?" Tanya Arumi merasa jadi obat nyamuk untuk keduanya.
"Boleh." Jawab Azzam bersiap Ingin menyuapi aunty Arumi nya.
Arumi tersenyum semringah, lantas membuka mulutnya lebar-lebar. "Ya... makanannya abis." Kata Azzam setelah melihat makanan yang di pangku oleh mamanya telah tandas.
Mendengar itu, Arumi menutup kembali mulutnya dengan wajah yang cemberut seraya merutuki kebodohannya yang sudah meminta untuk disuapi.
"Maaf." Kata Azzam polos, lalu tertawa cekikik menutup mulutnya, melihat wajah Aunty nya yang cemberut. Arini yang melihat itu hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.
Tok... tok....
Seseorang mengetuk pintu dari luar, mengalihkan perhatian dari ketiganya. Lantas Arini menyuruhnya untuk masuk. Pintu dibuka, muncullah Hana di sana.
"Tante Hanaaa." Panggil Azzam girang, menghampiri Hana.
"Azzam, kapan kesini?" tanya Hana kaget, lalu tersenyum kepadanya.
"Tadi." Jawab Azzam, "Tan---" kata Azzam tertahan, karena Arumi yang tengah menyapa Hana. "Huft...!" Azzam menghembuskan napas kesal, karena kata-katanya tertahan.
"Hai kak." Sapa Arumi kepada Hana.
Hana menoleh ke sumber suara, "Eh... Arumi juga ada ya." Kata Hana juga tersenyum pada Arumi, dan Arumi membalas senyumannya.
Ketika menoleh kepada Arumi, Hana melihat atasannya dan ia langsung menyapanya.
"Maaf, Bu. Mengganggu makan siangnya." Kata Hana, mengangguk sedikit.
"Tidak apa-apa, lagi pula kami sudah selesai makan siang." Arini menimpali perkataan Hana. "Oh ya, ada apa Hana?" Tanya Arini, melihat sesuatu yang dipegang oleh Hana.
"Ini, Bu. Saya mau mengantarkan beberapa berkas yang harus Ibu tanda-tangani." Ujar Hana memperlihatkan berkas yang ia bawa.
Arini mengangguk, bangkit dari duduknya, lalu mengambil berkas yang ada di tangan Hana dan pergi duduk di kursi kerjanya.
"Sudah selesai?" Tanya Azzam melipat kedua tangannya di dada, bosan melihat apa yang di lakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya ini.
"Sudah." Jawab Hana tersenyum, menatap Azzam. Mendengar itu, wajah Azzam terlihat semringah.
"Oke, ayo sekarang kita pergi." Ajak Azzam pada Hana.
Orang-orang dewasa yang berada di ruangan itu, serentak mengernyitkan dahi mereka mendengar ucapan Azzam.
"Pergi ke mana?" Tanya Arumi masih mengernyit.
"Pergi beli es krim." Jawab Azzam menoleh pada Arumi. "Tante Hana pernah bilang kalau ketemu lagi, nanti beli es krim." Azzam mengingat apa yang di katakan oleh Hana tempo lalu, saat mereka bertemu.
"Oh...." Arumi ber o riah, sedangkan Hana mengangguk, baru ingat dengan perkataannya.
"Boleh kan mah?" Azzam beralih pada mamanya, meminta izin.
"Hmm... sepertinya tidak untuk hari ini sayang, tante Hana banyak kerjaan." Arini memberi pengertian.
Mendengar itu, Azzam beralih menatap Hana dengan mata memelasnya. Hana yang tidak tega dengan tatapan itu, kini ikut meminta izin pada Arini.
"Eh... pekerjaan saya tidak terlalu banyak untuk hari ini, Bu. Lagi pula ini masih jam istirahat, jadi masih bisa mengantar Azzam untuk membeli es krim, kalau ibu mengizinkan." Ujar Hana, meminta izin.
Arini berpikir sebentar, matanya menatap sang anak yang penuh harap ingin membeli es krim.
“Baiklah." Jawab Arini kemudian, tidak ingin membuat Azzam sedih.
"Yeii... mama ngizinin, ayo tante." Ucap Azzam girang, menarik tangan Hana tidak sabaran.
Hana yang ditarik seperti itu, lantas mengikuti langkah mungil itu. Sesudah ia menyapa atasannya untuk pergi bersama Azzam.
"Hati-hati." Ujar Arumi melihat keduanya pergi.
"Yes, Aunty." Teriak Azzam, dibalik pintu.
*****
Bersambung...