
Ibu Syahra dan lainnya tersenyum mendengar itu, apa lagi Bian. Sekarang ia bisa bernapas dengan lega tanpa ada rasa khawatir lagi. Raut wajahnya kini berubah cerah seketika, dan rasa gemetarnya pun hilang dengan sendirinya.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang yang ada dalam ruang tamu itu.
"Selamat, Tuan. Anda di terima." Rio memberikan ucapan selamat pada Bian.
"Selamat kak, akhirnya kamu bisa tenang sekarang." Ujar Alysha menggoda Bian. Ia pun memberi kode pada salah satu pelayan untuk membawa masuk semua barang seserahan yang mereka bawa.
Para pelayan dan bawahan itu membawa masuk barang seserahan lamaran Bian, mereka berdiri berjejer, menunggu perintah di mana barang-barang ini akan disimpan.
"Ini semua adalah seserahan lamaran dari Bian untuk Arini." Ucap mama Mira pada ibu Syahra dengan senyuman, lalu memandang seserahan itu.
"Iya, terima kasih Bu." Ibu Syahra mengangguk pada mama Mira juga dengan senyuman. "Silakan, simpan di sini saja." Lanjutnya menunjuk meja di ruang tamu itu.
Para pelayan dan bawahan itu pun meletakkan semua bingkisan seserahan di atas meja ruang tamu. Bingkisan itu memenuhi meja, bahkan di letakkan secara bersusun, membuat bingkisan itu terlihat menggunung saking banyaknya seserahan yang di bawa oleh Bian untuk Arini.
"Jadi apa sekarang kita bisa menentukan acara pernikahan mereka?" Ucap Tuan Dean setelah seserahan itu sudah tersimpan semua di atas meja dan para pelayan serta bawahan yang membawanya tadi sudah kembali keluar.
"Saran saya pernikahan mereka kita percepat saja, karena lebih cepat lebih baik." Ucap Tuan Dean lagi, memberikan saran.
"Iya, ibunya Arini. Saya setuju dengan ucapan suami saya, bagaimana menurut ibu?" Ujar mama Mira semangat 45.
"Saya setuju, lebih cepat memang lebih baik. Jadi, kapan kita akan menikahkan mereka?" Jawab ibu Syahra mengangguk dan bertanya balik.
Arini dan Bian hanya mendengar percakapan antara orang tua mereka, tidak berniat ingin ikut bicara. Biarlah orang tua mereka yang memutuskan. Pikir keduanya.
"Kalau begitu Minggu depan saja bagaimana?" Nyeletuk mama Mira.
"Minggu depan?!!" Ucap Bian dan Arini bersamaan, padahal mereka sudah membiarkan orang tuanya saja yang menentukan keputusan kapan mereka menikah.
"Kenapa?" Tanya mama Mira menaikkan satu alisnya menatap Bian. "Mama kira kalian tidak bicara sejak tadi karena sudah membiarkan kami untuk menentukan keputusan?!" Lanjutnya lagi, mengerutkan kening.
"Eh... iya, Mah. Tapi, apakah itu tidak terlalu cepat?" Tanya Bian.
"Iya, Tante. Saya rasa itu terlalu cepat." Arini ikut berbicara.
"Kenapa kalau terlalu cepat? Apa yang kalian khawatirkan? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Tanya mama Mira beruntun, menatap Arini dan Bian bergantian.
"Eh... i-iya, tapi...." Ucap Bian menggaruk kepalanya, tidak tahu alasan apa yang harus ia katakan. Tapi intinya, ia hanya merasa terlalu cepat dengan pernikahannya.
"Tapi, kami belum mempersiapkan apa-apa Tante." Ucap Arini melanjutkan ucapan Bian.
"Iya, Mah. Itu yang aku maksud." Ujar Bian mendukung ucapan Arini.
"Wah... kalian kompak sekali, sangat cocok menjadi pasangan. Bukankah, begitu sekretaris Rio." Nyeletuk Alysha bertepuk tangan, Rio mengangguk menyetujui ucapan Alysha, dan keduanya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bian.
Mendapatkan tatapan seperti itu, baik Alysha maupun Rio langsung pura-pura fokus pada ponsel mereka masing-masing.
"Iya, acara ini pokoknya akan tetap di laksanakan Minggu depan. Masalah persiapan kalian tidak usah khawatir, serahkan semua pada mama. Yang kalian lakukan hanya mencari gaun pengantin dan cincin pernikahan kalian berdua saja." Ujar mama Mira tidak ingin di bantah, dan langsung mendapatkan anggukan dari ibu Syahra dan Tuan Dean.
Mendengar itu, baik Bian maupun Arini tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka pun menerima keputusan dari orang tua mereka.
"Baiklah... tanggal pernikahan sudah kita tentukan, dan semuanya sudah di bahas. Tinggal kita persiapkan acara pernikahan ini, semoga persiapannya nanti bisa lancar tanpa ada hambatan dan acara pernikahan kalian berjalan dengan lancar juga." Do'a Tuan Dean, dan langsung mendapatkan ucapan aamiin dari semua orang yang ada di ruang tamu itu.
"Kalau begitu kami semua permisi dulu, karena pasti Bian maupun Arini sama-sama memiliki pekerjaan yang penting pagi ini. Dan yah... kalian berdua jangan lupa selesaikan pekerjaan kalian hari ini, serta jangan lupa kosongkan jadwal kalian untuk beberapa hari ini sampai acara pernikahan kalian selesai." Kata Tuan Dean mengundurkan diri beserta rombongannya untuk kembali pulang, dan mengingatkan pada Bian dan Arini untuk mengambil cuti beberapa hari sampai acara pernikahan mereka selesai.
Ibu Syahra dan Arini mengangguk mengiyakan.
Rombongan Bian pun berdiri, juga dengan Bian. Ia menghampiri ibu Syahra dan menyalami tangannya, setelah itu berpindah pada Arini.
"Terima kasih karena telah memberikan ku kesempatan, aku tidak akan pernah menyanyiakan kesempatan ini. Sekali lagi maaf telah membuatmu terluka dan menderita di masa lalu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Bian dengan tulus di depan Arini dengan suara yang pelan, sehingga orang-orang tidak bisa mendengarnya.
Arini hanya mengangguk dengan apa yang Bian ucapkan, ia tidak memiliki kalimat bahkan kata pun untuk membalas perkataan ini. Entahlah apa yang terjadi dengannya, karena ini semua belum terpikirkan oleh Arini. Ia hanya memikirkan kebahagiaan keluarganya, dan anaknya Azzam semata.
"Kebahagiaan Azzam? Apakah Azzam akan bahagia dengan pernikahan ini?" Gumam Arini dalam hati, termenung di depan Bian yang tak berhenti memandangnya.
Alysha yang melihat Bian dan Arini berdiri begitu dekat seperti itu, tersenyum sendiri, mungkin ikut senang dengan kebahagiaan kakaknya sekarang. Dan tak lama kemudian, "Cie... cie... ehm... ehm...." Goda Alysha pada kedua orang itu. Dan seketika itu pun membuat Arini dan Bian tersadar, mereka pun cepat-cepat mundur dan saling menjauh.
"Semoga keluarga anak-anak kita nanti menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah ya, Bu." Ucap mama Mira memeluk ibu Syahra.
"Iya, aamiin." Jawab ibu Syahra, balas memeluk mama Mira.
"Kami permisi ya...." Ucap mama Mira lagi, melepaskan pelukannya pada ibu Syahra. Tuan Dean hanya mengangguk, dan di balas anggukan juga oleh ibu Syahra.
Rombongan itu pun keluar, dan di antar oleh Arini dan ibunya sampai di teras rumah.
Bian menurunkan kaca mobilnya demi memandang Arini sebelum ia pergi, memberikan senyuman manisnya pada Arini, dan dibalas oleh Arini dengan senyuman singkatnya.
Rombongan mobil itu pun melaju hingga hilang dari pandangan, Arini dan ibunya kembali masuk ke dalam rumah mereka.
"Langsung ke perusahaan, Tuan?" Tanya Rio menoleh ke belakang, karena Bian satu mobil dengannya.
"Iya, aku mau menyelesaikan semua pekerjaan ku dulu. Oh, iya... kamu bantu kosongkan jadwal dua minggu ke depan." Ujar Bian.
"Dua Minggu?" Ulang Rio bertanya, pasalnya pernikahan Tuannya ini hanya membutuhkan waktu satu Minggu untuk persiapan dan acaranya sampai selesai. Lalu kenapa mengosongkan jadwal pekerjaan sampai dua Minggu? Pikir Rio, bertanya-tanya dalam hati.
"Intinya, aku mau kau kosongkan jadwalku untuk dua minggu ke depan." Ucap Bian tidak mau di bantah, membuat Rio mengiyakan dan mengangguk cepat.
*****
Bersambung...