My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Melepas Rindu



Sampainya di kamar, Arini langsung memasuki kamar mandi, dan menyiapkan air untuk suaminya membersihkan diri.


Tiba air itu penuh dalam bak mandi, Arini mematikan kerannya. Ia berniat berbalik, pergi memanggil suaminya untuk mandi. Tapi tiba-tiba, tangan kekar melingkari pinggangnya. Arini tentu saja tahu pemilik tangan kekar ini, siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Mandi gih, airnya sudah siap." Arini menoleh ke samping melihat setengah sudut wajah suaminya, ia melepaskan tangan kekar suaminya yang melingkar di pinggangnya. Namun, bukannya terlepas, tangan kekar itu semakin memeluknya erat.


"Mas." Panggil Arini saat Bian mulai mencium ceruk leher jenjangnya, aroma sang suami langsung menguar di hidung Arini, napas hangatnya menjalar di kulit-kulit halusnya.


Bian tidak menghiraukan panggilan sang istri, yang ada dalam pikirannya sekarang hanya memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum datang sang pengganggu. Ya, walaupun itu di kamar mandi sekalipun.


Rasa rindu tak mampu ia bendung lagi sejak beberapa hari ini, apalagi pada saat ia datang tadi pangeran mereka langsung bertingkah, membuatnya tidak dapat dengan leluasa melepaskan rindu bersama sang istri.


Jadi mumpung pangeran mereka sedang sibuk dengan permainan barunya dan ditemani oleh Rio sebagai pengasuh dadakan, membuat Bian tenang meninggalkan anaknya di ruang tamu. Kini ia yang akan sibuk bersama sang istri.


Tangan Bian kini memulai menjalar kemana-mana, membuat Arini refleks menepuk tangan suaminya pelan.


"Ih... mas! Mau ngapain? Ini di kamar mandi." Arini menurunkan tangan suaminya yang sudah tergantung nyaman di area dua gunung abadi.


Bian tetap tidak menghiraukan perkataan istrinya, ia semakin melancarkan aksinya. Perlakuan Bian membuat getaran aneh di tubuh Arini, tubuhnya mulai memanas.


Merasakan tubuh istrinya mulai bereaksi, Bian langsung membalikkan tubuhnya, membuat tubuh mereka menjadi berhadapan.


Kini mereka berdua saling menatap dalam, mata Bian kini terlihat sayu menginginkan sesuatu. Arini tentu mengerti tatapan itu, tapi apakah mereka harus melakukannya di kamar mandi.


Saat Arini sedang berpikir dan tengah menunduk, Bian terus saja menatapnya dalam. Tatapannya beralih ke bawah melihat bibir merah ranum istrinya, ia mengusapnya lembut. Membuat Arini mendongak melihat wajah suaminya, mata Bian kini beralih lagi pada mata indah istrinya. Gairahnya mulai tidak bisa di tahan lagi.


Tidak mampu menahan lebih lama lagi, Bian menarik tengkuk leher istrinya dan langsung m*****t bibir seksinya dengan lembut.


Ciuman lembut Bian berubah menjadi l*m***n yang lebih kuat dan penuh damba. Bibir atas dan bibir bawah Arini dihisapnya bergantian, meresapinya dalam, membayar rasa rindunya beberapa hari ini. Tubuh Bian semakin memanas, ia menginginkan lebih.


Arini tidak tinggal diam dengan perlakuan suaminya, ia tentu saja membalas setiap inci ciuman itu.


Sejenak mereka berhenti, ciuman panas mereka membuat pasokan oksigen menipis. Napas keduanya memburu, gairah mulai menguasainya.


Sudah cukup mengisi oksigen, Bian kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Arini. Ciuman mereka kembali memanas, kini Arini tidak peduli lagi akan tempat mereka sekarang.


Kini gairah Bian semakin membumbung tinggi dan tak terkontrol. Bibirnya beralih turun untuk mencium, menjilat, dan menggigit kecil leher jenjang Arini hingga meninggalkan tanda kemerahan di kulit putih bersih istrinya.


Perlakuan manis Bian membuat Arini tak bisa menahan bibirnya untuk mengeluarkan suaranya anehnya, hal itu membuat Bian semakin bersemangat.


"Ah... kau sungguh memabukkan sayang." Lirih Bian dengan serak. Ia mulai menanggalkan pakaian mereka satu persatu, hingga helai benang pun tak tersisa.


Pipi Arini memerah, bahkan ia dapat merasakan betapa panasnya pipinya sekarang, melihat tubuh mereka sama-sama polos, dan mendambakan sesuatu yang liar di siang seperti ini.


Bian terkesima dengan mata indah istrinya, dan berkabut karena gairah, serta pipi yang bersemu merah. Ia tersenyum, serta membisikkan sesuatu ditelinga istrinya.


"Kau semakin menggoda dengan pipi memerah seperti ini sayang." Bian mengecup pipi Arini yang memanas.


Dan akhirnya pun dua insan itu melepaskan rindu mereka yang menggembung-gembung di dalam kamar mandi tanpa ada sedikit pun gangguan sama sekali.


*****


Bian yang sedang bersenang-senang memadu kasih bersama istrinya, sangat bertolak belakang dengan yang Rio alami sekarang.


"Papa mu kemana? Kenapa masih belum kembali? Tadi katanya hanya sebentar, dan sekarang sudah hampir dua jam." Entah sudah berapa kali kalimat itu Rio lontarkan pada Azzam yang sibuk bermain dengan permainan barunya.


"Aku juga tidak tahu om." Azzam menjawab sekilas, dengan tatapan polosnya pada Rio. Ia tidak terlalu memikirkan papanya sekarang, karena ada permainan baru ini.


"Huft...." Rio menghela napas, memaku dagunya, kembali menunggu atasannya yang tak kunjung kembali. "Apa dia tersesat dan tidak tahu jalan kembali?!" Batin Rio menatap tangga lantai dua.


Dan sesaat kemudian ia pun mendapatkan ide untuk kejenuhan dari masalah ini. Rio mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang. Lama ponsel itu berdering, dan beberapa detik kemudian pun dijawab.


"Ada apa?!" Seseorang dari balik telepon berkata ketus.


"Hahaha... santai bro." Rio tertawa jenaka dengan jawaban pertama kali dari orang yang di seberang teleponnya.


"Hm, perlakuan kalian di pesawat jet itu belum ku lupakan." Orang di seberang telepon yang ternyata adalah Rangga menjawab sinis tawa dari Rio.


"Haha... tentu saja kau belum melupakannya karena itu baru saja terjadi beberapa jam ini." Rio tertawa patah-patah, berusaha memperbaiki sikapnya pada Rangga. "Tadi aku hanya menjalankan perintah." Lanjut Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Azzam mendengarkan percakapan Rio, tapi tidak mempedulikannya. Rangga memutar jengah bola matanya mendengar nada bicara Rio yang sepertinya ada maunya.


"Katakan! Apa yang kamu mau?!" Rangga tanpa basa-basi bertanya.


"Kau pengertian sekali." Ucapan Rio terdengar menjengkelkan di telinga Rangga.


"Tidak usah banyak bicara! Cepat katakan apa yang mau kau katakan, kalau tidak akan ku matikan teleponnya." Rangga berkata ketus.


"Santai-santai...." Rio menenangkan. "Aku sekarang di rumah Tuan Bian." Lanjut Rio memberitahu, sekalian mulai melancarkan rencana. Ia berniat memanggil Rangga sebagai penggantinya untuk menjaga Azzam, kalau tidak, sekedarnya ia ada yang menemani di tengah kejenuhan ini.


"Lalu?!" Tanya Rangga mengernyit, mulai mendekatkan jarinya pada tombol merah untuk mematikan sambungan telepon dengan Rio yang terdengar tidak penting.


"Di sini ada Arumi juga, apa kau tidak mau bertemu dengannya." Ujar Rio membuat Rangga mengurungkan niatnya untuk mematikan telepon.


"Aku tidak percaya, pasti kau menyuruhku ke sana karena ada sesuatu yang lain bukan?!" Rangga tentu saja tidak langsung percaya dengan perkataan Rio, tapi suara melengking Azzam langsung membuatnya percaya.


"Aunty Arumi...." Panggil Azzam melihat Arumi datang ke rumahnya, dan itu terdengar oleh telinga Rangga.


"Oke, aku segera ke sana." Ujar Rangga langsung mematikan teleponnya, dan mulai bersiap ke rumah sahabatnya untuk melihat sang pemilik hatinya.


Rio menatap melongo ponselnya yang sudah mati, lalu ia melihat kedatangan Arumi yang tengah memasuki rumah.


"Kalau tahu begini, aku tidak akan menelpon Rangga." Batin Rio merutuki dirinya.


Tapi sesaat kemudian, hatinya berdegup kencang tak kalah melihat pujaan hatinya yang ikut memasuki rumah bersama Arumi. Ia langsung tersenyum lebar, menghampiri Hana.


*****


Maaf baru update lagi beberapa hari ini, keluarga Author ada yang sakit sehingga harus menemaninya beberapa hari di rumah sakit.


Semoga para Reader bisa mengerti, dan terima kasih karena telah membaca dan mendukung karya Author.


Jangan lupa jaga kesehatan semuanya... and love you all...


*****


Bersambung...