
Sesampainya di rumah, setelah pulang sekolah, Azzam dan Arumi dikagetkan dengan bingkisan kado yang begitu banyak di ruang tamu.
Baik Azzam maupun Arumi terpelongo melihat semua bingkisan kado itu. Kira-kira semua kado itu dari siapa? Tanya Azzam dan Arumi dalam hati.
Mereka berjalan masuk, mendekati ruang tamu dan ingin melihat lebih dekat semua bingkisan itu.
Ibu Syahra yang tadinya membukakan pintu untuk Azzam dan Arumi, kini bersiap menutupnya kembali. Tapi, sebelum pintu itu tertutup rapat. Dari luar terdengar seseorang memberi salam.
"Wa’alaikumussalam." Jawab ibu Syahra seraya membuka lebar kembali pintu itu. Dan terlihat Arini yang sedang berdiri di depannya.
"Eh... kamu sudah pulang, nak?" Tanya ibu Syahra, melihat anaknya Arini sudah kembali ke rumah. Padahal Arini baru saja keluar beberapa jam yang lalu.
"Iya Bu, Arin pulang." Jawab Arini menyalami tangan ibunya.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu dan kamu yang tidak masuk kantor satu Minggu ini? Apakah sudah kamu atur?" Tanya ibu Syahra lagi, dan kali ini ia benar-benar menutup pintu itu dengan rapat.
"Iya, semuanya sudah Arin atur, masalah pekerjaan Arin akan serahkan pada Arumi untuk sementara dan nanti akan dibantu oleh Hana." Jawab Arini. "Oh iya, Arumi sama Azzam sudah pulang Bu?" Lanjut Arini bertanya.
"Mereka berdua baru saja pulang, sepertinya ada di balik bingkisan kado itu." Jawab ibu Syahra, matanya mengarah pada meja ruang tamu yang di penuhi oleh bingkisan kado seserahan itu.
Arini dan ibu Syahra mendekati ruang tamu, dan terlihatlah Arumi dan Azzam yang masih terpelongo melihat banyaknya bingkisan kado itu.
"Wahhh... kadonya banyak sekali." Ucap Azzam terkagum-kagum, lalu memutari kado-kado itu.
"Hmmm... bukan main." Ucap Arumi mengangguk, menjawab ucapan dari Azzam. "Tapi... dari mana semua kado ini datang? Apakah ada yang datang melamar?" Tanya Arumi sembarangan.
"Iya, memang ada yang datang melamar." Jawab ibu Syahra, lalu duduk di sofa ruang tamu dan di ikuti oleh Arini.
"A-apaaa...?" Teriak Arumi mendekati ibunya. "Ada yang datang melamar? Siapa? Dan siapa yang di lamar?" Tanya Arumi beruntun, dengan ekspresi wajah yang begitu kaget. Azzam yang mendengar suara Arumi yang berteriak itu pun seketika menoleh kepada ketiga orang dewasa di hadapannya.
"Kamu!" Jawab Arini singkat, tanpa menoleh pada adiknya.
"A-aapa?!! A-aku?!" Tunjuk Arumi pada dirinya, Arini mengangguk melihat ekspresi sang adik yang begitu kaget. Ibu Syahra menggeleng-nggelengkan kepalanya. Azzam masih menatap ketiga orang dewasa di depannya, tidak mengerti maksud pembicaraan mereka.
"Hmmm... dasar anak itu!!! Aku tidak menyangka dia datang tanpa diriku! Tapi, kalau begitu kenapa dia tidak memberitahu ku terlebih dahulu? Terakhir kali kan, dia pergi bersama orang-orang itu. Tanpa kabar dan tiba-tiba datang melamar seperti ini?" Gumam Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa ada kejanggalan.
"Anak siapa?" Tanya Arini, karena suara Arumi yang samar-samar terdengar.
"Eh... ti-tidak, mungkin kakak salah dengar." Kilah Arumi. Tidak mungkin 'kan, ia mengaku kalau Rangga telah melamarnya! Ah, anak itu! Runtuk Arumi dalam hati.
"Tidak! Aku tidak salah dengar, ayo ceritakan. Siapa anak itu?" Elak Arini, merasa pendengarannya tidak salah. Sekalian ia memberikan pelajaran pada sang adik yang selalu mempermainkannya dari dulu hingga sekarang.
Wajah Arumi mulai tidak bisa terkontrol, kini raut wajahnya sedikit demi sedikit menunjukkan kekhawatiran dan perasaan marah sekaligus terhadap Rangga. Arini yang melihat itu, menahan tawanya sebisa mungkin.
"Sudah-sudah, jangan mempermainkan adikmu seperti itu. Lihatlah wajahnya kini berubah seperti itu." Ujar ibu Syahra kembali menggeleng-nggelengkan kepalanya.
Arumi yang mendengar perkataan ibunya, seketika mengernyit, dan sesaat kemudian ia mengerti maksud perkataan ibunya.
"Kakakkkk! Pasti kau mempermainkan aku kan!" Sarkas Arumi, tidak terima.
"Ahahah... lihatlah wajah khawatir mu itu, sungguh lucu." Arini tertawa terbahak-bahak, sukses mempermainkan Arumi. "Hahaha... memangnya siapa laki-laki yang dekat dengan adikku ini? Sehingga takut dilamar oleh-nya?" Lanjut Arini bertanya, masih dengan nada tawanya. Azzam di tempatnya berdiri, menggaruk-garuk kepalanya tidak mengerti.
"Lamar? Siapa yang dilamar?" Tanya Azzam tiba-tiba, menghentikan tawa Arini.
"Eh... Lamar itu apa?" Tanya Azzam yang baru pertama kali mendengar perkataan itu. Membuat Arumi yang mendengarnya menepuk jidatnya sendiri.
"Lamar itu meminta seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Kaya drama pangeran yang melamar cinderella yang kita nonton di sekolah mu." Jawab Arumi dan Azzam hanya mengangguk-anggukan kepalanya seraya memikirkan penjelasan Arumi.
"Berarti yang dilamar adalah cinderella dan yang melamarnya adalah pangeran, lalu mereka akan jadi keluarga dan bahagia?" Tanya Azzam ingin memastikan.
"Yaa... mereka akan jadi keluarga dan bahagia." Timpal Arumi.
Arini masih diam, belum menjawab pertanyaan keduanya. Lalu sesaat kemudian ia pun melambaikan tangannya pada Azzam sang anak dan Azzam mendekatinya.
Arini menarik Azzam, lalu di dudukinya di atas pangkuannya. Ia mencium kepala sang anak, dan bersiap menjawab pertanyaannya tadi.
"Azzam tahu apa itu keluarga?" Tanya Arini, mulai berbicara untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Tentu saja Azzam tahu, keluarga itu kaya Rendi tetangga kita kan mah. Dia punya Ayah, punya Mama, dan punya Adek." Jawab Azzam mencontohkan dengan tetangga mereka.
"Iya, keluarga itu kaya Rendi yang punya Ayah, Mama, dan Adek." Timpal Arini menyetujui jawaban sang anak. "Azzam mau kaya Rendi?" Lanjut Arini lagi bertanya, membuat Azzam refleks membalikkan kepalanya untuk melihat wajah Arini.
"Apakah mama sudah mendapatkan ayah untuk Azzam?" Tanya Azzam antusias, mengingat tempo hari Arini pernah mengatakan akan mencari Ayah untuknya.
Wajah Azzam berbinar-binar, menunggu jawaban dari Arini. Arumi yang berada di samping mereka, menebak-nebak siapakah yang melamar kakaknya ini?
Arini melihat binar bahagia di mata Azzam sang anak. Jujur baru kali ini ia melihat binar kebahagiaan itu, ya... walaupun selama ini ia dan keluarganya selalu memberikan semua kebahagiaan pada Azzam. Tapi, baru kali ini ia melihat anaknya sangat bahagia.
Arini tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan dari sang anak.
"Yeiii... Azzam bakalan punya papa." Ujar Azzam turun dari pangkuan Arini, lalu melompat girang di sana. "Nenek... nenek dengarkan, Azzam akan punya papa." Azzam memberitahu neneknya, yang berada di dekatnya.
Ibu Syahra tersenyum lalu mengangguk. Melihat cucunya bahagia seperti ini, membuat ia juga ikut bahagia. Ia pun menoleh pada Arini, memegang tangannya. Membuat Arini juga ikut menoleh padanya, melihat mata berbinar juga terpancar di mata sang ibu.
Arini tersenyum, mengangguk kepada ibunya. Ia tahu maksud tatapan dari mata ibunya, membuat ia semakin yakin akan pernikahan ini. Karena semua rasa kekhawatirannya kini hilang sudah.
"Mah...." Panggil Azzam tiba-tiba pada Arini, ia teringat akan sesuatu.
"Ya, ada apa sayang?" Tanya Arini menoleh pada anaknya.
"Apakah? Apakah papa ku nanti adalah...." Tanya Azzam ragu-ragu.
Arini yang mengerti maksud pertanyaan dari anaknya, ia kembali tersenyum, lalu mengangguk.
"Yeiii...." Azzam kembali girang dengan anggukan dari mamanya, sungguh ia sangat senang karena yang ia impikan selama ini bisa terwujud juga. Memiliki keluarga yang utuh seperti Rendi tetangganya. Memiliki papa seperti Bian.
"Eh... tunggu, memangnya kamu tahu siapa calon papamu hanya dengan anggukan?" Tanya Arumi bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tentu saja!" Jawab Azzam, membuat Arumi semakin bingung. Ibu Syahra dan Arini hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
*****
Bersambung...