My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Sayang



Suara azan subuh sayup-sayup terdengar di dalam ruangan kamar hotel yang ditempati oleh Arini dan Bian. Arini menggeliat, menggeser-geserkan kepalanya, rasanya tidurnya kali ini sangat nyaman.


Ia terus menggeserkan kepala di atas bantal, tapi tunggu... ini... Arini mengernyit, baru merasakan tidur di atas bantal seperti ini.


Ia pun mulai meraba-raba, bantalnya sangat asing menurut Arini, tapi juga sangat nyaman untuk di tiduri. Tanpa Arini sadari, pergerakannya membuat seseorang terganggu.


Semakin merasa aneh, Arini pun menoleh ke atas, dan langsung bertemu dengan mata tajam Bian.


Ah... kenapa dia sampai lupa, diakan tidur dengan suaminya yang baru saja mendapatkan gelarnya kemarin.


"Ja-jadi a-aku tidur di atas dadanya?" Gumam Arini terbata-bata, salah tingkah, dan mereka masih saling menatap.


Arini semakin salah tingkah, Bian ikut salah tingkah, wajah Arini merona panas, entahlah ia sedang malu atau apalah. Tapi yang jelas semua tingkahnya membuat tubuh Bian panas dingin.


Kecanggungan sempurna tercipta di dalam kamar hotel itu, mereka berdua sama-sama tidak tahu harus melakukan apa. Hingga ikamah kembali terdengar sayup-sayup di kejauhan sana.


"Kita belum solat subuh." lirih Arini. Bangun, dan berdiri. Bian tidak menanggapi, sepertinya ia masih dalam mode memikirkan apa yang harus mereka lakukan.


"A-aku mandi duluan." Ucap Arini canggung, mengusap sikunya.


"Kita mandi sama-sama saja." Bian ikut bangkit, duduk di atas kasur king size mereka.


Mata Arini melebar sempurna mendengar ucapan Bian barusan. "Eh... tidak bisa, waktu sudah mepet." Ucap Arini berlari cepat masuk ke dalam kamar mandi. Wajahnya memerah berkali-kali lipat, tidak bisa ia bayangkan harus mandi bersama dengan Bian, ya... walau pun dia sudah menjadi suaminya.


Bian mengernyit, "Waktunya sudah mepet, bukankah mandi bersama akan mempersingkat waktu?" gumam Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Waktu terus berjalan beberapa menit kemudian, di dalam kamar mandi Arini sedang merutuki dirinya yang lupa membawa baju ganti karena terburu-buru tadi.


Ia berjalan mondar-mandir, menggigit jarinya, lalu menempelkan telinganya di depan pintu kamar mandi.


Tidak terdengar suara, Arini menunggu lagi, dan tetap tidak ada suara dari pergerakan Bian yang terdengar di luar sana.


"Tidak terdengar suara, mungkinkah dia kembali tertidur?" Batin Arini bertanya.


Ia pun memberanikan dirinya membuka pintu kamar mandi itu pelan-pelan, matanya menatap seisi kamar, menyapunya dari sudut ke sudut. Tidak terlihat sosok Bian di sana, bahkan di atas tempat tidur.


Ah... Arini tidak terlalu memedulikan keberadaan Bian sekarang, karena yang paling terpenting ia harus mengganti pakaiannya dulu.


Arini melilitkan kuat-kuat handuknya, dan dengan gerakan cepat, ia berlari keluar kamar mandi, mengambil baju gantinya, lalu kembali masuk kamar mandi untuk mengganti bajunya di sana.


Selesai ia mengganti bajunya, Arini pun keluar, membuka pintu kamar mandi. Dan alangkah terkejutnya ia, Bian sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi dengan baju koko dan topi hitam di atas kepalanya, serta sarung yang sudah bertengger rapi di pinggangnya.


Sejenak Arini terdiam, keterkejutannya telah hilang, namun di gantikan dengan keterkejutan lainnya melihat penampilan Bian. Ia memandangi Bian dari atas ke bawah, sungguh berbeda dari penampilannya yang biasanya. Terlihat menawan dan tampan.


"Sudah wudhu?" Tanya Bian, mengembalikan kesadaran Arini. Arini mengangguk sebagai jawaban.


Bian merentangkan sajadah, berdiri di posisi depan sebagai imam, dan Arini mengambil mukenanya, lalu ikut merentangkan sajadahnya sebagai makmum. Mereka berdua pun solat subuh berjamaah.


Usai solat dan berdoa, Bian berbalik menghadap Arini, ia mengelus kepalanya dengan lembut. Arini meraih tangan Bian yang mengelus kepalanya, lalu diciuminya tangan itu lama.


Bian terdiam, memandangi istrinya yang menunduk mencium tangannya. Tak lama kemudian, tangan Bian terasa basah. Bian mengernyit, apakah istrinya ini sedang menangis? Kenapa?


Ia mengangkat kepala Arini, melihat wajahnya yang kini dialiri air mata, isak pelan kini lolos di mulutnya.


"Hei... kenapa menangis, hmmm...?" Tanya Bian mengusap lembut pipi Arini yang dilelehi oleh air mata itu.


"Maaf...." Ucap Arini menanggapi Bian.


"Maaf kenapa? Kamu tidak pernah bersalah, sekarang jangan menangis lagi." Bian kembali memegang kepala Arini dengan kedua tangannya, dipandanginya wajah sang istri lekat-lekat. Sungguh ia tak tega dan tak bisa melihat istrinya menangis seperti ini, cukuplah dulu ia membuat perempuan ini menangis dengan perbuatannya.


"Maaf... maafkan aku yang tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu, menjadi istri yang tidak bisa melayani mu dengan baik." Ucap Arini dengan nada sangat menyesal.


Ah... ternyata istrinya ini masih memikirkan hal yang kemarin, hingga membuatnya menangis seperti ini. Ia menangis! Dan lagi-lagi itu karena perbuatannya. Bian merutuki dirinya dalam hati.


"Itu bukan salahmu, tapi itu salah ku. Aku yang tidak bisa mengontrol diriku, membiarkan nafsu birahi ini menguasai diriku." Ucap Bian memberi pengertian pada Arini, sekaligus mengucapkan rasa bersalahnya. "Aku juga salah karena aku yang tidak bisa mengerti dengan keadaan mu." Lanjut Bian menunduk, ia tidak bisa lagi menatap mata istrinya, ia tidak sanggup. Bian terus menunduk, sembari menggumamkan kata-kata maaf berulang kali.


Rasa bersalahnya atas perbuatannya di masa lalu sungguh besar, perbuatannya itu sekarang menjadi trauma untuk istrinya hingga ia saat ini. Sungguh perbuatan yang tidak bisa di maafkan. Tapi perempuan di depannya ini masih sudi, bahkan masih mau memberikannya kesempatan.


Kini Arini yang menatap lekat-lekat wajah Bian, melihat rasa penyesalan yang sangat pada dirinya. Bian memang sudah sangat berubah, ia tidak seperti dulu lagi.


"Tidak, jangan seperti ini." Ucap Arini meraih wajah Bian dengan kedua tangannya, mengangkatnya agar dia bisa menatap matanya kembali.


Arini menggeleng kuat-kuat, tidak mau lagi mendengar Bian yang terus mengucapkan permintaan maaf, dan membiarkan Bian terus merasa bersalah. Arini tidak membiarkannya lagi.


"Sudah jangan ucapkan itu lagi, aku tidak mau mendengarnya." Ucap Arini, menggelengkan lagi kepalanya. Matanya masih dialiri oleh air mata, dan air mata itu tambah mengalir tak kala melihat pipi Bian juga dibasahi oleh air matanya sendiri. Bian menangis, menyesali begitu dalam perbuatannya.


Arini mengusap air mata Bian, "Aku tidak ingin kau seperti ini lagi, tidak ingin melihat mu menangis lagi sepertinya ini." Lirih Arini, masih mengusap air mata Bian.


"Semua yang terjadi pada ku, aku sudah mengikhlaskannya. Tidak menyalahkan dirimu, juga tidak menyalahkan diri ku, atau menyalahkan siapa pun. Aku ikhlas... karena bagaimana pun di balik semua kejadian itu pasti ada hikmahnya." Ucap Arini, Bian mendengarkannya, tanpa melewatkan satu huruf pun.


"Sekarang mari kita sama-sama membangun hubungan ini, jangan mengingat kembali kejadian yang lalu karena itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang kita fokus pada kejadian yang akan datang, yang akan menjadi masa depan kita." Ucap Arini menurunkan tangannya di wajah Bian, lalu meraih kedua tangan Bian dan menciumnya.


"Sayang...." Panggil Bian, Arini mendongak, merasa hangat dipanggil seperti itu. "Aku mencintaimu, sangat mencintai mu." Lanjut Bian mengecup kening Arini penuh cinta, Arini menutup matanya menerima kecupan dari Bian.


*****


Bersambung...