My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Berangkat ke Hong Kong



Minggu-minggu berlalu begitu cepat, sejak kebenaran itu terungkap, hubungan Arini dan Bian semakin lengket saja. Dan tidak hanya hubungan mereka berdua, hubungan Tuan Dean dan Marvel kembali membaik, Bian, Marvel, sudah kembali akur layaknya hubungan antara sepupu. Namun, walaupun begitu Bian masih terlihat menghindari Marvel dan selalu berjaga-jaga padanya, karena bagaimanapun Marvel pernah menyukai istrinya.


Dan sejak kejadian itu juga, hari-hari padat selalu dijalani oleh Bian. Dan hari ini Bian akan melakukan perjalanan menuju Hong Kong melihat proyek barunya yang baru saja dirintis di sana. Dan tidak hanya itu, ia akan bertemu dengan beberapa orang penting di sana untuk membahas masalah pekerjaan.


"Sayang... aku masih mau...." Bian merengek, di depan pintu rumah mereka dengan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Azzam baru saja berangkat ke sekolah dengan diantar Pak Bhanu, Bian dan Arini hanya bisa mengantarnya sampai pintu rumah saja. Mengingat Bian harus menyiapkan semua keperluannya untuk keberangkatan ke Hong Kong, jadi tidak bisa mengantar anaknya pergi ke sekolah.


"Hmm... bukankah tadi malam dan tadi subuh sudah mas? Kenapa masih mau lagi?" Decak Arini melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya, lalu membalikkan badan saling berhadapan.


Terlihat wajah Bian yang lesu, entahlah karena menginginkan itu atau yang lainnya. Arini menatap kasihan dengan wajah suaminya.


"Mas beneran ingin?" Tanya Arini memegang pipi suaminya, dengan wajah yang merona karena bayangan bercinta mereka tadi subuh saja belum hilang.


"Mmm...." Bian mengangguk dengan mata pupy eyes-nya, meraih tangan Arini yang sedang memegang pipinya.


"Tapi barang-barang Mas belum disiapkan, jam sepuluh nantikan sudah berangkat." Arini mengingatkan suaminya, barang-barang yang belum disiapkan.


"Sekarang masih jam tujuh sayang, masih tiga jam menuju jam sepuluh, bagaimana kalau kita main satu jam saja." Bian berkata dengan penuh harapan. Arini diam sejenak memikirkan, lalu ia pun mengangguk menyetujui karena tidak mau suaminya berangkat dengan keadaan lesu seperti ini.


"Benarkah sayang?" Tanya Bian dengan senyuman lebar melihat anggukan dari istrinya.


"Iya, tapi hanya satu jam saja ya...." Arini menudingkan jari, agar suaminya ini menepati perkataannya sendiri. Karena kalau tidak, tidak akan ada waktu untuk menyiapkan barang-barang keberangkatan.


"Oke." Bian langsung mengangkat tubuh istrinya, dan membawanya menuju lantai dua kamar mereka.


Sapai dilantai dua, Bian langsung saja mencium bibir ranum istrinya tanpa menunggu sampai di kamar terlebih dahulu. Mereka berdua berciuman menuju lorong kamar, saling *******, saling menuntun, memberikan kelembutan dan kehangatan.


Tiba di kamar, Bian langsung membaringkan tubuh istrinya tanpa melepas pagutan mereka, ia langsung naik dan mengungkung tubuh mungil istrinya.


Ciuman panas itu turun ke leher jenjang Arini, tangannya yang liar meraba-raba sesuka hati, menciptakan kenikmatan, dan menanggalkan satu persatu benang di tubuh mereka. Hingga benang itu tak tersisa walau sehelai, membuat ciuman turun pada gunung abadi dan menghisap dua bulatan kenikmatan untuk mereka berdua. Alhasil dua insan itu kembali menikmati kenikmatan dunia bercinta yang paling hakiki.


Bian terus mengulangi permainannya sebelum ia dan istrinya dipisahkan oleh jarak, membuat keduanya tidak akan bisa seperti ini nantinya dalam waktu beberapa hari atau lebih. Dan ia juga pasti akan sangat tersisa karena hal tersebut, maka dari itu ia memutuskan untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.


*****


Yang diucapkan oleh Bian tentu saja tak sesuai dengan perbuatannya, ia bermain dua jam membuat mereka berdua kalang kabut menyiapkan semua keperluan keberangkatan.


Bian berlari sana-sini mencari berkas-berkas penting yang harus dibawanya, sedangkan Arini cepat-cepat memasukkan beberapa lembar baju untuk suaminya kenakan pada saat kerja di sana nanti. Suasana kamar itu terlihat riuh oleh keduanya.


"Mas... sih, sudah bilang satu jam saja, malah main dua jam." Runtuk Arini di tengah-tengah memasukkan baju suaminya.


"Maaf sayang, tadi aku lupa. Habisnya keenakan sih...." Jawab Bian sambil memilah-milah berkas pentingnya.


"Hm." Dengus Arini, bersungut.


"Tuan, saya sudah sampai tepat di depan teras rumah anda." Orang di seberang telepon memberitahu.


"Ya, sebentar lagi aku turun." Bian berucap langsung mematikan teleponnya.


Kini Bian sudah selesai dengan berkas-berkasnya, dan Arini pun sudah selesai memasukkan beberapa lembar baju sang suami. Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju lantai satu.


Tiba dilantai satu, pintu rumah mereka, Bian dan Arini berhenti. Dan disana sudah terlihat mobil sedan berwarna hitam mengkilap. Seseorang keluar dari sana menampakkan wajahnya yang ternyata adalah Rio sekretaris Bian. Rio berdiri di depan pintu penumpang, bersiap membukakan pintu untuk atasannya.


"Sayang, aku pergi ya... jaga diri serta anak kita. Aku akan pulang secepatnya." Ujar Bian mendekatkan wajahnya dengan sang istri lalu mengecup keningnya dengan sayang. Rio memalingkan wajah agar tidak melihat adegan perpisahan antara suami istri itu.


"Iya mas, kamu hati-hati, juga jaga diri. Kami akan menunggu mu di sini, oh ya... jangan lupa kabari kami kalau kamu sudah sampe." Ucap Arini yang masih dicium oleh Bian. Bian tampaknya sangat tidak rela meninggalkan istri dengan anaknya. Ia semakin mengeratkan kecupan di kening sang istri. Tak sadar sudah membuat Rio dan seseorang di dalam mobil itu menunggu lama.


"Woiii... lepasin dulu, nanti dilanjut kalau pekerjaan kita sudah selesai." Seseorang di dalam mobil menurunkan kacanya, lalu meneriaki Bian yang begitu lama melakukan perpisahan dengan istrinya.


Teriakkan itu membuat Arini menjauhkan sedikit kepalanya, namun cepat ditahan oleh Bian. Bian tak memedulikan teriakkan itu, ia malam mengecup kening istrinya beberapa detik lagi, dan merenggut rasa manis di bibir istrinya sekilas. Wajah Arini merona, adegan mereka dilihat jelas oleh Rio dan Rangga.


"Sudah mas, pergi sana, mereka sudah nungguin kamu dari tadi." Ucap Arini mendorong pelan dada suaminya, merasa tidak enak pada Rio dan Rangga.


"Iya, mas pergi." Timpal Bian dengan wajah penuh kasih sayangnya menatap sang istri, menerima tas kerjanya dari tangan istrinya, lalu berbalik badan menarik koper kecil yang berisi beberapa lembar bajunya.


Pandangan Bian berubah menjadi dingin, melihat Rio terutama Rangga. Ia berjalan mendekati mobilnya, menatap tajam pada Rangga yang sudah duduk rapi di kursi penumpang dengan senyumannya yang dibuat semanis mungkin.


Rio menunduk hormat, membukakan pintu untuk atasannya. Bian tidak langsung masuk, ia menatap wajah Rio terlebih dahulu.


"Dia bersama kita karena ada pekerjaan juga di Hong Kong, Tuan." Ujar Rio yang mengerti maksud tatapan atasannya. Bian mengernyit.


"Aku menumpang mobil kalian calon kakak ipar, sekalian sama jet pribadinya, heheh...." Rangga cengengesan, mengubah intonasi suaranya yang tinggi saat berteriak tadi, kini menjadi kecil seperti anak kucing yang sedang mengambil perhatian dan minta dikasihani.


Bian memutar jengah bola matanya, cih, melihat Rangga yang duduk di kursi penumpang. "Duduk di depan! Rio bukanlah supir mu." Bian berkata dingin, membuat Rangga menggeleng tidak mau.


"Dia bukan supir mu! Kalau kau tidak mau duduk di depan, keluar saja dari mobil ini dan juga jangan menumpang jet pribadi ku." Kembali Bian berkata dingin nan tajam, membuat Rangga tergerak untuk berpindah tempat.


"Hum...." Dengus Rangga, menutup pintu penumpang, dan masuk menduduki kursi samping pengemudi.


Lepas Rangga berpindah tempat, Bian pun masuk dan Rio menutup pintunya, serta duduk di depan setir. Rio masuk ke dalam mobil dengan menyunggingkan seulas senyum pada Rangga, Rangga memalingkan wajah, melipat kedua tangannya di dada, melihat senyuman mengejek dari Rio.


Rio mulai menyalakan mesin mobilnya, menjalankannya perlahan-lahan. Bian melambaikan tangannya pada istrinya yang melihat kepergian mereka. Dan mobil pun mulai melaju, meninggal pekarangan rumah, hingga hilang di pandangan Arini.


*****


Bersambung...