
Rencana itu tentu saja langsung di jalankan oleh keduanya, mereka berdua turun ke lantai satu dan langsung menuju dapur.
Ya, rencananya... mereka akan memasakkan makanan spesial untuk perempuan yang mereka sayangi itu. Berharap perempuan yang tengah merajuk itu bisa melihat ketulusan dari permohonan maaf mereka melalui masakan yang mereka masak.
"Eh... Tuan, Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bi Minah melihat kedatangan Bian dan Azzam.
"Tidak ada Bi, kami hanya mau pake dapur sebentar." Ucap Bian berjalan mendekat menuju kulkas tempat bahan-bahan makanan di simpan, Azzam mengikutinya dari belakang.
"Kalau Tuan dan Tuan Muda mau makan sesuatu, biar Bibi aja yang masak." Bi Minah menawarkan bantuan.
"Tidak usah Bi, terima kasih." Ucap Bian dan Azzam serentak, seraya memberikan senyuman pada Bi Minah atas tawarannya.
Bi Minah mengangguk, membalas senyuman mereka. Lalu ia kembali pada pekerjaannya sendiri.
Bian dan Azzam melihat-lihat isi kulkas, mencari-cari bahan makanan yang bisa mereka masak.
"Mama sukanya makanan apa?" Tanya Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal, tidak tahu makanan kesukaan sang istri.
"Hmmm... Azzam juga tidak tahu pah, mama selalu makan apa saja, tidak pernah pilih-pilih. Tapi kalau Azzam nasi goreng telur mata sapi, hehehe...." Azzam cengengesan, dan malah menyebut makanan kesukaannya sendiri.
"Hm... jadi kita masa apa?" Mata Bian tak henti-hentinya melihat isi kulkas, bingung masakan apa yang akan mereka masak. Karena jujur saja, ia baru kali ini akan memasak sesuatu, biasanya hanya tinggal makan saja.
"Masak nasi goreng telur mata sapi aja pah, kan mama sering masak itu untuk Azzam." Azzam memberikan ide, karena ia juga tidak tahu mau memasak apa.
"Oke, ayo kita masak itu saja." Bian mengangguk menyetujui ide anaknya.
"Eh... tunggu, bahan-bahannya apa aja?" Tanya Bian, kembali menggaruk kepalanya, Azzam ikut menggaruk kepalanya, juga tidak tahu.
"Tanya Bi Minah aja pah, pasti dia tahu." Ucap Azzam melihat ke arah Bi Minah.
Bi Minah yang sedari tadi mengamati tingkah kedua majikan langsung mengerti masuk tatapan Azzam.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" Tanya Bi Minah ramah pada anak majikannya.
"Eh... itu Bi, bahan-bahan buat masak nasi goreng telur mata sapi apa aja?" Azzam berkata malu-malu, karena ia mengaku makanan itu makanan kesukaannya, sedangkan bahan-bahannya saja ia tidak tahu.
"Oh nasi goreng mata sapi, bahan-bahannya nasi, telur ayam, bawang putih, merica, kecap asin, kecap manis, penyedap rasa... kalau mau tambah daun bawang, cabe merah keriting, cabe rawit, dan lainnya juga boleh Tuan. Sesuai selera saja." Ucap Bi Minah memberitahu, Bian dan Azzam sama-sama melongo, lalu saling pandang, bahan-bahan apa itu, mereka berdua sama sekali tidak tahu.
"Eh... bisakah bibi menyiapkan semua bahan-bahan itu." Ujar Bian tidak enak hati, padahal mereka tadi sudah menolak bantuan dari Bi Minah.
"Tentu saja bisa Tuan." Bi Minah mengangguk dengan senang hati, lalu mulai menyiapkan semua bahannya.
Ketika bahan-bahan itu sudah tersedia semua, kini masalah baru kembali menimpa kedua pria itu. Mereka saling pandang, bagaimana cara pembuatannya.
"Bagaimana cara buatnya?" Lirih Bian menatap anaknya. Azzam mengangkat bahu juga tidak tahu. Huft... mereka berdua sama-sama menghela napas.
Wajah keduanya berubah lemas, semangat yang membara tadi seakan hilang entah kemana. Keduanya duduk di meja makan, berpikir. Dan untung saja tidak ada yang melihat wajah keduanya, karena Bi Minah sudah keluar mengerjakan hal yang lain.
"Huft... kalau minta bantuan sama Bi Minah lagi, nanti masakannya tidak spesial. Lagi pula Bi Minah sudah banyak membantu." Azzam menopang dagu.
"Umm...." Bian mengangguk setuju. "Jadi gimana dong...?" Tanyanya, dan keduanya kembali berpikir.
Dan sesaat kemudian, Azzam sepertinya mendapatkan ide. "Bagaimana kalau kita lihat cara masak di YouTube aja pah...."
"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan sejak tadi." Bian langsung mengeluarkan ponselnya di saku, mulai membuka YouTube mencari tentang cara memasak nasi goreng telur mata sapi.
Setelah mendapatkan video yang tepat, mereka menontonnya sebentar, lalu memutuskan untuk mulai memasak seperti yang dicontohkan dalam video.
Acara masak memasak mereka berjalan dengan lancar, ya... walau ada sedikit kendala seperti perdebatan mereka mengenai bahan-bahan yang mereka tidak tahu, Azzam yang terus bersin karena mencium merica, serta Bian yang kalang kabut karena telur mata sapi mereka yang gosong sampai mengeluarkan asap hitam tebal.
"Huft... akhirnya selesai juga." Ucap Bian dan Azzam bersamaan dan mengusap peluh keringat mereka yang bercucuran.
*****
Hari sekarang beranjak malam, namun Arini masih belum keluar dari kamar tamu. Apa sebegitu marahnya kah dia pada ku? Keluar untuk makan saja tidak. Batin Bian menatap sedih pintu kamar tamu.
Sedangkan Arini di dalam kamar, ia baru saja terbangun dari tidurnya. Dan betapa terkejutnya ia, tak kala hari sudah menjadi gelap.
"Ya... ampun, aku belum solat magrib." Arini menyibakkan selimut, lalu berlari menuju kamar mandi.
"Pah... bagaimana? Rencananya kita jalankan atau tidak?" Tanya Azzam juga menatap pintu kamar tamu.
"Sepertinya harus kita jalankan." Bian mengangguk mantap dengan rencana mereka.
"Ok." Ucap Azzam, dan mereka berdua pun membalikkan badan turun ke lantai satu.
Arini baru saja selesai solat magrib, lampu rumah tiba-tiba mati, membuat ia berjalan pelan-pelan dalam kegelapan menuju nakas untuk mengambil ponselnya.
"Kenapa bisa tiba-tiba mati lampu." Gumam Arini di tengah kegelapan.
"Mamaaaa...." Samar-samar terdengar suara yang memanggilnya.
"Mamaaaa...." Kembali suara itu terdengar, dan sekarang semakin jelas.
Wajah Arini seketika berubah khawatir, ia melepaskan mukenanya dengan cepat, lalu berlari keluar dengan cahaya ponselnya.
"Azzam kamu di mana nak...?" Teriak Arini sangat khawatir, ia mendengar dengan jelas suara anaknya yang tengah memanggilnya.
"Mamaaaa...." Terdengar suara Azzam dilantai satu, Arini langsung menuruni tangga dengan cepat, dan berlari menuju asal suara anaknya.
Dan ia tiba di ruang makan, ia menyapu seluruh sudut ruangan, lilin-lilin menyala di atas meja makan, kelopak bunga mawar memenuhi lantai sekitar meja, dan terlihat di sana lilin yang telah dinyalakan dengan susunan membentuk permohonan maaf. Namun semua itu dihiraukan oleh Arini, karena yang dipikirkannya sekarang adalah anaknya.
"Azzam kamu di mana sayang? Mama sudah datang." Arini terus memanggil nama Azzam, matanya kini berkaca-kaca saking khawatir pada sang anak.
"Mama." Azzam muncul dari kegelapan dengan senyum manis tersungging di bibirnya, tangannya membawa nasi goreng spesial yang ia masak bersama sang papa.
Arini terpaku sejenak, menangis melihat anaknya yang baik-baik saja. Baru saja ia ingin menghampiri sang anak, pinggangnya langsung dipeluk dari arah belakang oleh tangan kekar yang sangat Arini kenali. Orang itu menyimpan wajahnya di bahu Arini seraya membisikkan permohonan maaf.
"Mass...." Arini membalikkan badannya, masih menangis, ia langsung memukul dada Bian.
"Auuf.... sakit sayang." Bian meringis, mendapatkan pukulan dari Arini yang tak main-main.
"Kenapa kamu melakukan hal seperti ini?!" Tanya Arini dengan nada terisak.
"Eh.... jangan menangis sayang... kami hanya ingin meminta maaf, dan membuat kejutan kecil ini untukmu." Jelas Bian, mengusap air mata istrinya.
"Ihh... iya! Tapi tidak begini juga, kamu sudah membuatku sangat khawatir!!!" Arini memukul Bian lagi, mencubit pinggangnya, lalu beralih pada Azzam. Meninggalkan Bian yang meringis kesakitan.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" Arini menyejajarkan tingginya dengan sang anak, meraba-raba tubuhnya, siapa tahu ada yang terluka.
"Hehehe... Azzam tidak apa-apa mah, dan ini nasi goreng telur mata sapi masakan Azzam sama papa. Spesial." Azzam cengengesan, lalu menunjukkan masakan mereka.
"Syukurlah... tadi mama sangat khawatir." Arini mengangguk, dan melihat ke arah nasi goreng dengan telur yang bukan mata sapi berwarna coklat kehitaman.
"Ya sudah ayo sekarang kita makan, perut Azzam sudah lapar hehehe...." Azzam membawa masakannya menuju meja makan, Bian dan Arini mengikuti langkah anaknya.
Dan jadilah keluarga kecil itu kembali akur, mereka bertiga memakan dan menikmati nasi goreng dengan rasa haru, saking harunya bahkan air mata Arini sampai keluar.
*****
Bersambung...