My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Masak Bersama



Azzam di tengah-tengah mereka, menghela napas. Permasalahan orang-orang dewasa ini tidak pernah selesai, ia kembali mengangkat bahu, lanjut bermain. Dan tak lama kemudian pasangan suami istri itu pun turun melihat anak mereka.


"Eh, ternyata lagi rame ya...." Arini turun dari tangga bersama sang suami usai melepas rindu sampai akar-akarnya.


"Kalian membahas apa? Sepertinya seru sekali." Tanya Bian menuruni anak tangga dengan merangkul pinggang istrinya posesif.


Semua mata mendongak ke atas, melihat pasangan suami istri itu yang tengah menuruni anak tangga.


"Hm... bahas ayang pa, tidak ada seru-serunya sama sekali." Azzam menghela napas, menyimpan mainannya, lalu melipat kedua tangannya di dada. Semua pasangan yang belum menikah itu menelan saliva mereka susah, bahkan Rio sampai ceguka. Bian dan Arini sampai di sofa, mereka saling padang, mengernyit, mendengar perkataan anaknya.


"Ayang?" Ulang Bian masih mengernyit, menanyakan dengan jelas ucapan anaknya barusan.


"Iya, ayang pa. Ayang itu sudah bikin Azzam bingung!" Azzam berlaga memijat pelipisnya, lalu menggeleng-nggelengkan kepalanya.


Ucapan Azzam semakin membuat Bian dan Arini bingung saja. Sedangkan Rio, Rangga, Arumi, dan Hana, jangtung mereka terpacu karena sudah mencemari pikiran anak pemilik rumah.


"Tadi Om Rio panggil Tante Hana pake sebutan ayang, terus Om Rangga bilang ayang itu peyang. Jadi, ayang yang benar itu apa? Pas Azzam nanya, mereka sibuk main sendiri. Om Rio sama Tante Hana, Om Rangga sama Aunty Arumi. Terus Azzam suruh main sendiri." Ucap Azzam mengadukan semua pada kedua orang tuanya.


Mata Bian dan Arini melebar, kini mereka mengerti penjelasan Azzam. Bian menarik napas, lalu dilepaskannya. Menatap satu-satu mereka berempat yang sudah mencemari mata dan telinga buah hatinya yang masih polospolos ini, Arini menggeleng-nggelengkan kepala tidak habis pikir dengan mereka berempat.


Keempat orang itu menunduk, tidak berani menatap orang tua Azzam. Rangga melirik Rio, ini semua gara-gara dia yang memulai. Dan kini mereka semua akan mendapakan amukan dari ayah anak ini.


"Kalian semua keterlaluan sekali mencemari otak polos anak ku! Dan kau Rio, tadi ku minta kau menjaga anak ku. Bukan malah bersenang-senang dengan ketiga orang ini." Perkataan Bian sontak membuat mereka semua semakin menunduk. Rasa bersalah menyelimuti mereka berempat.


"Aku tahu ini memang bukan pekerjaan mu, tapi aku meminta tolong untuk menjaga anak ku sebentar." Lanjut Bian menatap sekretarisnya yang sangat ia percaya.


Rio semakin merasa bersalah, seharusnya ia menjaga anak atasannya ini dengan baik. Karena bagaimana pun atasannya ini selalu memberikannya bonus untuk pekerjaan di kantor maupun pekerjaan pribadi.


"Mas... sudah." Arini mengusap punggung suaminya untuk menenangkan, lagi pula Azzam sepertinya tidak apa-apa.


"Maaf, Tuan. Kami memang mengaku salah." Rio berkata lirih.


"Aku juga mengaku salah, tapi yang memang lebih bersalah dia." Ucap Rangga menunjuk Rio, dan tentu saja langsung mendapatkan cubita dari Arumi.


"Maafkan kami." Arumi dan Hana berkata bersamaan.


Bian kembali menghela napas, ini juga sebenarnya salahnya. Salah karena telah menitipkan anaknya pada orang-orang ini.


"Baiklah aku memaafkan kalian. Tapi aku tidak tahu dengan pangeran kecil kami." Bian melirik Azzam yang masih terlihat marah karena dicuekin oleh mereka berempat sejak tadi.


"Boy... Om minta maaf ya." Ucap Rangga tersenyum manis pada Azzam yang tengah melipat kedua tangannya di dada. Azzam tidak menjawab, ia menatap dingin keempat orang itu.


"Nanti Om belikan sesuatu, atau Om ajak Azzam ke perusahaan besok. Kan katanya Azzam mau lihat perusahaannya Om, nanti Om siapin makanan deh. Kita makan-makan." Tawaran menggiurkan pun dilancarkan, membuat mata Azzam sedikit berbinar.


"Iya, nanti di sana Aunty bawakan mainan baru lagi." Arini menabahkan bumbu agar anak kecil ini mau memaafkan mereka.


"Oke... oke, Azzam mau tapi dengan beberapa syarat." Ucap Azzam, tidak membiarkan begitu saja kesalahan mereka.


"Apa? Katakan saja, Om bakalan lakuin apa saja buat memenuhi syarat dari kamu." Ucap Rio dengan sungguh-sungguh.


"Iya." Hana mengangguk, ikut menimpali.


"Hm... Azzam terima tawaran dari Om Rangga sama Aunty Arumi. Tapi Azzam mau ajak mama sama papa juga, terus Aunty jangan belikan mainan yang udah ada. Tente Hana belikan eskrim yang sering kita makan, dan Om Rio... mmmm... Om Rio apaya?" Azzam bepikir keras untuk persyaratannya pada Rio.


"Umm... kalau Om Rio...." Azzam masih berpikir, semua yang ia inginkan sudah ia ajukannya pada tiga orang ini. "Ya... Om Rio temanin Azzam pergi bermain, nanti kita naik komedi putar." Lanjut Azzam memberitahukan persyaratannya untuk Rio, dan langsung dianggukki oleh Rio dengan semangat.


"Baiklah, semua persyaratannya kami terima. Jadi Azzam maafin kami kan?" Tanya Rangga.


"Iya, sudah Azzam maafin kok." Ujar Azzam menunjukkan jarinya ok, dan keempat orang itu pun bernapas lega mendengar jawaban tersebut.


Melihat suasana sudah kembali membaik, Arini pun membuka suara. "Hmm... karena semuanya sudah di sini, jadi kita makan malam bareng saja." Ia mengusulkan.


"Kalau begitu, ayo kita masak...." Hana menyambut riang usulan atasan Arini.


"Ayo...." Ajak Azzam semangat.


"Eh... laki-laki tunggu di sini saja, biar perempuan yang masak." Ujar Arumi membuat Azzam menunduk murung.


"Ya... Azzam juga mau ikut masak Aunty." Azzam memoyongkan bibirnya tidak terima.


"Iya, kami juga mau ikut masak biar jadi suami siaga kalau nanti istri hamil. Heheh...." Rangga mengedipkan mata pada Arumi, membuat mata Arumi melotot lebar.


"Tida---" Arumi baru saja ingin menolak, tapi Bian langsung menimpali. Rupanya ia memikirkan apa yang Rangga katakan barusan, iya juga ingin menjadi suami siaga kalau istrinya nanti hamil untuk kedua kalinya.


"Kami tidak menerima penolakan." Ujar Bian.


"Ya sudah... ya sudah, ayo kita masak. Tapi awas kalau kalain hanya jadi pengacau!" Arini memperbolehkan semua laki-laki itu untuk ikut memasak bersama mereka.


"Yeiii... ayo...." Azzam berlari semangat menuju dapur.


Sampainya di dapur, para perempuan langsung memimpin agenda kegiatan. Dan mereka yang laki-laki juga tak ingin kalah.


Bian dan Rio mendekati Arini dan Hana yang tengan memotong sayur. Sedangkan Rangga dan Azzam mendekati Arumi yang tengah menuangkan tepung terigu ke dalam mangkok.


"Sini biar kami bantu potong sayurnya." Tawar Bian diikuti Rio yang sudah memegang pisau untuk mereka berdua. Arini dan Hana saling pandang, lalu mereka berdua pun mengangguk mempersilahkan mereka berdua. Bian dan Rio tersenyum lebar mendapatkan anggukan itu. Dan lama kelamaan, mereka seperti membentuk group memasang. Arini bersama Bian, Hana dengan Rio, dan Arumi bersama Rangga dan Azzam.


"Bukan begitu cara potongannya mas... tuh, lihat caranya Rio. Semuanya sama rata, nggak kaya kamu yang panjang pendek begini." Arini menggeleng-nggelengkan kepala, melihat potongan kacang panjang suaminya yang panjang pendek.


Bian menoleh pada potongan Rio yang memang sangat rapi tidak seperti potongannya. Ia pun tertawa malu-malu pada sang istri yang kini berdecak.


"Hehehe... ajarin sayang." Lirih Bian cengengesan.


"Ya, udah. Sini." Arini meraih kacang panjang di tangan suaminya, ia pun mulai mencontohkan cara potong yang benar.


"Coba diulangi mas." Arini menyuruh Bian untuk mempraktekkan cara potong yang sudah ia ajarkan. Bian mulai mempraktikkannya, namum hasilnya tetap saja sama dengan potongannya yang sebelumnya, panjak pendek.


"Aduh mas... nggak gitu. Kamu harus sesuikan panjang potongan pertama dengan kedua dan seterusnya." Arini kembali menggelengkan kepalanya.


"Gimana sayang...?" Bian berkata menyerah, ia sama sekali tidak mengerti cara memotong kacang panjang ini.


"Ck, memotong yang mudah begini saja kamu nggak bisa mas." Decak Arini berdiri di belakang suaminya. Ia mulai memegang tangan suaminya yang tengan memegang pisau, dan satunya yang tengan memegang kacang panjang. Arini mulai menjelaskan dan mencontohkan cara potong yang baik dan benar. Sedangkan Bian sedang menegang, istrinya seperti sedang memeluknya dari belakang.


Apa yang dijelaskan dan dicontohkan oleh istrinya sama sekali tidak ia perhatikan. Ya... ia sedang memerhatikan wajah istrinya yang menyaping ini, sangat enak untuk diperhatikan. Dan tak sadar, bibirnya mengecup pipi mulus nan putih itu.


"Mas...!" Panggil Arini geram, rupanya suaminya ini tidak memerhatikan apa yang sedang ia jelaskan. Dan untung saja adegan barusan tidak dilihat oleh mereka semua karena sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Hehehehe... kamu cantik sayang." Bian malah memuji istrinya yang tengah marah itu.


Di group Hana dan Rio, mereka bedua memotong sayur dengan tenang. Saling melempar senyum, sesekali melotarkan kata-kata sayang yang membuat hati Hana berbunga-bunga.


Sedang di group Arumi, Rangga dan Azzam, mereka bertiga bermain tepung. Saling mengoleskan tepung di wajah satu sama lain.


"Ahhh... Om Rangga curang, masa di Azzam terus diolesin tepung, Aunty Arumi nggak!" Azzam bersunggut atas kecurangan Rangga.


"Heheh... mau-maunya Om dong." Rangga tertawa puas.


Dan akhirnya dua jam kemudian, masakan mereka baru selesai. Lalu menikmatinya bersama di meja makan dengan canda tawa, menceritakan kembali cara memasak masing-masing.


*****


Bersambung...