My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pulang



Selama di Hong Kong, Bian bekerja sungguh-sungguh dengan keadaan yang masih seperti biasa, kadang pusing dan kadang juga tidak suka dengan bau tertentu yang menurutnya sangat menyengat.


Dan hari ini, atas jeri payahnya itu ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya dengan lebih cepat dan bisa kembali pulang ke kediaman menemui sepotong hatinya, istri dan anaknya yang sangat ia cintai dan sayangi itu.


Bian bahagia bukan main karena bisa pulang lebih awal, ya... walaupun badannya saat ini kurang fit, dan terlihat jelas raut wajah yang pucat. Namun jangan salah, di wajah yang pucat itu tersimpan senyum manis yang tak henti-hentinya karena membayangkan wajah istri dan anaknya yang sebentar lagi akan ditemui nya.


"Tuan, apa Anda yakin akan pulang hari ini? Saya lihat wajah Anda pucat sekali." Rio berkata cemas, melihat raut wajah Bian.


"Heh... lihatlah senyumannya itu, sangat mendambakan sosok istrinya. Bahkan dokter sekali pun tidak akan bisa menghentikan dia untuk tidak pulang!" Sarkas Rangga menarik kopernya untuk di bawa masuk ke dalam mobil. "Entahlah... apa yang dipikirkannya sekarang." Lanjut Rangga memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.


Bian tidak menanggapi perkataan dari Rangga, ia acuh tak acuh saja. Sedangkan Rio memutar jengah bola matanya, mendengar celotehan dari Rangga.


"Bagaimana Tuan? Apa Anda tetap ingin pulang?" Rio bertanya kembali untuk memastikan, dan langsung mendapatkan anggukan dari Bian.


"Hm... apa Anda tidak ingin cek dulu kesehatan Anda ke dokter?" Lirih Rio hati-hati, takut menyinggung atasannya ini.


"Waw... bahkan perhatian dari mamanya bisa kalah jika kau bertingkah seperti itu terus." Rangga lagi-lagi berceloteh, ikut campur pembinaan antara Bian dan Rio.


"Astaga, bisakah kau tidak ikut campur dalam pembicaraan orang." Rio menunjuk Rangga, lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Tidak bisa." Rangga memalingkan pandangannya, lalu masuk ke dalam mobil, kursi depan bersama sopir.


"Bisakah kau tidak menjadi manusia yang menyebalkan." Rio menatap sinis Rangga yang masuk ke dalam mobil.


"Hm... sayangnya tidak bisa." Rangga langsung menutup pintu mobil, tak lupa ia memberikan senyuman mengejek pada Rio.


"Kau...!" Tunjuk Rio, berjalan ingin menghampiri Rangga untuk perhitungan.


"Sudah, ini bukan waktunya untuk kalian berdua berkelahi. Tunggu pulang saja, aku akan sediakan tempat khusus untuk kalian." Bian menengahi. "Sepertinya enak melihat kalian berkelahi sambil makan popcorn." Lanjut Bian tersenyum lebar dengan wajah pucatnya, baru saja mendapatkan ide brilian. Rio melongo, ternganga, mendengar ucapan atasannya ini. Apakah itu candaan? Semoga saja iya. Batinnya tak terucap.


Setelah mengatakan itu Bian pun berjalan menuju mobil menyusul Rangga yang sudah masuk duluan, Rio berjalan mengikutinya dari belakang, tanpa berkata apa-apa lagi. Keputusan Tuannya sudah bulat, dia akan pulang, dan tidak bisa diganggu gugat lagi.


Sopir yang melihat semuanya sudah naik, pun menjalankan mobilnya menuju bandara udara internasional Hong Kong.


Tiga puluh lima menit di dalam mobil, akhirnya Bian dan lainnya sampai di bandara. Mereka semua turun dari mobil, menuju jet pribadi milik Bian. Sopir juga membantu membawakan barang-barangnya.


Dan beberapa menit kemudian, mereka bertiga telah berada di pesawat jet itu. Bian menghempaskan punggung di kursi penumpang, lalu memasang sabuk pengaman. Begitu juga dengan Rio dan Rangga yang mengambil kursinya masing-masing.


Pesawat jet mulai mengangkasa, melakukan manuver kecil sebelum menuju bandar udara internasional Soekarno-Hatta.


Bian menarik napas, rasa pusingnya kembali mendera. Ia memijat pelipisnya, berusaha duduk santai sambil menatap keluar jendela.


Lampu sabuk pengaman padam. Rangga berdiri, melangkah ke kabin belakang dan mengambil minuman serta camilan. Ia mengetahui setiap jengkal pesawat jet ini karena bukan pertama kali ini ia menumpang.


"Minuman?" Tawar Rangga pada Bian, Bian menggeleng pelan, rasa pusingnya semakin mendera saja. Ia pun memutuskan untuk tidur. Rangga mengangkat bahu, lalu menawarkan minuman itu pada Rio.


"Thanks." Ucap Rio menerima minuman dari tangan orang yang sangat menyebalkan ini.


"Yeah!" Rangga kembali duduk di kursinya.


Mereka bertiga pun beristirahat sembari menunggu pesawat jet ini mendarat di bandar udara internasional Soekarno-Hatta.


*****


Bian dengan wajahnya yang semakin pucat, melangkah turun bersama yang lainnya. Mobil sedan hitam telah menunggu mereka di hanggar pesawat.


"Tuan, hati-hati." Baru saja Rio mengatakan itu, kaki Bian terpeleset, untung saja Rio dan Rangga sigap berlari memeganginya.


"Lo kenapa?" Tanya Rangga menuntun Bian turun.


"Anda tidak apa-apa kan, Tuan?" Tanya Rio bersamaan dengan Rangga.


Bian menggeleng pelan, lalu sejurus kemudian, perutnya terasa gelagat aneh, mual, ingin muntah.


Bian dengan tenaga entah dari mana, berlari kembali menaiki pesawat jet pribadinya menuju kamar mandi di sana. Ia langsung memuntahkan isi perutnya tanpa sisa, bulir air mata mengalir di pipinya.


"Tuan?!" Rio dan Rangga berlari mengejar Bian dengan rasa khawatirnya. Mereka berdua berhenti di kamar mandi melihat Bian yang berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"Huuuekkk... huuuekkk...." Bian terus muntah, isi perutnya tak tersisa, membuat muntahannya hanya cairan kuning yang terasa sangat pahit.


Rio tanpa merasa jijik, masuk kamar mandi, memijit punggung atasannya. Siapa tahu dengan perlakuannya itu dapat membantu atasannya agar meredakan rasa mualnya.


Rangga berjalan menuju tempat penyimpanan obat, mencari sesuatu yang dapat membantu sahabatnya itu agar tidak mual lagi. Dan ditemukannya sebotol minyak kayu putih, Rangga segera kembali menghampiri Bian dan Rio.


"Pake ini, siapa tahu bisa meredakan mualnya." Rangga menyodorkan sebotol minyak kayu putih pada Rio, Rio mengambilnya dan langsung membawa minyak kayu putih itu tepat di hidung Bian.


Bian mencium bau minyak kayu putih, rasa mualnya sedikit mereda. Ia pun mengambil minyak kayuh putih itu di tangan Rio, dioleskan nya di leher dan perutnya.


Dan beberapa saat kemudian, dirasakannya lebih baik, Bian pun berkumur-kumur, membersihkan muntahannya. Selesai itu, ia pun keluar dari kamar mandi. Rio dengan sigap membopong tubuh Bian yang lemas, Rangga menghampiri keduanya untuk membantu, namun refleks Bian menutup hidungnya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh Rangga menjauh.


"Lo kenapa?! Gue niat mau bantu!" Rangga kembali berjalan mendekat.


"Nggak usah, parfum lo bau!!!" Ucap Bian menyuruh Rangga untuk menjauh.


"Bau? Bau apa? Persamaan wangi kok." Rangga mengernyit, menciumi baunya sendiri. Dan benar saja, memang wangi seperti biasanya.


"Parfum lo kaya bau mayat." Sembur Bian berkata terus terang apa yang diciuminya.


"Enak saja! Ini parfum mahal, lo kira gue beli di orang mati?!" Sarkas Rangga tidak terima, Rio mati-matian menahan tawanya.


"Gue serius." Ucap Bian sungguh-sungguh.


"Udah, mending lo jangan jarak. Kira-kira dua meteran dari kita." Rio ikut-ikutan mengibas-ngibaskan tangannya pada Rangga dengan berusaha menahan tawanya sebisa mungkin. Rangga bersungut, membalik badannya, berjalan mendahului mereka berdua.


"Oh ya, satu lagi. Dengan rasa hormat, lo nggak bisa numpang!!!" Teriak Rio atas perintah Bian, ia tertawa terbahak-bahak dalam hatinya melihat kesialan Rangga.


"Huft...." Rangga mendengus, mendengar teriakkan Rio. Ia terus berjalan tanpa berbalik.


*****


Bersambung...