My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Lamaran



Kediaman rumah Arini yang ditempati oleh ibu dan adiknya itu ramai oleh keluarga, mereka semua sengaja di undang untung menghadiri acara lamaran.


Rangga menepati janjinya untuk melamar Arumi, dan sekarang ia dalam perjalanan menuju kediaman sang pujaan hati dengan kedua orang tuanya. Perasaannya campur aduk, antara senang dan gugup.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya mamanya melihat tingkat aneh dari anaknya ini.


"Kamu tidak tahu saja Mah, itu namanya gugup." Sahut Tuan Adi, ayah dari Rangga.


"Hm... siapa yang gugup, orang biasa aja kok," elak Rangga, malu.


"Iya, biasa aja. Emang kapan kamu nggak biasa aja, selalu aneh!" timpal mamanya memutar jengah bola matanya. Dari dulu anaknya ini memang aneh, selalu saja memacari anak gadis orang yang berbeda tiap harinya. Untung sekarang ia mau bertobat, menjalin hubungan serius dengan ipar dari ponakannya, Bian. Awas saja kalau setelah menikah dia berulah lagi. Wanita itu menatap tajam anaknya. Rangga sampai mengidik ngeri melihat tatapan mamanya.


Di tempat lain, Arumi kini terlihat sayang cantik dengan kebaya yang berwarna peach serta hiasan make up tipis yang ia kenakan untuk acara lamarannya.


"Wow, Aunty cantik sekali." Puji Azzam tak mengalihkan pandangannya ketika masuk ke kamar Arumi bersama mamanya.


Arumi tersenyum melihat pantulan keponakannya itu yang berjalan mendekat, "Benarkah?" tanyanya berbalik.


"Tentu saja, lihatlah... matanya tidak teralihkan dari mu." timpal Arini membuat adiknya itu tersenyum malu-malu karena mendapat pujian.


"Azzam nggak bohong, Aunty memang cantik. Tadi saja Azzam hampir pangling, jadi penasaran deh reaksi om Rangga," ujar bocah kecil itu yang berhasil membuat pipi Arumi bersemu merah. Arini hanya melongo, tak habis pikir anaknya bisa berkata seperti itu. Dari mana dia mempelajarinya.


*****


Rangga sekeluarga sudah berada di kediaman Arumi. Sekarang mereka tengah berbincang dengan ibu Syahra, ibunya Arumi. Dengan Bian yang saling memperkenalkan mereka. Di sana juga ada Tuan Dean dan Mama Mira yang ikut mendengarkan.


Arumi muncul di tengah-tengah obrolan mereka beriringan dengan Arini dan Hana, dia tersenyum manis menatap mereka yang berada di ruang tamu.


Rangga tak mengalihkan pandangan pada calon penggantinya itu, rasanya ia ingin langsung membawa Arumi ke pelaminan saja.


"Masya Allah, cantik sekali calon mantu mama," ucap Anggit, mamanya Rangga tanpa sadar. Pantas saja anaknya yang terkenal playboy stres ini bisa kepincut olehnya.


Arumi tersenyum menunduk mendengar pujian dari calon mama mertuanya, di bawah tatapan memuja dari Rangga. Dalam hati ia berjanji tidak akan pernah menyakiti perempuan di depannya ini, dan akan berusaha membahagiakannya.


"Tuh kan... Azzam sudah bilang, Aunty memang cantik. Lihat saja tatapan om Rangga sama sekali tak teralihkan," sambung Azzam membuat semua orang beralih melihat Rangga, dan benar saja kini pria itu menjadi salah tingkah, semua orang menertawakannya.


Kebahagiaan menghiasi kedua keluarga tersebut. Kecuali Marvel yang tampak biasa saja, ia memang diundang oleh keluarga Pratama karena memang memiliki hubungan darah dengan mereka, juga karena diundang langsung oleh Azzam dan Arini.


Tentu ia tidak enak untuk tidak hadir, tapi kalau boleh pilih ia akan memilih untuk tidak hadir saja. Karena tidak mudah melupakan seseorang yang telah mengambil separuh hatinya. Ia sudah berusaha melupakan rasa itu, tetapi semakin ia berusaha, semakin pula rasa itu melekat. Ia tak tahu kenapa, tapi bayang-bayang Arini selalu melekat di kepalanya. Padahal ia sudah berusaha mengikhlaskan rasa yang belum terungkap ini, serta dengan penyesalannya yang masih ia bawa untuk mengingat agar ia tidak bertindak lebih jauh lagi demi perasaan konyolnya sendiri. Arghk... bagaimana cara melupakannya?! Tidak, tidak, aku ingin rasa ini hilang saja! Frustasi Marvel dalam hati, memandang Arini yang masih tersenyum.


Tanpa Marvel sadari semua tindakannya di lihat oleh Bian dengan mata tajam, dan ketika pandangan mereka bertemu tatapan itu seolah mengirimkan sinyal peperangan. Dengan sengaja Bian melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri dengan mesranya, dan baru membuat Marvel mengalihkan pandangan.


"Jadi tujuan kedatangan keluarga saya di sini, ingin melamar anak ibu yang bernama Arumi untuk anak kami, Rangga." Setelah sekian pembicaraan sapa menyapa, kini Tuan Adi dan keluarganya menyampai tujuan maksud kedatangan mereka.


"Saya tidak bisa memutuskan... itu kembali lagi pada Arumi." Ibu Syahra tentu tidak bisa memberikan jawaban, ia menyerahkan pada anaknya Arumi karena dia yang akan menjalaninya. Sebagai ibunya ia menerima dan mendukung segala keputusan anaknya.


"Aunty terima," ujar Azzam mantap, membuat mereka yang harap-harap cemas jadi tergelak, bahkan Rangga menghembuskan napas tak jadi gugup. Sungguh pengganggu momen menegangkan.


"Hahahaha... kenapa kamu yang jawab sayang, kan Aunty Arumi yang dilamar," gelak mama Mira tak tahan, ia mencubit gemas pipi cucunya itu.


"Astaga kak, cucumu menggemaskan sekali." Anggit, mamanya Rangga ikut mencubit pipi Azzam.


Azzam mengerucutkan bibirnya, mendapatkan cubitan berulang kali. Ia pun membekap kedua pipinya yang merah itu dengan kedua tangan. Sakit tahu. Jerit nya hanya dalam hati.


"Yah, beginilah risiko jadi orang imut." Batin Azzam menghela napas panjang.


"Hahaha... makanya buat cucu sendiri," gelak mama Mira lagi, menanggapi celotehan adiknya.


"Tentu saja. Bagaimana Arumi, kamu mau kan sayang?" tanya Anggit dengan mata memelas.


Eh, dalam hati Arumi bingung. Pertanyaannya menuju ke mana ya...? Buat cucuk kah? Atau lamaran?


Tuan Adi yang mengetahui kebingungan Arumi mengulang pertanyaannya. "Jadi, gimana Nak Arumi. Apakah lamarannya diterima?"


"Iya Om, saya terima." Jawab Arumi dengan senyum malu-malu, yang malah di mata Rangga sungguh menggemaskan.


Mendengar jawaban dari Arumi, semua orang yang ada di ruang tamu itu mengucapkan syukur, dan memberikan selamat pada keduanya.


Pernikahan Rangga dan Arumi akan dilaksanakan sebulan lagi sesuai kesepakatan bersama. Lalu mereka mengobrol beberapa hal lagi mengenai tempat dan lainnya.


Sembari orang tua mengobrol, Arini, Hana, dan Arumi pergi menuju dapur untuk mengambil cemilan yang telah disiapkan.


Melihat aneka kue kering membuat Arini jadi tergiur ingin mencobanya, ia memakan beberapa dan rasanya sungguh luar biasa enak.


"Kue ini buatan ibu 'kan?" tanya Arini dengan mulut penuh, sudah lama ia tidak memakan kue buatan ibunya.


"Iya kak, ini memang buatan ibu." Arumi menjawabnya tanpa melirik sang kakak, karena ia tengah menyusun kue bersama Hana.


"Oh pantas saja, ini enak sekali." Puji Arini terus memakannya, dan tak sadar kuenya hampir ia habiskan setengahnya.


"Iya memang enak, tapi ingat juga dengan kehamilan kakak." Arumi mengingatkan, ia baru melihat kalau isi dari toples itu hampir habis setengahnya oleh sang kakak.


"Apa?! Ha-hamil?" Marvel yang baru saja dari toilet, refleks bertanya dengan nada tak bisa diartikan. "Benarkah itu Arumi?" tanyanya lagi yang entah keluar begitu saja dari mulutnya.  


"Arumi hamil?!" shock Anggit yang baru saja datang ke dapur berniat ingin masuk ke toilet, tapi ia malah mendengar Marvel yang menanyakan kehamilan pada Arumi.


*****


Bersambung...