My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Ommm...



Laki-laki itu mengendarai mobil, membelah jalan menuju alamat yang sudah Arini beritahu sebelumnya.


Di dalam mobil tidak ada satu pun di antara mereka yang membuka suara, keadaan terlihat sunyi. Hanya degupan halus mesin mobil yang mengisi kesunyian di antara mereka.


Arini memandang keluar, menikmati suasana sore di tengah padatnya Ibu kota Jakarta, yang di penuhi gedung menjulang tinggi dan kendaraan yang berlalu lalang. Sedangkan laki-laki itu fokus menyetir, sesekali mencuri pandang pada Arini melalui kaca spion.


Arini teringat sesuatu, tentang laki-laki ini yang belum sempat ia tanyakan tadi.


"Eh... perasaan kamu bukan karyawan di perusahaan ku bekerja, buka klien, ataupun kolega 'kan?" ujar Arini memulai pembicaraan, dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari laki-laki itu.


"Lalu... kenapa kamu bisa berada di perusahaan tadi, dan mau apa?" akhirnya Arini dapat melontarkan rasa penasarannya sejak tadi saat masih di perusahaan.


Laki-laki itu diam sejenak, tidak langsung menjawab. Sepertinya ia sedang berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari Arini.


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Rangga Kusuma, bisa di panggil Rangga. Saya bisa berada di perusahaan tadi karena sedang mencari lowongan pekerjaan dan ingin melamar di sana. Namun, kata resepsionisnya tidak ada lowongan pekerjaan." Ucapnya dengan wajah sedikit murung.


Arini mengernyit, "Mencari pekerjaan di jam empat sore?" ujarnya dalam hati, merasa aneh. Baru kali ini ia mendapati hal seperti itu.


Tapi rasa aneh itu tidak bertahan lama, melihat wajah murung dari laki-laki ini.


"Oh... jadi kamu memang bukan bagian dari perusahaan, pantas saja saya merasa sangat asing melihat wajah mu, Rangga." Ucap Arini yang kembali mendapat anggukan kepala dari laki-laki yang bernama Rangga ini.


"Tadi kamu bilang lagi cari lowongan kerja di perusahaan tempat ku bekerja?" tanya Arini mengingat perkataan Rangga barusan.


"Iya Nona...." Ujar Rangga tidak mengetahui nama Arini.


"Arini." Ucap Arini, memberitahu namanya.


"Iya Nona Arini, saya memang sedang mencari lowongan pekerjaan di sana. Tapi, ternyata tidak ada." Jawab Rangga kemudian.


"Memang, karena di perusahaan tempat ku bekerja saat ini tidak membutuhkan tambahan pekerja." Jelas Arini yang membuat wajah Rangga kembali terlihat murung, sedih.


"Huffft...." Rangga bernapas pasrah menerima kenyataannya.


Arini yang melihat kesedihan dari wajah Rangga, ia pun menjadi tak tega. Ia teringat bagaimana susahnya ia dulu dalam mencari pekerjaan di Ibu kota ini. Sungguh sulit bagi mereka, apa lagi yang datang dari kampung.


Jika tidak memiliki skill yang sepadan dengan orang-orang kota, maka bisa jadi mereka hanya akan menjadi pembantu dan sebagainya.


"Apa kamu benar-benar ingin mendapatkan pekerjaan?" tanya Arin dan Rangga mengangguk.


"Bisa aku lihat surat lamaran mu?" Arini meminta surat lamaran pekerjaan Rangga. Namun, Rangga menggeleng. Ia tidak mempunyai surat-surat lamaran itu.


"Kamu tidak memiliki surat lamaran pekerjaan?"


"Iya, saya tidak memiliki surat-surat itu." Jawab Rangga lesu.


Hmmm.... Arini terdiam, memikirkan sesuatu. "Bagaimana bisa aku mengerjakannya di kantor, jika dia tidak memiliki surat lamaran kerja." Arini bergumam.


"Sepertinya aku mempunyai pekerjaan untukmu dan semoga saja pekerjaan nanti cocok denganmu." Ujar Arini setelah ia berpikir panjang, menemukan pekerjaan yang cocok untuk Rangga.


"Benarkah...?" Rangga girang sampai-sampai ia menoleh ke belakang tempat Arini duduk.


"Tentu saja benar. Tapi tunggu sampai rumah ku, baru aku memberitahukan pekerjaan apa itu."


"Iya." Rangga mengangguk antusias, ia kembali fokus ke kemudi.


*****


"Assalamu'alaikum...." Arini memberi salam, mengetuk pintu rumahnya. Dengan Rangga berdiri di belakangnya.


"Wa'alaikumussalam...." Seseorang dari dalam rumah menjawab salam dari Arini seraya membuka pintu kayu itu.


"Siapa itu kak?" tanya Arumi melihat laki-laki di belakang kakaknya.


"Ih... kamu nggak sopan sekali, suruh masuk dulu." Arini memukul pelan lengan sang adik.


"Iya... iya...." Arumi mengangguk memberi jalan, "Silakan..." lanjutnya lagi merentangkan tangan.


"Ayo." Ajak Arini memberi isyarat tangan pada Rangga.


"Eh... eh... tunggu." Arumi menghentikan langkah dua orang ini.


"Kaki kakak kenapa?" tanya Arumi menghampiri kakaknya, ia berjongkok memeriksa.


"Kaki kakak nggak apa-apa, hanya keseleo doang." Arini menenangkan Arumi yang terlihat khawatir.


"Nggak apa-apa tapi jalannya sampai seperti tadi." Arumi mendongak menatap curiga laki-laki di belakang kakaknya.


"Lagi pula tidak ada yang namanya 'keseleo doang' keseleo yang keseleo." Arumi bergantian mendongak kakaknya dengan tatapan yang tidak bisa Arini artikan. Mungkin tatapan kasihan, khawatir, marah, atau ketiganya.


Arumi bangkit, melingkarkan tangan Arini pada punggungnya agar ia bisa membantu kakaknya ini untuk berjalan.


"Eh... kakak nggak apa-apa kok Rum, nggak---"


"Udah diem." Ucap Arumi tidak ingin di bantah dengan nada tegas. Ia sangat tidak suka pada kakaknya yang menyepelekan hal seperti ini.


Arumi membawa Arini menuju sofa, seraya memanggil ibunya agar segera ke ruang tamu. Rangga memerhatikan semua itu tanpa mengeluarkan suara.


"Ada apa Rum?" Ibu Syahra keluar dari dapur, setelah ia mematikan kompor. Mendengar teriakkan Arumi yang memanggilnya, ia pun segera keluar menuju ruang tamu.


Dan ternyata teriakkan Arumi tidak hanya di dengan oleh ibu Syahra, tapi Azzam yang ada di kamarnya juga mendengarkan teriakkan itu. Ia bergegas menuruni anak tangga, melihat apa yang sedang terjadi.


Ibu Syahra dan Azzam memfokuskan pandangan mereka pada Arini, yang terlihat berjalan tertatih menuju sofa dengan di bantu oleh Arumi.


"Arini kenapa?" Ibu Syahra bergegas menghampiri kedua anaknya itu.


"Mama kenapa?" Azzam juga turun dari tangga, berlari menuju mamanya yang sekarang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Ia menghampiri mamanya dengan wajah yang sangat khawatir, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca ingin menangis.


"Kakak kamu kenapa, Rum?" tanya ibu Syahra lagi setelah sudah berada di samping Arumi.


"Kakak keseleo, Bu." Jawab Arumi melepaskan lingkaran tangan Arini dari punggungnya.


"Mama keseleo? Kenapa bisa? Apakah itu sakit?" tanya Azzam beruntun di samping Arini, dengan mata yang semakin berkaca-kaca.


"Iya sayang, mama hanya keseleo. Kamu tidak usah khawatir, ini tidak terlalu sakit kok." Arini berusaha menenangkan anaknya. Mengusap lembut wajah Azzam.


"Kenapa bisa?" tanya Azzam dan ibu Syahra hampir bersamaan.


"Iya, kenapa bisa nak." Ibu Syahra mengulangi pertanyaannya, membuat Rangga menunduk. Merasa sangat bersalah sudah membuat Arini seperti itu, dan membuat keluarganya menjadi khawatir semua.


Arini bungkam tidak menjawab, ia melirik sekilas pada Rangga. Dan melihat Azzam dan ibunya bergantian.


Ibu Syahra balas memandang Arini menunggu jawaban, Arumi mengangkat kedua alisnya juga menunggu jawaban dari kakaknya. Sedangkan Azzam ia sudah menatap tajam penuh intimidasi pada sosok laki-laki yang duduk di sofa sebelah mereka.


"Hmmm---" Rangga ingin menyampaikan sesuatu, namun suara pintu di ketuk membuat ia mengurungkannya.


"Tunggu sebentar...." Arumi bangun dari duduknya, pamit kepada orang-orang yang berada di ruang tamu itu. Ingin membukakan pintu. "Siapa lagi yang datang se-sore ini."


Ketukan pintu itu semakin lama semakin kencang saja, di ketuk berulang-ulang kali. Membuat Arumi mendengus, "Ih siapa sih, dia kira ini rumah nenek moyangnya. Jadi, tidak mempertimbangkan etika mengetuk pintu!" runtuk Arumi mendengar ketukan itu.


"Tunggu sebentar... tunggu sebentar." Teriak Arumi membuka pintunya.


"Ommm...." Azzam berlari menghampiri orang itu.


*****


Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya Author.


Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, Gift, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.


I Love You All...


*****


Bersambung...