
Hari-hari Bian kini berjalan seperti biasa, ia pergi ke kantor untuk bekerja, pergi ke rumah orang tuanya jika diminta, melakukan olahraga di akhir pekannya. Dan ditambah lagi dengan kebiasaan barunya, yaitu mengirimi Arini dan Azzam sebuah paket di setiap harinya, yang di dalam paket itu berisi pemohon maaf untuk semua kesalahannya di masa lalu.
Dan tidak hanya itu, kebiasaan barunya juga menjenguk Azzam di sekolahnya setiap hari Senin dan Kamis tanpa sepengetahuan Arini maupun keluarganya, seperti saat ini.
Bian turun dari mobilnya dengan menenteng sesuatu di tangannya, sepertinya itu untuk ia berikan kepada Azzam.
Bian terus berjalan, menyapu pandangannya pada salah satu kursi taman yang sering Azzam duduki untuk menunggunya serta menunggu Arini maupun Arumi datang menjemputnya.
Bian celingak-celinguk kembali menyapu pandangannya menyusuri lingkungan sekolah, karena ia tidak melihat keberadaan Azzam di kursi yang biasanya Azzam gunakan untuk menunggunya itu. Sampai pandangannya jatuh pada sekerumunan anak-anak dan orang dewasa di sana.
Bian berjalan mendekati kerumunan itu, berharap dapat menemukan Azzam di sana. Dan benar saja ia menemukan sosok Azzam yang sedang berdiri bersama orang-orang itu.
Di sana tampak Azzam berdiri berhadapan dengan mata yang berkaca-kaca, seraya menatap seseorang mendengarkan apa yang dikatakannya. Tapi tidak didengar oleh Bian.
Bian mengernyit, mempercepat langkahnya menuju kerumunan itu. Semakin mendekat, kini ia dapat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan itu. Yang membuat hatinya seketika marah sekaligus sakit bagai ditusuk oleh belati tajam.
*****
Hari ini Arumi tidak bisa menjemput Azzam pulang dari sekolahnya, karena ia harus mengikuti kelas tambahan yang sangat tidak bisa ia tinggalkan. Dan jadilah ia pun mulai menelpon sang kakak, walaupun sedikit ragu karena takut kakaknya sedang sibuk bekerja.
"Hallo, assalamu'alaikum... kak." Arumi menyapa kakaknya terlebih dahulu di telepon.
"Wa'alaikumussalam... ya, ada apa Rum?" Arini menjawab salam sekaligus bertanya pada adiknya itu yang berada di seberang telepon.
"Kak, apa kakak sibuk?" Tanya Arumi.
"Tidak terlalu, hanya menanda tangani beberapa berkas ini. Memangnya ada apa?" Ujar Arini yang memang hari ini ia tidak terlalu sibuk.
"Kalau begitu, bisakah kakak menjemput Azzam di sekolahnya. Karena aku ada kelas tambahan hari ini yang harus aku hadiri dan tidak bisa untuk ku tinggalkan." Ujar Arumi menyampaikan maksudnya menelpon sang kakak.
"Ya sudah kalau begitu, kakak akan menjemputnya." Arini menghentikan pekerjaannya dan bersiap untuk menjemput Azzam pulang ke sekolah.
Ia keluar dari gedung perusahaan. Menaiki mobilnya, lalu melaju menuju sekolah Azzam yang lumayan jauh dari perusahaannya.
*****
"Heh, anak Haram tidak boleh sekolah di sini!" Ucap seorang ibu yang sedang berdiri di samping anaknya.
"Iya, kamu anak haram tidak boleh sekolah di sini! Ucap anak yang berdiri di samping ibunya itu, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap jengkel pada sosok Azzam yang berdiri di hadapannya.
"Aku buka anak haram." Ujar Azzam berusaha menjelaskan, matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi karena terus di sebut sebagai anak haram. Ia sudah cukup mengerti tentang kata 'anak haram' itu, sejak teman-temannya mulai mengejeknya dengan perkataan itu.
"Kamu itu anak haram! Buktinya kamu tidak mempunyai papa seperti aku." Ujar anak itu lagi yang berada di samping ibunya, masih menatap jengkel pada Azzam.
Ia mengatakan semua itu, karena ia sangat iri akan Azzam yang terus mendapatkan pujian dari guru-guru serta teman-teman kelasnya, karena Azzam yang pintar dan nilainya sangat tinggi dari nilainya. Dan bukan hanya itu, ia juga iri akan Azzam yang mendapatkan banyak teman dari pada dirinya. Pokoknya semua yang menyangkut Azzam, pasti ia akan iri dengan hal itu.
"Hm, memang kamu anak haram. Tidak usah mengilah lagi." Kembali ibu-ibu yang lain membombardirkan perkataan mereka kepada Azzam yang matanya semakin berkaca-kaca itu, bersiap menumpahkan seluruh air matanya mendapatkan perkataan kasar itu lagi.
Tidak peduli dengan awal mulanya pertengkaran itu terjadi, mereka malah peduli dengan kata 'anak haram' yang terus keluar dari mulut ibu dan anak itu. Dan mulai ikut membombardirkan perkataan itu juga kepada Azzam.
Ya... hati, perkataan, serta perilaku mereka sangat cepat merespon jika masalah seperti ini. Seorang anak yang lahir beberapa bulan saja dari hari pernikahan, atau seorang anak yang mereka lihat dan dengar tidak memiliki salah satu dari orang tuanya, tentu saja langsung menjadi bahan gunjingannya. Menjadi berita yang heboh dalam waktu yang singkat.
Dan tidak dapat dihindari lagi, bisik-bisik dari satu telinga ke telinga lainnya bahkan langsung mengatakan pada orangnya pun tidak dapat dielakkan lagi, yang semakin di dengar semakin tidak enak di telinga.
"Iya. Kalau anak haram, ya... anak haram! Tidak usah mengilah lagi kamu." Ujar ibu-ibu itu lagi, seraya menunjuk Azzam. "Jadi, sudah tahu anak haram! Kamu jangan pernah main dengan anak-anak kami lagi." Ujarnya lagi memperingati, masih menunjuk Azzam.
"Udah, kamu jangan main lagi sama kami. Kamu itu tidak punya papa." Ujar teman sekolah Azzam.
Napas Azzam mulai memburu, tampaknya ia mulai menangis. Ia benar-benar tidak tahan lagi dengan semua perkataan yang dilontarkan oleh orang-orang itu kepadanya.
"A-aku punya papa." Suara Azzam tersendat menahan tangisnya.
"Mana? Mana papa mu?" Tanya teman satu sekolah Azzam yang juga tidak suka terhadapnya.
"Mmm." Azzam bungkam, tidak bisa menjawab karena sejatinya ia memang tidak tahu keberadaan papanya. Melihat wajahnya pun ia tidak pernah.
"Mana?" Tanya temannya lagi, mulai membesarkan suaranya. Tersenyum sinis karena Azzam tidak dapat menjawab pertanyaannya, sampai satu suara menghilangkan senyum sinis di wajahnya itu.
"Aku adalah papanya!" Seseorang datang menghampiri Azzam dan langsung merangkul anak itu yang sekarang menumpahkan air matanya tanpa suara.
"Tu-tuan Bian." Ucap salah satu ibu-ibu yang berdiri di dekat anaknya tadi dengan suara yang bergetar, karena pasti Bian telah mendengar semua lontaran hinaan yang ia tuju kan kepada Azzam sejak tadi.
"Ma-maaf, saya kira anak ini bukanlah anak Anda." Ucapnya meminta maaf terlebih dahulu sebelum Bian semakin marah padanya juga sang anak.
Ia tak menyangka bahwa Azzam adalah anaknya Bian atasan dari suaminya, maka dari itu ia pun berani mengatakan semua itu.
"Jadi, kalau dia bukan anakku. Kalian tetap akan melontarkan kata-kata kasar seperti tadi." Tanya Bian dengan tatapan tajamnya, aura kemarahannya memenuhi kerumunan itu yang membuat semua orang melihatnya menjadi takut dan mundur perlahan.
Tanpa di sadari ada sesosok perempuan yang tengah memperhatikan semua adegan itu dari belakang.
*****
Mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk para Reader tercinta, karena Author baru up lagi novel My Son Is My Strength yang disebabkan karena kesibukan Author dalam membantu acara keluarga yang di adakan kemarin. Insya Allah untuk kedepannya Author bakal rajin update.
Mohon doa dan dukungan ya... agar Author makin semangat...
Mohon maaf sekali lagi, dan terima kasih all...
*****
Bersambung...