
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, sampainya di atas Bian terlebih dahulu menuju kamar Azzam.
Bian membuka pintu itu dengan masih menggendong Azzam, Arini berdiri di samping mereka. Pintu itu pun terbuka, membuat Azzam ingin turun segera, tidak sabar memasuki kamar barunya.
"Pah... Azzam mau turun." Ucap Azzam tidak sabaran. Membuat Bian menurunkan anaknya yang terus bergerak ingin turun.
Azzam memasuki kamarnya, berlari-lari di sana, melihat satu sisi ke sisi lainnya. Dan terakhir ia berhenti di sebuah lemari dengan cat putih tanpa kaca. Di dalamnya telah tersusun banyak permainan, di sisi kanan penuh dengan mobil-mobilan, di sisi kiri tersusun mainan dengan bentuk pahlawan Amerika, Hulk, dan lainnya.
"Huft...." Arini menghela napas melihat kamar anaknya yang sangat besar dan luas, catnya berwarna putih, terlihat biasa, namun isi kamar itu sungguh luar biasa tak ternilai harganya. Apalagi mainan-mainan itu, berlebihan sekali jika hanya Azzam saja yang memainkannya.
"Pah... apakah semua mainan ini untuk Azzam?" Tanya Azzam tidak percaya, karena banyak sekali permainan di dalam lemari itu.
"Tentu saja, untuk siapa lagi." Ucap Bian menghampiri anaknya.
Mata Azzam berbinar-binar, baru kali ini ia mendapatkan mainan sebanyak ini.
"Apa kau suka?" Tanya Bian berlutut, menyejajarkan tingginya dengan sang anak.
"Sangat-sangat sukaaa." Azzam langsung memeluk Bian. "Makasih pah...." Lanjut Azzam mencium pipi Bian. Bian terkekeh, Arini tersenyum, tanpa sadar ia meneteskan air mata. Haru melihat ayah dan anak itu. Semoga keluarganya tetap bahagia seperti ini terus untuk ke depannya. Do'a Arini seraya menghapus air matanya.
"Ya sudah, sekarang kita lihat kamar papa sama mama." Ucap Bian melepaskan pelukan mereka.
"Permisi Tuan, Nyonya, Tuan Muda." Dari depan pintu kamar Azzam, Pak Yanto dengan kedua putrinya Lia dan Lula membawa barang-barang Azzam yang di mobil tadi serta barang-barang dari rumah Arini yang baru saja diantar oleh orang suruhan Bian.
"Bawa masuk saja, Pak." Ucap Arini mempersilahkan. Pak Yanto dan kedua putrinya membawa masuk barang-barang itu.
"Pah... papa sama mama duluan aja lihat kamarnya, Azzam mau susun barang-barang dulu." Ucap Azzam melihat kedatangan barangnya.
"Emang bisa?" Tanya Bian.
"Bisa dong, kan ada kakak Lia sama kakak Lula yang bantu." Ucap Azzam melihat kedua remaja itu, Lia dan Lula yang mendengar itu tentu saja sangat senang. Akhirnya mereka memiliki kesempatan bermain dengan anak laki-laki menggemaskan itu.
Bian menoleh, ah benar juga. Batinnya. Ia tersenyum, dengan begitu ia bisa berduaan dengan sang istri di dalam kamar nanti.
"Baiklah." Ucap Bian berdiri, tapi sebelum itu ia mencium pucuk kepala Azzam dan mengusapnya lembut.
"Mohon bantuannya Lia, Lula." Ucap Arini pada dua remaja itu.
"Siap Nyonya." Jawab Lia dan Lula serentak.
"Barang-barang Anda juga sudah kami masukan ke dalam kamar Tuan." Ucap Pak Yanto memberitahu, Bian mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Nyonya, Tuan Muda." Ucap Pak Yanto lagi, pamit di hadapan mereka, Bian kembali mengangguk, mengucapkan terima kasih, diikuti oleh Arini yang juga mengucapkan terima kasih.
Pak Yanto keluar, Bian menghampiri Arini. Azzam sudah mulia membongkar barang-barangnya bersama Lia dan Lula.
"Ayo sayang." Ajak Bian pada Arini, menggenggam jemarinya.
"Jangan nakal sayang, nanti mama ke sini lagi." Ujar Arini pergi bersama sang suami. Kini tinggal Azzam, Lia dan Lula di kamar itu.
******
Bian dan Arini berjalan beriringan menuju kamar mereka, Bian mengapit pinggang ramping Arini agar semakin dekat dengan tubuhnya.
Dan tak lama dari itu, Bian langsung mengangkat tubuh sang istri tanpa aba-aba. Membuat Arini terlonjak kaget.
"Mas...." Arini refleks memeluk leher Bian.
"Kenapa apanya? Cepat turunin!" Ucap Arini menautkan alisnya, ia melihat ke belakang takut ada orang yang melihat mereka. Kalau ada orang, ah... mau ditaruh dimana lagi mukanya ini. Wajah Arini berubah cemas, ia masih ingat seberapa malunya ia di pernikahannya itu.
"Apa yang kamu cemaskan sayang? Ini rumah kita." Bian mengingatkan istrinya, siapa tahu istrinya ini melupakan hal itu.
"Tau mas..., tapi siapa tahu nanti dilihat sama Pak Yanto atau Bi Minah?" Ujar Arini berdecak.
"Tidak apa-apa, mereka juga tidak akan berani mengganggu." Jawab Bian enteng, dan memang kenyataannya seperti itu. Jangankan melihat mereka berdua, melihat bayangan saja sudah membuat para pelayannya menyingkir dari situ, kalau saja tidak ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan. Dan itu semua atas perintah Bian. Ia sudah membuat jauh-jauh hari peraturan itu dan memberitahukan pada para pelayannya.
"Huft...." Arini menghela napas, terserahlah. Ia memang tidak akan bisa berdebat dengan suaminya ini. Suaminya selalu mendapatkan cara untuk menjawab semua pertanyaan. Entah itu dibantu oleh kekuasaannya atau mulutnya yang sangat lihai akan hal itu. Arini kembali menghembuskan napas, bibirnya monyong, wajah cemberut.
Arini tidak sadar akan perlakuannya itu, ia telah membangunkan singa yang tengah kelaparan.
"Sayang...." Panggil Bian karena Arini menatap ke arah lain. Panggilan Bian tidak di gubris oleh Arini. Bian memanggilnya sekali lagi.
"Ap---" Tidak sempat Arini bertanya, bibirnya sudah dicium oleh Bian.
Cup... cup... cup....
Bian menghujani Arini dengan banyak ciuman, tidak hanya di bibir tapi juga semua wajah Arini, tidak satu bagian pun yang luput dari bibir seksinya. Ya, dia melakukan itu karena berusaha menahan gairahnya. Dan setelah puas Bian pun berhenti menghujani Arini dengan ciumannya, ia kembali berjalan menuju kamar mereka, masih dengan menggendong Arini.
Arini terdiam dengan perilaku suaminya, ia juga baru tersadar sudah memancing gairah sang suami. Wajah Arini memerah, ia malu sekaligus merasa bersalah. Tak sadar ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bian, tidak mau Bian melihat wajahnya yang memerah.
Bian tiba di depan pintu kamar mereka, ia membuka pintu kamar itu dengan satu tangan. Terlihat kesusahan. Arini yang menyadari itu, ia mendongak melihat wajah sang suami yang tengah berusaha membuka pintu itu.
"Mas... turunkan aku dulu, biar pintunya bisa dibuka." Arini memberi saran.
"Tidak usah sayang, aku bisa membukanya." Ujar Bian tidak menerima saran sang istri, dan masih berusaha membuka pintu itu.
"Tapi kalau seperti ini, buka pintunya susah. Makanya turunin dulu." Ujar Arini, Bian masih tidak mendengar, ia bersikukuh membuka pintu itu dengan menggendong Arini.
Arini berdecak, memiringkan badannya sedikit, lalu diraihnya kunci di tangan sang suami, dan ia pun membuka pintu itu dengan mudah.
"Pintar." Puji Bian seraya mencium kening Arini sebagai tanda penghargaan. Lalu mereka pun masuk ke dalam kamar itu.
Saat memasuki kamar itu, penciuman Arini dipenuhi oleh bunga mawar. Ia mencari keberadaan bunga mawar itu, yang ternyata berada di atas ranjang mereka yang sudah dirangkai berbentuk love di tengahnya. Wajah Arini memerah. Apa lagi ini? Batinnya.
"Selamat datang di kamar kita sayang." Ucap Bian, membawa Arini melihat-lihat kamar mereka. Ia menjelaskan satu persatu ruangan yang ada di dalam kamar itu, Arini tidak terlalu mendengarkannya karena perasaan tidak enak menyelimuti hatinya.
Sejak tadi Bian sudah menggendongnya, membawanya ke sana ke mari, ia takut Bian kelelahan. Dan jika diminta, Bian tidak akan mau menurunkannya. Maka dari itu Arini memberanikan diri untuk berbicara.
"Mas... apa kau tidak capek menggendong ku sejak tadi?" Tanya Arini menatap wajah Bian.
"Sama sekali tidak sayang." Jawab Bian, dan Arini sudah menduganya.
"Tapi aku capek, aku mau ke ranjang." Ujar Arini langsung menyembunyikan wajahnya di dada Bian, takut Bian beranggapan yang aneh-aneh dengan ucapannya.
Bian tersenyum lebar, "Tentu saja sayang." Ucapnya membawa Arini mendekati ranjang dengan semangat empat lima. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
*****
Bersambung...