
Sinar matahari pagi masuk menyusup lewat celah-celah kamar, seluruh penghuni rumah sudah meninggal tempat tidur empuknya masing-masing.
Azzam kini duduk rapi di meja makan dengan seragam sekolahnya, mamanya berlalu lalang dengan gesit menyiapkan makanan di bantu Bi Minah pembantu mereka.
Sekarang makanan telah tersaji di meja makan, tinggal menunggu Bian yang masih di kamar.
"Sayang, panggil papa biar kita sarapan sama-sama." titah Arini pada sang anak yang mengangguk dengan patuhnya.
"Siap, Mah." Azzam pun turun dari kursinya menuju lantai dua kamar kedua orang tuanya.
Belum sempat Azzam menginjak tangga, kini papanya memperlihatkan batang hidungnya. Eh, tapi... kenapa penampilan papanya begitu. Tatapan Azzam menyiratkan kebingungan.
Bian turun melewati anak tangga dengan malasnya, wajahnya pucat setelah bersemedi dikamar mandi akibat rutinitas mual nya, sindrom couvade masih mendera. Membuat moodnya pagi ini tiba-tiba down, ia menyampingkan jasnya di bahu kanan dengan tas kerja di tangan kiri, kemejanya belum ia masukan ke dalam celana serta dasinya belum terpasang, dibiarkan saja menggantung di lehernya.
"Papa kenapa? Sakit?" tanya Azzam sedikit khawatir melihat wajah pucat papanya itu.
Bian menggeleng menanggapi pertanyaan anaknya, ia mengusap kepalanya lembut. Anak yang kadang jahil membuat jengkel, kadang perhatian seperti ini membuatnya terharu.
"Eh, kok mata Papa berkaca-kaca?" tanyanya melihat mata sang papa mengkristal di penuhi genangan air mata.
"Oh, shitt." Bian mengumpat dalam hati, hormon kehamilan ini membuatnya terharu berlebihan.
"Papa kalau mau nangis, nangis aja. Kalau sakit ya bilang saja. Ndak usah sok kuat." Ujar Azzam dengan nada orang dewasa, raut wajahnya tidak bisa diartikan, antara khawatir dan merendahkan.
Bian memutar jengah bola matanya, baru saja ia terharu dengan perhatiannya, kini anaknya kembali menjengkelkan.
"Ya sudah, sekarang ayo kita makan." Anak itu meraih tangan kokoh papanya untuk digenggam menuju meja makan, takut-takut nanti papanya jatuh. "Mama udah siapin sarapan dari tadi, terus suruh panggil Papa." lanjutnya.
Tibanya di meja makan, Bian langsung cari perhatian pada istrinya itu. Ia melaporkan kalau baru saja mengalami mual seperti pagi biasanya, dan ia lebih-lebihkan dengan mengeluh pusing, padahal tidak.
Arini melihat wajahnya suaminya yang memang pucat, membuatnya tak tega namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyembuhkan. Karena memang tidak bisa disembuhkan, hanya bisa menunggu seiring berjalannya waktu kehamilannya saja. Dan kini ia hanya bisa mengusap wajah suaminya itu dengan lembut, berharap mengalir kekuatan di sana.
Biar menikmati dengan senyum lembar tanpa ada malunya pada sang anak, membuat Azzam jengkel, dan kini ia yang memutar jengah bola matanya.
Melihat itu membuat Bian tersenyum misterius, ia terus mencari perhatian pada sang istri. Memintanya mengambilkan menu kesukaannya, dan Azzam mengambil sendiri makanannya.
"Mah, bole—”
"Sayang mau yang itu juga."
Baru saja Azzam memanggil mamanya untuk mengambilkan makanan yang jauh darinya, papanya itu tiba-tiba saja memotong.
Anak itu mengembuskan pipinya cemberut, Bian menyunggingkan senyum miring. Azzam kesal melihat senyumannya itu dan dibalas oleh Bian dengan menjulurkan lidahnya.
"Mah, Papa." Adu Azzam tidak tahan lagi.
"Mas, jangan menjahili anak mu," tegur Arini baru menyadari.
"Baik, sayang." Bian menjawab dengan senyum manis tanpa dosa.
*****
"Mama sama Papa hati-hati di jalan." Azzam mencium tangan kedua orang tuanya. Hari ini memang ia diantar oleh keduanya.
"Nikmati hari mu, boy." tuturnya, Azzam lagi-lagi mengangguk mengiyakan perkataan papanya.
"Dah..., nanti jangan lupa kasih tahu Azzam keadaan dede bayinya." Anak itu berlari masuk dengan melambaikan tangan karena bel masuk telah berbunyi. Arini balas melambai dengan senyum.
Hari ini memang jadwalnya untuk check up kandungan, hampir saja ia lupa jika suaminya tidak mengingatkannya tadi. Fokusnya terlalu pada perusahaannya, Alvaro Group yang kembali ia ambil alih, karena adiknya Arumi sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Rangga. Dan hal ini juga lah yang membuat semangat suaminya bangkit untuk mengenakan pakaiannya dengan benar.
Bian tentu tidak akan membiarkan istrinya pergi check up kandungannya sendiri, sudah cukup ia melewatkan tubuh kembang anak pertamanya saja. Dan apalagi istrinya sekarang sudah mulai kembali bekerja di kantor, ia memutuskan untuk menemani, takut istrinya kelelahan.
Mereka tiba di rumah sakit, tepatnya ruang praktek dokter kandungan. Arini dan Bian duduk di kursi yang telah disiapkan dengan berhadapan langsung dengan dokter kandungan tersebut.
"Pagi Bu Arini, check up untuk kunjungan kedua ya Bu?" tanya dokter perempuan itu.
"Iya, dokter." Jawab Arini.
"Apa ada keluhan selama kehamilan?" tanya dokter perempuan itu lagi sembari mencatat sesuatu di atas kertas.
Arini pun menceritakan beberapa keluhan yang dialaminya dan yang dialami sang suami. Dokter mengangguk lalu mulai melakukan beberapa pemeriksaan, mulai pemeriksaan fisik dengan pengukuran berat badan, tekanan darah, lalu di lanjut lagi dengan pemeriksaan lainnya, dan terakhir dokter itu mencatatkan beberapa vitamin di secangkir kertas untuk di tembus di bagian administrasi.
Setelah mengerti dengan penjelasan dokter keduanya pun keluar dan tak lupa menebus beberapa vitamin yang telah diresepkan dokter.
"Sayang kamu jadi ke kantor?" tanya Bian sekali lagi, sepertinya ia tidak membiarkan istrinya itu untuk bekerja lagi di kantor.
"Iya Mas, kamu antar aku dulu ya." Angguk Arini.
Bian menghela napas, keputusan istrinya untuk bekerja sudah bulat. Ia pun membuka pintu mobil untuk istrinya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil itu kini sudah terparkir rapi di basemen kantor. Bian mengikuti istrinya keluar, membuat Arini mengernyit.
"Mas nggak kerja, kok ikutan keluar?" Arini kira setelah menurunkan dirinya, suaminya itu akan langsung ke kantornya sendiri.
"Hari ini aku temani kamu sayang." Bian langsung meraih tangan istrinya, menautkan jemari mereka.
"Tapi di kantor, Mas juga pasti banyak pekerjaan."
"Ada Rio yang akan mengatasi." Senyum smirk Bian terukir.
Dan di tempat lain, kini Rio tengah kelimpungan akibat bosnya belum terlihat batang hidungnya. Ia melihat jam di pergelangan tangan, sudah hampir pukul delapan. Diraihnya lagi sesuatu yang merupakan catatan agenda Bian hari ini, semuanya full dengan pertemuan penting dengan para kolega. Rio meneguk susah ludahnya, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Diputuskannya untuk menelpon bosnya itu, namun berakhir dengan jawaban konter.
"Mohon maaf, nomor yang Anda tuju tidak aktif. Mohon menelpon beberapa saat lagi." Mulut Rio terbuka lebar sudah, bagaimana ini. Nasib sekali memiliki bos seperti ini. Gumamnya, meratapi hidup.
Di tengah pusingnya memijit kepala, berjalan mondar-mandir. Ia ditegur oleh seseorang yang kini berjalan mendekatinya.
"Kau kenapa Rio?" Suara orang itu bertanya bak penyelamat, Rio menoleh dan dilihatnya lah ayah dari bosnya itu, Tuan Dean.
"Tuan, syukurlah Anda datang." Raut wajah Rio menyiratkan kelegaan, tapi tidak dengan Tuan Dean. "Tuan Bian tidak datang hari ini, nomornya juga tidak aktif. Dan hari ini ada beberapa pertemuan penting dengan kolega." Beritahu Rio dengan nada mengadu, membuat Tuan Dean merasakan apa yang baru dirasakan Rio.
"Dasar anak itu." Makinya dalam hati, pantas saja hatinya tiba-tiba tergerak untuk datang ke kantor. Niatnya tadi hanya untuk memberikan laporan saja, tapi malah seperti ini.
*****
Bersambung...