My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Apa yang Kamu Sembunyikan dari Kami?



Malam ini Bian di perintahkan langsung oleh papanya untuk datang ke Mansion utama. Tidak untuk menghadiri makan malam seperti biasa, karena saat ini Bian langsung di persilahkan untuk duduk di ruang tamu, duduk berhadapan dengan Tuan Dean dan mamanya Mira.


Bian diam, belum membuka suaranya. Ia menunggu baik dari papa maupun mamanya yang berbicara terlebih dahulu, kenapa mereka memanggilnya untuk datang ke sini kalau buka untuk makan malam bersama.


Lama Bian menunggu, tapi kedua orang tuanya ini sepertinya tidak berniat membuka suara mereka terlebih dahulu. Bian menepuk-nepuk pahamnya, menunggu sebentar lagi. Dan akhirnya, ia pun bertanya karena sudah sangat lama menunggu.


"Pah... Mah... sebenarnya kenapa kalian memanggi---" Belum sempat Bian meneruskan bicaranya, Tuan Dean sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Apa yang kamu SEMBUNYIKAN dari kami, Bian?" Ucap Tuan Dean dingin, menatap Bian tajam, dan sengaja menekankan kata 'sembunyikan'.


Bian kembali terdiam, balas menatap papanya dengan tatapan bingung, lalu beralih menatap mamanya yang sekarang memicingkan matanya menatap ke arahnya.


"Menyembunyikan apa?" Tanya Bian bingung. Karena memang ia tidak mengerti sama sekali maksud dari ucapan papanya, beserta sikap yang di tunjukkan oleh kedua orang tuanya ini.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Bian! Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini pada kami?!" Ujar mama Mira greget melihat tingkah anaknya yang pura-pura tidak tahu itu.


Bian semakin bingung, tidak mengerti maksud pembicaraan kedua orang tuanya sejak tadi. "Menyembunyikan hal besar apa, Mah? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?"


Mama Mira meraih amplop coklat yang di pegang oleh suaminya sedari tadi, "Itu... kamu lihat sendiri." ucapnya melempar pelan amplop coklat itu di atas meja dekat tempat duduk Bian.


Bian meraih amplop coklat itu dan mulai membukanya. Ia melihat satu persatu isi amplop itu, yang berupa fotonya dengan Arini dan juga Azzam. Dan tidak hanya itu, di amplop itu juga sudah terdapat berkas yang berisi informasi yang akurat mengenai Arini dan Azzam.


"D-dari mana pa-pa sama m-mama mendapatkan semua ini?" Lirih Bian tergagap-gagap, sembari melihat semua foto-foto itu.


Sejak melihat dan membuktikan secara langsung perkataan istrinya, membuat Tuan Dean bertindak lebih cepat, ia menyuruh beberapa bawahannya untuk mencari tahu tentang Arini dan anaknya Azzam.


"Sekarang sudah tahu apa yang kamu sembunyikan, hmm." Mama Mira bangun, menarik daun telinga Bian kuat-kuat.


"Aa-aukhhh... sakit, Mah." Bian meringis kesakitan, memegang telinganya yang masih di tarik oleh mamanya.


"Kenapa kamu bisa menyembunyikan hal sebesar ini pada kami, Biannn! Terus apa yang kamu lakukan terhadap anak orang sehingga dia bisa seperti itu, hmmm.... Apa kamu hanya memasukkan di telinga kanan lalu keluar di kiri semua nasehat kami, JANGAN MENYENTUH APALAGI MENGHAMILI ANAK PEREMPUAN ORANG SEBELUM MENIKAHINYA! Kamu lupa dengan peringatan itu Bian?!!!" Mama Mira geram setengah mati, ia menarik lebih keras lagi daun telinga Bian anak dungunya ini.


"A-aaukkhhh...." Bian semakin merintis kesakitan, rasanya telinga bagian kirinya ini segera akan copot jika mamanya terus menariknya seperti ini. "Pah...." Lirih Bian memanggil papanya, berniat meminta tolong dari amukan sang mama.


Tuan Dean diam saja, tidak berniat ikut campur. Ia membiarkan saja dulu istrinya mengeluarkan semua kemarahannya pada Bian yang memang pantas mendapatkan itu, bahkan lebih dari itu lagi kalau bisa.


"Kamu tahu Bian, bagaimana perasaan dan rasanya menjadi perempuan itu ketika mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari mu? Di tambah lagi membesarkan anak itu sendirian, hmm...! Kamu tahu dan bisa merasakan semua itu? Tidak 'kan! Jadi kenapa kamu melakukan itu Biaann, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya dan apa akibatnya?" Mama Mira bertanya atas tindakan bodoh anaknya ini.


Kenapa dia tidak memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak, sekiranya memiliki bagaimana perasaan perempuan itu dan apa akibatnya baik untuk dirinya maupun perempuan itu.


"Dasar bodoh, kenapa aku bisa melahirkan anak sebodoh ini." Maki mama Mira dalam hati.


"A-aku melakukan itu tidak sengaja, Mah!" Bian berusaha menjelaskan dan membela dirinya.


"T-tidak begitu, Mah." Bian membantah ucapan mamanya.


"Tidak begitu apa, hah? Jangan mengelak kamu!!!" Ujar mama Mira tidak ingin Bian tidak mengakui kesalahannya. "Arini itu anak baik-baik, tidak seperti kamu yang brensek ini. Jadi semua kesalahan itu sudah pasti kamu yang membuatnya dan membiarkan Arini menerima semua itu sendirian." Lanjutnya lagi.


"A-aku tahu mah, Arini memang tidak bersalah. Tapi, dengarkan dulu penjelasan ku dan lepaskan tarikan ini. Ini sangat sakit, telinga ku bisa copot nanti. Aa-aukhhh...."


"Lepaskan, Mah. Biarkan dia menjelaskan semuanya terlebih dahulu, baru mama bisa melanjutkannya di telinga sebelah kanannya." Ucap Tuan Dean santai, membuat Bian kembali meringis dan menutup telinga kanannya sebelum di tari oleh tangan mamanya.


Mama Mira mengangguk, melepaskan tangannya dari telinga Bian. Ia kembali duduk di samping sang suami, menatap geram pada Bian, menunggu penjelasannya.


"Aaaa... uukfff...." Bian mengipasi telinga kirinya yang baru saja terlepas dari tarikan tangan mamanya.


Jangan di tanya apakah telinganya merah bak apa sekarang, dan jangan di tanya seberapa sakitnya. Sungguh kalau bisa memilih, Bian lebih memilih sakit hati di putuskan oleh pacarnya ketimbang merasakan sakit di telinga kirinya ini. Tapi, jika di suruh memilih antara berpisah dengan Arini dan Azzam. Maka, ini belum seberapa dan belum ada apa-apanya.


"Cepat jelaskan! Kenapa kamu diam di situ? Apa perlu telinga mu itu copot sekalian, baru kamu mau menjelaskannya?" Sarkas mama Mira tidak sabaran.


Bian menggeleng cepat, tidak mau telinganya terlepas dari tempatnya. Ia pun mulai bercerita, dari kejadian di kampus itu, membuat perhitungan pada Arini, dijebak oleh Marvel sepupunya, memberikan uang kepada Arini untuk melupakan kejadian itu, dan terakhir alasan dia tidak mau bertanggung jawab. Semua ia ceritakan tanpa di kurangi atau pun dilebihkan, kecuali tentang itu. Tentang kenapa mereka bisa mendapat Azzam.


Tuan Dean dan mama Mira saling melirik, mereka belum tahu dan tidak menyangka bahkan keponakannya sendirilah yang menjebak Bian.


Dan yang lebih membuat mereka tidak menyangka lagi, Bian anak dungunya ini tidak mau bertanggung jawab pada Arini atas perbuatannya hanya karena ancaman harta itu.


"Jadi Marvel yang menjebak mu?" Tanya Tuan Dean, dan di angguki oleh Bian.


"Apa kamu sudah mencari tahu kebenarannya? Karena setahu papa Marvel adalah pribadi yang baik, dan tidak tergila-gila dengan harta seperti yang kamu ceritakan tadi." Ujar Tuan Dean bertanya ingin meyakinkan, karena setahu dia Marvel tidak seperti itu.


"Iya, Pah. Aku sudah mencari tahu kebenarannya, bahkan Rio yang membantu ku." Jawab Bian menjelaskan.


"Apa! Jadi Rio sudah mengetahui kebenarannya terlebih dahulu." Ujar Tuan Dean dengan suara naik satu oktaf.


"Sudah, Pah. Rio tidak bersalah, pasti anak dungu mu ini yang membuat Rio tidak memberitahu dan ikut menyembunyikan hal ini." Ucap mama Mira yang mengetahui suaminya tengah marah terhadap Rio yang tidak memberitahunya tentang masalah ini.


Tuan Dean menghembuskan napas, lalu mengangguk. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya juga, lagi pula kalau pun Rio tidak memberitahunya yang patut di salahkan itu tetaplah Bian. Karena semua itu, berawal dari dia semata.


"Heh... tadi kamu bilang memberikan cek yang berisi sejumlah uang pada Arini, apa dia menerimanya?" Tanya mama Mira menunjuk Bian dengan menaikkan satu alisnya.


*****


Bersambung...