My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Bertemu kembali Kedua Kalinya



Ting... ting....


Bunyi klakson, dari mobil yang dihalangi jalannya oleh mobil Bian.


Bian melepas pelukannya, karena mendengar bunyi itu. Lalu ia mengangkat anak itu untuk ia gendong juga bersama anak kucing yang di peluknya.


"Rio, kamu urus itu." Perintah Bian menunjuk mobil yang sedari tadi berbunyi dengan sorot matanya, Rio mengangguk mengiyakan perintah.


Bian membawa anak itu, masuk ke dalam sekolah yang sekarang sudah tampak sepi hanya satu dua anak dan orang tua saja yang berlalu lalang. Lalu ia mendudukkan anak itu pada sebuah kursi taman sekolah. Anak itu duduk mengikuti perintah Bian dan melepaskan anak kucing yang sedari tadi ia peluk.


"Kamu baik-baik saja?" Bian bertanya, melihat wajah sembab anak itu. Anak itu mengangguk sebagai jawaban bahwa ia baik-baik saja.


"Siapa nama mu?" tanya Bian melihat anggukan anak yang kini duduk bersamanya.


"Az... Azzam." Jawabnya gugup.


"Oh... Azzam ya, nama yang bangus." Puji Bian, agar menghilangkan rasa gugup dari Azzam.


"Nah... Azzam, tadi om lihat kamu main di tengah jalan, lain kali jangan yah." Bian memperingati agar Azzam tidak mengulanginya.


"Aku nggak main di tengah jalan." Jawab Azzam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tadi itu aku lagi ambil anak kucing itu di tengah jalan." Tunjuk Azzam pada anak kucing yang kini setia berada di bawah kakinya. "Takut ditabrak sama mobil sama motor." Kata Azzam polos.


"Oh, begitu." Bian menganggukkan kepalanya mengerti. "Jadi anak ini hanya ingin menolong seekor anak kucing." Gumamnya dalam hati, dan kini ia merasa sangat bersalah karena telah membentak Azzam hingga ia ketakutan dan gemetar.


"Maafkan om yah, karena tadi sempat membentak mu. Om kira kamu main di tengah jalan." Ujar Bian dengan tulus. Azzam mengangguk menerima permohonan maafnya.


"Tapi lain kali, kalau mau tolong anak kucing atau apalah di tengah jalan, kamu lihat kiri kanan dulu biar kejadian tadi tidak terulangi dan tidak akan membahayakan nyawa kamu." Kembali Bian memperingati.


Azzam mengangguk seraya menunduk. Karena bagaimana pun, apa yang di katakan oleh orang dewasa di hadapannya ini adalah benar... dan di sini, dialah yang salah. Dan tidak hanya itu, dia juga tidak terlalu biasa jika berinteraksi dengan orang-orang baru. Jadilah Azzam hanya menunduk dan mengangguk saja, serta menjawab pertanyaan Bian seperlunya. Ya... walau pun ia mendapatkan kenyamanan dari orang baru di hadapannya ini.


Bian yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Azzam, tidak mempermasalahkan nya. Karena ia pikir, pasti Azzam masih syok dengan kejadian tadi.


Setelah menepikan mobilnya di pinggir jalan. Rio mendekati kedua manusia yang wajahnya mirip itu, namun berbeda usia. Di tangannya, ia membawa sebotol air minum yang diambilnya di jok belakang mobil.


"Tuan." Panggil Rio menyodorkan sebotol air minum itu. Bian mengambil air minum yang disodorkan oleh Rio dan memberikannya pada Azzam.


"Terima kasih." Jawab Azzam setelah ia meminum air itu.


"Sama-sama." Jawab Bian mengusap lembut kepala Azzam dengan sayang. Entahlah kenapa ia bisa bersikap lembut seperti ini pada seorang anak.


Rio yang melihat interaksi Bian dengan anak yang bernama Azzam, sungguh terpukau akan kelembutan dari seorang Bian yang biasanya tidak menyukai anak kecil.


"Apa kamu belum dijemput?" tanya Bian masih mengusap lembut kepala Azzam, seraya mengedarkan pandangannya mencari orang tua dari anak yang mirip dengan wajahnya ini.


"Belum." Azzam menggeleng, juga mengedarkan pandangannya mencari sosok perempuan yang akan menjemputnya. Tapi, ia tidak melihat keberadaan sosok perempuan itu di sekeliling sekolah.


"Tuan." Panggil Rio, mengalihkan fokus Bian ke arahnya. "Waktu pertemuan kerja sama kita dengan perusahaan kemarin, beberapa menit lagi akan di mulai." Lanjut Rio memberitahu, melihat jam di pergelangan tangannya.


Ah, Bian hampir lupa akan hal itu, karena saking nyamannya ia berada di dekat anak ini. Sampai-sampai, ia tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan anak bernama Azzam yang duduk di hadapannya ini.


"Tidak apa-apa om." Kata Azzam mengangguk pelan. "Makasih udah mau nolongin aku sama air minumnya tadi." Katanya lagi, kembali mengangguk seraya menatap mata Bian sebentar, lalu menunduk.


Sebenarnya, Azzam juga tidak rela berpisah dengan Bian secepat ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya dan menunjukkan sikapnya itu pada Bian. Karena bagaimana pun, Bian adalah orang yang baru ia temui hari ini.


"Baiklah, kamu hati-hati di sini. Om pergi dulu." Ujar Bian berdiri, lalu mencium pucuk kepala Azzam.


Deg...


Jantung Bian berdetak, tak kala mulutnya bersentuhan dengan puncak kepala Azzam. Rasanya, ada sesuatu yang menggelitik di dadanya, tapi entah lah apa itu... Bian juga tidak tahu.


"Apa yang aku lakukan? Ah... sudahlah, yang penting anak ini juga tidak merasa terganggu dan mempermasalahkan nya." Gumam Bian dalam hati, merutuki kebodohannya yang sudah mencium anak orang sembarangan. Lalu ia pun melangkah pergi diikuti oleh Rio di belakangnya. Yang semakin heran akan perlakuan bosnya itu pada seorang anak.


*****


Arini memainkan ponselnya, sembari menunggu perusahaan Pratama Group datang untuk melakukan rapat kerja sama dengan perusahaannya.


Bian tiba di perusahaan Azzam Alvaro Group, dan langsung menuju tempat pertemuan yang sudah di beritahukan oleh resepsionis.


Sesampainya di depan pintu ruangan pertemuan itu, pintu dibuka oleh Rio dan mempersilahkan tuannya untuk masuk terlebih dahulu.


Mendengar pintu dibuka, pandangan Arini langsung tertuju pada pintu tersebut. Dan refleks saja, ia langsung berdiri.


Bian masuk dan betapa terkejutnya ia saat bertemu kembali dengan Arini untuk kedua kalinya, lalu sedetik kemudian ia dapat mengendalikan keterkejutannya. Namun, pandangannya terkunci pada bola mata yang menatapnya kaget lalu berubah dingin tanpa ekspresi.


"Maaf. Kami datang terlambat, karena ada sedikit masalah tadi saat berangkat ke sini." Ujar Rio meminta maaf atas keterlambatan mereka.


Mendengar suara Rio, membuat Arini maupun Bian tersadar. Arini duduk kembali pada kursinya, dengan pikiran yang berkecamuk. Antara ingin pergi dari ruangan ini atau tidak, tapi kalau ia pergi... ia akan di cap sebagai atasan yang tidak profesional dalam bekerja, apa lagi ini adalah perusahaan Pratama Group, yang katanya perusahaan ternama dan terkenal. Dan jadilah Arini kembali duduk pada kursinya, mengabaikan Bian yang terus menatapnya. Sedangkan Rio, juga menatap Arini. Mengingat di mana mereka pernah bertemu karena rasa-rasanya, wajah Arini tidak asing lagi bagi Rio.


"Iya. Tidak apa-apa, Pak. Silakan...." Hana mempersilakan tamunya untuk duduk pada kursi yang sudah di siapkan.


Bian maupun Rio mengikuti arahan Hana dan mulai mereka melakukan rapat untuk kerja sama perusahaan.


*****


Melihat atasannya diam, Hana pun bertindak untuk menutup rapat kerja sama mereka yang sudah selesai di bahas.


"Baik, terima kasih atas waktu dan kepercayaan untuk kerja sama dua perusahaan ini. Semoga dua perusahaan ini dapat bekerja sama dengan baik." Ujar Hana, bangun dari kursinya dan berjabat tangan dengan Bian maupun Rio bergantian. Tanda untuk mengakhiri rapat kerja sama perusahaan mereka.


Arini membereskan berkas-berkas yang ia bawa dengan cepat, menunduk sedikit pada kedua manusia yang tengah menatapnya sedari tadi, lalu keluar dari ruangan itu tanpa berjabat tangan terlebih dahulu karena sudah sangat risih akan tatapan-tatapan itu.


"Mamaaa." Panggil Azzam berlari mendekati Arini, ketika melihat mamanya keluar dari ruang rapat.


*****


Bersambung...