My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Balasan Setimpal



"Tuan." Rio berjalan mendekati Bian, begitu juga dengan Rangga dan sekretarisnya. Orang-orang masih menunduk, tidak berani mengangkat kepala mereka. Rio membisikkan sesuatu pada Bian, membuat Bian semakin menatap tajam pada ibu Rahma.


"Apa itu benar?!" Tanya Bian memastikan apa yang dibisikan oleh Rio padanya.


"Iya, Tuan." Rio mengangguk.


"Kau yakin dan tidak salah orang?" Bian menatap ibu Rahma bergantian menatap Rio.


"Saya yakin Tuan dan tidak salah orang. Ibu itu adalah ibu yang kita cari keberadaannya selama ini, wajahnya sangat mirip, bahkan tidak ada bedanya dengan foto ini. Dia ibu Rahma yang dulu dan sekarang masih mengganggu istri dan anak Anda." Rio menyodorkan ponselnya pada Bian untuk menunjukkan foto ibu Rahma yang mereka cari selama ini.


Bian menerima ponsel itu dan melihat fotonya, dan benar saja, perempuan di foto itu sangat mirip dengan perempuan paruh baya yang tengah bersimpuh beberapa meter darinya.


"Eh, ibu Rahma...." Sekretaris Rangga mengenali ibu Rahma yang tengah bersimpuh.


"Kau mengenalinya?" Tanya Rangga pada sekretarisnya, Bian ikut menoleh menunggu jawaban.


"Iya, Tuan. Dia adalah ibu Rahma yang menjalin kerja sama dengan perusahaan kita beberapa hari lalu, dan sekarang dia datang untuk membahas kelanjutannya." Papar sekretaris Rangga apa adanya.


"Cih... akhirnya aku menemukan mu." Bian menatap ibu Rahma menyalak, mengembalikan ponsel Rio ditangannya.


Ibu Rahma menunduk dalam, tidak berani mengangkat wajahnya melihat Bian. Rasa khawatir serta takut semakin menyelimutinya. Pikirannya berkecamuk, takut kerja samanya dengan perusahaan Rangga yang ia dapatkan dengan susah payah hilang begitu saja.


"Tuan, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Arini adalah istri Anda." Ibu Rahma memberanikan diri mendongak Bian. "S-saya benar-benar tidak tahu Tuan, saya minta maaf." Lanjut ibu Rahma mulai mengantupkan tangannya lagi.


Wajah Bian semakin terlihat marah mendengar ucapan ibu Rahma, matanya memerah menatap tajam pada ibu itu. Rio meneguk susah salivanya, baru kali ini ia melihat tuannya semarah ini, sangat mengerikan untuk dilihat.


"Jadi, kalau itu bukan istriku kau tetap melakukan hal seperti tadi?!" Tanya Bian menahan emosinya.


"Ti-tidak, Tuan." Ibu Rahma menggeleng cepat.


"LALU KENAPA KAU MELAKUKAN ITU PADA ISTRI KU?! Dan bukan hanya hari ini, kau juga melakukannya enam tahu lalu!!!" Suara Bian naik satu oktaf, terdengar membentak. Orang-orang yang berada di lantai itu bahkan tersentak karena kaget.


"Ma-maafkan saya Tuan." Kata-kata itu terus terlontar di mulut ibu Rahma tanpa henti-hentinya.


"Cuih... permohonan maaf mu tidak cukup dengan apa yang dialami oleh anak dan istri ku." Bian tidak menerima permohonan maaf yang keluar dengan sangat mudah di mulut ibu Rahma, entah permohonan maafnya tulus atau sebaliknya. "Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang kau lakukan pada istri dan anak ku." Lanjut Bian dengan suara kembali terkontrol.


"Tuu-tuan, saya bersedia menerima hukuman apa pun dari Anda. Tapi tolong jangan batalkan kerja sama yang sudah saya dapatkan dengan susah payah di perusahaan ini." Ibu Rahma memohon dengan sungguh-sungguh. "Saya sudah banyak menghabiskan banyak biaya untuk sampai ke sini, belum lagi kerugian yang akan saya dapatkan nanti." Lanjut ibu Rahma masih memohon.


"Hm." Bian menarik satu sudut bibirnya. "Masalah biaya dan kerugian kau memperhitungkan dengan sangat jelas, teliti, penuh pertimbangan, tapi perbuatan mu yang menyusahkan dan menyakiti hati orang lain kau abaikan dan malah menikmatinya. Seolah itu adalah permainan atau hiburan yang sangat menyenangkan bagi mu." Bian berkata sinis, menyadarkan ibu Rahma atas perlakuannya terhadap orang lain.


"Tuan, tolong jangan lakukan itu... tolong tarik kembali ucapan Anda." Ibu Rahma menggeleng dengan cepat, memohon.


"Tidak bisa!" Bian mendengus. "Bahkan itu belum seberapa dibandingkan kau yang menghina dan mencaci anakku, mengusir mereka dari kontrakan, serta rasa sakit dan air mata mereka." Bian menyebutkan semua perlakuan ibu Rahma pada anak istrinya.


"Tu-tuan, maafkan saya. Saya mengaku salah atas semua perbuatan saya." Ibu Rahma bangkit, berlari menghampiri Bian dengan bercucuran air mata penyesalan. Ia hendak bersimpuh lagi di bawah kaki Bian.


Tapi belum sampai, Bian sudah menolak kedatangannya dengan gerakan tangan, satu tangannya menutup hidungnya rapat. Gelagat aneh kembali ia rasakan, bau tajam dari parfum ibu Rahma membuat perutnya seketika ingin mual.


Ibu Rahma mengabaikan larangan Bian, ia semakin mendekati Bian, berharap ketika nanti ia bersimpuh di kakinya, Bian akan menerima permohonan maafnya dan menarik kembali semua kata-katanya tadi.


Jarak ibu Rahma dan Bian tinggal setengah meter, wajah Bian kini pucat dan semakin pucat, pipinya kini menggembung menahan sesuatu. Pergerakan ibu Rahma yang cepat, membuat seseorang pun tak bisa menghentikannya.


"Jang---" Bian ingin berlari menjauh, tapi ibu Rahma yang sudah mendekat dan memegang kakinya membuat bau itu semakin tajam di penciuman Bian, ia mendadak lemas dan segera ingin mengeluarkan rasa tidak nyaman dari perutnya. "Huuuuueeekkkk...." Bian muntah, memuntahkan makanan yang baru saja masuk di perutnya dengan susah payah, dan itu tepat di bawah ibu Rahma.


"Tuan...."


"Bian...."


Rio dan Rangga segera menghampiri Bian yang tengah kesusahan itu, air mata menetes di pelupuk mata Bian karena saking tidak enaknya yang ia rasakan.


"Akhhhh...." Ibu Rahma berteriak histeris, semua muntahan Bian mengenai rambut dan wajahnya. Ia segera berdiri, mengibaskan rambutnya, loncat-loncat, agar muntahan itu tak menempel lagi di rambut dan wajahnya. Orang-orang satu dua menahan tawa atas nasib kesialan ibu Rahma, yang lainnya mengucap 'syukurin' karena ibu Rahma yang membuat mereka semua menjadi seperti ini.


Tubuh Bian lemas, hampir saja ambruk, untung Rio dan Rangga segera memapahnya. "Langsung ke rumah sakit." Rio memberitahu Rangga agar memapah Bian langsung keluar dari perusahaan, Rangga mengangguk setuju.


"Randi kau urus semuanya... dan pastikan kerja sama kita dengan ibu itu dibatalkan, mereka semua yang ada di lantai ini berikan hukuman yang setimpal untuk mereka, bila perlu keluarkan saja. Aku tidak ingin memiliki karyawan yang tidak profesional seperti mereka, mengabaikan pekerjaan demi mencela dan mencaci orang lain." Ucap Rangga pada sekretarisnya sambil memapah Bian, sebelum ia benar-benar keluar.


"Baik, Tuan." Randi sekretaris Rangga mengangguk mantap.


Wajah orang-orang itu pucat, menoleh kiri kanan, saling menyalahkan. Bayangan pengangguran serta susah mendapatkan pekerjaan sebagus ini sudah di depan mata.


Ibu Rahma kembali teringat dengan pembatalan kerja samanya, mengabaikan sisa muntahan Bian di atas rambutnya, walaupun sebenarnya ia merasa sangat jijik. Ia mengejar Bian dan Rangga untuk kembali memohon, namun langkahnya ditahan oleh dua satpam yang dipanggil oleh Randi.


*****


Bersambung...