
Bian dan Marvel menganggung serentak, tentu saja, karena Bian sudah berhasil mendapatkan semua informasi mengenai Marvel dan keterlibatannya pada kejadian itu.
"Hm...." Tuan Dean kembali berdehem pelan, kali ini ia menghela napas. Rupanya kebenaran ini cukup sulit untuk disampaikan, ya walau pun semuanya sudah terlihat akur dan baik-baik saja, tapi kebenaran ini sudah seperti luka lama yang baru sembuh kini harus tergores lagi.
"Pah.... " Panggil Bian menoleh ke arah Tuan Dean, Bian berusaha mengubah arah pembicaraan sejenak, karena tidak mau istrinya ini mendengar apa yang akan mereka bicarakan.
"Azzam dan Alysha dimana? Biar Arini menyusul mereka." Ujar Bian membuat Arini mengernyit, kenapa suaminya berkata seperti itu, apakah ia berusaha menjauhkannya dari pembicaraan ini? Batin Arini bertanya-tanya. Dan baru saja ia ingin mengeluarkan suaranya, papa mertuanya sudah terlebih dahulu berucap.
"Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan Bian...! Papa tahu yang paling akan merasakan sakit di sini adalah istrimu, tapi dia juga berhak tahu atas kebenaran semua ini, dan papa juga melakukannya demi kebaikan kalian semua." Tuan Dean berkata dingin, membuat suasana ruang tamu itu mencekam.
Tubuh Arini terasa lemas, ia menunduk, apalagi ini? Kenapa dia yang paling akan merasakan sakit? Sebenarnya apa maksud semua ini? Gumam Arini dalam hati.
"Ya, aku memang ingin melakukan itu. Karena lebih baik istriku tidak mengetahui saja kebenaran ini, luka lama baru saja sembuh jangan kalian buka lagi, aku tidak mau istriku merasa sakit dan mengeluarkan air mata berharganya la---." Ucap Bian tak kalah dinginnya, mengeratkan pelukan pada pinggang istrinya, lalu meraih tangannya untuk ia genggam.
"Dia berhak tahu Bian!" Potong Tuan Dean dengan suaranya yang di tekan. "Dia berhak tahu kebenaran ini walaupun menyakitkan." Lanjut Tuan Dean dengan suara kembali tenang.
Marvel yang berada di antara mereka, mendengar dengan jelas percakapan mereka, menunduk sangat menyesali semua perbuatannya.
"Maaf.... " Kata itu lolos terucap di mulut Marvel, lirih, namun didengar oleh semua yang berada di ruang tamu itu. Bahkan Arini yang tengah menunduk, kini mendongak.
"Maaf... maaf karena semua ini terjadi karena ulahku, maaf, aku sangat menyesalinya. Dan terutama untuk Arini, aku tahu permohonan maaf ini tidak seberapa dengan sakit yang kau rasakan beberapa tahu ini, aku tahu permohonan maaf ini tidak akan mengembalikan keadaan, serta aku juga tidak berharap agar kalian menerima permohonan maaf ku ini, kalian mendengarkannya saja sudah sangan cukup. Aku siap menerima hukuman apa pun dari kalian semua." Ucapan Marvel membuat keheningan di ruangan itu sejenak, ia menunduk dalam, sepertinya sangat menyesali perbuatannya.
Arini tidak bisa berkata apa-apa, ia bingung, sangat bingung, pikirannya juga terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, ia tidak mau menambah pertanyaan itu lagi. Tuan Dean tentu saja melihat raut kebingungan di wajah menantunya, ia akan menyampaikan kebenaran ini perlahan demi perlahan. Walaupun tidak ada niatan untuk menyakiti siapa pun, tapi mengetahui kebenaran ini tentu saja akan ada yang tersakati.
"Ya, kau memang salah Marvel. Tidak seharusnya kau memberitahu keberadaan Bian pada Martil saat itu, dan menyebabkan semua ini terjadi. Dengan informasi mu itu Martil sudah berhasil menjebak Bian, memasukkan obat perangsang itu di makanan Bian sehingga Arini pun ikut terlibat dalam rencana jahatnya itu." Tuan Dean sedikit mendengus tak kala menyebutkan nama Martil kerabat dari suami adiknya. Adiknya dan suaminya telah meninggal sejak Marvel masih kecil dalam sebuah kecelakaan mobil, membuat Marvel kecil diurus oleh Martil.
Tubuh Arini semakin melemas, kini bayang-bayang dari percakapan ini sudah terlihat sangat jelas. Membuat bayang-bayang lainnya bermunculan, membuat kebenaran mulai terkuak, dan yang paling menyakitkan, Arini kembali teringat dengan kejadian naas yang menimpanya beberapa tahu lalu, kejadian yang berusaha ia lupakan walaupun sudah ia ikhlaskan. Tubuhnya terasa bergetar, dan untung saja Bian cepat menyadari hal itu dan langsung memeluknya memberi ketenangan.
Marvel menunduk dalam, ia tidak membantah apa yang telah di ucapan oleh saudara dari ibunya ini. Ia juga menyesali perbuatannya, sama seperti yang lain. Dan tahu kah semua, ia juga tidak berharap kejadian naas itu menimpa Arini atau pun yang lain, dan satu hal lagi yang harus kalian semua tahu, ia juga tidak tahu bahwa paman Martil, pamannya itu mempergunakan informasi yang diberikan olehnya untuk menjebak Bian agar mendapatkan harta dari Tuan Dean Pratama. Andai semua tahu, Marvel berucap dalam hati kecilnya. Ia terus menunduk, dan meminta maaf berulang kali.
"Semua ini tentu buka salah mu, dan yang patut untuk paling disalahkan di sini adalah aku." Tuan Dean berkata menunduk, suaranya lirih, membuat Bian dan Marvel mendongak menatap ke arahnya. Baru kali seorang Dean Pratama berperilaku seperti ini.
"Aku yang telah membuat persyaratan konyol itu, agar Bian fokus kuliah dan tidak menyakiti hati perempuan, aku ingin dia tulus pada satu perempuan saja, tapi akibatnya malah membuat Martil menjadi bergairah untuk mendapatkan harta itu sehingga menghalalkan segala cara." Tuan Dean masih berkata lirih, mengaku kesalahannya. "Maka dari itu aku meminta maaf untuk semua perbuatan ku pada kalian semua, terutama pada Arini." Lanjut Tuan Dean, menghela napas, mendongak, memejamkan matanya.
Bian, Marvel, kembali menunduk, dan kali ini Arini yang mendongak menatap mertuanya, matanya sudah dibanjiri oleh air mata, tidak bisa dibendung lagi. Ia tidak tahan mendengar semua orang meminta maaf padanya, permohonan maaf mereka semakin membuat Arini merasa bersalah saja. Ia tidak sanggup menerimanya.
"Sudah pah, Arini tidak kuat mendengar kalian semua terus meminta maaf. Arini tidak sanggup, Arini tidak kuat, semuanya sudah cukup." Ucap Arini dengan tangisan, hati Bian terasa teriris. "Kalian semua adalah orang-orang yang Arini hargai, dan apa pun yang telah kalian semua lakukan sudah Arini maafkan tanpa kalian meminta maaf sekali pun. Mengenai kejadian itu, Arini sudah ikhlas dan berusaha melupakannya, serta mencari hikmah dibalik kejadiannya saja. Lagi pula bukan hanya Arini yang tersiksa di sini, tapi semuanya juga. " Ucap Arini mengusap kedua matanya yang terus dibanjiri oleh air mata. Ia tidak mau terus dianggap jadi korban, dan mendapatkan permohonan maaf dari mereka semua.
Semuanya terdiam, mencerna ucapan Arini, sejenak mereka berlabuh pada pemikirannya masing-masing, sampai Bian angkat bicara.
"Semua kebenarannya sudah terkuat, istri ku tidak mau kalian semua terus merasa bersalah karena kejadian itu. Jadi aku rasa pembicaraan ini sudah cukup." Bian bangun dari duduknya, langsung menggendong Arini, ia tidak tahan lagi melihat istrinya menangis. Ia membawa Arini ke atas lantai dua menuju kamarnya yang dulu.
Tuan Dean dan Marvel sama-sama terdiam, masalah ini sudah selesai, semoga kedepannya tidak akan lagi terjadi hal seperti ini, dan keluarga mereka menjadi akur selamanya. Beban di pundak mereka sedikit tidaknya, pun terangkat.
Suasana mencekam di ruang tamu yang baru saja selesai itu, sangat berbanding terbalik dengan suasana di taman belakang mansion utama yang penuh dengan canda tawa dari Azzam, Alysha, dan mama Mira. Seolah-olah mereka bertiga tidak ada beban hidup, hingga bisa tertawa lepas di sana.
*****
Bersambung...