My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Arini Melahirkan



Waktu berjalan begitu cepat, bulan demi bulan berlalu. Kini usia kandungan Arini memasuki 39 minggu, dan perkiraan akan melahirkan 1 minggu lagi.


Karena hal itu Bian memutuskan untuk menginap di mansion utama keluarganya, lagi pula mamanya juga yang mengusulkan hal tersebut agar ada yang menemani sang istri di kehamilan tuanya.


Ingin menginap di rumah mertuanya ibu Syahra, ada Arumi dan Rangga yang tinggal. Mereka memutuskan untuk tinggal di sana karena Arumi tak ingin ibunya tinggal sendiri, dan Rangga tentu menyetujui usulan tersebut. Asal istrinya bahagia.


Di pertengahan malam itu, Arini terbangun dengan rasa tak nyaman disertai nyeri di perutnya. Kedua mata coklatnya terbuka, ia menoleh pada suaminya yang tertidur nyenyak dengan memeluk tubuhnya.


Rasa nyeri yang mendera membuat Arini menggigit bibir, ia berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Dan ketika rasa nyeri itu berganti dengan rasa sakit yang tidak bisa Arini tahan lagi, membuat ia meremat tangan suaminya dengan kuat.


Bian yang memang peka dengan sentuhan langsung saja terbangun, ia menekan tombol saklar membuat lampu tidur berganti dengan lampu yang menerangi seisi ruangan.


"S-sayang kamu kenapa?" tanya Bian panik melihat istrinya meneteskan air mata.


"P-perut aku sakit, Mas." Lirih Arini dengan suara yang terdengar seperti isakan.


"Aapa?! P-perut kamu sakit?" kini bukan hanya panik yang dirasakan Bian, tetapi ketakutan juga sudah mulai mendera. "Aasataga... aku akan panggil mama, sayang." paniknya langsung saja turun dari tempat tidur itu, Arini sebenarnya ingin melarang suaminya, menyuruhnya untuk lebih tenang dan tidak mengganggu mertuanya yang masih tidur.


Tapi suaminya itu sudah keluar secepat angin, dan bisa Arini dengan suara paniknya yang menggelegar memanggil 'mama'. Arini tidak menghiraukan, ia memutuskan untuk ke kamar mandi karena merasa mules. Dan benar saja sudah ada bercak merah di sana, membuat ia yakin akan melahirkan.


Lagi-lagi Arini mengatur napasnya sebaik mungkin, ia memutuskan keluar dari kamar mandi. Mengambil perlengkapan persalinan yang sudah disiapkan sebelumnya di dalam lemari, lalu kembali duduk di ranjang menunggu suaminya.


Mama Mira, Tuan Dean, datang dengan paniknya memasuki kamar, ulah suaminya itu.


"Astaga...! Dasar kamu, istrimu mau melahirkan. Kenapa kau malah meninggalkannya." Mama Mira menapok kepala Bian, lalu menghampiri menantunya itu yang meringis menahan sakit.


"Melahirkan?" ulang Bian.


"Iya! Cepat siapkan mobil."


"Biar Papa yang siapkan mobil, kamu bawa keluar istrimu dan jangan lupa perlengkapan persalinannya." Tuan Dean segera keluar dari kamar, Bian dan Mama Mira membawa Arini keluar, tak lupa juga membawa tas perlengkapan persalinan.


Arini dimasukkan ke dalam mobil kursi penumpang bagian belakang bersama suaminya dan mama Mira, dengan tuan Dean yang menyetir.


Keputusan itu diambilnya karena melihat Bian yang sangat kacau, bahkan tangan anaknya itu gemetar. Sudah diingatkan untuk tenang, namun percuma saja. Bian tidak mendengarkan.


Sampainya di rumah sakit, sudah ada dokter dan suster yang menunggu dengan brangkas, karena sudah diberitahu tahu oleh Tuan Dean lewat telepon. Arini langsung dinaikkan di sana, lalu dibawa menuju ruang persalinan.


"M-mas...." Panggil Arini menahan sakitnya, ia meremat tangan suaminya itu kuat, bahkan ada jejak kuku nya di sana.


Kesakitan yang dirasakannya sama persis dengan yang ia rasakan beberapa tahun silam melahirkan Azzam, bedanya kini ada sang suami yang menguatkan.


"I-iya sayang, kamu bertahan ya...." Suara Bian tercekat, air matanya sudah merembes sejak tadi. Tidak tahan melihat istrinya yang merintih kesakitan. Tak peduli lagi image nya yang sedari dulu ia jaga.


Dokter dan suster dengan segera mendorong ranjang Arini menuju ruang bersalin.


"Tarik napas, Bu. Tahan sebentar ya, lalu hembuskan. Tarik napas lagi, lalu hembuskan. Tahan dulu ya Bu, jangan mengeja." Instruksi dokter, Arini mengikuti.


Baru saja Arini masuk ke ruang persalinan, tiba-tiba air ketubannya pecah membuat Bian terkejut.


"Astaga! Air apa itu?"


"Tenang, Tuan. Itu adalah air ketuban." Suster memberitahu, namun Bian sama sekali tidak mengerti.


"Sekarang sudah waktunya."


Dokter memberitahu, Arini di minta untuk mengejang sesuai instruksi. Bian rasanya tak sanggup melihat, tubuhnya ringan seperti kapas. Hampir saja ia pingsan, jika tidak memikirkan harus menemani istrinya di masa sulit ini.


Rambutnya dijambak Arini untuk mencari kekuatan, lengannya di penuhi jejak kuku nya, sebagai tanda seberapa menyakitkan yang dialami istrinya.


Tidak lama kemudian, suara tangis bayi memenuhi seisi ruangan, bahkan sampai terdengar dari luar. Dan Sontak membuat Bian jatuh terduduk dengan lemas. Juga memberi kelegaan orang dari luar yang mendengarnya. Dokter segera membersihkan tubuh si bayi.


"Selamat, anak Bapak dan Ibu perempuan." Dokter membawa bayi kecil itu di pangkuan Arini yang masih tampak lemas, namun tidak dipungkiri kebahagiaan terpancar di wajahnya.


Mendengar itu, Bian segera bangkit. Ia melihat istrinya yang tengah memeluk bayi mereka dengan deraian air mata. Bian memeluk keduanya, juga dengan air mata yang membasahi pipi.


"Terima kasih, terima kasih sayang." Ucapnya berulang kali, mencium ubun-ubun sang istri.


"Perempuan, Mas."


"Iya, sayang. Dan sangat cantik seperti dirimu."


Mereka berdua memang tidak melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya, biar menjadi kejutan untuk hari ini.


Bian mengecup Arini dan bayinya bergantian. Arini pun diminta untuk memberikan ASI untuk pertama kali pada bayinya.


*****


Semua orang bersuka cita, dan silih berganti mengucapkan selamat.


"Masya Allah... cantik sekali, namanya siapa?" tanya Dian sangat gemas, dan begitu takjub oleh bayi mungil itu yang sudah memancarkan kecantikannya.


"Anzaya Alvina Pratama." Jawab Azzam lantang, ia berada di dekat adik kecilnya itu untuk menjaga. "Terima kasih Tante, Zaya memang cantik karena dia adalah adikku." Ucapnya bangga.


"Oh ya, ya... dia memang adikmu." Senyum Dian terukir, sedikit terkekeh, karena Azzam tidak membuang sifat narsisnya. Semoga Zaya tidak mengikuti jejak sang kakak.


"Bolehkah aku menggendongnya?"


"Tidak boleh." Tolak Azzam cepat, dengan raut muka dibuat tegas.


"Hahahha... kasian deh...." Tawa Arumi di belakang mereka. Azzam dan Dian sontak balik belakang.


"Stttt... Aunty jangan berisik, dede Zaya lagi bobo." Peringatan Azzam, menyimpan jari telunjuknya di bibir.


"Hehehe, maaf." Arumi melempar senyum pada ponakan narsisnya yang kini beranjak posesif.


"Jangankan kau kak, aku saja tidak diperbolehkan menggendongnya." Terang Arumi pada Dian, mencebikkan bibirnya pada Azzam.


"Oh ya, astaga. Posesif sekali dia."


"Tidak apa-apa sayang, nanti kita akan menggendong bayi sendiri setelah menikah." Bisik Marvel di telinga Dian, ia melingkarkan lengannya pada pinggang perempuan itu.


Mereka berdua sudah resmi menjalin  hubungan, namun belum sampai tahap pernikahan karena memutuskan untuk saling mengenal dulu satu sama lain.


"Kami juga akan menggendong bayi sendiri." Rangga datang mencium pipi istrinya yang semakin tembam. Arumi sendiri tengah hamil anak pertama mereka. Semua keluarga sudah diberitahu dan ikut bahagia.


"Azzam." Panggil Alysha datang menghampiri mereka. Azzam mendongak melihat kedatangan aunty nya itu yang seperti akan memberitahukan sesuatu.


"Kau tahu, kado dari Kak Rangga baju adek mu hitam." Alysha menunjukkan baju itu pada Azzam yang memang berwarna hitam, ia baru saja membuka semua hadiah bersama mamanya juga ibu Syahra.


Azzam melirik Rangga yang tengah menggaruk kepalanya, "Aku kan sudah bilang beli yang warna pink, yang...." Arumi menyiku suaminya itu, kemarin mereka memang berdebat masalah warna baju untuk hadiah Zaya, dan Rangga memilih warna hitam karena lantaran Bian bayi itu yang suka warna hitam.


"Adik aku perempuan tahu." Azzam menggembungkan pipinya lucu dengan melipat kedua tangan.


"Heheh, maaf. Tapi yang hitam itu satu paket kok dengan warna pink, bukan begitu sayang?" tanyanya pada Arumi yang lantas mengangguk setuju untuk membenarkan. Mereka berdua memutuskan membeli warna hitam dan pink sebagai hadiah.


"Hmmm." Azzam menghembuskan napas, lalu kembali beralih pada adiknya, raut wajahnya seketika berubah menjadi senyum manis.


Di sudut ruangan terlihat mama Mira dan ibu Syahra yang masih membuka semua kado dari para tamu undangan untuk cucu kedua mereka. Dan Tuan Dean menjadi tahanan istrinya untuk menyusun semua kado yang telah ia buka, padahal dari tadi ia sangat ingin berbincang dengan para tamu teman-temannya.


Dari sudut ruangan lain terlihat Bian dan Arini, mereka berdua baru saja dari kamar mandi. Bian menemani istrinya masuk kamar mandi karena takut terjadi sesuatu.


Masih terbayang kesakitan yang dialami istrinya, sampai ia menahan napas dan tak ingin jauh-jauh dari istrinya. Padahal itu sudah berlalu satu minggu kemarin, tapi menurut Bian itu baru saja kemarin.


"Sayang maafkan aku telah membuatmu terus merasakan sakit." Bian memeluk pinggang istrinya dari belakang.


Arini menoleh ke samping, melihat setengah wajah suaminya. "Siapa bilang kau membuatku terus sakit, itu memang akan terjadi untuk semua perempuan yang akan menjadi seorang ibu. Anak yang dilahirkan menjadi sumber kekuatan bagi mereka untuk melewati semua proses itu."


"Menjadi kebahagiaan dan kebanggaan kita." Ucap mereka bersama.


Arini berbalik menghadapi suaminya, "Jadi jangan pernah lagi menganggap dirimu yang selalu memberikan ku rasa sakit, kamu tidak pernah memberiku rasa sakit itu." Arini mengusap kedua mata suaminya yang berkaca-kaca. "Sekarang lupakan kejadian masa lalu, tinggalkan mereka, dan mulai berbenah untuk kehidupan masa depan yang bahagia." Bercucurlah air mata Bian mendengar itu.


"Jangan menangis, Mas terlihat jelek." Arini mengusap air mata suaminya, ia bisa merasakan bahwa suaminya dilanda penyesalan. "Sekarang lihatlah, ingusmu mulai keluar." Canda Arini.


"Aku mencintaimu," ungkap Bian tulus.


"Aku juga mencintaimu."


Mereka berdua saling menatap dengan penuh cinta.


"Terima kasih telah menerima dan mencintaiku, terima kasih telah menghadirkan Azzam dan Zaya untuk ku, terima kasih—"


Tak tahan mendengar ungkapan terima kasih dari mulut suaminya, Arini membungkamnya dengan ciuman. Mereka berdua melakukan ciuman mesra yang mengungkapkan semua isi hati, termasuk besar rasa cinta keduanya untuk satu sama lain.


*****


Tamat