
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, yaitu hari yang bersejarah bagi semua anak manusia yang menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi.
Termasuk Arini, orang biasa yang berasal dari kalangan bawah dan mendapatkan kesempatan untuk bisa berkuliah serta menyelesaikan kuliahnya sehingga mendapatkan gelar sarjana di kampus yang terkenal dan cukup elite ini. Arini masih tidak menyangka akan hal tersebut.
Air mata haru mengalir di pipinya, ia sangat bahagia karena satu dari sekian impiannya telah tercapai yaitu menyelesaikan pendidikannya.
Arini mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sudah cukup lama tidak ia temui.
Tampak muka berseri-seri terpancar dari para Mahasiswa, teman satu angkatan Arini yang baru saja menyandang gelar baru mereka. Usaha yang mereka lakukan selama delapan semester, sudah membuahkan hasil. Mereka lulus dengan nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang bagus menurut masing-masing.
Tapi, bukan berarti masalah mereka selesai ketika mendapatkan gelar dan ijazah tersebut. Masih ada masalah baru dan masalah yang lebih besar lagi, apalagi kalau bukan masalah pekerjaan. Mau kerja dimana? Kerja apa? Apakah pekerjaan nanti sesuai dengan gelar yang disandang sekarang? Begitulah pertanyaan yang terpancar di muka-muka berseri itu.
Arini masih mengedarkan pandangannya, belum menemukan sosok yang ia cari.
"Hei, cari siapa?" seseorang menepuk punggung Arini.
Arini kaget, hampir saja ia berteriak. Namun ia urungkan, ketika mendengar suara orang yang menepuk punggungnya, ia pun berbalik badan. Ia sangat hafal siapa pemilik dari suara itu.
"Huft... Dian...! Kamu bikin kaget saja!" Arini berbalik menghadap Dian, dengan tatapan marah. Dan tangan yang mengelus dadanya berulang kali.
"Hehehe... maaf." Dian cengengesan, menganggap bercanda aura kemarahan dari Arini.
"Maaf! Maaf doang? Kalau aku jantungan gimana?" ujar Arini masih dengan tatapan marahnya, dan suara mulai meninggi. Tangannya sudah tidak lagi mengelus dadanya.
"Eh... ja... jadi, kamu marah benaran? Maaf, maafkan aku, tadi aku hanya ingin menyapamu." Suara Dian bergetar, lalu menunduk. Baru kali ini, ia mendapat perlakuan seperti ini dari Arini. Tadi ia mengira, Arini hanya sedang berpura-pura marah terhadapnya untuk membalas perlakuannya barusan.
Arini menyadari, sikapnya sudah sangat keterlaluan terhadap Dian. Ia bingung, kenapa juga ia bisa marah hanya karena perlakuan seperti itu, "Apakah ini bawaan janin?" Gumam Arini dalam hati dan cepat-cepat mengubah sikapnya terhadap Dian.
"Ups... hahaha." Arini pura-pura tertawa terbahak-bahak, untuk menutupi sikapnya yang sudah sangat keterlaluan terhadap Dian.
Dian mendongak, menatap bingung pada Arini.
"Hah... kamu lucu sekali, masa begitu saja sudah ketipu." Jawab Arini berbohong dan masih pura-pura tertawa.
"Jadi, kamu nggak benaran marah kan?" tanya Dian memastikan, melihat tingkah Arini.
"Iya. Aku nggak marah kok, hanya bercanda doang." Jawab Arini meyakinkan Dian.
"Hah... syukurlah." Dian bernapas lega. "Tapi bercandanya nggak lucu tahu! Suara aku sampai gemetar, gara-gara aku kira kamu marah benaran. Kan baru kali ini, aku lihat kamu marah sama aku." Kali ini Dian yang marah dan pura-pura ngambek.
"Iya, maaf deh. Tadi aku hanya bercanda, masa gitu saja ngambek." Arini meminta maaf dan membujuk Dian.
*****
Ibu Syahra mengobrol dengan kedua orang tua Dian, Arumi duduk di samping ibunya sesekali menimpali ketika ia diajak berbicara, sedangkan Arumi dan Dian duduk di kursi yang berbeda, membahas masa depan mereka ke depannya.
"Jadi, kamu bakalan menetap di sini Rin?" tanya Dian memulai pembicaraan.
"Sepertinya begitu." Jawab Arini. "Kalau kamu gimana?" Arini balik bertanya.
"Kalau aku sih, ikut orang tua ku pulang kampung. Biar bisa bantu mereka lanjuti usahanya, aku nggak tega lihat mereka kerja lagi. Jadi, aku putuskan untuk pulang dan bekerja di sana saja." Dian menjawab, dan menjelaskan rencananya kepada Arini. "Kalau menurut kamu gimana?" Dian menanyakan pendapat Arini terhadap rencananya.
"Hmmm... menurut ku itu bagus, karena kamu bisa berkumpul bersama lagi dengan kedua orang tua mu dan sekaligus bisa menjaga mereka di umurnya yang tidak mudah lagi seperti ini. Dan lagi pula, kamu bisa kembangkan usaha orang tua mu dengan kemampuan yang kamu dapatkan selama di sini." Arini memberikan pendapatnya pada Dian.
"Iya, aku juga memikirkan hal itu. Makanya aku putuskan untuk pulang ke kampung saja." Dian menimpali. "Lagi pula tidak mudah mencari pekerjaan yang layak di sini." Lanjut Dian lagi.
"Iya, kamu benar." Ujar Arini.
"Tapi aku yakin, kamu pasti mudah saja mendapatkan pekerjaan di sini. Secara, skill kamu kan banyak di butuhkan dalam dunia kerja." Kata Dian, memuji Arini.
"Ih kamu sok tahu." Arini menimpali perkataan Dian dengan sikap biasa saja.
"Apanya yang sok tahu, yang ada kamu saja yang merendah. Semua dosen dan teman kelas kita juga tahu kok, kemampuan kamu tidak di ragukan lagi. Jadi, aku yakin kamu pasti gampang cari kerjanya di sini." Dian masih memuji Arini.
Arini yang mendengar pujian dari Dian, hanya diam dan bertingkah biasa saja. Kalau ia menjawab atau menimpali pujian dari sahabatnya ini, maka tidak akan ada habis-habisnya. Maka dari itu, Arini diam dan mencari topik pembicaraan lain.
Pembicaraan mereka berlanjut, dengan topik yang kemana-mana, yang penting acara mengobrol ini berjalan dengan mulus dan bisa menjadi obat rindu jika tidak bertemu lagi suatu saat nanti. Hingga satu suara menghentikan obrolan mereka.
"Arin, Dian, ikut foto bareng yuk." Salah satu teman kelas mereka memanggil, mengajak Arini dan Dian untuk melakukan foto bareng sebagai kenangan.
"Ok, tunggu." Jawab Arini dan Dian hampir bersamaan.
Arini dan Dian melangkah mendekati kerumunan teman kelas mereka. Semakin mendekati kerumunan itu, membuat Arini tidak tahan akan bau parfum yang digunakan teman-teman kelasnya. Bau itu sangat menyengat di hidung Arini, membuat perutnya seketika bergejolak ingin memuntahkan isinya. Tapi, sebisa mungkin Arini menahannya agar tidak membuat kekacauan di hari yang membahagiakan ini.
Acara berfoto itu berlangsung cukup lama bagi Arini, namun tidak bagi teman-temannya yang masih belum puas dengan pengambilan gambarnya.
Mereka mengulang dan mengulang gaya masing-masing, hingga gaya yang cocok menurut mereka, itu yang di ambil gambarnya. Lalu gambar yang sudah diambil, mereka lihat bersama-sama. Jika ada yang kurang bagus atau belum puas dengan gayanya, maka pengambilan gambar itu diulang kembali. Hingga beberapa menit kemudian, di dapat gambar yang cocok untuk keinginan mereka semua dan acara berfoto itu pun selesai.
Ketika acara berfoto itu selesai, membuat Arini tak segan untuk berlari menuju toilet kampus yang paling dekat dengan keberadaannya sekarang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada teman-teman kelasnya.
*****
Bersambung...