My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pembuktian Cinta Rangga



Di sebuah kafe duduk dua orang perempuan cantik yang mengenakan topi dan kacamata hitam besar. Sepertinya mereka berdua sedang menyamar untuk membuntuti seseorang.


"Rum... kamu yakin kan dia akan datang?" Tanya salah satu perempuan itu yang sedang berbicara dengan Arumi.


"Tentu saja Han, aku yakin dia pasti akan datang. Kalau tidak, makan detik ini juga sudah ku pastikan dia laki-laki seperti apa. Dan tidak akan pernah lagi berhubungan dengannya, dan menekan perasaan yang tumbuh ini." Ujar Arumi panjang lebar.


Ya, dua perempuan cantik yang mengenakan topi serta kacamata hitam besar itu adalah Arumi dan Hana yang akan melihat ketulusan dari cinta Rangga pada Arumi.


"Tapi, tuh lihat... perempuan-perempuan itu mulai bosan." Hana menunjuk dengan ekor matanya pada perempuan-perempuan cantik nan seksi yang duduk tidak jauh dari meja mereka. Perempuan-perempuan itu sengaja disewa oleh Arumi untuk menggoda Rangga nantinya.


Dan tak lama kemudian, pintu kafe terbuka, menampilkan sosok Rangga yang sangat menawan dengan jas navy nya. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arumi. Namun tidak ditemukannya, Rangga pun berjalan menuju meja yang kosong.


"Dia datang." Bisik Hana, dan kedua perempuan itu langsung mengambil koran untuk melengkapi penyamaran mereka, sebagai penutup wajahnya.


Rangga datang ke kafe tentu saja atas perintah Arumi, Arumi mengatakan ingin bertemu dengannya sekalian sebagai tanda terima kasih atas bunga mawar yang diberikan Rangga tempo lalu.


Mendapatkan ajakan dari sang pujaan hati, Rangga senang bukan main. Ia bahkan semangat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat demi bertemu dengan pujaan hatinya.


Rangga melihat jam ditangannya, sesekali melihat pintu kafe. Arumi belum datang juga. Ia merogoh saku celananya, melihat kotak kecil berwarna merah. Rangga tersenyum, dan kembali menunggu Arumi dengan sabar.


Puas membuat Rangga menunggu, Arumi pun memberi kode pada perempuan-perempuan cantik nan seksi itu untuk menjalankan tugas mereka.


Perempuan-perempuan itu bangun, dan berjalan menghampiri meja Rangga satu persatu. Mereka langsung duduk di kursi kosong tempat Rangga. Arumi dan Hana mengamati dibalik koran dan kacamata hitam besar mereka.


"Hai ganteng... sendirian aja nih?" Salah satu dari perempuan itu menyapa Rangga dengan gaya centilnya, Rangga tidak menanggapi, malahan ia merasa risih.


"Mau minum?" Perempuan lainnya menawarkan air minum dengan dada yang diperlihatkan, sungguh menggoda iman. Namun Rangga tetap tidak menanggapi, ia memalingkan wajahnya. Entah kenapa ia merasa jijik dengan hal itu, padahal dulu. Dulu... ah dulu iya suka melihat hal seperti itu.


"Ummm... apakah dia sudah berubah?" Tanya Hana tidak ditanggapi oleh Arumi, karena ia sedang fokus memperhatikan pria itu.


Arumi begitu teliti memerhatikannya, sampai-sampai pandangannya hanya pada sosok pria itu. Ia mencari kejujuran serta kesetiaan dari pria itu dengan melakukan hal seperti ini.


Apalagi ia sudah mengetahui bahwa Rangga merupakan seorang mantan playboy. Maka dari itu ia nekat melakukan hal seperti ini. Skincare saja ia pilih-pilih, apalagi pasangan hidup. Masalah hati yang sudah memiliki rasa pada pria itu bisa ia tekan.


Prinsip Arumi, lebih baik mengetahuinya sekarang, dan merasa sakit duluan. Dari pada mengetahuinya ke depannya dan rasa sakitnya menjadi besar. Dan menyesal pun tidak akan ada artinya, semua sudah terlambat, hanya meninggalkan bekas rasa sakit itu. Arumi tidak mau hal itu terjadi.


Tak lama saat Arumi melihat Rangga meraih ponselnya, ponsel Arumi bergetar. Seseorang meneleponnya, dan itu adalah Rangga. Untung Arumi sudah menonaktifkan bunyinya terlebih dahulu.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Arumi, Rangga mengirimkannya pesan.


Ting...


"Aku sudah berada di kafe, kamu dimana?" Isi pesan dari Rangga.


Arini meraih ponselnya, lalu menjawab pesan dari Rangga. "Masih di jalan, tunggu sebentar ya... jalannya macet." Jawab Arumi.


"Hati-hati kalau begitu, aku akan menunggumu." Rangga kembali mengirim pesan.


"Tanya dia sedang bersama siapa?" Ide itu tiba-tiba muncul di kepala Hana.


"Ah... benar juga." Arumi mengangguk. Awas saja kalau dia berbohong. Batin Arumi.


"Lagi sama siapa?" Eh... maksudnya, ada yang menemani mu?" Arumi bertanya mengirim pesan pada Rangga. Ia memicingkan matanya, dan melihat pria itu sedang mendongak melihat perempuan-perempuan yang tengah menggodanya.


"Ya... ditemani perempuan-perempuan aneh yang entah dari mana datangnya, membuat ku sangat risih." Kembali Rangga membalas pesan dari Arumi.


Arumi dan Hana saling pandang, dahi mereka mengerut bertanya-tanya. Apakah mungkin Rangga memang sudah berubah? Batin mereka berdua.


Arumi tidak membalas lagi, ia kembali memerhatikan Rangga yang sedang digoda oleh perempuan-perempuan itu. Rangga tetap tidak menanggapi, ia malahan bersikap dingin pada perempuan-perempuan itu. Membuat Arumi dan Hana yakin akan Rangga yang sudah berubah.


"Ummm... sepertinya begitu." Arumi mengangguk setuju.


Ponsel Hana berbunyi, membuat dua orang perempuan itu berhenti sejenak memerhatikan Rangga.


"My Love?!" Arumi mengernyit, membaca kontak yang tengah menelpon Hana. Wajah Hana memerah. Ia langsung mengangkat telepon itu.


"Iya?" Hana menjawab teleponnya.


"Sayang... kamu lagi dimana?" Tanya orang di seberang telepon tersebut dengan lesu, membuat Hana jadi khawatir.


"Kamu sakit?" Nada Hana terdengar khawatir.


"Tidak, tapi pekerjaan ku banyak sekali." Orang di seberang sana menghela napas.


"Kamu sudah makan belum?" Tanya Hana prihatin.


"Belum." Jawab orang itu.


"Mmm... kalau begitu kirim lokasinya, aku akan membawakan mu makanan." Ucap Hana membuat Arumi melotot.


"Iya sayang, aku tunggu." Orang itu langsung mematikan teleponnya. Mengirimkan alamat pada Hana lewat WhatsApp, senyuman tersungging di bibirnya. Ternyata pekerjaan yang banyak diberitakan oleh Bian ada hikmahnya juga.


"Apa maksud mu?" Arumi berbisik pada Hana, tidak terima jika Hana meninggalkannya.


"Hmmm... maaf, tapi Rio belum makan. Aku takut dia sakit." Ucap Hana meraih tasnya.


"Sudah, aku yakin Rangga sudah berubah. Jadi cepat sudahi ujian ketulusan mu pada dia, kalau tidak, nanti dia akan direbut oleh perempuan-perempuan itu." Hana melihat Rangga yang semakin di goda oleh perempuan-perempuan itu. Bahkan sudah berani menyentuhnya, padahal rencana awalnya tidak seperti itu.


"Aku duluan... bye." Hana pun berlalu di hadapan Arumi yang sedang menatap jengkel para perempuan-perempuan yang ia sewa.


Arumi keluar dari kafe, melepas topi serta kacamata besarnya. Lalu ia memasuki kafe, pura-pura menoleh ke kiri dan kanan, mencari sosok Rangga.


Dan di meja yang tadi, Rangga melambaikan tangannya dengan senyuman lebar melihat kedatangan Arumi sang pujaan hati.


Arumi tersenyum tipis membalas senyuman Rangga, dan matanya menatap tajam pada perempuan-perempuan itu.


Perempuan-perempuan itu tentu saja tahu diri karena telah melakukan sesuatu di luar rencana, mereka pun pamit satu persatu pada Rangga.


"Hehehe... lain kali kita ngobrol lagi ya ganteng." Ucap salah satu perempuan itu cengengesan, mengundurkan diri dan diikuti oleh teman-temannya.


"Mereka siapa?" Tanya Arumi pura-pura tidak tahu, dan langsung duduk di kursi yang menghadap Rangga.


"Aku juga tidak tahu, tapi mereka aneh sekali." Jelas Rangga. "Mmm... aku tidak berbuat apa-apa dengan mereka, jadi kamu jangan salah paham." Lanjut Rangga, lirih. Arumi memicingkan mata.


"Suer...." Rangga mengangkat kedua jarinya berbentuk huruf V dengan wajah yang memelas agar Arumi percaya padanya.


Arumi rasanya ingin tertawa, tapi sekuat mungkin ia tahan. Dan ia pun hanya mengangguk pelan mempercayai ucapan Rangga.


Melihat Arumi mengangguk, Rangga mengeluarkan kotak kecil berwarna merah tadi. Dan langsung ia sodorkan pada Arumi.


"Ini apa?" Tanya Arumi mengernyit.


"Buka." Ucap Rangga dengan senyuman. Arumi pun membukanya, dan betapa terkejutnya ia melihat sebuah cincin emas dengan mata berlian di tengahnya. Sangat cantik dan elegan.


*****


Bersambung...