
Semenjak enam tahun lebih ini, banyak yang berubah dalam kehidupan Arini. Sekarang ia mempunyai perusahaan sendiri dengan nama Azzam Alvaro Group, ya... nama itu diambil dari nama Azzam sendiri, selaku anak Arini. Tujuan Arini memberi nama perusahaan dengan nama anaknya, karena sewaktu-waktu perusahaan itu akan ia wariskan kepada anaknya Azzam.
Awal dari perkembangan perusahaan Arini adalah ketika ia menjual kuenya dan memilih banyak pelanggan. Semakin hari pelanggannya semakin meningkat, sehingga Arini memiliki toko kue kecil, lalu di susul rumah makan, hingga memiliki restoran sendiri di berbagai wilayah. Lambat laut usahanya semakin meningkat dan Arini pun melebarkan sayapnya hingga memiliki perusahaan sendiri yang tidak hanya bergerak pada bidang makanan semata, tetapi juga bergerak dalam bidang properti, perhiasan, dan lainnya.
Kesuksesan Arini tentu saja tidak luput dari keberkahan yang di berikan oleh Yang Maha Kuasa, do'a serta dukungan dari keluarga, kegigihan Arini dalam mencapainya, dan tentunya semangat yang di berikan oleh malaikat kecilnya yang kini menjadi pangeran kecil Arini yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Selama pagi, Bu Arini." Ucap sekretaris Arini sopan, seraya membukukan badannya sedikit.
"Pagi, Hana." Arini membalas sapaan dari sekretarisnya yang bernama Hana itu.
"Apa saja agenda ku hari ini?" tanya Arini sambil berjalan memasuki ruangannya.
Hana membuka sebuah list tentang kegiatan Arini hari ini, menelusurinya dengan jari. "Hari ini Anda ada jadwal pertemuan tahunan dengan seluruh pimpinan CEO di gedung seperti biasa Jam 11:00 nanti, Bu." Kata Hana membacakan agenda kegiatan Arini. "Selebihnya Anda hanya harus menandatangani beberapa berkas yang akan saya antarkan nanti." Lanjut Hana lagi.
Arini mengangguk seraya membuka laptopnya setelah ia masuk di ruangan dan duduk di kursi kerjanya, lalu mulai mengerjakan sesuatu. Sedangkan sang sekretaris Hana, masih setia berdiri di samping meja kerja Arini menunggu perintah baru dari atasnya.
"Kamu suruh salah satu office girl untuk membawakan ku sarapan, setelah itu kamu boleh kembali pada pekerjaan mu." Kata Arini menoleh sekilas pada sang sekretaris, lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Baik, Bu." Jawab Hana membungkuk, lalu keluar dari ruangan atasannya.
*****
Jam 10:30 Hana masuk ke dalam ruangan Arini. Memberitahu jika mereka akan segera melakukan pertemuan di gedung yang biasa di adakan pertemuan tahunan para CEO. Arini mengangguk, menutup beberapa dokumen yang sempat ia bubuhi dengan tanda tangannya.
"Oke, ayo." Kata Arini bangun dari kursinya, seraya mengambil jasnya yang terletak pada sandaran kursi di belakangnya.
Arini berjalan keluar dari ruangannya di ikuti oleh Hana sang sekretaris dari belakang. Mereka berdua masuk lift bersama-sama lalu Hana menekan tombol satu menuju lobby.
"Pakai mobil ku saja." Ujar Arini setelah mereka sampai di lobby menuju parkiran.
"Baik, Bu." Ujar Hana patuh.
Sampainya di parkiran, mereka berdua menaiki satu mobil dengan Hana yang menyetir dan Arini duduk di samping kursi pengemudi.
Di dalam mobil, mereka berbincang-bincang masalah seputar pekerjaan dan lainnya untuk sekedar menghilangkan kesunyian antara keduanya.
"Bagaimana perkembangan saham kita?" tanya Arini memulai pembicaraan, dengan matanya fokus memeriksa sesuatu pada gadget yang ada di tangannya.
"Saham kita semakin hari semakin meningkat, Bu. Apalagi setelah melakukan iklan kemarin, saham kita semakin mendekati target." Jawab Hana menjelaskan, menoleh sekilas pada atasannya dan kembali fokus menyetir.
"Bagus. Tetap tingkatkan kualitas produk perusahaan kita dan jangan lupa tetap melakukan iklan, maka perusahaan kita akan cepat mencapai target itu." Timpal Arini mendengar penjelasan Hana barusan.
"Baik, Bu." Jawab Hana singkat.
"Oh ya, Hana. Jika kita di luar kantor dan dalam keadaan berdua seperti ini, lebih baik kamu jangan memanggilku ibu. Panggil nama saja, sudah berapa kali ku katakan padamu. Jangan terlalu bersikap formal ketika kita hanya berdua." Ujar Arini mengingatkan Hana sang sekretaris yang selalu bersikap formal di mana pun dan kapan pun itu.
"Ah, saya lupa. Maaf ib... eh Arini." Kata Hana masih tidak terbiasa dengan hanya menyebut nama saja untuk atasannya.
"Oh iya, apakah Azzam sudah masuk sekolah?" tanya Hana berusaha bersikap biasa dan tidak formal pada atasannya, dengan mengalihkan pembicaraan mereka pada Azzam yang Hana tahu kalau sosok itu adalah anaknya Arini, karena sudah menjadi sekretaris Arini dari Arini merintis perusahaannya.
"Iya, sekarang dia sudah masuk sekolahnya. Dan apakah kamu tahu apa yang terjadi tadi?" ujar Arini menyimpan gadgetnya dan memiringkan badannya sedikit menghadap Hana yang tengah menyetir, kini ia semangat membahas Azzam dari pada membahas pekerjaannya. Hana menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Anak itu sempat gugup untuk masuk ke sekolah, dan wajahnya sangat lucu tadi." Kata Arini tersenyum mengingat tingkah lucu pangeran kecilnya.
"Iya dia sangat lucu dan menggemaskan. Andai saya ada di situ, pasti sudah saya cubit dan seketika itu raut wajahnya akan langsung memerah karena malu plus marah." Ujar Hana senyam-senyum mengingat kelakuannya bersama Arumi tempo lalu, ketika ia menjemput atasannya karena mobil Arini masuk bengkel.
"Hahahaha... kalau kamu melakukan itu lagi, pasti Azzam tidak akan mengampuni mu." Ujar Arini tergelak.
"Hahaha... iya, pasti dia tidak akan mengampuniku." Kata Hana, juga tergelak bersama Arini. Jiwa formalnya terhadap atasan, sepertinya menghilang untuk saat ini.
Dan tak terasa mereka sampai di gedung pertemuan, Hana memarkirkan mobilnya lalu keluar bersama Arini dan memasuki gedung itu.
*****
Tepat pada pukul 11:00 sebuah gedung pertemuan sudah dipenuhi oleh para tamu undangan dari berbagai perusahaan. Semua CEO datang dan berkumpul untuk mewakili perusahaan masing-masing demi kemajuan perusahaannya. Dan juga tentunya kemajuan negara ini, Indonesia tercinta.
Arini dan Hana masuk dalam gedung itu, dan langsung duduk pada kursi yang sudah disediakan karena acara sudah di mulai.
Pembukaan acara diisi oleh dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN). Pertemuan tahunan CEO ini, bertujuan memperkuat komitmen Indonesia membuka ekspor ke negara dengan pasar yang belum tergarap di berbagai negara.
"Dan diharapkan dalam pertemuan ini dapat membuka peluang untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke negara dengan pasar yang belum tergarap di berbagai negara. Kami juga berharap kegiatan ini dapat menghasilkan kesepakatan atau transaksi potensial antara pelaku usaha negara kita dan berbagai negara nanti untuk meningkatkan perdagangan di masa mendatang." Ujar dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) dalam pidatonya. Arini maupun CEO lainnya mendengarkan pidato itu dengan seksama.
Pidato di gedung itu berlangsung cukup lama, tapi orang-orang yang ada di dalamnya masih tetap setia mendengarkan pidato itu dengan seksama.
Dan beberapa saat kemudian, pidatonya pun berakhir. Tetapi orang-orang yang ada di gedung itu belum beranjak pergi, mereka masih saling bercengkerama satu sama lain termaksud Arini.
Saat Arini sibuk berbincang-bincang dengan kolega, matanya tak sengaja melihat sosok yang ia hindari selama ini, dan sosok itu juga tengah melihat Arini.
Keduanya saling memandang beberapa detik, Arini memandang sosok yang tak lain adalah Bian dengan tatapan dinginnya tanpa ekspresi, sedangkan Bian memandang Arini dengan pandangan yang tak bisa Arini artikan.
*****
Bersambung...