
Tepat Bian mematikan telepon dari Tuan Adi, dan memasuki ruangan itu kembali. Tirai yang di gunakan Arini serentak terbuka, menampilkan sosok yang cantik nan anggun dengan gaun pengantin terbalut sempurna pada tubuhnya. Tanpa sadar, Bian melangkah mendekati sosok cantik nan anggun itu.
"Cantik." Gumam Bian pelan, terus melangkah mendekati Arini, tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun. Seolah-olah ia telah tersihir akan sosok cantik nan anggun ini.
Arini yang melihat Bian semakin mendekat ke arahnya, tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat. Apalagi ia sempat melihat gumaman bibir Bian yang memujinya 'cantik' semakin membuat jantungnya tak bisa terkontrol lagi, sudah seperti orang yang berlomba pacu kuda saja. Arini menunduk, berharap detak jantungnya bisa terkontrol, dan kembali normal seperti biasa.
Azzam yang duduk melihat Bian masuk, tanpa menoleh apalagi menyapanya. Melihat ke arah pandangan Bian yang menuju pada tirai tempat mamanya berganti pakaian. Dan ternyata mamanya sudah selesai berganti, dan sekarang mengenakan gaun pengantin yang di pilihkannya tadi.
"Mama... mama cantik sekali mengenakan gaun itu." Puji Azzam, berlari mendekati Arini.
Suara Azzam yang melengking, menyadarkan Arini dan Bian bahwa ada anaknya yang sedang menunggu di sofa. Bian sontak saja berhenti, menyadari tidak menyapa Azzam saat ia masuk tadi. Dan Arini, ia mendongak melihat sang anak yang berlari menghampirinya.
"Mama... mama cantik sekali." Puji Azzam lagi, ketika ia sudah berada di hadapan Arini dan memutari gaun yang sedang di kenakan oleh mamanya. Arini tersenyum mendapatkan pujian seperti itu dari anaknya.
"Om Bian, mama cantik 'kan?" Tanya Azzam, meminta penilaian dari Bian. Bian mengangguk mengiyakan, karena Arini memang sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu. Ah... tanpa mengenakan gaun itu pun, dia memang sudah sangat cantik. Gumam Bian memuji Arini hanya dalam hati.
"Bagaimana? Apakah ingin mencoba gaun lainnya atau membeli gaun yang ini?" Tanya salah satu pekerja butik.
"Kami beli yang ini saja." Jawab Bian, pekerjaan butik itu mengangguk. "Oh ya, gaunnya tolong diantarkan saja ke alamat ini." Lanjut Bian memberikan secangkir kertas alamat pada pekerja itu, karena ia tidak bisa menunggu gaun itu di bungkus. Sebab, membungkus gaun itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Apalagi ia harus mengurusi urusan Rangga.
"Baik, Tuan. Kami akan mengantarkan gaun ini ke alamat yang sudah tertera di sini, dan silakan Anda membayar gaunnya di kasir yang berada di sebelah kanan ruangan ini." Ucap pekerja itu, lalu membatu Arini kembali berganti dengan pakaiannya tadi. Sedangkan Bian dan Azzam pergi ke kasir untuk membayar gaunnya.
*****
Setelah dari butik untuk melakukan fitting baju pengantin mereka, Bian mengajak Azzam dan Arini untuk makan siang terlebih dahulu. Lalu selesai mereka makan siang, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Arini. Dan di sinilah mereka, di depan rumah Arini.
"Om pulang yah... jagai mama, jangan suruh capek-capek." Ujar Bian mengusap kepala Azzam lalu menciumi pucuk kepalanya. "Nanti capeknya pas selesai nikah aja." Lanjut Bian memandang Arini, dan sontak saja membuat mata Arini melebar mendengarnya. Apa maksudnya itu. Batin Arini.
"Eh... kalau orang habis nikah capek ya, Om?" Tanya Azzam tak mengerti.
"Iya, tentu saja." Jawab Bian, menaik-naikkan alisnya seraya melihat Arini. Arini yang melihat Bian seperti itu, jadi mengernyit curiga.
"Kalau begitu nggak usah nikah aja." Timpal Azzam, membuat Bian terkejut mendengarnya.
"Eh... nggak boleh gitu dong boy, kamu nggak mau panggil om jadi papa." Ucap Bian gelagapan.
"Tapi, Azzam takut mama kecapian." Jawab Azzam polos, membuat Bian menghembuskan napas tenang. Ia baru saja berpikir bahwa anaknya tidak akan mengizinkan ia menikahi Arini.
"Masalah itu Azzam nggak usah khawatir, kan ada om yang bantu dan jagain mama nantinya. Lagi pula capeknya sebentar ajak kok, habis itu enakkan." Jelas Bian, dan Azzam manggut-manggut saja.
"Eh... sudah-sudah, katanya tadi mau pulang. Ada masalah penting yang harus di selesaikan, bukan?." Ujar Arini menghentikan obrolan Bian dan Azzam, karena risih mendengarkan obrolan mereka.
"Hmm... yah sudah, om pulang dulu ya...." Bian berpamitan, mengusap kepala Azzam lagi sebelum ia benar-benar pergi. "Kalian berdua baik-baik di rumah." Lanjutnya, memandang Azzam, lalu Arini, seraya berjalan mundur menuju keberadaan mobilnya.
"Bye-bye Om... hati-hati di jalan." Azzam melambaikan tangannya, mengiringi kepergian Bian. Arini hanya mengangguk, dan melihat Bian yang memasuki mobilnya. Mobil itu melaju hingga hilang dari pandangan Arini maupun Azzam.
"Ayo sayang, masuk." Ajak Arini pada anaknya, berbalik badan bersiap memasuki rumah mereka. Namun, Azzam kembali menoleh ke belakang karena merasa ada yang memanggil namanya.
"Hai, boy... ketemu lagi?" Sapa Marvel merentangkan kedua tangannya, menyambut Azzam yang berlari menghampirinya.
"Paman kemana saja? Kenapa baru muncul sekarang? Apa paman baik-baik saja?" Tanya Azzam beruntun, yang sudah berada di atas gendongan Marvel.
"Wow... wow... pertanyaan satu-satu dong, biar paman bisa jawab. Kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu." Timpal Marvel, Azzam tertawa cengengesan.
"Pak Marvel... senang bisa bertemu dengan Anda kembali, Pak." Sapa Arini membungkuk hormat pada rekan kerjanya tiga tahu lalu. Orang yang pertama kali berani memberikan investasi paling besar di perusahaan yang baru saja di rintisnya tiga yang lalu, sehingga bisa di percayai oleh perusahaan lainnya juga untuk memberikan investasi.
"Senang juga bisa bertemu kembali dengan mu Arini, oh ya... jangan memanggilku dengan sebutan Pak. Kita tidak sedang dalam ruang lingkup kerjaan sekarang, jadi panggil lah nama ku saja." Jelas Marvel.
"Heh... I-iya, Marvel." Ucap Arini, canggung. Bagaimana pun ia tetap merasa asing dengan pria ini, seperti tiga tahu yang lalu.
"Masih sama seperti yang dulu." Batin Marvel tersenyum tipis memandang Arini yang terlihat canggung.
"Paman. Paman belum menjawab pertanyaan ku tadi." Ucap Azzam membuyarkan lamunan Marvel.
"Ehh... iya, tadi pertanyaan apa?" Marvel pura-pura lupa dengan pertanyaan yang baru saja Azzam lontarkan.
"Pamaan... hm." Azzam melipat kedua tangannya di dada, mengatupkan kedua bibirnya.
"Heh... marah, nih?" Marvel mentoel pipi gembul Azzam, terlihat sangat lucu.
"Azzam nggak marah, tapi paman jawab pertanyaan Azzam tadi. Paman kemana saja?" Tanya Azzam mengulangi pertanyaannya satu persatu.
"Prancis." Jawab Marvel jujur.
"Kenapa baru muncul sekarang?"
"Paman banyak kerjaan."
"Apa paman baik-baik saja?"
"Seperti yang kamu lihat sekarang."
"Hmm... dilihat sih, paman memang baik-baik saja." Azzam mengangguk-angguk. "Tapi paman... kenapa pergi tanpa memberitahu ku terlebih dahulu. Pas aku tanya mama, mama juga tidak tahu tentang kepergian paman." Ucap Azzam, mengingat kembali Marvel yang tidak berpamitan padanya sebelum pergi.
"Heh... i-iya, paman lupa." Jawab Marvel berbohong.
"Kenapa bisa lupa? Kan kita sering ketemu di kantor?!" Tanya Azzam lagi, tidak terima Marvel melupakannya.
Marvel jadi bingung harus menjawab apa? Ia sudah memutar otaknya sejak tadi untuk menjawab semua pertanyaan dari Azzam. Ah, sepertinya bukan hanya wajahnya yang diturunkan kepada Azzam. Tapi, kelakuannya juga. Kelakuan Azzam sangat mirip dengan kelakuan dia yang cerewet pada saat masih se-umuran ini. Sama-sama membuatku pusing saja dengan pertanyaan mereka. Gumam Marvel tak terucap.
*****
Bersambung...