My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Keluar dari Rumah Sakit



Tak sampai 24 jam Bian di rumah sakit, paginya ia sudah keluar karena pekerjaannya yang tidak bisa ia tinggalkan.


Arini mengemasi barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam tas yang sudah disiapkan.


Arumi dan lainnya, bahkan ibunya yang sempat datang menjenguk sudah pulang sejak kemarin malam. Sebenarnya mereka ingin menemani, tapi Arini tidak membiarkannya karena tak ingin mereka menginap di rumah sakit dan tidur dengan tak nyaman. Akhirnya mereka pun pulang beserta Azzam yang juga ikut bersama mereka.


"Mas yakin mau keluar sekarang?" tanya Arini dengan tangan yang sibuk memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas.


Bian yang sejak tadi sibuk dengan benda pipih di tangannya, seketika menghentikan kegiatannya itu.


"Sudah sayang, biarkan Bi Minah saja yang mengemasinya nanti. Aku tidak mau kamu kelelahan karena itu." Bian menarik pinggang ramping istrinya, membawanya duduk di atas pahanya dengan perlahan.


Arini memutar jengah bola matanya, mana mungkin kelelahan hanya mengemasi barang-barang yang tak seberapa itu.


"Ih, Mas. Kenapa suruh Bi Minah repot-repot datang ke sini?!" Arini menghadap suaminya dengan wajah ditekuk.


"Cup." Bukannya menjawab, bibir Bian malah nyosor pada benda kenyal berwarna merah alamin itu. Arini sampai dibuat kaget olehnya karena serangannya yang mendadak.


"Cup." Lagi, bibirnya sempurna lebar melihat ekspresi istrinya. "Manis." ucap Bian dengan gerak bibir yang menggoda.


"Ih... Mas... kalau ada yang datang gimana?" Arini refleks menutup bibirnya dengan kedua tangan, pipinya tiba-tiba hangat, bersemu merah.


"Hahahah... pipi mu merah sayang, jadi tambah manis deh." Senyum lebar Bian tergantikan dengan tawanya yang menggelegar, puas sekali  menjahili istrinya yang wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus.


"Ih... Mas...." Arini kini mengantup kedua pipinya, Bian mengikuti.


"Udah makin tembam, mulai bulat." Bian melepaskan tangan Arini, lalu mencubit pipi istrinya itu. Arini mengernyit, apa maksudnya coba?


"Tapi makin manis, makin sayang, makin cintai deh. Cuppp... cupp...." Puas mencubit, Bian menghujati pipi Arini dengan ciuman bertubi-tubi. Hal itu membuat si empunya kegelian, dan bergerak menghindar.


"S-sayang...." Bian tiba-tiba meringis.


"Mas kenapa? Ada yang sakit? Di mana?" pertanyaan bertubi-tubi Arini layangkan, sembari memeriksa bagian tubuh suaminya dengan raut khawatir.


"Sstttt... jangan bergerak sayang, yang bawahnya makin tersiksa." Lirih Bian menahan sesuatu.


Arini seketika diam terpaku, di bawah sana seperti ada yang sudah mulai menegang. Ia menelan ludahnya kasar, merasakan benda itu mulai nyut-nyutan.


"Hm... hm...." Arini dengan cepat turun dari pangkuan suaminya. "M-maaf Mas, nggak sengaja." Lanjutnya dengan wajah kembali memerah.


"Tanggung jawab sayang." Bian memelas, dengan wajah yang begitu meyakinkan. Arini menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung, bagaimana ia harus bertanggung jawab.


Mereka kan sedang berada di rumah sakit, bagaimana kalau dokter atau suster tiba-tiba masuk, atau ada yang tiba-tiba datang menjenguk mereka. Perang pikiran mulai di kepala Arini. Bian diam-diam mengamati, wajahnya dibuat semakin memelas dan pura-pura tersiksa, tapi yakinlah, hatinya sedang bersorak gembira. Kapan lagi coba mendapatkan jatah di pagi yang cerah ini.


Sementara Arini yang masih berperang mencari solusi, pintu ruang rawat itu tiba-tiba diketuk dari luar. Membuyarkan semua angan-angan Bian yang sudah ia rajut sedemikian rupa.


"Maaf Tuan, Nyonya... bolehkah saya masuk." Suara Bi Minah terdengar di luar sana. Arini menoleh ke arah pintu, ia bernafas lega, tidak perlu lagi mencari solusi yang sudah menguras pikirannya.


"Iya, Bi. Tunggu...."


Berbanding terbalik dengan istrinya, Bian kini meratapi nasibnya seraya menatap prihatin pada benda pusakanya yang kini berangsur kembali seperti sedia kala.


"Selama pagi, Nyonya." Sapa Bi Minah ketika Arini sudah membukakan pintunya.


"Pagi, Bi." Balas Arini, lalu mempersilakan Bi Minah masuk.


Setelah menyapa Bian yang kini sudah turun dari ranjang, Bi Minah langsung menyelesaikan tugas Arini yang sempat terhenti tadi. Usai itu mereka pun pulang dengan Rio yang menjadi supirnya. Rupanya dia juga datang untuk mengingatkan sekaligus menjemput Bian karena ada pekerjaan yang mendesak.


"Habis ini langsung ke kantor mas." tanya Arini berjalan mendekati mobil, tangannya dan tangan Bian saling bertautan.


"Iya sayang, hati-hati di rumah. Mas usahakan pulang cepat." Bian membawa tangan Arini, lalu menciumnya.


Siapa yang tidak khawatir melihat suaminya yang baru saja keluar dari rumah sakit dan kini harus bekerja lagi.


"Tidak apa-apa sayang, ini hanya sindrom Couvade." Bian berusaha menenangkan istrinya yang tampak jelas sangat khawatir.


"Iya, tapi jangan lupa makan sesuatu nanti." Arini mengingatkan.


"Sesuai perintah Ratu, tapi lebih suka makan kamu sih sayang." Goda Bian dengan kedipan mata.


Rio di sana memicing tajam, ingin tahu apa yang sedang di bicarakan oleh suami istri itu. Sampai tak sadar kalau keduanya sudah berdiri tepat di depan mata.


"Kenapa dengan matamu?" tanya Bian mengernyit. "Perlukah menggantinya? Mumpung kita masih di rumah sakit...."


"Ohh... tidak apa-apa, Tuan. Tidak perlu." Rio menggeleng cepat. "Silakan masuk." Ia membuka lebar pintu mobil bagian penumpang untuk keduanya masuk.


"Terima kasih." Ucap Arini tak lupa, Rio mengangguk tersenyum, namun semua itu seketika pudar tak kala bersitatap dengan mata tajam Bian yang seperti mengintimidasinya.


*****


Sesuai rencana, kini Bian tengah berada diruang rapat yang dihadiri oleh lima petinggi dari dua perusahaan yang sedang melakukan kerja sama yang sayangnya rapat itu tidak berjalan sesuai yang diinginkan.


Itu semua karena kondisi Bian yang harus berkali-kali pergi ke toilet karena merasakan mual yang luar biasa pada perutnya. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat mengalir di dahinya.


Ia tak menyangka bahwa efek sindrom Couvade yang dianggapnya sepele ternyata bisa sehebat ini.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Rio bertanya khawatir melihat kondisi Bian, ia menyodorkan tisu. Bian mengambil tisu beberapa lembar untuk me-lap keringatnya.


"Kondisi Anda sepertinya tidak baik-baik saja Tuan Bian, kita bisa menunda rapat ini, dan membahasnya lain waktu saja." Saran salah satu petinggi perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Bian.


"Melihat kondisi Anda memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan rapat ini, sebaiknya Anda istirahat." Timpal yang lain.


"Terima kasih sudah memaklumi, saya juga tidak menyangka kondisi saya akan seperti ini. Saya kira hanya mual biasa, tapi tahunya akan seperti ini." Jawab Bian sedikit tidak enak hati, karena yang mengajaknya bekerja sama sudah datang dari jauh.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, pertemuan berikutnya kami akan usahakan berjalan sesuai rencana." Sambung Rio, Bian mengangguk menimpali.


"Tentu saja, terima kasih. Kalau begitu sampai ketemu pada pertemuan berikutnya, saya harap pertemuan berikutnya kita sudah membahas masalah perjanjian kedua belah pihak." Para petinggi perusahaan bangun, diikuti oleh Bian dan Rio. Lalu mereka pun saling berjabat tangan.


Setelah orang-orang itu keluar, Bian menjatuhkan tubuhnya dan bersandar pada kursi mencari posisi ternyaman menurutnya, sembari menunggu Rio yang mengantar orang-orang itu pergi.


"Tuan, bagaimana keadaan Anda? Apa Anda memerlukan sesuatu?" tanya Rio sepulang dari mengantar orang-orang tadi.


"Kau lihat aku baik-baik saja?!" Bian mulai jengkel pada sekretarisnya itu, beberapa hari ini IQ-nya mulai menurut.


Rio meneguk salivanya susah, sepertinya ia salah lagi di mata bosnya. Atau bosnya yang memang sedang bermasalah. Tapi kalau merujuk pada pasal satu ayat satu bos selalu benar, dan jika merujuk pasal satu ayat dua jika bos yang salah makan kembali lagi pada pasal satu ayat satu. Nasib... nasib....


"Kau sepertinya membutuhkan cuti?"


Cuti?! Ulang Rio dalam hati, apakah ini pertanda kalau ia akan dipecat. Astaga...!


"Tidak. Tidak, Tuan. Saya tidak membutuhkan cuti." Ucap Rio tegas dengan badan tegap, siap untuk menerima pekerjaan selanjutnya.


"Hmmm...." Bian mengangkat satu alisnya, rasa mual dan pusing kembali ia rasakan.


"Kalau begitu cepat belikan aku es krim." Bian memijit kepalanya, lalu melihat jam yang bertengger di pergelangan tangan. "Lima menit, es krim itu sudah ada di sini." Lanjut Bian bangun menuju kamar mandi.


"Lima menit?! S-siap, Tuan." Rio bergegas keluar dengan terbirit-birit mencari es krim itu.


**** 


Bersambung...