My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Sore Hari di Taman



Rangga kembali menoleh pada wajah Arumi seraya berkata, "Kerja sama antara dua perusahaan ini aku terima." Ucapnya dengan tegas.


"A-apakah itu benar?" Ucap Hana kaget, sekaligus senang. "Anda tidak mau melihat kontrak kerja kita terlebih dahulu." Lanjut Hana bertanya, seraya menyodorkan map coklat yang berisi kontrak kerja sama.


"Tidak perlu." Ucap Rangga menolak.


"Kalau begitu, silakan Anda tanda tangani kontrak kerja sama kita." Ucap Hana lagi, masih menyodorkan map coklat itu pada Rangga.


Rangga menerima map coklat itu, lalu kembali duduk di kursinya dan menandatangani kontrak kerja sama antara dua perusahaan mereka. Setelah menandatangani kontrak kerja itu, ia pun menyodorkan kembali map coklat itu pada Hana.


"Terima kasih." Ujar Hana, menerima map coklat di tangan Rangga. "Kalau begitu, kami permisi." Lanjutnya lagi, membungkuk, tanda ia dan Arumi akan undur diri.


Arumi tanpa sepatah kata pun langsung membalikkan badannya, ingin cepat keluar dari ruangan itu. Tapi, tangannya langsung di tahan oleh Rangga. Membuat Arumi kembali membalikkan badannya menghadap Rangga.


"Lepaskan!!!" Arumi menghempaskan tangan Rangga yang sedang memegang tangannya, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan genggaman tangan Rangga dari tangannya.


"Tidak akan pernah ku lepaskan." Jelas Rangga, memegang semakin erat tangan Arumi yang masih memberontak ingin di lepaskan.


"Rangga, tolong lepaskan!" Ujar Hana yang tidak terima dengan perlakuan Rangga terhadap Arumi.


"Jangan ikut campur, ini urusan kami berdua." Balas Rangga menoleh pada Hana.


"Aku tidak memiliki urusan dengan mu, jadi lepaskan tanganmu!!!" Ujar Arumi masih berusaha melepaskan genggaman tangan Rangga.


"Baik, akan ku lepaskan! Tapi dengan satu syarat." Ujar Rangga membuat persyaratan.


"Aku tidak ingin mendengar persyaratan mu! Cepat lepaskan tanganku." Arumi masih memberontak.


"Jika kamu tidak mau menerima persyaratan ini, maka aku akan membatalkan kontrak kerja sama kita!" Ancam Rangga, membuat Arumi diam tidak memberontak lagi.


"Kamu!" Tunjuk Hana pada Rangga.


"Kak Hana." Panggil Arumi pelan, lalu ia pun menggeleng, agar Hana tidak mengatakan sesuatu.


"Apa persyaratan mu?" Tanya Arumi kemudian, setelah Hana mengangguk tidak akan mengatakan sesuatu lagi.


"Aku ingin berbicara dengan mu, dan Hana pulang terlebih dahulu." Ujar Rangga mengatakan syaratnya.


"Tidak bisa begitu." Bantah Hana, sedangkan Arumi diam belum menjawab.


"Kamu bisa memilih, tinggal dan berbicara dengan ku? Atau pergi dan aku akan membatalkan kontrak kerja kita?" Ujar Rangga mengancam, tersenyum miring.


"Kak, kembalilah terlebih dahulu. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di sana, aku akan menyusul mu." Ucap Arumi memutuskan.


"Tapi...." Hana ragu-ragu menerima keputusan Arumi, bagaimana pun ia takut terjadi sesuatu pada Arumi adik dari atasannya dan juga sudah ia anggap sebagai adik sendiri.


"Aku akan baik-baik saja." Arumi berusaha meyakinkan Hana. Hana pun mengangguk.


"Baiklah aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik. Ini kunci mobilnya, aku bisa naik taksi. Jika terjadi sesuatu cepat telepon aku." Ucap Hana sebelum ia beranjak pergi dan memberikan kunci mobil yang mereka gunakan tadi kepada Arumi. "Dan kau Rangga, jangan sampai kau menyakiti Arumi walaupun se-gores kuku pun!" Lanjut Hana lagi, menunjuk wajah Rangga. Lalu ia pun mengangguk pada Arumi untuk terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Arumi setelah Hana keluar dari ruangan. "Cepat katakan!" Desaknya.


Rangga tidak langsung menjawab, ia melepaskan pergelangan tangan Arumi terlebih dahulu.


Setelah tangannya di lepas, Arumi mundur ke belakang. Lalu meniup pergelangan tangannya yang terasa perih akibat perlakuan Rangga yang terlalu memegangnya erat.


"Sudahlah, aku tahu kau memang tidak bermaksud melukai tangan ku. Tapi kenyataannya kau telah melukainya!" Potong Arumi. "Cepat katakan saja, apa yang mau kau katakan!"


"Sore itu... di taman, aku tidak bermaksud meninggal mu begitu saja." Ucap Rangga, Arumi mendengarkan. Karena ia juga penasaran kenapa Rangga meninggalkannya begitu saja di taman, bersama dua pria yang membawanya.


Flashback on


Di sore hari, di sebuah taman yang indah. Arumi dan Rangga berjalan berdampingan mengelilingi taman itu, menikmati kesejukan angin sore di taman yang penuh dengan warna.


Hubungan yang awalnya hanya partner kerja, menjadikan keduanya saling tertarik satu sama lain. Namun, dari keduanya belum ada yang menyampaikan isi hati mereka masing-masing.


Perhatian Rangga kepada Arumi, membuat gadis itu tertarik pada laki-laki itu. Dan Arumi yang tidak memandang status serta membeda-bedakan orang, membuat Rangga tertarik dengannya.


"Rangga, ayo kita duduk di sana." Tunjuk Arumi pada kursi taman yang tidak terlalu jauh dengan mereka. Rangga mengangguk, berjalan mengikuti Arumi dari belakang.


Tanpa sepengetahuan Arumi, ia memetik bunga mawar merah yang mereka lewati menuju kursi taman. Lalu ia menyembunyikan setangkai bunga mawar merah itu di belakang punggungnya.


Sampai di kursi taman, Arumi langsung duduk tanpa menghiraukan keberadaan Rangga yang ia ajak untuk ikut serta duduk di kursi. Arumi merentangkan kedua tangannya, menutup mata, menikmati kesejukan angin sepoi-sepoi yang juga menebarkan anak rambutnya.


Rangga meneguk susah ludahnya, seharusnya ini adalah momen terbaik untuk ia mengungkapkan isi hatinya pada Arumi.


Ia pun berjongkok di hadapan Arumi yang masih menutup kedua matanya.


"Arumi." Panggil Rangga.


"Hmm." Dehemnya pelan, seraya membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat Rangga yang berjongkok dan menyodorkan setangkai bunga mawar merah padanya.


"Maukah kau menjadi istriku, ibu dari anak-anak ku nanti." Ucap Rangga tanpa basa-basi, membuat Arumi kembali terkejut di buatnya. "Maaf, ini memang mendadak. Bahkan kita tidak berpacaran terlebih dahulu, tapi semua itu tidaklah penting. Karena yang penting adalah aku mencintai mu." Lanjut Rangga, membuat mata Arumi melebar. Ternyata bukan hanya ia yang merasakannya, tetapi juga Rangga.


"Apa kamu mau menerima lamaran ku ini." Ucap Rangga, semakin mendekatkan setangkai bunga mawar itu pada Arumi.


Arumi masih diam karena saking kagetnya, sekaligus senang. Matanya tak berhenti memandang mata Rangga yang juga sedang memandangnya.


Tangan Arumi terangkat perlahan, ingin mengambil setangkai bunga mawar merah itu sebagai tanda bahwa ia menerima lamaran Rangga.


Tapi, tiba-tiba... sebelum Arumi mengambil setangkai bunga itu. Dua orang pria dengan seragam hitam-hitam langsung menarik lengan Rangga.


"Rangga.... Ada apa ini? Lepaskan dia." Arumi refleks berdiri, berusaha melepaskan Rangga dari tarikan dua orang pria itu. Namun, usahanya sia-sia saja. Dia bukanlah tandingan dari dua pria bugar itu.


"Lepaskan...." Rangga memberontak, ingin di lepaskan.


"Maaf, Tuan. Tuan Adi telah menunggu Anda di dalam mobil." Ucap salah satu pria itu, pelan. Dan terus menuntun paksa Rangga menuju mobil.


Mendengar nama ayahnya, Rangga langsung saja menurut. Percuma ia memberontak seperti ini, tidak akan ada gunanya. Ia pun dengan terpaksa mengikuti langkah kedua pria itu yang masih memegang kedua lengannya.


"Tunggu aku...." Teriak Rangga, sebelum ia di telan oleh pintu mobil yang melaju. Arumi yang melihat semua itu, khawatir sekaligus bingung dengan semua yang terjadi. Ia hanya dapat melihat kepergian mobil itu, tanpa melakukan apa pun.


Flashback off


*****


Bersambung...