My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Apakah Azzam Anakku?



Hari yang direncanakan pun tiba, Bian datang ke perusahaan Arini untuk melakukan rapat yang entah sudah ke sekian kalinya. Dan rapat kali ini berbeda dengan rapat-rapat sebelumnya, kalau rapat sebelumnya Rio berkonsultasi dulu dengan sekretarisnya Arini, rapat kali ini tidak di lakukan nya sesuai perintah Bian sang atasan.


Tiba di perusahaan Arini, Rio membukakan pintu mobil untuk Tuannya. Bian turun dari mobil memasuki perusahaan dan melewati meja resepsionis dengan mudahnya.


Mereka memasuki lift dan langsung memencetnya menuju ruangan Arini berada. Terlihat sekretaris Hana di sana, sibuk mengerjakan sesuatu di depan komputernya. Bian keluar dari lift diikuti oleh Rio dari belakangnya, mendekati meja kerja Hana.


"Permisi sekretaris Hana." Ucap Rio menyapa Hana yang masih fokus di depan layar komputernya.


Hana refleks berdiri, belum melihat siapa yang menyapanya karena masih fokus pada layar komputernya, "Ya, ada yang bisa saya bantu?" ujar Hana melihat orang yang menyapanya barusan. Dan betapa terkejutnya ia melihat Bian dan Rio ada di depan meja kerjanya, tadi ia kira hanya karyawan di perusahaan yang ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi ternyata dua orang di depannya ini.


"Aku ingin melakukan rapat hari ini, dan atasan mu harus hadir untuk rapat kali ini." Ujar Bian tanpa basa basi dengan kata demi kata penuh dengan penekanan.


Belum selesai keterkejutan Hana melihat dua orang di depannya ini, kini ia kembali di buat terkejut mendengar perkataan Bian.


"Huft...." Hana berusaha menghilangkan keterkejutannya, "Kenapa rapatnya mendadak sekali, Tuan? Dan kenapa tidak berkonsultasi dengan saya terlebih dahulu?" ujar Hana kemudian. "Supaya kami menyiapkan berkas-berkas untuk rapat nan---" lanjut Hana, namun perkataannya terpotong oleh perkataan Bian.


"Tidak perlu menyiapkan berkas apa-apa... yang penting, atasan mu hadir di rapat nanti." Bian memotong perkataan Hana.


Hana dibuat bengong oleh perkataan Bian. Bagaimana bisa melakukan rapat jika tidak menyiapkan berkas terlebih dahulu untuk bahan rapat? Dan kenapa pula orang di depannya ini sangat tetebenge ingin bertemu dengan atasannya.


"Maaf, Tuan. Atasan saya sekarang tidak sedang berada di kantor." Ujar Hana memberitahu.


Bian dibuat geram mendengar perkataan Hana, berani-beraninya perempuan di depannya ini berbohong dengannya. Padahal jelas-jelas tadi orang suruhannya mengirimkan video Arini yang sedang turun dari mobilnya dan berjalan menuju lobby sesaat mereka baru ingin memasuki gerbang perusahaan.


Rio yang melihat kegeraman dari Tuannya pun segera bertindak, sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. "Tolong jangan banyak alasan sekretaris Hana! Kami baru saja melihat atasan Anda turun dari mobilnya dan berjalan menuju lobby perusahaan." Ujar Rio membuat Hana tercengang mendengarnya.


"Ah... kenapa aku harus salah mencari alasan. Seharusnya aku tidak mengatakan bahwa Nona Arini tidak sedang berada di kantor, tapi sedang melakukan meeting dengan kolega perusahaan lain saja. Tapi, itukan alasan yang sudah ke berapa kali ku katakan." Gumam Hana bermonolog di dalam Hati.


"Sekretaris Hana." Panggil Rio membuyarkan lamunan Hana.


"Hah.... I-iya." Ujar Hana sedikit kaget. "Sepertinya saya tidak melihat atasan saya masuk." Lanjut Hana beralasan.


"Jadi...?" tanya Bian memandang tajam pada Hana.


"Ja-jadi, silahkan keruangan rapat seperti biasa. Saya akan memanggil atasan saya terlebih dahulu." Ujar Hana sedikit gentar ketakutan mendapatkan tatapan tajam dari Bian. Sedangkan Rio yang melihat ekspresi ketakutan dari wajah Hana, hanya bisa tersenyum kasihan. Karena bukan hanya Hana yang merasa ketakutan di tatap seperti itu, ia pun yang sudah lama dan terbiasa juga masih merasa ketakutan ditatap seperti itu.


"Baik." Ujar Rio mengangguk.


"Pastikan atasan mu hadir dalam rapat kali ini." Kata Bian penuh penekanan sebelum ia beranjak pergi.


"Huft...." Hana menghembuskan napas untuk kedua kalinya, setelah melihat Bian dan sekretaris Rio menjauh dari meja kerjanya. Lalu ia pun mendekati pintu ruangan Arini.


Setelah seseorang dalam ruangan itu menyuruhnya untuk masuk, Hana pun membuka pintu dan dilihat nya sang atasan sedang menatap fokus pada laptop yang ada di atas mejanya. Hana berjalan masuk mendekati meja kerja Arini.


"Maaf mengganggu, Bu." Hana membungkuk hormat kepada Arini.


"Iya tidak apa-apa." Jawab Arini masih fokus pada kegiatannya. "Apa ada yang penting?" Lanjut Arini bertanya, menatap sekilas pada Hana.


"Iya, Bu. Perusahaan Pratama Group meminta Anda untuk menghadiri rapat, mereka melakukan rapat dadakan." Hana menyampaikan maksudnya.


Mendengar itu membuat fokus Arini dialihkan seluruhnya pada Hana. "Apa? Rapat dadakan?!" Ujar Arini sedikit kaget.


"Kenapa kamu tidak membuat alasan, agar aku menghadirkan rapat itu."


"Maaf, Bu. Sebenarnya sudah, tapi..." Hana pun mulai menceritakan kembali kejadian yang baru saja terjadi itu, sehingga membuat Arini terpaksa harus menghadiri rapat itu.


"Hmm... baiklah." Ujar Arini menutup laptop lalu bangun dari kursinya, setelah ia mendengar semua penjelasan dari Hana.


Arini keluar dari ruangannya diikuti oleh Hana dari belakang, menuju ruangan diadakannya rapat.


Ketika pintu ruangan rapat itu di buka, membuat fokus Bian beralih di sana. Dilihatnya muka datar Arini yang masuk ke dalam ruangan dan langsung duduk di kursinya, tanpa menyapanya maupun Rio terlebih dahulu.


Hana yang sudah tahu tabiat atasannya ketika rapat bersama perusahaan Pratama Group pun mengambil alih rapat itu. Ia mulai berbicara, membuka rapat itu seperti biasanya.


*****


Rapat selesai dan seperti biasa Hana yang menutupnya. Para karyawan yang juga sempat mengikuti rapat itu pun keluar setelah berakhirnya ucapan Hana yang menutup rapat itu.


Arini membereskan berkas-berkas yang sempat di kumpul oleh beberapa karyawan untuk ia periksa dan tanda tangani. Setelah itu ia pun bersiap keluar.


"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan." Ucap Bian menghentikan gerakan tangan Arini yang sudah siap mengangkat semua berkas-berkas yang sudah ia bereskan.


"Anda bicara dengan saya?" tanya Arini memastikan, karena pandangan Bian tertuju padanya.


"Hm, tentu saja. Siapa lagi?" ujar Bian masih menatap Arini.


"Ya, saya kira Anda berbicara dengan sekretaris Anda atau sekretaris saya." Ucap Arini datar. "Silakan, apa yang ingin Anda katakan." Ucap Arini mempersilakan.


"Bisa kalian berdua keluar sebentar." Ujar Bian tertuju pada Rio dan Hana.


Rio mengangguk, lalu keluar. Sedangkan Hana menatap Arini seolah meminta izin, Arini yang mengerti akan tatapan itu mengangguk mengiyakan. Lalu Hana pun keluar mengikuti Rio yang sudah terlebih dahulu berjalan di pintu keluar.


"Ada apa?" tanya Arini kembali, melihat Rio dan Hana sudah keluar dari ruangan rapat. "Tolong! Jangan buang-buang waktu saya." Lanjut Arini lagi melihat jam di pergelangan tangannya.


"Hm, baiklah." Bian menetralkan suaranya, entah kenapa tenggorokannya terasa kering.


"Aku ingin kamu menjawab jujur semua pertanyaan ku." Ujar Bian memulai pembicaraannya dengan serius.


"Tergantung." Jawab Arini singkat dan terkesan cuek, tidak memedulikan sikap Bian yang sudah mulai serius.


"Pokoknya, kamu harus menjawab serius pertanyaan dariku!" paksa Bian menatap serius Arini.


"Menjawab atau tidak sama sekali." Arini memberi pilihan.


Bian mengusap kasar wajahnya. Baru kali ini ada orang yang memberi pilihan padanya, biasanya dia yang memberikan pilihan pada orang lain. Dan yang lebih parah lagi, Bian terpaksa harus menurut.


"Apakah Azzam anakku?" Bian pura-pura bertanya, sebagian pengantar untuk pembicaraannya selanjutnya.


*****


Bersambung...