My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Hukuman



Keluar dari kafe, Arini mengikuti laki-laki yang akan membawanya pergi entah kemana, Arini juga tidak tahu. Tapi yang pasti, biaya operasi ibunya akan lunas.


Laki-laki itu menyeberangi jalan dan Arini mengikutinya. Terlihat di seberang jalan sana, sebuah mobil lamborghini warna hitam mengkilap terparkir indah. Laki-laki itu naik di atas mobil dan duduk di kursi kemudi. Sedangkan Arini, tanpa disuruh ia juga naik dan duduk di kursi samping pengemudi.


"Anda sudah siap, Nona?" tanya laki-laki itu, ketika melihat Arini sudah duduk nyaman di kursinya.


Arini melihat laki-laki itu yang hanya memasang wajah datarnya tanpa melihat balik ke arahnya, lalu menjawab, "Iya, saya siap."


Mendengar ucapan Arini, laki-laki itu menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya ke tempat yang mereka tuju.


Dalam perjalanan... hening, hanya terdengar suara degupan halus mesin mobil yang berjalan dengan mulus. Hingga sepuluh menit kemudian terdengar suara laki-laki itu memecahkan keheningan di antara mereka.


"Oh ya, kita belum berkenalan bukan?" tanya laki-laki itu masih dengan wajah datarnya.


"I... iya." Jawab Arini gugup melihat wajah laki-laki itu yang semakin datar menurutnya.


"Perkenalkan, nama saya Rio Adytya. Panggil saja Rio." Ujar laki-laki itu memperkenalkan diri.


"Saya Arini Putri Kurniawan, panggil saja Arini." Kata Arini juga memperkenalkan diri.


Laki-laki yang mengaku namanya adalah Rio itu pun mengangguk. Lalu hening lagi, tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Keduanya larut dalam pikirannya masing- masing.


Rio memikirkan buat apa tuanya meminta ia untuk melunasi biaya operasi ibu dari gadis ini, dan mengapa pula gadis ini harus menjadi pembantu sehari untuk tuanya.


Sedangkan Arini memikirkan pekerjaan apa saja yang akan ia kerjakan selama menjadi pembantu atasan dari Rio. Hingga ia teringat sesuatu, dan akan menanyakannya sekarang.


"Pak Rio. Kalau boleh saya tahu, kita mau kemana?" tanya Arini, memecahkan keheningan dan rasa penasarannya sejak tadi. Sejak ia masih di kafe.


"Kita akan ke apartemen Tuan saya." Jawab Rio.


"Tuan Anda?" tanya Arini. Entah ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.


"Iya, Tuan saya. Orang yang akan melunasi biaya operasi ibu Anda dan Anda akan menjadi pembantu sehari di sana." Jawab Rio dengan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Arini.


"Oh iya... iya, saya paham." Jawab Arini cepat-cepat karena melihat perubahan ekspresi wajah dari Rio.


Lima belas menit kemudian mobil yang mereka kendarai sudah terparkir rapi di basemen apartemen atasannya Rio.


"Silakan turun, Nona." Ucap Rio pada Arini, lalu ia sendiri turun dan melangkah masuk mendekati unit apartemen tuannya.


Arini turun dari mobil, ada perasaan aneh di dadanya, tapi ia tidak tahu perasaan apa itu. Tak ingin negatif thinking Arini melangkah, mengikuti Rio yang sudah agak jauh darinya. Rio memasuki lift dan diikuti oleh Arini, lalu menekan angka enam.


Sampai di lantai enam, mereka keluar dari lift hingga tiba di sebuah pintu unit, yang diyakini adalah milik dari atasannya Rio. Rio menekan bel yang ada di dekat pintu unit apartemen tersebut.


Ting tong.... Ting tong....


Tak butuh waktu lama, pintu apartemen pun di buka oleh seseorang. Rio menunduk menyapa orang itu, yang tak lain adalah atasannya sendiri.


Ya... dia adalah Bian orang yang memerintahkan Rio untuk mencari tahu apa permasalahan dari Arini, bukan karena ia kasihan, tapi ia ingin membuat perhitungan atas perlakuan Arini terhadapnya di kantin kampus kemarin.


Bian tidak sengaja melihat Arini menangis tersedu-sedu, setelah di usir oleh pemilik kafe dari ruangannya. Ia bisa berada di kafe itu karena sedang melaksanakan meeting bersama kliennya.


Selain kuliah Bian juga sudah mengelola salah satu perusahaan ayahnya. Ia diajari ayahnya sejak umur tujuh belas tahun, saat itu ia masih duduk di bangku SMA.


"Sekarang kamu boleh pergi, dan jangan lupa kerjakan tugas yang ku berikan tadi!" Kata Bian memerintahkan Rio, yang tak lain adalah sekretarisnya.


"Baik, Tuan. Saya permisi." Jawab Rio sambil mengangguk hormat dan pergi dari hadapan Bian dan juga Arini.


"Ayo masuk!" perintah Bian pada Arini, setelah sang sekretaris Rio menghilang dari pandangan mereka.


Arini diam di tempat. Ia tercengang, bingung. Apakah ia harus masuk atau lari dari sini? Tapi, bagaimana dengan biaya operasi ibunya? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Pertanyaan demi pertanyaan muncul silih berganti, berputar-putar di benak Arini. Hingga satu suara membuyarkan lamunannya itu.


"Apakah kau akan tetap berdiri di situ, dan ibu mu tidak akan jadi di operasi?" tanya Bian penuh intimidasi pada Arini.


Arini malah semakin diam membeku, mendengar kalimat intimidasi yang terlontar dari mulut Bian. Ia memikirkan bahwa, ibunya sangat membutuhkan operasi itu sebagai penunjang untuknya sembuh dan hidup normal seperti kebanyakan orang di usianya.


"Apakah kau benar-benar tidak menginginkan ibu mu di operasi?" tanya Bian sekali lagi, mengembalikan kesadaran Arini.


Arini berpikir sebentar. Lalu melangkah masuk, mengikuti Bian dengan muka masam.


Melihat itu Bian menyunggingkan seulas senyum yang tak dapat diartikan oleh siapa pun yang melihatnya.


Masuk di dalam apartemen, Arini terperanjat kaget melihat apartemen Bian seperti kapal pecah. Apakah Bian tidak memiliki pembantu? Tapi, itu rasanya tidak mungkin, sebab diakan anak orang kaya. Masa sih, tidak memiliki pembantu. Arini bermonolog dalam hati.


Bian sengaja membuat apartemennya seperti kapal pecah, dan meliburkan para pembantunya. Ia ingin memberi hukuman pada Arini, karena telah berani melawannya di kantin kampus kemarin.


"Sekarang mulailah bekerja, bersihkan apartemen ku!" perintah Bian pada Arini.


Arini tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak ingin berurusan dengan Bian, mengingat perkataannya tempo hari padanya dan Dian. Tapi, ini demi ibunya. Ia rela menurunkan egonya dari hadapan laki- laki ini.


"Apa kau mendengarkan, ku?" tanya Bian dengan suara naik satu oktaf, karena tidak mendengar suara dari Arini.


"Iya, aku mendengarkan mu." Jawab Arini cepat, menatap sini punggung Bian yang membelakanginya.


Arini melihat sekeliling apartemen, barang- barang tidak berada pada tempatnya. Baju, botol-botol minuman, makanan ringan, kertas dan yang lainnya berserakan semua di lantai. Pasti dia sengaja melakukan semua ini. Ingin ia mengumpat, tapi ia takut dosa.


Arini melangkah mendekati barang-barang yang berserakan, lalu mulai membersihkannya. Dalam hati ia berkata, demi 'ibuku'. Aku rela melakukan semua ini.


Bian tersenyum sinis melihat Arini mulai membersihkan apartemennya. Lalu melangkah pergi, masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sampai di sana, ia masih saja tersenyum. Entah mengapa ia sangat senang, karena sudah memberikan hukuman pada Arini walaupun biayanya mahal. Ya, mahal untuk sebagian orang, tapi tidak untuk Bian.


*****


Bersambung...