My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Membangun Bisnis



Setelah perselisihan yang mana yang cantik atau yang imut. Arini pun memanggil ibunya, yang sekarang kembali melakukan kegiatannya tadi, yaitu merajut syal.


"Ibu." Panggil Arini menatap ibunya yang masih fokus pada kegiatannya.


"Iya. Ada apa, Nak." Jawab ibu Syahra menoleh sekilas pada Arini.


"Arin mau bilang---" Kata Arini menggantung, karena bingung bagaimana cara ia menyampaikan pada sang ibu. Bahwa ia tidak diterima kerja di perusahaan yang ia ajukan lamarannya kemarin. Ia takut ibunya kecewa.


Ibu Syahra kembali menghentikan kegiatannya, lalu fokus pada sang anak yang tengah menatapnya. "Mau bilang apa? Hem...." Kata ibu Syahra dengan suara lembut nan meneduhkannya pada sang anak.


Mendengar suara ibunya, membuat Arini melanjutkan kata-katanya. "Arin mau bilang, kalau Arin tidak di terima kerja di perusahaan yang Arin ajukan lamaran kemarin." Ujar Arini memberitahu ibunya, lalu menunduk.


Arumi yang sedari tadi fokus pada bukunya, dan hanya mendengar ibu dan kakaknya berbicara, kini ia pun ikut berbicara.


"Kakak nggak usah sedih, karena tidak diterima kerja di perusahaan itu. Masih banyak kok, perusahaan yang bisa kakak ajukan lamaran lagi, dan siapa tahu salah satunya menerima kakak untuk kerja." Kata Arumi menimpali pembicaraan antara ibu dan kakaknya. "Tapi menurut aku, kakak nggak usah kerja dulu di perusahaan-perusahaan. Karena kasihan sama dedek bayinya kalau di bawa kerja." Lanjut Arumi menatap sang kakak.


"Iya. Apa yang di katakan adekmu benar, Rin. Lagi pula tidak baik untuk perempuan yang hamil muda sering naik kendaraan, jika seandainya kamu diterima kerja nanti. Ibu takut terjadi guncangan karena jalanan yang tidak rata saat kamu menaiki kendaraan, sehingga berakibat fatal pada calon cucu ibu." Ujar ibu Syahra membenarkannya perkataan Arumi. "Apalagi sekarang kamu masih mengalami morning sickness, yang membuat tubuhmu jadi tidak enak dan sakit kepala, Nak." Lanjutnya lagi.


"Nah... dengarkan, apa kata ibu. TIDAK BAIK!! Jadi kakak nggak usah dulu cari kerja di perusahaan-perusahaan." Ujar Arumi menekankan kata 'tidak baik' pada sang kakak.


"Tapi---" Kata Arini terpotong oleh suara adiknya.


"Tapi, bagaimana dengan kebutuhan kita sehari-hari? Atau bagaimana dengan ijazah kakak?" tanya Arumi, yang sudah tahu akan kelanjutan dari perkataan sang kakak.


Arini mengangguk pelan, sebagai jawaban dari pertanyaan sang adik.


"Kalau masalah kebutuhan kita sehari-hari, kan masih bisa dipenuhi oleh hasil jualan kue. Kalau kakak juga memikirkan masalah biaya kontrakan, itu masih lama. Bisa kita bayar dari hasil jualan kue juga, caranya kakak tambah saja penghasilan jualan kue kita. Nah, cara untuk tambah penghasilan jualan kue, kita tawarkan lagi kue-kue kita di warung-warung yang berjauhan dengan warung bibi Juwita. Dan cara yang paling populer, kakak jualan online saja. Lalu masalah ijazah, kakak juga nggak usah khawatir... ijazah kakak tidak akan sia-sia jika tidak kakak gunakan sekarang. Kakak bisa gunakan ijazahnya nanti, kalau dedek bayinya udah lahir." Ujar Arumi panjang lebar, menjawab semua pertanyaan yang ada di benak sang kakak.


"Memang semuanya tak mudah, tetapi, tak ada yang tak mungkin, kan? Seperti kata ibu." Lanjutnya lagi menatap sang kakak, lalu beralih pada ibunya.


Arini dan ibu Syahra membelalakkan bola matanya, mendengar penjelasan Arumi, yang menurut mereka hanya orang dewasa yang memikirkan semua hal semacam itu.


"Ka... kamu, sudah memikirkan semua hal itu." Kata Arini tidak percaya. Ia tak menyangka, adiknya ternyata sudah dewasa dari usianya.


Ya. Walau usia Arumi sekarang masih 15 tahun, tapi ia sudah bisa menelaah tentang hal-hal seperti itu, kehidupannya yang jauh dari kata nyaman dan ditinggal oleh ayahnya sejak kecil lah, yang membuat ia dewasa dari usianya.


"Hum...." Timpal Arumi mengiyakan perkataan sang kakak, sambil mengangguk.


"Jadi bagaimana? Apakah kakak setuju? Kalau kakak setuju, aku juga bisa titipkan kue kita di kantin sekolah dan menawarkannya pada teman-temanku." Tanya Arumi memastikan.


Arini dan ibu Syahra saling menoleh dan mengangguk bersamaan dengan mata yang berkaca-kaca, karena terharu akan apa yang Arumi katakan. Sungguh mereka tak menyangka, akan pemikiran Arumi yang sudah dewasa dari usianya ini.


*****


Hari ini adalah awal bagi Arini, untuk membangun bisnis kuenya, awal... yang mungkin akan merubah kehidupannya nanti.


"Kak. Harga kue satu toples berapa? Apa kakak sudah memikirkannya?" tanya Arumi, seraya menyimpan kue yang sudah mereka masak dalam sebuah toples.


"Mungkin satu toples dua puluh ribu." Jawab Arini tanpa menoleh pada sang adik, karena ia juga sedang fokus menata kue pada toples.


"Dua puluh ribu? Apa itu tidak terlalu murah, kak?" tanya Arumi lagi, memastikan harga yang disebut oleh kakaknya.


"Iya. Menurut kakak harganya tidak terlalu murah, tapi kalau di bilang murah, ya... memang murah. Kakak sengaja kasih harga segitu, biar kue kita bisa diterima oleh calon pembeli." Jawab Arini menoleh sekilas pada adiknya.


"Apa kita tidak akan rugi?" tanya Arumi, memperingati kakaknya.


"Tentu saja tidak, Dek. Kakak sudah menghitung semua bahan-bahan yang kita gunakan, peralatan dan perlengkapan yang terpakai, serta ongkos dan biaya lain-lain. Hasilnya, kita untung lima ribu dari setiap toples. Intinya... harga yang kakak tetapkan masih menguntungkan kita, dan juga ringan bagi pembeli." Jawab Arini menjelaskan pada sang adik.


"Tapi, tetap aja untungnya sedikit, kan buat kue juga butuh tenaga." Sarkas Arumi, masih tidak terima dengan harga yang di tetapkan Arini.


"Kakak tahu. Tapi, sebagai pemula, kita sebaiknya menunggu bisnis kue kita berjalan dengan lancar dan banyak pelanggan terlebih dahulu, baru harga jualnya kita bisa naikkan secara bertahap. Dan untungnya juga akan naik secara perlahan." Arini berusaha menjelaskan pada sang adik. "Ini juga strategi yang di gunakan bagi setiap pebisnis untuk membangun usaha mereka dari nol, seperti kita." Lanjut Arini menjelaskan.


Arumi pun, mengangguk-anggukan kepalanya, mendengar penjelasan dari kakaknya. Sekarang, ia mengerti akan harga yang ditetapkan oleh sang kakak. Dan kini, ia tidak banyak bertanya lagi dan kembali fokus akan pekerjaannya yang sedari tadi ia kerjakan.


Selang beberapa menit kemudian, ibu Syahra masuk ke dapur dan menyapa kedua anaknya.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya ibu Syahra, melihat anak-anaknya tengah mengambil gambar kue yang sudah dimasukkan ke dalam toples.


"Belum, Bu." Arumi yang menjawab pertanyaannya dari ibunya. Sedangkan Arini, masih fokus mengambil gambar kue di berbagai sisi.


"Mau ibu bantu?" tanya ibu Syahra lagi menawarkan bantuannya, mendengar jawaban dari Arumi.


"Nggak usah, Bu. Ini juga hampir selesai, tinggal ambil gambar kuenya lebih banyak lagi. Baru upload di media sosial." Kini Arini yang menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Iya, Bu. Ibu duduk aja di kursi, kalau masalah ini biar aku sama kakak saja yang urus." Timpal Arumi menyetujui perkataan kakaknya.


"Ya sudah kalau begitu. Lagi pula, ibu tidak tahu menahu masalah media sosial seperti yang kalian katakan." Ujar ibu Syarah, seraya menghampiri salah satu kursi yang ada di dapur, lalu menduduki kursi tersebut.


*****


Bersambung...