
Seperti yang di katakan oleh Arini, pekerjaan akan ia alihkan kepada Arumi untuk sementara waktu. Sedangkan ia akan sibuk menyiapkan acara pernikahan mereka, bukan menyiapkan karena semua sudah di siapkan oleh calon mertuanya Mama Mira. Tetapi, lebih tepatnya mencari cincin dan baju pernikahan mereka.
"Rum, kamu ingatkan apa yang kakak katakan kemarin?" Tanya Arini, melihat adiknya masih berbaring di atas tempat tidurnya.
"Hmm... tentu saja aku ingat kak." Gumam Arumi bangun dari tempat tidurnya, meregangkan badan untuk mengumpulkan kesadaran agar melihat sang kakak yang berada di bingkai pintu kamarnya.
"Kalau ingat, kenapa kamu masih santai seperti ini? Dan kenapa pula baru bangun di jam segini? Pasti kamu tidak sholat subuh ya...!" Ujar Arini, tidak habis pikir dengan tingkah adiknya.
"Heh... aku memang mengingatnya kak, ini aku mau siap-siap." Timpal Arumi berjalan mendekati kamar mandi dengan sempoyongan, khasnya orang baru bangun tidur. "Masalah sholat subuh, aku memang tidak sholat karena lagi dapet." Lanjutnya sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Ck... ck." Decak Arini menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
*****
"Kita akan bertemu dengan siapa?" Tanya Arumi di dalam mobil yang dikendarai oleh Hana. Sekarang Arumi mulai mengambil alih pekerjaan sang kakak untuk sementara waktu dan tentunya itu dibantu oleh Hana, seperti yang dikatakan oleh Arini.
"Kita akan bertemu dengan Tuan Adi Kusuma pemilik perusahaan Kusuma Group." Jawab Hana menoleh sekilas pada Arumi. "Pertemuan ini adalah pertemuan pertama perusahaan kita dengan perubahan mereka, jadi apakah kamu sudah menyiapkan dirimu? File yang ku kirim kemarin malam sudah kamu pelajari 'kan?" Lanjut Hana.
"Tentu saja sudah ku pelajari, kamu tenang saja. Dan lihat saja nanti, kalau aku akan mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan mereka." Ucap Arumi percaya diri.
"Semoga saja begitu." Jawab Hana mengangguk.
"Ya... tentu saja! Jangan meremehkan kemampuan ku." Timpal Arumi, merasa Hana tidak percaya dengan perkataannya.
"Maaf... saya tidak berani, Bu." Ucap Hana cepat-cepat meminta maaf, dengan nada formal layaknya sekretaris yang berhadapan dengan atasannya.
"Kak Hanaaa... aku tidak setua kau dan kakakku, yah...! Jadi jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu, lagi pula aku ini bukan atasan mu. Cepat tarik kembali panggilan mu terhadap ku!" Sarkas Arumi tidak terima di panggil seperti itu oleh Hana yang bahkan lebih tua darinya.
"Hahahaha maaf-maaf...." Hana meminta maaf dengan tawanya yang terbahak-bahak, ia paling suka mengganggu Arumi untuk membalas perlakuannya terhadap dirinya.
Kedekatannya dengan Arumi tidak perlu di tanyakan lagi, mereka berdua sudah seperti kakak beradik.
"Hm." Dehem Arumi, melipat kedua tangannya, dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan, Hana memarkirkan mobil mereka di depan gedung Kusuma Group. Mereka lalu turun dari mobil, dan sudah terlihat seseorang yang berdiri tegak di sana untuk menjemput mereka.
"Apakah dia pemilik perusahaan ini?" Tanya Arumi melihat pria yang berdiri di sana.
"Bukan, dia bukan pemilik perusahaan ini. Aku dengar pemiliknya sudah sedikit tua, dan dia memiliki seorang anak laki-laki. Tapi, sepertinya itu juga bukan anak laki-lakinya." Jawab Hana, berjalan menghampiri pria itu bersama Arumi.
"Ouh... aku tidak menanyakan apakah dia anak dari pemilik perusahaan ini atau tidak." Timpal Arumi membuat Hana memutar jengah bola matanya. "Tapi mungkin dia orang suruhan untuk menjemput kita di lobi ini." Lanjut Arumi menebak.
"Sepertinya begitu." Ujar Hana, kemudian mengangguk.
Mereka terus berjalan hingga menghampiri pria yang menunggu mereka itu, pria itu menyapa mereka dan langsung menuntun mereka menuju ruangan petinggi.
"Ini ruangannya, silakan masuk." Ucap pria itu mempersilahkan Arumi dan Hana untuk masuk, sedangkan ia menunggu di luar ruangan itu.
"Masuk!"
Begitu terdengar suara dari dalam, Arumi membuka pintu dan masuk ke ruangan itu bersama Hana. Mereka melangkah mendekati meja. Sedangkan orang yang menyuruh mereka masuk, masih membelakangi keduanya dengan dua wanita cantik nan seksi di kedua sisi meja yang sedang memijat kedua lengan pria itu dengan gaya yang aneh.
"Cukup." Ucap pria itu. "Kalian bisa pergi." Lanjutnya lagi menyuruh dua wanita cantik dan nan seksi itu keluar dari ruangannya sedangkan ia memperbaiki kemeja yang ia pakai.
Arumi memutar jengah bola matanya, melihat tingkah tidak senonoh dari pria dan dua wanita di depannya ini. Sedangkan Hana mengernyit, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Karena yang ia dengar, atasan dari perusahaan Kusuma Group tidak seperti yang ia lihat sekarang, orang itu sangat terhormat, tidak boleh disentuh selai oleh istrinya. Mungkinkah ini adalah anaknya? Pikir Hana bertanya-tanya.
"Apakah dia orang yang seperti itu?" Tanya Arumi berbisik pada Hana, menatap pria di depannya.
"Setahuku dia bukan orang seperti itu." Balas Hana ikut berbisik.
Mereka menunggu beberapa menit, tapi pria itu belum juga membalikkan kursinya. Membuat Arumi gugup saja dan jantungnya terasa berdebar-debar.
"Ekhem! Permisi." Dehem Arumi pelan.
Membuat kursi kebesaran pria itu menghadap Arumi dan Hana. Pria yang duduk di kursi itu membulatkan matanya sempurna, kaget sekaligus senang melihat Arumi ada di depannya. Hal serupa juga dialami oleh Arumi, ia kaget sekaligus menatap marah pada sosok pria yang tak lain adalah Rangga. Orang yang hilang bagaikan ditelan bumi, tanpa kabar, dan tiba-tiba muncul begitu saja di depannya.
"Arumi." Panggil Rangga bangun dari kursinya dengan gerakan refleks, membuat kursi yang ia duduki terpental ke belakang.
Ia berjalan menghampiri Arumi, tanpa mengalihkan pandangannya, lalu berdiri berhadapan dan memegang kedua lengan Arumi.
Hana yang melihat itu, ia tidak bisa berkata apa-apa, karena kaget dengan kenyataan yang baru saja ia lihat. Ia tidak menyangka kalau anak dari Tuan Adi Kusuma adalah Rangga yang selama ini bekerja di restoran atasannya.
Beberapa detik, ruangan itu terasah sangat sunyi, membuat rasa kecanggungan di diri Hana yang hanya bisa melihat kedua manusia di depannya.
Ia cukup tahu kedekatan antara Rangga dan Arumi yang sebagai partner kerja di restoran, maka dari itu Rangga begitu senang karena bisa bertemu kembali dengan Arumi di sini. Pikir Hana.
"Maaf... tolong lepaskan." Ucap Arumi kemudian, lalu melepaskan dengan paksa tangan Rangga yang masih memegang kedua lengannya. Membuat Rangga terkejut akan perlakuannya itu.
"Kami datang ke sini untuk membahas masalah pekerjaan dengan perusahaan, Anda." Ucap Arumi, menatap dingin pada sosok Rangga yang juga masih menatapnya dengan pancaran kerinduan.
"Ya... benar sekali, kami datang ke sini untuk membahas masalah pekerjaan dengan perusahaan Anda." Ujar Hana membuka suara, berkata formal pada Rangga.
Rangga tidak menghiraukan perkataan Hana, ia malah melihat tatapan dingin, dan sekaligus marah yang terpancar di mata Arumi.
"Aa-apa kita bisa mulai sekarang?" Ucap Hana ragu-ragu. Membuat Rangga menoleh sebentar padanya. "Eh...." Hana mengusap sikunya, lalu memalingkan pandangannya demi menghindari tatapan tajam dari mata Rangga. Yang menurut Hana itu adalah tatapan tidak suka yang di tunjukkan padanya. Kenapa dia? Apa aku menyinggungnya? Akhhh... kenapa aku harus ada di situasi seperti ini? Runtuk Hana dalam hati.
Rangga kembali menoleh pada wajah Arumi seraya berkata, "Kerja sama antara dua perusahaan ini aku terima." Ucapnya dengan tegas.
*****
Bersambung...