
Gulir waktu terus berjalan, tak terasa sekarang sudah menunjukkan tengah malam. Namun acara itu masih saja berlanjut, para tamu undangan masih saja sibuk berbincang, ya walaupun sebagian dari mereka sudah mulai pulang ke kediaman.
Arini menatap sekitar, ia menghela napas, kakinya mulai kebas karena berdiri terlalu lama. Mulai dari acara ijab kabul, sampai resepsi, ia hanya beristirahat ketika berganti gaun saja.
"Istirahatlah... biar aku saja yang akan menyapa tamu-tamu ini." Ujar Bian yang seolah mengerti dengan keadaan Arini, yang sudah menjadi istrinya ini.
"Tapi ‘kan tidak enak dengan para ta--- akhh...." Ucap Arini tertahan, karena kaget langsung di gendong oleh Bian.
"Sudahlah, para tamu biar nanti ku urus. Lagi pula di sana ada papa." Bian membawa Arini dalam gendongannya, ia tidak tega melihat sang istri yang kelelahan.
"I-iya... tapi turunkan aku dulu, tidak enak dilihat oleh mereka." Bisik Arini berusaha turun dari gendongan Bian, ia sungguh malu dilihat oleh para tamu yang kini senyam-senyum entah apa yang mereka pikirkan.
"Aku tidak peduli." Ujar Bian santai, terus membawa Arini dalam gendongannya.
Arini berdecak, menghela napas, ia kembali melirik para tamu yang sekarang senyuman mereka semakin merekah saja.
"Akhhh... sungguh memalukan!" Batin Arini, tak sadar, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bian. Bian yang melihat kelakuan Arini hanya menyunggingkan seulas senyum.
"Istirahatlah... aku akan kembali ke bawah dan menyapa beberapa tamu lagi." Ujar Bian menurunkan Arini di atas kasur king size kamar mereka yang sudah disiapkan. Arini turun dengan wajah yang cemberut, memerah. Akibat marah sekaligus masih malu dengan sikap Bian yang seenaknya saja mengendongnya di hadapan para tamu.
Bian yang melihat Arini memasang wajah seperti itu, mengurungkan niatnya untuk keluar, ia menunduk, lalu mencium bibir Arini sekilas membuat Arini melotot tidak terima.
"Kamu semakin terlihat cantik memasang wajah seperti ini." Bian kembali menunduk, ingin mencium bibir Arini untuk kedua kalinya. Namun, dengan sigap Arini sudah menutup bibirnya.
Alhasil Bian pun tidak jadi merasakan sesuatu yang manis nan lembut itu kembali.
"Ya sudah... istirahatlah, aku akan kembali ke bawah." Ujar Bian mengelus kepala Arini dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Kaki Bian sudah mencapai ambang pintu, ia bahkan sudah memegang hendel pintu, bersiap keluar menyapa para tamu kembali. Namun, Arini memanggilnya, membuat ia kembali menoleh ke belakang
"Ada apa?" Tanya Bian, masih berdiri di tempatnya.
"Azzam." Ucap Arini mengingat anaknya, yang entah di mana sekarang.
"Hmm...." Bian mengerutkan keningnya, seolah-olah berpikir.
"Kenapa respon mu seperti itu? Di mana anak kita? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Arini beruntun, khawatir dengan anaknya.
Bian tersenyum, mendengar Arini menyebutkan 'anak kita', hatinya serasa berbunga-bunga dihinggapi oleh banyak kupu-kupu.
"Dimana Azzam? Apa dia baik-baik saja?" Arini kembali mengulangi pertanyaannya, ia mengernyit melihat Bian yang senyam-senyum sendiri belum menjawab pertanyaannya.
"Anak kita tentu saja baik-baik saja." Jawab Bian kemudian.
"Lalu dia ada di mana sekarang, aku ingin melihatnya." Timpal Arini, masih tidak tenang karena belum bertemu dengan anaknya.
"Hmmm... aku akan memberitahu mu dimana anak kita sekarang, tapi dengan satu syarat." Terbesit satu ide di pikiran Bian, ia kembali berjalan mendekati Arini di ranjang, seraya tersenyum, membuat Arini memicingkan mata.
"Syarat?! Memberitahu keberadaan anak sendiri saja memerlukan syarat?!" Tanya Arini tidak habis pikir.
"Tentu saja istriku." Jawab Bian terus mendekati Arini.
"Hmm... apa syaratnya? Cepat sebutkan!" Ketus Arini, yang sudah mulai jengah dengan sikap Bian. Bian semakin mendekat.
"Cium aku dulu, baru ku katakan di mana anak kita berada." Ujar Bian berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Arini yang sedang duduk di ranjang.
"Aapaaa! Ci-cium?!" Ucap Arini kaget, serta terbata-bata mendengar persyaratan Bian.
"Ada apa dengan orang ini? Masa memberitahukan keberadaan anak sendiri memerlukan persyaratan!" Batin Arini tidak habis pikir.
"Ayo, kenapa diam saja? Atau---" Bian mengangkat satu alisnya.
"Ba-baiklah." Arini menelan ludah, lalu dengan gerakan kilat ia mencium pipi Bian sebelah kanan. Bian menghela napas, Arini tidak mencium bibirnya.
"Sudah! Cepat katakan dimana Azzam?" Ulang Arini, setelah memenuhi syarat Bian.
"Eh... buka di sini, tapi di sini." Bian menunjuk bibirnya, dan lagi-lagi Arini melotot.
"Tadi kau tidak mengatakan itu!" Ucap Arini protes, menoleh ke arah lain, tidak ingin melihat bibir Bian.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku tidak akan mengatakannya." Bian bersiap bangun, namun kembali ditarik oleh tangan mungil Arini.
"Tutup matamu kalau begitu." Ucap Arini, tidak ingin Bian melihat, karena ini menurutnya sangat memalukan.
Bian mengikuti saja semua ucapan Arini, dari pada ia tidak mendapatkannya sama sekali.
Melihat Bian sudah menutup matanya, dengan ragu-ragu Arini mendekat ke wajah Bian, dan bibir mereka pun bertemu.
Arini ingin melepas ciuman mereka, tapi tangan kekar Bian terlebih dahulu menahan kepalanya agar tidak menjauh.
Bian menikmati setiap sentuhan kelembutan yang ada di bibir Arini, ia mulai melum*at, merenggut kemanisan yang pernah ia coba sebelumnya.
Bian memainkan bibirnya di bibir bawah Arini, lalu puas dengan itu, ia berganti memainkan bibir atasnya.
Puas dengan itu semua, Bian mulai menerobos ke dalam mulut Arini, menggigit bibirnya pelan agar Arini mau membuka mulutnya. Arini melebarkan matanya, merasakan sensasi yang berbeda dalam aliran tubuhnya.
Tangan Bian mulai menjalar kemana-mana, Arini mengernyit, menggeleng-gelengkan kepalanya, namun tidak di gubris oleh Bian.
Bian terus memagut bibir Arini, menjelajahi mulutnya dengan leluasa, namun sedikit rakus, dan tanpa ampun, seolah-olah ada sesuatu dalam mulut Arini yang membuatnya menjadi sangat betah menjelajahi area hangat itu.
"Hmmmpp...." Gumam Arini, memberontak, ia mulai kehabisan napas, tidak bisa mengimbangi Bian.
Dengan tenaga yang tersisa, Arini memukul-mukul dada Bian, agar melepaskan ciumannya mereka. Bian pun tersadar, ia cepat melepaskan pagutan mereka.
"Maaf, aku kebablasan." Ujar Bian mengusap bibir ranum Arini, yang sedikit membengkak dengan jempolnya.
Arini mengangguk pelan, masih mengatur napasnya yang tersengal. Ia tidak menyangka Bian akan melakukan ini, kalau ia tahu terlebih dahulu niatan Bian seperti ini. Maka ia tidak akan mau menciumnya dan menggunakan cara lain saja untuk mengetahui keberadaan sang anak.
"Apa kau baik-baik saja." Tanya Bian dan kembali mendapatkan anggukan dari Arini.
"Kalau begitu istirahatlah, aku tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap Bian mengelus kepala Arini, lalu mencium keningnya.
"Anak kita baik-baik saja, sekarang sedang bersama mama di kamar sebelah. Ibu sama Arumi juga sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing." Jelas Bian, menjawab pertanyaan Arini, sekaligus memberitahukan keberadaan Ibu Syahra dan Arumi.
"Aku keluar dulu, dan akan menemani mu sebentar lagi. Kalau ada apa-apa telpon saja, aku akan segera datang." Ucap Bian berdiri, lalu benar-benar keluar dari kamar itu.
"Huuft... dasar pria aneh, rakus, pemaksaan...!" Runtuk Arini melihat punggung Bian yang hilang di telan pintu, dan masih mengatur napasnya yang masih tersengal.
*****
Bersambung...