My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Makan Bersama



Sampai di restoran, Bian memarkirkan mobil Arini di tempat parkir yang telah tersedia. Mereka turun dan memasuki restoran itu bersama. Arini menggandeng Azzam, sedangkan Bian berjalan di samping ibu dan anak ini. Ingin ia ikut menggandeng Azzam, tapi takut Arini akan keberatan dan membatalkan acara makan siang bersama ini.


Memasuki pintu restoran, tak sedikit orang yang melihat ke arah mereka bertiga. Namun, beberapa saat kemudian orang-orang itu kembali pada kesibukannya masing-masing. Mengabaikan tiga orang yang baru saja masuk itu. Karena restoran ini merupakan restoran ter-elite di Jakarta yang langsung di pilih oleh Bian sang pengemudi mobil.


Bian tidak ingin menyanyiakan waktu makan bersama Arini dan Azzam di restoran biasa. Dan apalagi ini adalah acara makan bersama mereka untuk yang pertama kalinya.


Mereka memilih kursi makan bersama pelanggan yang lain, karena tidak merasa terganggu jika berbaur dengan mereka. Sebenarnya Bian ingin makan di ruang VVIP restoran itu saja, agar acara makan bersama mereka bisa lebih lancar. Namun, Arini menolaknya dengan dalil Azzam lebih suka makan sambil melihat jalan dan Azzam mengangguk mengiyakan perkataan mamanya itu.


"Mau pesan apa?" tanya Arini pada Azzam, melihat-lihat menu makanan yang ada di buku menu itu.


"Nasi goreng spesial telur mata sapi." Ucap Azzam dan Bian bersamaan.


"Maaf, saya bertanya pada anak saya." Ujar Arini memperjelas pertanyaannya jatuh kepada siapa, mendengar Bian juga ikut menjawab.


"Ya, aku tahu." Ujar Bian merasa sedikit kecewa. "Tapi, aku juga ingin memesan nasi goreng spesial telur mata sapi." Lanjut Bian, membela diri.


Arini mendelik, "Kenapa harus datang ke restoran elite seperti ini, jika hanya memesan makanan seperti itu?" tanya Arini tidak percaya. Pasalnya makanan seperti itu bisa didapatkan di restoran biasa saja, tidak harus datang ke restoran elite seperti ini. Lagi pula makanan seperti ini di restoran biasa tidak kalah enaknya dengan restoran elite ini, dan yang lebih penting lagi harganya relatif lebih murah.


"Ingin saja." Jawab Bian singkat, mengangkat kedua bahunya. Membuat Arini menatap tidak percaya pada laki-laki di hadapannya ini.


"Mentang-mentang orang kaya, menghamburkan hartanya sesuka hati saja. Kenapa tidak makan di restoran biasa saja yang lebih murah dan uang dari biaya makan di sini bisa di sumbangkan kepada orang-orang yang bahkan tidak makan di luar sana." Gumam Arini setelah memberitahukan pesanan mereka pada pelayan restoran tersebut.


"Apa kamu sedang mengatakan sesuatu?" tanya Bian yang melihat bibir Arini bergerak seperti sedang mengatakan sesuatu, namun tidak ia dengar.


"Tidak, saya tidak mengatakan sesuatu." Jawab Arini tanpa menoleh pada Bian, dan malah fokus pada ponselnya.


Melihat respon seperti itu dari Arini, Bian pun beralih bertanya pada Azzam. Sekalian menghilangkan sedikit kecanggungan di antara mereka bertiga, sembari menunggu pesanan datang.


"Apa kamu suka makan nasi goreng spesial telur mata sapi?" tanya Bian menatap Azzam, mengingat mereka menyebutkan pesanan mereka bersamaan.


"Iya, aku sangat suka makan itu." Jawab Azzam mengangguk mengiyakan. Bian tersenyum, ternyata bukan hanya wajahnya yang ia turunkan pada sang anak. Tapi, makanan ke sukaan nya pun juga ikut ia turunkan.


"Kalau om, suka makan itu?" Azzam balik bertanya.


"Hm, om juga sangat suka makan itu." Bian menjawab dengan tersenyum. Arini mendengarkan percakapan itu dengan seksama, pura-pura fokus pada ponselnya.


"Kenapa bisa gitu, ya?" tanya Azzam berpikir, mengelus-elus dagunya.


"Itu karena kamu my boy." Jawab Bian spontan.


"Maksud om?" tanya Azzam yang mendengar jawaban Bian, ingin meyakinkan. Sedangkan Arini mendelik tak suka.


"Eh, maksud om. Itu karena kebetulan saja, ya itu karena kebetulan saja." Ucap Bian cepat, baru menyadari perkataannya barusan. Arini memutar jengah bola matanya.


"Hm, baru mengakuinya sekarang." Gumam Arini dalam hati, tersenyum miring.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arini yang menyadari perubahan wajah dari anaknya.


"Itu... anu...." Ucap Azzam tidak ingin mengatakan kalau ia sedang memikirkan memiliki seorang papa. "Eh... nggak papa kok, mah." Jawab Azzam kemudian, berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu jangan bohong sama mama." Ucap Arini mengetahui Azzam sedang menyembunyikan sesuatu. "Sekarang katakan kenapa wajah mu seperti ini, apa yang sedang kamu pikirkan sayang. Katakan sama mama, mama nggak akan marah kok." Lanjut Arini dengan suara lembutnya agar Azzam mau mengatakan sesuatu yang membuat wajahnya berubah sedih. Bian memerhatikan interaksi antara Arini dan Azzam. Sungguh ia juga tak ingin melihat wajah sedih itu dari wajah Azzam.


"Hmmm... kalau aku mengatakannya, nanti Mama akan sedih." Ujar Azzam menunduk, khawatir kejadian kemarin terulang kembali saat ia mengatakan hal yang menyangkut papa.


"Tidak sayang, mama tidak akan sedih." Ujar Arini meyakinkan, karena ia tidak ingin membuat anaknya menyimpan masalahnya sendiri.


"Aku---" Ujar Azzam takut-takut masih menunduk.


"Iya sayang, kenapa?" Arini berusaha membuat anaknya itu berbicara.


"Aku... apakah bisa memiliki seorang papa seperti teman-teman ku yang lain?" ujar Azzam mengangkat kepalanya, yang matanya sudah berkaca-kaca itu.


Arini maupun Bian terkesiap mendengar penuturan Azzam, jadi inilah yang membuat wajah Azzam murung dan sedih sejak tadi.


"Sayang." Arini memeluk Azzam, berharap dapat menenangkan anaknya ini dengan pelukannya. Namun, apa yang terjadi? Azzam malah terisak kecil di pelukan sang mama.


Bian yang melihat itu, tidak tahan lagi ia pun berusaha menghibur Azzam dengan berbagai cara. Namun, semua caranya itu sia-sia saja. Sampai makanan pesanan mereka pun datang.


Makanan itu tersedia di atas meja, namun belum satu orang pun yang menyentuh makanan itu. Karena Azzam masih belum menyentuh makanannya, jadi Arini maupun Bian juga ikut tidak menyentuh makanan mereka.


"Azzam... ayo makan makanannya sayang, nanti makanannya nangis loh. Kan Azzam sendiri tadi yang bilang mau makan." Arini masih mencoba untuk membujuk anaknya ini. Namun, tak di hiraukan oleh Azzam. Begitu juga dengan Bian, sudah segala cara ia gunakan untuk membujuk Azzam.


"Azzam." Panggil Bian ke sekian kalinya. "Azzam boleh kok anggap om Bian jadi papanya Azzam." Ucap Bian sedikit ragu, melirik Arini. Yang sekarang wajahnya juga ikut sedih melihat tingkah Azzam. Dan Bian tidak tega melihat dua orang ini sedih di hadapan, jadilah ia memiliki sedikit keberanian untuk mengatakan itu.


"Benarkah om?" tanya Azzam melepas pelukannya dari sang mama. Tersembur kebahagiaan di wajah sembabnya. Bian mengangguk tersenyum, tulus dengan perkataannya.


"Apa boleh, Azzam menganggap om Bian sebagai papa Azzam?" ijin Azzam pada mamanya, dengan wajah yang semakin berbinar. Ia ingin merasakan memiliki seorang papa walaupun hanya sebentar.


Arini yang tak tega merusak kebahagiaan anaknya dan membuat Azzam kembali sedih, ia pun mengangguk pelan. "Iya, boleh." Ucap Arini menghapus sisa-sisa air mata Azzam.


"Sebenarnya kamu tidak perlu menganggap ku sebagai papa mu, karena aku memang adalah papa mu." Gumam Bian dalam hati, tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di wajah Azzam.


"Maafkan semua kesalahan papa, yang terus membuat kesedihan untuk mu dan juga mama mu. Papa janji, kalau masih ada kesempatan. Papa akan memberikan semua kebahagiaan yang papa miliki untuk kalian berdua." Gumam Bian lagi menatap Arini dan Azzam bergantian.


*****


Bersambung...