My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Kejutan



Matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya, bahkan semburan merah pun belum tampak di kaki timur langit sana.


Tapi pintu kamar hotel Arumi sudah di ketuk oleh seseorang dengan semangatnya, bosan mengetuk orang itu memencet bel nya berulang kali.


Membuat Arumi tidur dengan resah di dalam sana, baru saja ia ingin menutup matanya setelah menunaikan solat subuh, berniat melanjutkan tidurnya yang masih kurang... eh, entah makhluk apa di luar sana yang memencet bel kamar hotel ini berulang kali. Mengganggu tidurnya.


Arumi tidur menyamping kanan, menutup telinganya dengan satu bantal, tapi bunyi bel itu masih terdengar. Ia mengganti posisinya lagi, tidur menyamping kiri, menutup telinganya kini dengan dua bantal, dan sialnya bel itu masih terdengar.


"Arrggh... siapa itu? Makhluk apa itu? Sungguh penggangguuu!!" Runtuk Arumi bangun dari tidurnya, berjalan tergesa-gesa menuju pintu, bersiap melayangkan satu tinjunya di siapa pun atau makhluk apa itu, yang sudah mengganggu tidurnya ini.


Arumi membuka pintu, dan tangannya bersiap melayangkan satu bogem mentah. Tiba pintu terbuka, Arumi sudah melayangkan satu bogem mentahnya tanpa aba-aba.


Dan beruntungnya orang yang ada dibalik pintu itu yang senantiasa mengetuk dan memencet bel kamar Arumi berulang kali selamat dari bogem mentahnya.


Orang itu berlutut, menyodorkan sebuket bunga mawar merah, dengan tubuh yang gemetar karena hampir saja dikenai oleh bogem mentah penuh kekuatan oleh Arumi.


Kepalan tangan Arumi tepat berada di atas kepalanya, dan menyisakan jarak hanya satu jengkal saja.


"I-ini b-bunga u-untuk mu." Ucapnya menyodorkan lebih dekat sebuket bunga itu pada Arumi.


Arumi melotot, "Kau!!!" ucapnya menunjuk Rangga dengan sorot mata tajamnya.


"Kenapa kau datang mengetuk pintu kamar ku pagi buta seperti ini?" Tanya Arumi terlihat sangat emosi.


Rangga menelan ludahnya susah, ternyata tidak baik, bahkan sangat tidak baik memberikan kejutan pada orang yang baru saja bangun tidur seperti ini. Batin Rangga, ia kembali menelan ludahnya susah, bahkan hampir tersedak dengan ludahnya sendiri.


Arumi menatap Rangga semakin tajam, menunggu jawabannya.


"A-aku... aku ingin memberikan mu ini." Ucap Rangga berdiri, bunganya masih ia sodorkan pada Arumi.


"Kau, se-pagi buta begini datang memberikan ku bunga ini?" Tanya Arumi mengernyit.


Rangga mengangguk patah-patah, "Iya, bahkan aku rela membangunkan pemilik toko bunga itu demi membeli bunga ini dan memberikannya pada mu." Ucap Rangga, Arumi mendengarkan.


"Awalnya ingin memberikan kejutan pada mu." Ucapnya lagi. "Tapi sepertinya... hmmmp... aku telah mengganggu mu." Lanjut Rangga pelan.


"Huuft...." Arumi menghela napas. "Sangat mengganggu!" Ucapnya, dengan nada yang kembali biasa tanpa emosi lagi. Ia pun menerima buket bunga mawar itu di tangan Rangga.


"Aku sangat terkesan atas inisiatif mu yang memberikan kejutan di pagi buta seperti ini." Ujar Arumi dengan nada biasa, sedikit terkesan lembut. Rangga yang mendengarkannya jadi senyam-senyum sendiri, dan tidak sabar menunggu kata-kata selanjutnya yang terucap dari bibir Arumi.


"Tapi...! Perlu ku katakan, dan perlu kau ingat juga! Kalau akuuu!! Paling tidak suka ada orang yang mengganggu tidur ku!!!" Lanjut Arumi dengan setiap hurufnya penuh penekanan, ia menutup kembali pintu kamarnya. Meninggalkan Rangga yang kini dengan wajah murungnya, senyumannya yang sempat merekah hilang seketika. Niat untuk menyenangkan hati Arumi, malah menjadi sebaliknya. Sungguh sial nasibnya.


Rangga merutuki dirinya karena sudah mengikuti ide gila seperti ini yang ada di aplikasi ramalan ponselnya. Ia mengambil ponselnya, lalu langsung menghapus aplikasi itu. Sungguh ia tidak akan mendownload dua kali aplikasi sesat ini. Runtuk Rangga.


"Wahahahaha...." Seseorang tertawa dengan lepasnya di ujung lorong sana, melihat adegan yang baru saja terjadi. Sungguh adegan live yang sangat menghibur di kala pagi buta begini.


Rangga membalikkan tubuhnya, melihat siapa yang berani menertawakannya.


Dan dilihatnya lah dua manusia yang tengah mengenakan baju couple olahraga, sepertinya mereka bersiap untuk joging, menikmati sejuknya pagi. Tidak sepertinya yang bernasib buruk seperti ini.


"Hahahahaha...." Orang itu masih tertawa dengan lepasnya, bahwa kini ia memegang perutnya yang terasa keram karena tertawa. Dan seseorang di sampingnya lagi sedang tersenyum menahan tawa.


"Ya... tidak apa-apa, tertawa lah sepuas mu." Ucap Rangga menatap tajam orang itu.


"Lihatlah sayang, dia menatap tajam pada kita. Tapi wajahnya sangat murung... wuhahahaha...." Timpal orang itu berbicara dengan pasangan.


"Sudah sayang, kasian Rangga." Ucap pasangan, melihat ke arah Rangga.


"Kau...! Beraninya kau mengatai ku gorila!" Tawa Rio langsung terhenti, tidak terima Rangga yang mengatainya gorila.


"Aku tidak berani mengatai mu, tapi kalau kau merasa diri seperti itu, aku juga tidak akan melarang mu sama sekali." Ucap Rangga mengangkat bahu.


"Kau....!" Tunjuk Rio pada Rangga, ia terlihat marah. Tapi lengannya langsung dipukul pelan oleh Hana. "Ah, sudahlah. Untuk apa juga aku meladeni orang seperti mu." Rio menyudahi pertengkarannya bersama Rangga, karena melihat raut wajah Hana yang tidak suka akan pertengkaran mereka.


Takut Hana berubah pikiran, dan memperlakukannya seperti Arumi yang memperlakukan Rangga.


Ia tidak mau ditinggal seperti itu, dan membatalkan acara joging mereka. Maka dari itu, Rio pun memilih menyudahi pertengkaran mereka.


"Ayo sayang, lebih baik kita tinggalkan orang ini. Beri waktu untuknya agar menenangkan dirinya." Ucap Rio menggandeng tangan Hana.


Hana mengangguk mengikuti langkah Rio, tapi sebelum itu ia memberikan semangat untuk Rangga agar tidak menyerah.


"Semangat." Ucapnya mengepalkan satu tangan, lalu ia pun mengikuti langkah Rio.


Rio membawa Hana menuju lift, dan Rangga melihat kepergian mereka berdua dengan rasa iri.


"Huft... apa ini yang di namakan karma! Aku harus menanggung semua perbuatan ku selama ini." Ucap Rangga menyesali perbuatannya yang telah lalu.


*****


Dikamar Tuan Dean dan mama Mira, Azzam sudah bangun sejak tadi. Ia menanyakan tentang Mamanya dan Bian yang sekarang sudah menjadi papanya. Ia ingin bertemu dengan kedua orang itu. Namun, ditahan oleh sang nenek sejak tadi.


"Sudahlah, Mah... kasihan cucu mu. Mau bertemu dengan orang tuannya." Ucap Tuan Dean menghentikan tingkah istrinya, yang terus menahan Azzam untuk tidak bertemu dengan Bian dan Arini.


"Ihh... Papa." Mama Mira memukul gemas lengan suaminya. "Papa kaya nggak pernah jadi pengantin baru aja deh, mereka itu lagi butuh waktu untuk berdua biar bisa bikin cucu lagi buat kita." Jawab mama Mira dan Tuan Dean pun diam tidak mau berdebat dengan istrinya.


Azzam hanya melihat interaksi antara kakek dan neneknya, tanpa tahu apa yang sedang mereka berdua bahas. Tapi ia tidak peduli, yang ia pedulikan hanya ingin bertemu dengan mamanya dan papanya.


"Nenek, kapan Azzam bisa bertemu dengan mama dan papa. Bukankah ini sudah pagi?" Tanya Azzam, yang ternyata ia sudah sejak tadi malam ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Sebentar lagi sayang... mama sama papa masih bobo, belum bangun." Mama Mira mencari alasan.


"Nggak... Mama sudah bangun kok, kan mama solat subuh." Jawab Azzam.


"Eh... i-iya sayang, kan mama sama papa lagi bikin dede." Timpal mama Mira sekenanya.


"Mah...." Panggil Tuan Dean merasa perkataan istrinya sudah terlalu jauh, mama Mira tidak menanggapi.


"Dede?" Tanya Azzam bingung.


"Iya, Dede. Dede bayi yang bisa digendong." Ucap mama Mira, mengerakkan-gerakan kedua tangannya seperti menggendong bayi.


"Dede bayi yang suka bilang oek... oek...?" Tanya Azzam meyakinkan.


Dan kembali Mama Mira mengangguk, Tuan Dean menghela napas berulang kali melihat tingkah istrinya ini.


"Yes... yes, Azzam bakalan punya dede bayi oek... oek...." Ucap Azzam tersenyum gembira.


*****


Bersambung...