My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Curhatan Marvel (Part 2)



Dian terdiam mencerna semua cerita Marvel, rasanya ia pernah mendengar cerita yang serupa seperti ini. Tapi, siapa yang pernah menceritakan kepadanya.


"Lalu bagaimana keadaan perempuan itu?" Tanya Dian mengorek sedikit, siapa tahu ia bisa teringat kembali siapa yang pernah bercerita tentang kisah seperti ini padanya.


"Perempuan itu sekarang baik-baik saja, karena dia sangat tangguh.... Kau tahu, jika perempuan lain rela menggugurkan kandungannya atau bahkan bunuh diri. Perempuan itu tidak, ia malah mempertahankan kandungannya dan menjaganya dengan baik hingga anaknya sekarang sudah berusia enam tahun." Jawab Marvel seraya membayangkan sosok Arini dan Azzam.


"Dari mana kau bisa mengetahui bahwa perempuan itu baik-baik saja, bahwa memiliki anak yang sudah berusia enam tahun?" Dian terus bertanya, agar mendapatkan bayangan seutuhnya tentang orang yang pernah bercerita padanya.


"Aku mengetahuinya karena aku selalu mengawasinya dari jauh. Jika dia dalam kesulitan aku diam-diam membantunya. Hingga sepupuku mencari keberadaan ku untuk perhitungan karena telah menjebaknya itu, aku terpaksa bersembunyi ke luar negeri, dan tidak bisa membantu perempuan itu saat kesulitannya di usir dari rumah kontrakannya oleh orang-orang yang tinggal di sana." Dian mendengarkan cerita Marvel dengan seksama.


"Hingga tiga tahu kemari, aku kembali secara diam-diam dan masih hidup dalam pengawasan dari sepupuku. Dan pada saat itu juga, ternyata perempuan itu sudah memulai bisnisnya, aku membantunya secara perlahan-lahan dengan memberikannya investasi untuk bisnisnya. Saat itu juga kami pertama kali bertemu, aku pertama kali bertemu dengan anaknya yang masih berusia tiga tahu. Anak itu sangat lucu, dan wajahnya sangat mirip dengan sepupuku." Marvel tersenyum dalam raut wajah sedihnya, Dian memerhatikan perubahan wajah Marvel.


"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum?" Tanya Dian mengernyit.


"Pertemuan itu, membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan perempuan itu. Awalnya aku membantu dan menjaganya hanya karena aku ingin menembus semua kesalahanku dan kesalahan paman ku. Tapi ternyata, aku telah mencintainya, juga menyayangi anaknya yang sangat menggemaskan." Marvel kembali menunduk sedih.


"Kau sudah mengungkapkan isi hati mu?" Tanya Dian kepo, melupakan rencana awalnya untuk mengingat kembali siapa yang pernah bercerita kepadanya tentang itu.


Marvel menggeleng pelan, "Aku tidak berani... hingga keberadaan ku di ketahui kembali oleh sepupuku dan aku terpaksa kembali ke luar negeri, meninggalkan mereka berdua tanpa berpamitan. Aku kembali bersembunyi, seperti tikus kecil yang takut di terkam oleh ular."


"Dan beberapa bulan lalu, aku memberanikan diri untuk keluar dari lubang persembunyian. Memantapkan hati ku untuk berani, cinta ku padanya yang menguatkan semua itu. Aku mengawalinya dengan selalu mengirimkannya sebuket bunga mawar besar, dan berharap suatu saat aku bisa memberikan sendiri sebuket bunga mawar itu padanya." Terlihat raut wajah Marvel semakin sedih.


"Itu berarti kau kembali ke sini untuk memberikan sebuket bunga mawar itu padanya, dan mengatakan cintamu?" Tanya Dian dan kembali mendapatkan anggukan kepala dari Marvel.


"Apa kau sudah mengatakannya?" Marvel menggeleng pelan sebagai jawabannya.


"Ya ampun." Dian menepuk jidatnya sendiri tidak habis pikir. "Kau sudah mencintainya satu tahu, dua tahun, tiga tahu." Dian menghitung dengan jarinya, sesuai apa yang di dapatkannya dari cerita Marvel sejak tadi.


"Y-ya, a-aku memang sudah mencintainya selama itu." Jawab Marvel dengan nada tersendat, membenarkan perhitungan Dian.


"Sudah diam-diam mencintainya selama itu, masih saja tidak menyatakan cinta." Sesal Dian.


"Dia tidak menyukai ku." Jawab Marvel singkat.


"Kan belum di coba." Timpal Dian.


"Percuma." Marvel putus asa.


"Kenapa? Bukankah cinta itu harus di pertahankan?!" Dian masih kokoh pada pendiriannya, agar Marvel menyatakan cintanya pada perempuan itu.


"Ya... cinta memang harus di pertahankan, tapi jangan sampai melukai hati orang yang kita cintai maupun hati orang lain lagi. Bukankah cinta juga harus berani berkorban?" Marvel malah balik bertanya dengan jawaban ambigu-nya.


"Maksudnya?" Dian mengernyit, tidak mengerti.


"Dia akan menikah beberapa hari lagi, dan aku tidak akan mengacaukan itu hanya karena cinta sepihak ku. Apalagi yang akan menikah dengannya adalah sepupu ku, jadi biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini. Mereka berdua pantas bahagia, terutama perempuan itu. Dan aku rasa dia akan bahagia bersama sepupuku." Isakan kecil kembali lolos di mulut Marvel, ia semakin menunduk dalam.


"Hmmm... maafkan aku, bukannya aku tidak mengerti dengan masalah mu. Tapi akan lebih baik semuanya di keluarkan bukan? Jadi, aku masih ingin bertanya... terasa sangat menjanggal jika tidak ku tanyakan." Dian terlihat ragu-ragu bertanya, karena melihat kondisi Marvel.


"Bertanyalah... aku tidak apa-apa, lagi pula aku sangat bersyukur dan berterima kasih karena kau mau mendengarkan cerita ku sejak tadi dan rela meninggalkan makanan mu." Ujar Marvel berusaha menenangkan dirinya.


"Ya, kau benar. Aku rela meninggalkan makanan yang sangat ingin ku makan." Dian mengangguk, menyetujui ucapan Marvel. "Jadi yang ingin ku tanyakan.... Dari mana kau mengetahui kalau perempuan itu akan menikah dengan sepupu mu. Dan siapa nama perempuan yang kau ceritakan sejak tadi?" Tanya Dian mungkin untuk terakhir kalinya.


"Ku rasa kau sudah mengetahui jawaban untuk kedua pertanyaan mu itu." Jawab Marvel mengangkat wajahnya melihat Dian. Dan terlihat perempuan itu mengernyit dalam, sepertinya tidak mengerti maksud dari jawabannya.


"Kau ingin ku jelaskan maksud jawaban?" Tanya Marvel dan mendapatkan anggukan dari Dian.


"Kenapa aku mengatakan kalau kau mengetahui jawabannya? Karena kau sendiri ada pada saat kejadian itu terjadi."


"Mak-maksud mu i-itu...." Dian menebak-nebak.


"Ya... dia adalah Arini, orang yang ku cintai selama ini." Dian terdiam, kehabisan kata-kata. Ternyata sahabatnya lah yang di ceritakan sejak tadi, pantasan ia merasa pernah mendengar cerita yang serupa. "Dan aku rasa, aku tidak perlu menceritakan kembali kejadian tadi 'kan?" Ucap Marvel berhenti bercerita.


Mereka berdua sama-sama terdiam, mengembarai pikiran masing-masing. Dan tak lama kemudian ponsel Marvel berdering, menghilangkan kesunyian yang sempat tercipta antara keduanya.


"Ya... hallo." Marvel mengangkat teleponnya di hadapan Dian.


"Tuan, saya sudah mendapatkan apartemen seperti yang Anda inginkan. Dan saya jamin tempat ini tidak akan terjangkau oleh Tuan Bian." Ujar orang dalam telepon tersebut.


"Baiklah... aku akan segera ke sana. Terima kasih atas bantuan mu." Ucap Marvel menutup teleponnya, setelah satu dua kalimat lagi.


"Iya, tubuhku membutuhkan istirahat sekarang." Jawab Marvel, berjalan sempoyongan.


"Biar ku bantu." Dian langsung mengampai lengan Marvel tanpa persetujuan darinya.


"Eh... ti---"


"Aku memaksa." Ucap Dian memotong ucapan Marvel.


Dan Marvel pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain menuruti saja perkataan Dian. Dan sebenarnya ia membutuhkan bantuan dari Dian, karena memang ia tidak sanggup berjalan sendiri.


Sampai di tempat parkiran, Marvel masuk di mobilnya dan langsung duduk di depan pengemudi.


"Kau bisa menyetir sendiri? Bukankah tadi kau minum banyak sekali?"


"Aku masih bisa menyetir sendiri, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku." Ujar Marvel tersenyum melihat guratan khawatir dari wajah Dian, tanpa ada lagi raut wajah sedihnya. Seperti Marvel sudah lebih tenang karena sudah menceritakan semua masalahnya pada Dian tadi.


"Ih... siapa juga yang khawatir, pede amat jadi orang." Dian memalingkan wajahnya.


Marvel kembali tersenyum, lalu.... "Ini untukmu sebagai tanda terima kasih ku karena telah mendengar curhatan yang tidak penting." Marvel menyodorkan sebuket bunga Lily berwarna putih pada Dian.


"Untuk ku?" Tunjuk Dian pada dirinya sendiri.


"Untuk siapa lagi?" Marvel malah balik bertanya.


"Eh... tidak mau." Jawab Dian menggeleng cepat.


"Kenapa? Kau takut bunga ini sebenarnya ingin ku berikan pada orang lain?" Marvel menebak, tidak mendapatkan jawaban dari Dian.


"Kau tenang saja, bunga ini tidak ingin ku berikan kepada siapa pun sebelumnya. Entahlah kenapa aku mau membelinya tadi bersama bunga mawar." Dian menoleh pada Marvel, lalu pada bunga Lily yang di sodorkan padanya. "Dan sekarang aku ingin memberikan bunga ini pada mu, jadi terimalah sebagai tanda ucapan terima kasih ku." Lanjut Marvel masih menyodorkan bunganya pada Dian.


Dian melihat bunga itu sesaat, lalu ia pun menerimanya. "Sama-sama, tanda terima kasih mu aku terima." Ucap Dian.


"Baiklah aku pergi dulu." Dian mengangguk, Marvel pun mulai menjalankan mobilnya.


Dian memandang kepergian Marvel, lalu melihat bunga yang di berikan kepadanya. Ia tersenyum kecil seraya mencium harum bunga Lily.


*****


Hai Reader tercinta... yukk mampir di karya baru author yang berjudul 'Sang Antagonis'.



Novel ini berkisah tentang...


Siapa yang menyangka ucapannya menjadi kenyataan?


Nayla Arthama, gadis lugu, lemah, dan terlalu baik, serta memiliki kepercayaan tinggi pada orang lain. Dikhianati oleh suami dan sahabatnya, Maya Sulastri, membuatnya menjalani kehidupan tragis.


Maya, sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara sungguh munafik. Ia sangat iri pada kehidupan Nayla dan merebut semua kebahagiaannya, mulai dari nyawa kedua orang tua Nayla, merebut suaminya, harta, bahkan nyawa yang satu-satunya Nayla miliki pun direnggut.


Ia mendorong Nayla ke dalam laut lepas nan dalam, lalu menertawainya dengan begitu bahagia, seolah kejadian kematian di depan matanya begitu lucu.


Andai kehidupan bisa diulang...


Nayla menggumam dengan nyawa yang hampir di ubun-ubun, melihat sahabat dan suaminya tengah memadu kasih dengan berciuman di atas kapal.


Keajaiban datang, Nayla diberikan kesempatan untuk mengulangi kehidupannya. Ia berinkarnasi, kehidupannya kembali pada tiga tahun yang lalu sebelum menikah dengan Barra.


Waktunya pembalasan!


Terima kasih yang udah mau mampir...


Love you all...


*****


Bersambung...