My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Sampai di Hong Kong



Tiga puluh menit lalu Bian sudah mendarat di Hong Kong dengan jet pribadinya. Ia bersama dengan Rio dan Rangga, mereka bertiga pun menuju hotel yang sudah mereka pesan jauh-jauh hari. Mereka berangkat dengan mobil lamborghini berwarna putih dengan seorang sopir yang sudah menunggu kedatangan mereka. Sopir itu diutus oleh Rio untuk menjemput kedatangan mereka atas perintah Bian atasannya.


"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Rio cemas, melihat raut wajah atasannya yang terlihat pucat. Sekarang mereka sudah sampai di hotel dan berdiri tepat di depan pintu kamarnya masing-masing. Rangga sudah masuk terlebih dahulu di kamarnya untuk beristirahat.


"Entahlah... aku juga tidak tahu, tapi rasanya pusing sekali." Bian memijit pelipisnya agar meredakan rasa pusing yang menderanya itu. Sejak menaiki jet, perasaannya sudah tidak enak. Pikirkannya melalang buana pada anak dan istrinya yang ia tinggalkan. Entahlah kenapa ia merasa hal seperti ini, apakah karena baru pertama kali meninggalkan keluarganya.


"Apa perlu saya memanggilkan dokter untuk Anda, Tuan?" Tawar Rio yang berdiri di depan pintu kamarnya, mereka berdua terpisah enam meter.


"Tidak perlu, nanti juga baikkan. Aku hanya butuh istirahat." Ucap Bian menggeleng dengan rasa pusingnya. "Kau istirahatlah, dan ingatkan aku untuk agenda kita nanti malam." Bian langsung masuk ke kamarnya, usai melihat anggukan kepala dari sekretarisnya. Dan tak lama kemudian, Rio pun ikut masuk ke kamarnya sendiri juga untuk beristirahat.


Bian berjalan sempoyongan menuju tempat tidur kamar hotelnya itu, tangannya senantiasa memijit pelipisnya agar mengurangi rasa pusingnya.


"Akh... apa ini efek tidak tidur tadi malam?" Bian merebahkan tubuhnya pada kasur king size yang empuk dan nyaman, namun sama sekali tidak mengurangi rasa pusingnya. "Tapi itu tidak mungkin." Bian menggeleng, menjawab pertanyaannya sendiri.


Mengingat aktivitasnya tadi malam membuat ia teringat dengan istri dan anaknya, ia pun merogoh saku celananya mengambil ponsel untuk menghubungi belahan hatinya yang ada di sana. Mengabari kalau ia sudah sampai.


Telepon terhubung, namun belum diangkat. Bian kembali menelpon, dan tetap tidak diangkat. Membuat wajahnya yang pucat kini tersirat kekhawatiran.


"Ada apa ini? Apakah terjadi sesuatu pada mereka?” Gumam Bian semakin khawatir, jarinya terus menekan tombol memanggil tak kala panggilan itu tidak di jawab. Dan untuk panggilan kesepuluh, akhirnya teleponnya pun dijawab.


"Halo mas... assalamu'alaikum." Arini di rumah menjawab telepon dari suaminya. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, usai membersihkan tubuhnya. Handuk masih melekat di atas kepalanya.


"Sayang, kenapa lama sekali angkat telepon? Apa terjadi sesuatu dengan kalian? Apa kalian baik-baik saja?" Bukannya menjawab salam, Bian langsung melontarkan pertanyaan beruntun pada istrinya, nada bicaranya terdengar begitu khawatir.


"Eh... wa'alaikumussalam." Bian baru menjawab salam karena saking khawatirnya ia pada istri dan anaknya. Arini di sana melongo mendengarkan runtutan ucapan suaminya.


"Sayang... kenapa diam? Apa memang terjadi sesuatu di sana? Kalau iya, aku akan langsung terbang kembali sekarang juga." Ucap Bian bangun dari tidurnya yang terlentang.


"E-eh...." Arini menggaruk kepalanya, lalu ia pun menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga mas... kamu nggak usah khawatir seperti itu. Aku baru mengangkat teleponnya karena tadi habis dari kamar mandi." Ucap Arini memberitahu suaminya, kenapa ia terlambat mengangkat teleponnya.


"Oh...." Bian bernapas lega, rasa khawatirnya kini hilang, bahkan rasa pusingnya mulai mereda mendengar suara istrinya yang sangat merdu di telinganya. "Mas sudah sampai sayang." Lanjut Bian memberitahu istrinya.


"Ya, sudah tahu." Arini mengangguk di sana, walaupun anggukannya tidak dilihat oleh sang suami.


"Dari mana kamu tahu sayang, kan mas baru memberitahu mu." Tanya Bian bingung.


"Tentu saja tahu mas... kalau belum sampai, mana bisa menelpon seperti ini, bukan?" Jawab Arini membuat Bian terkekeh karena mempertanyakan pertanyaan yang konyol. Arini yang mendengar kekehan suaminya ikut terkekeh.


"Pake jet sayang, mas mana ada sayap, hehehe.... Kalau ada, mas sudah pasti terbang dan memakan mu di situ seperti tadi malam." Ucap Bian membuat wajah Arini merona merah. Niat untuk mengejek suaminya, malah berbalik pada dirinya.


"Ih... mas apa-apaan sih, udah istirahat, pasti capek kan?!" Arini sudah tidak tahan, kalau percakapan ini masih berlanjut pasti suaminya akan semakin menggodanya.


"Uhhhh... ngambek ya...? Pasti wajahmu semakin cantik dan imut." Ucap Bian membayangkan wajah istrinya sudah semerah apa sekarang.


"Mas.... " Arini merengek dengan nada manja pada suaminya agar berhenti untuk menggodanya.


"Hehehe iya sayang... kangen yah...?" Bian malah semakin menggoda istrinya.


"Ih... pede sekali kamu mas." Arini memutar jengah bola matanya.


"Kan kenyataannya gitu sayang." Bian berkata penuh percaya diri.


"Nggak kok!" Arini berkata tegas, berkilah. Perkataannya sangat bertolak dengan hati kecilnya, ia sebenarnya merindukan suaminya yang baru pergi beberapa jam itu.


"Iya kah...?" Bian berkata lirih. "Tapi tidak apa-apa, yang penting aku kangen kamu...." Lanjut Bian dengan nada kembali semangat. Arini mengangguk tersenyum, sedikit merasa bersalah karena telah membohongi suaminya.


"Ya sudah, mas istirahat. Siapin tenaga buat kerja, biar nanti bisa cepat pulang." Arini berkata membangkitkan semangat suaminya. "Love you, ummmah...." Lanjut Arini langsung menutup mulutnya, ia tidak sadar dengar perlakuannya barusan. Wajahnya kembali merona, apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya sekarang. Arghh.... Arini mengetuk-ngetuk kepalanya, merutuki perbuatannya barusan. Kenapa ia harus melakukan itu?! Batinnya terus merutuki dirinya.


"Iya sayang, pasti. Aku akan cepat menyelesaikan semua perkerjaan ini dan langsung pulang." Bian rasanya sudah berada di angkasa mendapatkan kata semangat itu dari istrinya. Apalagi dua kata yang sangat romantis itu, membuat hatinya berbunga-bunga. "Love you too my wife, ummmmaah...." Lanjut Bian balas mengucapkan kalimat romantis pada istrinya. Ucapannya begitu mendalami sampai Arini merasakan kehangatan dari kalimat suaminya itu.


Telepon mereka pun terputus dengan satu dua kalimat lagi, serta beberapa pertanyaan dari Bian yang menayangkan tentang kabar anak mereka, Azzam.


Bian menjauhkan ponselnya dari telinganya, ia tersenyum menatap foto istri dan anaknya yang ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya.


"Tunggu papa pulang, papa sayang kalian berdua." Ucap Bian menatap lekat foto itu. Ia pun merebahkan kembali tubuhnya yang sekarang terlihat lebih baik, rasa pusingnya tiba-tiba hilang hanya mendengar suara istrinya.


"Sepertinya aku tidak memerlukan obat, cukup mendengar suara dan melihat istrinya ku saja sudah membuatku sembuh." Batin Bian memejamkan matanya dengan senyuman yang sungguh merekah di bibirnya.


Ia pun mulai tertidur, memanfaatkan waktu yang tersisa untuk beristirahat, sebelum Rio datang memanggilnya untuk mengerjakan semua agendanya malam ini.


*****


Bersambung...