
Acara itu benar-benar sudah selesai, Bian memasuki kamarnya, dan melihat Arini yang sudah tertidur pulas di atas kasur. Baju pengantinnya kini sudah tergantikan dengan baju tidur yang elegan, menampilkan salah satu kaki jenjang nan mulus Arini yang tidak tertutup oleh selimut.
Bian menggigit bibirnya, rasanya ada aliran listrik yang menyengat di tubuhnya. Bian berjalan mendekati sang istri dan tak lupa melepaskan jasnya lalu menyimpannya di sofa.
Matanya meredup tak kala ia semakin mendekatinya, gairah kelaki-lakiannya bangun seketika hanya dengan melihat kaki jenjang istrinya, dan wajahnya yang sekarang tanpa polesan make up, serta jangan lupakan sesuatu yang merah itu, bibir ranum nan seksi yang sekarang menjadi candu bagi Bian.
Bian menaiki ranjang mereka, lalu mendekati tubuh Arini. Dielusnya rambut hitam panjang sang istri, memainkannya, lalu dihirupnya aroma rambut itu. Bian menghirupnya dalam, aroma rambut Arini, aroma yang sangat wangi dan memikat.
Puas memainkan rambutnya, Bian memainkan kelompok mata, memainkan bulu mata lentiknya. Lalu turun ke hidung mancung sang istri, Bian menelusuri garis hidung itu. Lalu terakhir ia menatap bibir merah ranum Arini, Bian menelan ludahnya dengan susah, tidak tahan menganggur kan sesuatu yang indah di depan matanya ini.
Dan tanpa aba-aba, Bian meraih bibi ranum itu, menciumi dengan penuh kelembutan. Bian terus memagut bibir Arini dengan penuh kenikmatan, dan tanpa ia sadari tangannya sudah menjalar kemana-mana, terutama pada dua bukit yang sangat kenyal ini.
"Hmmmpp...." Gumam Arini merasa tidurnya terganggu.
Gumaman itu seakan erangan yang di dengar oleh Bian, membuat gairahnya semakin naik saja.
Bian menggigit kecil bibir Arini, membuat mulutnya terbuka. Bian menelusurinya dengan leluasa, mengabsen satu persatu semua yang ada dalam mulut Arini.
Dalam mimpinya Arini merasa ada sesuatu yang menindihnya, napasnya naik turun tersengal. Dan ketika ia merasa tidak bisa lagi bernapas, Arini membuka matanya. Dan alangkah terkejutnya ia, melihat Bian yang sudah ada di atas tubuhnya dengan masih memagut bibirnya.
Sesaat Arini terdiam melihat mata Bian yang tertutup, lalu tiba-tiba saja tubuhnya bergetar ketakutan, ia mengingat kembali kejadian naas yang terjadi pada dirinya dulu dengan pria yang sama, seakan kejadian itu terulang kembali.
Tubuh Arini semakin bergetar ketakutan, ia mulai memukul dada bidang Bian yang masih saja belum tersadar akan kondisinya.
"Hmmmpp...." Gumam Arini menggelengkan kepalanya, berusaha melepaskan ciuman itu, dan terus memukul dada Bian.
Air matanya kini mengalir tak tertahankan, ia sangat ketakutan, karena perlakuan ini mengingatkan ia kembali pada kejadian itu.
Bian tersadar, ia membuka matanya dan melihat Arini yang sudah dibanjiri oleh Air mata. Dan seketika itu pun ia melepaskan ciuman mereka, dan baru sadar kalau ia sudah menindih tubuh Arini.
Dengan refleks Bian turun, mengusap wajahnya kasar, ia sudah melampaui batas, membuat istrinya ini menangis ketakutan.
"Maaf... maafkan aku." Ucap Bian memeluk tubuh Arini yang bergetar. Serta merutuki dirinya yang tidak bisa menahan gairah nafsunya.
Kenapa ia harus melakukannya sekarang? Kenapa tidak memikirkan keadaan Arini terlebih dahulu? Mungkin saja istrinya ini belum siap melakukan itu? Atau saja istrinya ini masih trauma akan perlakuan bejatnya dulu! Bian kembali mengusap wajahnya kasar, kenapa ia melupakan hal itu?!
"Maaf... maafkan aku, aku sungguh khilaf, aku tidak sadar dengan perlakuan ku." Ucap Bian benar-benar meminta maaf.
Ia terus memeluk tubuh Arini yang bergetar, menciumi pucuk kepalanya dengan hangat, berharap dengan melakukan ini tubuh istrinya bisa kembali tenang.
Arini tidak menolak sama sekali Bian yang memeluk dan menciumi pucuk kepalanya, dan juga tidak menanggapi ucapan Bian yang terus saja meminta maaf padanya.
Ia berusaha menenangkan dirinya, menyadari statusnya yang sudah menjadi istri dari pria ini. Tidak seharusnya ia menolak keinginan dari suaminya, tapi ketakutan akan kejadian itu masih membekas dalam diri Arini.
"Tidurlah aku tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap Bian mulai membaringkan kembali Arini, karena merasa tubuh istrinya kini berangsur tenang.
Ia tidak bisa memeluk tubuh istrinya terlalu lama, ya... walaupun ia tahu cara itu sudah menenangkan Arini. Tapi, tidak dengan tubuhnya. Ia harus menenangkannya dulu.
Arini menatap mata Bian yang meredup, menahan sesuatu, ia menggigit bibir bawahnya tidak tahu harus melakukan apa. Rasa takut masih menyelimutinya.
Bian menyelimuti Arini sampai menutup dadanya, mengusap rambutnya lembut, lalu ia mencium keningnya. Setelah itu ia pun berlalu menuju kamar mandi, menuntaskan sesuatu yang belum tuntas ini sendirian. Ah... sungguh memalukan.
Semua perlakuan Bian, tak luput di mata Arini. Ia melihat suaminya yang merasa sangat bersalah, melihat suaminya yang memperlakukannya dengan hangat dan lembut. Melihat semua itu membuat Arini kembali merasa sangat bersalah. Dipandanginya punggung Bian yang sudah menuju kamar mandi.
*****
Arini diam dalam keheningan, dengan menutup kedua matanya. Ia memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Kenapa ia harus merasa ketakutan? Dan kenapa ia harus mengingat kembali kejadian itu? Bukankah kejadian itu sudah lama terjadi?
Akibatnya ia sudah menolak suaminya, membuatnya sangat tersiksa dengan keinginan yang tidak tersalurkan itu. Ah, apakah ia akan berdosa? Ya Tuhan..., sungguh ia tidak bermaksud seperti itu. Batin Arini dalam keheningannya.
Ia sudah berusaha melupakan kejadian naas itu, mencoba membangun hubungan rumah tangga yang baik. Tapi sepertinya itu tidak akan bisa tercapai kalau ia terus saja seperti ini. Arini merutuki dirinya.
"Aku harus bisa melupakan semua kejadian yang memang harus di lupakan, dan menciptakan kejadian yang memang harus diciptakan." Gumam Arini bertekad.
Kejadian masa lalu dan masa depan tidak bisa di samakkan, begitu juga dengan orang yang menjalaninya. Bian sudah berubah, dan ia tidak seperti dulu lagi. Jadi, aku juga harus berubah.
Memberikan kesempatan untuknya, memberikan kesempatan untuk hubungan sakral yang sudah terjalin ini. Dan memberikan kebahagiaan untuk Azzam. Batin Arini lagi.
Dan tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok Bian yang keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya saja, dada bidang, perut six pack, dengan rambut yang masih di tetesi oleh air belum di keringkan terpampang di sana.
Bian melihat ke sisi ranjang dan melihat istrinya kembali tertidur. Ia pun memakai kaos oblong dan celana pendek, mengerikan rambutnya sebentar lalu menuju tempat tidur.
Bian membuka selimut, bergabung dengan Arini. Arini yang memang belum tidur, berusaha merilekskan tubuhnya, seolah-olah seperti orang yang sudah tidur.
Bian menarik Arini dalam pelukannya, membiarkan Arini tertidur di atas dadanya, sedangkan ia sesekali menciumi pucuk kepala Arini. Arini diam, tidak menolak, layaknya orang yang sudah tertidur.
Aroma maskulin menguar memenuhi indra penciumannya, sangat menenangkan, ditambah detak jantung Bian yang berirama membuat Arini kembali mengantuk dan tertidur pulas di atas dada bidang itu.
"Aku mencintaimu, sangat mencintai mu." Ucap Bian kembali menciumi pucuk kepala Arini dengan sayang, dan ia pun tertidur menyusul Arini sang istri.
*****
Bersambung...