My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Acara Lamaran



Rombongan mobil itu terus melaju memasuki perumahan, dan sampai tepat di depan rumah Arini yang tidak memiliki pagar. Karena di perumahan itu tidak pernah ada kasus pencurian, sehingga rata-rata rumah yang ada di perumahan itu tidak memiliki pagar seperti rumahnya Arini.


Di area itu juga cukup sepi, kedatangan rombongan Bian yang menaiki empat mobil mewah tidak menjadi bahan keributan di perumahan itu.


Semua rombongan yang menaiki mobil itu turun, Tuan Dean, Mama Mira, dan Alysha, serta para pelayan dan bawahan lainnya mengamati lingkungan perumahan Arini.


Mereka melihat lingkungan itu sangat bersih, asri, di penuhi oleh pohon-pohon hijau. Sungguh indah di pandang mata dan udaranya pun segar untuk di hirup.


Ketika rombongan menikmati keindahan dan kenyamanan lingkungan perumahan Arini, Bian malah gelisah, sudah sejak tadi ia menarik napas dan di hembuskan nya secara perlahan, berharap kegelisahannya itu hilang dan bisa memberi kekuatan untuk ia berbicara pada Ibu Syahra dan Arini nantinya.


"Sepertinya ini perumahan yang cukup elite untuk kalangan atas." Ucap Alysha menilai, dan di angguki olah mama Mira.


"Kak... kenapa kau diam terpaku di situ. Bukankah kita sudah sampai di rumahnya kak Arini?" Ucap Alysha mengagetkan Bian yang masih mengatur napasnya di sana. "Ini rumahnya, ‘kan?" Lanjut Alysha lagi bertanya, seraya menunjuk rumah yang ada di depan mereka.


"Hah... iya, kita sudah sampai. Itu memang rumahnya." Jawab Bian, mendekati keluarganya yang sudah berada di teras rumah Arini.


"Tuan." Panggil seseorang dari belakang.


Bian membalikkan tubuhnya, sepertinya ia mengenali suara itu. Dan ternyata itu adalah Rio sang sekretaris.


"Ahk... akhirnya kau sampai juga, bukankah aku menyuruh mu untuk datang lebih awal dari ku?" Tanya Bian pada Rio yang baru saja sampai itu dengan perasaan lega.


"I-iya, Tuan. Maaf, tadi di jalan sedikit macet." Jawab Rio dan merasa sedikit aneh dengan sikap Tuannya. Karena biasanya jika ia terlambat satu detik saja, maka akan mendapatkan tatapan mata tajam dan amukan dari Tuannya ini. Tapi, kali ini ia tidak mendapatkannya. Sepertinya ada yang salah dengan atasannya kali ini. Pikir Rio.


"Kamu kenapa?" Bian menyadari sikap aneh dari Rio.


"Ti-tidak, Tuan." Jawab Rio menggeleng cepat.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu temani aku." Ucap Bian membalikkan kembali badannya, menghampiri keluarganya dan di ikuti oleh Rio dari belakang.


Bian berjalan maju hingga tepat berada di depan pintu rumah Arini, di sampingnya berdiri Rio, dan di belakang mereka berdiri Tuan Dean, mama Mira, Alysha, para pelayan dan bawahannya yang memegang seserahan.


Rio mengetuk pintu dan di dalam rumah terdengar orang yang berjalan menghampiri pintu.


"Sebentar...." Seru ibu Syahra dari dalam rumah. "Apakah Hana sekretarisnya Arini? Tapi, kenapa dia datang terlalu cepat? Bukankah Arini tadi bilang jam setengah sepuluh baru berangkat, dan ini baru jam tujuh lewat?" Gumam ibu Syahra bertanya-tanya siapa yang datang.


Sampai di depan pintu, ibu Syahra pun membukanya, dan langsung di sapa oleh Bian yang berdiri bersama Rio.


"Assalamu'alaikum, Bu." Sapa Bian terlebih dahulu karena melihat ibu Syahra yang membukakan mereka pintu, lalu ia pun mencium tangan ibu Syahra.


"Wa'alaikumussalam. Eh... ternyata kamu ya, Nak. Ibu kira tadi sekretarisnya Arini." Jawab ibu Syahra, dan belum menyadari keberadaan rombongan yang datang.


"Iya, Bu. Maaf saya datang tiba-tiba dan belum memberitahu sebelumnya." Timpal Bian setelah ia menyalami tangan ibu Syahra.


"Tidak apa-apa, Nak. Malahan ibu senang kamu berkunjung ke sini, tapi sekarang tidak ada Azzam karena dia sudah berangkat ke sekolah." Ibu Syahra memberitahu, mengira kedatangan Bian untuk bermain dengan Azzam. Dan masih belum menyadari keberadaan rombongan yang berada di belakang Bian dan Rio.


"Sebenarnya kedatangan saya, eh... kami, untuk...." Bian tidak melanjutkan ucapannya, melainkan menggeser tubuhnya agar ibu Syahra bisa melihat rombongan yang ia bawa.


"Untuk...." Bian masih tidak melanjutkan perkataannya, mulutnya seperti kaku mengatakan kalimat selanjutnya. Dan kini tubuhnya terlihat sedikit gemetar, wajahnya pucat, saking gugupnya dia.


"Iya, Nak." Ucap ibu Syahra yang sekarang mengerti maksud kedatangan Bian, walaupun Bian belum melanjutkan perkataannya. "Kalau begitu kita bicara di dalam saja, silakan. Silakan masuk." Lanjut ibu Syahra mempersilahkan tamunya untuk masuk, ia pun mundur beberapa langkah untuk memberi jalan.


"Kalian tunggu di sini, kalau semuanya berjalan dengan lancar aku akan memberikan kode." Ucap Alysha pada para pelayan dan bawahannya. Lalu ia pun masuk mengikuti Bian dan orang tuanya yang sudah masuk terlebih dahulu.


Bian duduk di sofa bersama Rio di sampingnya, Tuan Dean duduk bersama mama Mira dan Alysha, berhadapan langsung dengan ibu Syahra berdiri sekarang.


"Tunggu sebentar, mungkin saya panggilkan dulu anak saya." Ujar ibu Syahra pada mama Mira dan Tuan Dean yang ia yakini itu adalah orang tuanya Bian.


"Iya, Bu. Silakan, maaf merepotkan." Jawab mama Mira tidak enak, lalu tersenyum pada ibu Syahra.


"Sama sekali tidak kok, tunggu sebentar yah...." Ibu Syahra balas tersenyum pada mama Mira.


"Kenapa, Bu? Emangnya siapa yang datang?" Arini tiba-tiba turun dari tangga kamarnya setelah ia membersihkan dirinya.


"Ah... itu dia, sini nak, ada yang ingin bertemu dengan mu." Ibu Syahra melambaikan tangannya, menyuruh Arini mendekat.


Di atas tangga Arini tak kalah bingungnya seperti ibunya tadi, kenapa banyak sekali tamu yang berkunjung di rumahnya? Dan siapa mereka semua?


Arini tidak bisa melihat para tamu itu, karena mereka duduk membelakangi tangga. Kakinya terus turun dan berjalan menghampiri ibunya berdiri sekarang.


Sesampainya di sana, kini Arini bisa melihat wajah-wajah para tamunya.


"Ada apa ini? Kenapa Bian membawa banyak sekali tamu? Apa yang ingin dia lakukan? Dan tunggu sebentar... ini, ini kan....!" Arini bertanya-tanya dalam hatinya, dan menyadari sosok perempuan paruh baya yang sering datang memesan kuenya dengan jumlah yang besar.


"Nyo-nyonya Mira." Sapa Arini pada mama Mira yang sekarang sedang memandangnya dengan senyuman.


"Iya, Arini. Ternyata kamu masih mengingat saya setelah kamu mengalihkan usaha mu ke tangan adik mu dan fokus bekerja di perusahaan." Mama Mira ikut menyapa Arini, ia cukup dekat dengan Arini dulu dan sekarang adiknya Arumi.


"Ja-jadi, kalian sudah saling kenal?" Bian menunjuk mamanya dan Arini bergantian.


"Tentu saja, mama kenal Arini sudah sejak lama, dan kamu tahu? Kue yang sering kamu makan dan puji-puji itu adalah kue yang di buat oleh toko Arini." Mama Mira menoleh pada Bian dan menjelaskan.


"Ma-ma." Gumam Arini semakin bingung. "Jadi nyonya Mira adalah mamanya Bian? Tapi, kenapa mereka semua datang ke sini?" Batin Arini bertanya-tanya.


"Nak...." Panggil ibu Syahra pada Arini, dan membuat Arini sedikit terkejut.


"Ah... i-iya, Bu?"


"Kamu buatkan minuman untuk tamu-tamu kita." Ujar ibu Syahra yang mendapatkan anggukan dari Arini dan langsung menuju ke dapur dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab.


*****


Bersambung...