
Bian yang sudah tak sadarkan diri langsung dibawa ke rumah sakit, wajah khawatir serta takut terjadi sesuatu padanya menyelimuti orang-orang terdekatnya. Terutama Arini dan Azzam.
"Huhuhu... Papa kenapa Mah... ? Kok bisa muntah sampai pingsan?" Tangis Azzam tak tertahankan usai mendengar cerita Rio dan melihat langsung keadaan papanya yang tak sadarkan diri.
Arini mengusap kepala anaknya, berusaha menenangkan walaupun ia sendiri tak tenang. "Mama juga tidak tahu sayang, tapi semoga saja papa baik-baik saja." Arini menjawab lirih.
"Apa dia salah makan?" Rangga menerka-nerka. Arini dan Rio terdiam, lalu serentak menggeleng. Pasalnya sebelum berangkat bekerja, Bian tidak memakan sesuatu pun kecuali minum teh hangat beraroma melati yang dimintanya. Sarapan yang dibuatnya sama sekali tak disentuh oleh suaminya, padahal suaminya itu tidak pernah begitu sebelumnya. Sedangkan di perusahaan, Bian memang memakan sesuatu. Ya... walaupun terkesan terpaksa memakannya tadi, tapi Rio yakin makanan yang Bian makan tidak masalah. Buktinya dia yang juga memakan makanan itu tidak kenapa-napa.
Ceklek...
Pintu ruangan emergency terbuka, menampakkan seorang dokter perempuan paruh baya bersama perawat di belakangnya.
Perhatian mereka yang harap-harap cemas akan keadaan Bian teralihkan, lalu langsung menghampiri dokter perempuan paruh baya itu.
"Bagaimana kondisi suami saya, dokter?" Tanya Arini bangun dari kursi panjang, ia tidak bisa menahan lagi rasa penasaran dan khawatirnya.
"Apakah dia baik-baik saja?"
"Tuan saya tidak kenapa-napa kan, dok?"
Rangga dan Rio ikut bangun dan langsung menanyakan keadaan Bian pada dokter yang baru saja keluar itu, meninggalkan Arumi dan Azzam di kursi panjang rumah sakit yang Arini suruh duduk tenang di sana.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter itu mengulum senyum tipis, membuat Arini dan yang lainnya menghela napas lega.
"Apakah saya boleh melihatnya?" Tanya Arini menatap dokter perempuan itu.
"Ya, Anda boleh melihatnya. Dan ada sesuatu yang ingin saya beritahu serta tanyakan pada Anda." Dokter itu merentangkan tangan kanannya, mempersilahkan Arini masuk ke ruang emergency tempat suaminya dirawat. Suster yang membantu pamit untuk mengerjakan tugasnya yang lain.
Arini masuk bersama dokter perempuan paruh baya itu, Rangga dan Rio kembali duduk di kursi tunggu bersama Arumi dan Azzam. Mereka tidak ikut masuk karena takut akan mengganggu kondisi Bian nantinya, lagi pula Bian lebih membutuhkan istrinya dari pada mereka.
Pandangan pertama yang Arini lihat, suaminya itu tengah berbaring dengan mata tertutup, tangannya terpasang jarum infus. Arini meringis, membayangkan betapa sakitnya ketika jarum infus itu menancap tepat pada pembuluh darah suaminya.
"Suami Anda kekurangan cairan, jadi saya memasangkannya infus." Dokter itu memberitahu, melihat arah tatapan Arini jatuh pada jarum infus. Arini pun mengangguk.
"Tapi Anda tidak perlu khawatir, hal tersebut memang biasa terjadi untuk orang yang mengalami muntah-muntah. Dan kalau saya tidak salah, suami Anda tengah mengalami---" Belum usai dokter itu mengatakan prediksinya, perhatian Arini teralih pada suara lirih yang memanggilnya.
"Sayang." Suara lirih Bian terdengar jelas di telinga Arini, membuat perempuan itu menghampiri suaminya yang tengah menyesuaikan cahaya dengan keadaan sekitarnya.
"Mas, syukurlah kamu sudah siuman." Bian mengangguk, mengusap pipi istrinya dengan lembut. Wajah khawatir istrinya tampak jelas, membuat laki-laki itu merutuki dirinya karena telah membuat perempuan yang dicintainya ini khawatir.
Puas mengusap pipi istrinya, pandangan Bian beralih pada dokter perempuan paruh bayah yang menatap mereka berdua dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. "Apa yang terjadi pada saya dokter, apa saya memiliki penyakit yang serius?"
"Tidak...." Dokter itu menggeleng pelan. "Anda tidak memilik penyakit sama sekali, seluruh tes yang saya lakukan menunjukkan hal baik, kondisi tubuh Anda biak." Bian mengernyit mendengarkan jawaban dokter, begitu pun dengan Arini.
"Maksudnya dok?" Tanya Bian juga mewakili istrinya yang tidak mengerti akan jawaban dokter itu barusan, karena jelas-jelas suaminya ini muntah-muntah bahkan sampai pingsan begini.
"Ya dokter, mungkin tubuh suami saya perlu diperiksa ulang."
Dokter itu kembali tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Tubuh suami Anda memang baik-baik saja, dan untuk mengetahui penyebabnya tolong jawab beberapa pertanyaan saya." Dokter menatap Arini lekat.
Perkataan dokter kembali membuat pasangan suami istri itu bingung. Namun baru saja ingin bertanya, dokter sudah kembali bersuara. Bertanya beberapa pertanyaan pada Arini yang tampak mengernyit dalam, tapi tetap menjawab semua pertanyaan dokter itu.
"Apa Anda merasakan keanehan pada tubuh Anda akhir-akhir ini?" Arini terdiam, berpikir sejenak.
"Mn... saya tidak tahu ini disebut keanehan atau tidak dok, tapi akhir-akhir ini saya sering ingin memakan sesuatu, dan porsi makanan saya juga bertambah." Jawab Arini jujur, dokter mengangguk.
"Anda ingat kapan terakhir datang bulan?" Tanya dokter pada puncaknya, karena semua gejala yang ditunjukkan pasangan suami istri ini merujuk pada prediksinya.
Arini kembali terdiam, cukup lama. "Astaga... saya telat dua minggu dok." Jawab Arini langsung menutup mulutnya, membuat dokter itu tersenyum lebar.
"A-apakah saya sedang---" Arini tidak melanjutkan ucapannya karena takut perkiraannya salah, namun tangannya sudah memegang perut datarnya.
Bian yang tak mengerti pembicaraan istrinya dengan dokter pun, tak mampu lagi menahan mulutnya yang ingin bertanya. "Jadi, apa yang terjadi dengan saya dok? Dan kenapa juga dokter menanyakan hal seperti itu pada istri saya? Apa ada kaitannya dengan kondisi saya sekarang?" Tanyanya beruntun.
"Hm...." Dokter paruh baya itu terbatuk mendengar pertanyaan beruntun dari pasiennya, ia terdiam sejenak memikirkan jawaban dari semua pertanyaan itu. "Menurut hasil pemeriksaan dan dugaan saya, memang ada kaitannya. Dan mengenai apa yang terjadi, alangkah baiknya bapak dan ibu memeriksanya di dokter obygy." Saran dokter menjawab pertanyaan Bian.
"Dokter obygy?" Ulang Bian terdiam. Ia tentu saja mengetahui tugas dokter itu, dan seketika jantungnya berdebar kencang. Darahnya seolah mengalir lebih cepat ke seluruh organ tubuhnya, membuat otaknya berjalan lebih cepat mencerna semua maksud dari penjelasan dokter serta pertanyaan dokter pada sang istri.
"I-istri sa-saya hamil, dok?" Tanyanya dengan suara tercekat dengan dada yang bergemuruh.
"Sesuai dengan gejala yang dialami oleh bapak dan ibu mengarah pada hal tersebut. Dan untuk memastikannya bisa memeriksa ke dokter obygy." Jawab dokter mengangguk tersenyum melihat raut wajah pasangan suami istri di depannya.
Ya, wajah keduanya terlihat berbinar walau sedikit. Mungkin karena kehamilan itu belum dipastikan, jadi keduanya berusaha bertingkah biasa.
*****
Mohon maaf untuk para Reader setia My Son Is My Strength karena Author baru bisa update lagi.
Kemarin Author tidak bisa update karena alat untuk Author menulis sedang bermasalah, dan sekarang baru bisa diperbaiki.
Semoga Reader bisa mengerti dan stay tune di karya ini karena akan rajin update lagi.
Makasih and love you all...
*****
Bersambung...