
Setelah berpisah dengan Naya, Arini memanggil ojek untuk mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan, tiba-tiba saja Arini menyuruh tukang ojek itu berhenti.
"Kiri. Kiri, Pak." Arini memberhentikan ojek itu, ketika melihat apotek di seberang jalan sana.
"Tunggu ya, Pak. Saya mau beli sesuatu di sana." Tunjuk Arini, ke arah apotek.
"Baik, mbak." Tukang ojek itu berkata, seraya mengangguk mengiyakan perkataan Arini.
Setelah berbicara dengan tukang ojek, Arini berjalan mendekati apotek dan masuk ke dalamnya. Ia membeli dua tes pack dengan model berbeda. Lalu membayarnya dan keluar dari apotek tersebut. "Hum... semoga saja dugaan ku salah." Gumam Arini sembari melihat tes pack di tangannya.
"Jalan, Pak." Kata Arini setelah ia menaiki kembali ojek itu.
Tukang ojek itu pun, menjalan kembali motornya menuju alamat yang telah Arini beritahu sebelumnya.
Sampai di rumah kontrakannya, Arini turun dan membayar ongkos ojek yang ia naiki, lalu mengucapkan terima kasih.
Ia melangkah mendekati pintu rumah dengan menenteng belanjanya di satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi, ia gunakan untuk mengetuk pintu.
Arini mengetuk pintu, seraya mengucapkan salam. Tak butuh waktu lama, pintu pun dibuka oleh Arumi.
"Wa'alaikumussalam." Arumi menjawab salam dan membukakan pintu untuk kakaknya.
Arini masuk, ketika pintu sudah di bukakann oleh Arumi. Arumi menawarkan bantuan, untuk membantu kakaknya membawa barang-barang belanjaan dan menyimpannya di dapur.
*****
Kini Arini sudah berada di kamarnya, ia termenung di atas ranjang menatap alat tes kehamilan yang ada di tangannya. "Apakah aku harus menggunakannya?" Arini bertanya pada dirinya sendiri. Ia masih mengumpulkan keberanian untuk menggunakan alat tes kehamilan tersebut.
"Kalau aku tidak menggunakannya, aku tidak akan bisa membuktikan apakah dugaan ku kemarin salah atau benar." Arini masih menimbang.
Sejenak ia terdiam, masih menatap alat tes kehamilan itu. Lalu ia pun bangkit dan berdiri sambil menggenggam tes pack.
"Aku harus mencobanya, untuk membuktikan semua ini." Arini melangkah keluar kamar, menuju kamar mandi untuk membuktikan dugaannya. "Semoga saja hasilnya negatif." Gumam Arini dalam hati, sepanjang menuju toilet.
Tiba di toilet, ia membaca prosedur cara penggunaan tes pack tersebut. Lalu mulai menggunakannya sesuai dengan anjuran prosedur penggunaan tes pack itu.
Setelah menunggu beberapa menit, hasil berupa garis merah pun muncul. Arini bernapas lega, karena yang muncul hanya satu garis merah saja. Karena yang sesuai ia baca, satu garis merah menunjukkan hasilnya negatif, sementara dua garis merah berarti positif hamil.
"Huft... syukurlah, ternyata dugaan ku salah. Aku memang hanya masuk angin saja." Kata Arini merasa lega akan hasil yang muncul dari tes pack tersebut.
Tapi, tiba-tiba mata Arini melebar. Tak kala melihat kembali hasil tes pack itu, yang sekarang berubah menjadi dua garis merah.
"Ke... kenapa hasilnya berubah?" Arini bergumam kecil dengan suara yang gemetar.
Ia mengucek matanya berulang kali, lalu melihat kembali hasil tes pack itu. Masih sama, terdapat dua garis merah di sana.
Arini pun mencoba tes pack satunya lagi, yang modelnya berbeda dengan tes pack sebelumnya. Mungkin saja tes pack yang ia gunakan sekarang ini tidak berfungsi dengan baik.
"A... apa?!!!" Arini memekik, saat ia melihat hasil tes pack yang ia gunakan kedua kalinya tetap sama dengan hasil tes pack sebelumnya. "Ha... hasilnya sa---ma." Kata Arini dengan suara bergetar dan terbata-bata.
Setetes air mata tiba-tiba saja keluar dari mata Arini, dengan gerakan yang pelan ia memegang perutnya yang masih datar itu.
"Harus ku apa 'kan bayi ini?" Arini bertanya pada dirinya sendiri, dengan air matanya terus mengalir deras di pipinya. "Ti... tidak mungkin aku menggugurkannya, di... dia tidak bersalah, dia tetap lah darah daging ku. Aku... aku tidak bisa membunuh anak ku sendiri hiks...." Arini berkata sambil menangis dengan isakan pelan.
"Ta... tapi, apa yang harus ku katakan pada ibu nanti... hiks." kata Arini lirih.
Saat ini, ia sangat bingung dengan keadaan yang menimpanya sekarang. Ia bingung, tentang cara untuk menyampaikan kebenaran kepada ibunya nanti. Ia juga takut, kalau ibunya akan marah dan tidak menganggap bahwa dia adalah anaknya lagi. Karena ia sudah menjadi perempuan yang kotor dan bukan lagi perempuan yang baik-baik.
Tok... tok....
Pintu diketuk dari luar oleh Ibu Syahra dan Arumi, karena mendengar pekikan Arini. Mereka khawatir, terjadi sesuatu pada Arini di dalam kamar mandi. Maka dengan segera Arumi yang pertama kali mendengar pekikan kakaknya, memanggil ibunya untuk melihat Arini sang kakak yang berada di dalam kamar mandi.
"Arin? Kamu kenapa, Nak?" Kata ibu Syahra khawatir masih dengan mengetuk pintu.
"Kak? Apa kakak baik-baik saja di dalam?" Arumi tidak kalah khawatirnya. "Buka pintunya kak." Lanjut Arumi lagi.
Arini tersentak mendengar ketukan pintu dan panggilan dari ibu dan adiknya itu. Ia ragu untuk membukakan pintunya, karena belum tahu cara untuk menyampaikan kebenaran ini pada ibu dan adiknya. Arini masih melamun memikirkan hal tersebut.
"Kak apa kakak baik-baik saja di dalam? Ayo buka pintunya kak!" Arumi kembali memanggil kakaknya, sambil tetap mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. Ia berharap kakaknya bisa membukakan pintunya agar ia dapat melihat keadaan sang kakak. Sungguh ia sangat khawatir padanya.
Arini yang sedang melamun, tersadar mendengar panggilan dari adiknya. Pelan tapi pasti, ia pun membuka pintu kamar mandi itu.
Setelah pintu kamar mandi di buka Arini refleks bersimpuh di bawah kaki ibunya, dengan menangis sesenggukan.
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya ibu Syahra berjongkok, berusaha membangunkan anaknya dengan memegang pundaknya. Tapi terhenti, mendengar perkataan dari Arini.
"Ma... maaf kan Arin, Bu. A-Arin sudah kotor hiks...." Arini menjawab pertanyaan, dengan masih memegang kedua kaki ibunya.
Bagai di sambar petir di siang bolong, ibu Syahra tercengang mendengar perkataan Arini. Ia menarik kembali tangannya dan refleks berdiri lalu mundur beberapa langkah dari Arini.
Sedangkan Arumi yang mendengar itu pun, langsung memeluk sang kakak. Ia tidak tahan ketika melihat sang kakak terpuruk seperti ini. Ia yakin ini bukan salah kakaknya, pasti ini kecelakaan.
"A... apa yang kamu katakan, Arin?" Ibu Syahra bertanya dengan suara gemetar, mendengar kata 'kotor' yang keluar dari mulut Arini, ia ingin memastikan bahwa pendengarannya salah.
"Hiks... Arin sudah kotor, Bu. A... Arin telah ter-nodai, A... Arin bukan lagi perempuan yang baik-baik." Arini berkata terbata-bata mencoba menjelaskan pada ibunya.
Arumi yang sedang memeluk kakaknya semakin mengeratkan pelukannya, mendengar kata-kata itu.
Ibunya terdiam, air matanya luruh begitu saja dan cepat-cepat menghapusnya. Ia mencoba untuk menyangkal semua perkataan yang keluar dari mulut Arini, dengan memalingkan pandangannya dari sang anak.
*****
Bersambung...