My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Berusaha Kuat



Dengan memantapkan hatinya. Hari ini, Arini masuk kuliah seperti biasa. Ia tidak mau terpuruk dalam kesedihannya dan mengecewakan Ibunya yang telah mendukung ia untuk meraih cita-citanya, sampai mengizinkannya untuk kuliah jauh-jauh di Jakarta. Ia tidak mau hal itu terjadi.


"Aku harus kuat, demi ibu dan adikku." Gumam Arini, menguatkan dirinya.


Arini berusaha untuk kuat dan melupakan semua kejadian pahit yang telah menimpanya, walau hanya sebentar.


Ia mengalihkan semua pikiran dan fokusnya hanya untuk kuliahnya saja, mengingat nilainya yang juga turun akhir-akhir ini.


"Arin...." Panggil seseorang, membuat Arini menoleh ke belakang. Dan ternyata itu adalah Dian sang sahabat.


"Kamu kenapa nggak berangkat kerja kemarin?" tanya Dian ketika sudah berada di sebelah Arini. Arini tersenyum, lalu menjawab.


"Kemarin aku lagi nggak enak badan." Jawab Arini jujur, walaupun terselip kebohongan di sana.


"Terus sekarang gimana? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dian dengan nada khawatirnya, menatap Arini.


"Iya. Sekarang sudah enakkan kok, kamu nggak usah khawatir." Jawab Arini menenangkan sahabatnya itu, ia tahu Dian pasti akan sangat khawatir jika menyangkut dirinya.


"Syukurlah kalau begitu." Dian mengucap syukur karena sahabatnya baik-baik saja, walaupun masih ada sedikit kekhawatiran di hatinya melihat wajah Arini yang tidak seperti biasanya. "Lalu bagaimana dengan ibumu?" tanya Dian lagi berusaha menghilangkan rasa khawatirnya.


"Ibuku, alhamdulillah baik-baik saja." Jawab Arini, menoleh kepalanya ke arah Dian dan tersenyum.


"Alhamdulillah." Jawab Dian mengucapkan syukur dan membalas senyuman dari sahabatnya itu.


"Jadi, apakah ibumu sudah di operasi?" lanjut Dian dengan bertanya pada Arini. Mengingat, Arini yang mencari uang untuk operasi ibunya.


Langkah Arini terhenti. Ia diam, tidak menjawab pertanyaan dari Dian. Matanya menatap kosong ke arah depan koridor, raut wajahnya seketika berubah menjadi sedih.


Dian juga berhenti mengikuti Arini, ia bingung kenapa Arini tiba-tiba berhenti dan raut wajahnya terlihat sedih.


Dian pun, tambah khawatir melihat perubahan raut wajah dari sang sahabat. Ia khawatir telah melukai hati sahabatnya, karena pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.


"Rin, kamu kenapa? Apakah aku salah bicara dan melukai hatimu? Maafkan aku Rin, bilang ada kata-kata ku yang melukai hatimu." Kata Dian dengan nada khawatir pada sahabatnya, lalu menunduk karena tidak enak hati pada Arini.


Arini tersadar dari lamunannya, mendengar perkataan dari Dian. Ia mengusap wajahnya kasar karena telah melukai hati sahabatnya dan membuatnya khawatir.


"Eh, nggak papa. Kamu nggak salah kok, tadi aku hanya ke ingat sesuatu." Jawab Arini. Menggelengkan kepalanya, guna mengembalikan kesadarannya dan meyakinkan pada sahabatnya bahwa ia baik-baik saja. "Maafkan aku Din, kalau telah membuatmu khawatir." Lanjut Arini.


Dian mendongak, lalu menatap Arini, dan berkata... "Nggak, kamu nggak usah minta maaf sama aku, karena kamu nggak salah." Ujar Dian menolak permohonan maaf dari sahabatnya, sambil menggeleng pelan. "Seharusnya aku yang minta maaf, karena nggak bisa bantu kamu saat sedang ada masalah seperti ini." Lanjut Dian lagi, kembali menunduk. Mungkin Arini belum mendapatkan uang untuk operasi ibunya, makanya dia sedih mendengar pertanyaannya tadi, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya itu. Dian menduga-duga dalam hatinya.


Arini yang mendengar itu refleks memeluk tubuh Dian. Ia tak tahan lagi, mendengar Dian yang terus meminta maaf padanya. Sudah cukup ia membuat sahabat ini merasa bersalah dan khawatir padanya.


"Tidak lagi, aku tidak akan lagi membuat Dian khawatir dan membebaninya dengan masalah pribadiku." Gumam Arini dalam hatinya.


"Aku harus kuat. Ya, aku harus kuat demi semua orang yang aku sayangi." Arini kembali menguatkan dirinya.


Arini mendongak menatap langit-langit koridor, berusaha menghentikan laju air matanya yang menggenang siap akan turun mengenai pipinya.


Dian yang di peluk oleh Arini pun, balas memeluk sahabatnya itu. Dan membalas ucapan terima kasih dari sang sahabat, serta mengucapkan terima kasih juga kepada Arini, karena dia juga telah menjadi sahabat terbaiknya hingga saat ini.


Air mata keduanya mengalir begitu saja, membasahi pipi mulus keduanya. Mereka melepaskan pelukan, lalu mengusap air mata masing-masing dan tersenyum kikuk, karena satu dua orang yang ada di koridor itu menatap mereka berdua dengan tatapan aneh.


Tapi Arini dan Dian, tidak memedulikan tatapan aneh dari orang-orang itu. Mereka hanya saling tatap lalu tertawa cekikikan, melihat tingkah kekonyolannya sendiri.


Tidak ingin merusak suasana, Dian tidak banyak bertanya lagi pada sahabatnya itu. Padahal, masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada sang sahabat. Tapi ia urungkan, melihat suasananya sedang tidak tepat, untuk mempertanyakan semua hal itu saat ini.


Arini dan Dian pun berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, menuju kelasnya yang memang sebentar lagi akan segera dimulai.


*****


Sudah hampir tiga minggu ini, Arini benar-benar menjauhi lelaki yang sudah menghancurkannya itu. Ia juga tak sudi kalau bertemu lagi dengannya, walau hanya berpapasan dari jarak jauh sekalipun.


Arini berusaha mati-matian untuk menghindari laki-laki itu, juga dengan teman-temannya. Walaupun teman-temannya tidak tahu menahu tentang kejadian yang telah terjadi antara dia dan Bian. Tapi menurut Arini, segala sesuatu yang menyangkut lelaki itu, wajib untuk ia hindari. Seperti saat ini. Arini sedang berlari menghindari ketiga lelaki itu, yang tengah berjalan ke arahnya.


"Bagaimana ini?" tanya Arini berulang kali pada dirinya. Pasalnya, ia tak dapat menemukan tempat untuk ia bersembunyi, karena ia tengah melewati koridor panjang dan ruangan yang ia tidak kenali. Ia menoleh kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sedangkan ketiga pemuda itu sudah terlihat dari ujung sana.


Arini memutar otaknya, dan... ia menemukan tempat untuknya bersembunyi.


Ceklek... Arini membuka pintu ruangan itu.


Ternyata ini adalah ruangan Mahasiswa baru. Arini menunduk, lalu masuk ruangan itu. Seluruh mata fokus menatapnya, lalu kembali pada tatapan awalnya. Mereka mengira, Arini adalah dosen yang akan masuk mengajar hari ini. Tapi tidak, melihat penampilan Arini, mereka mengira Arini adalah anak baru seperti mereka, yang baru masuk hari ini.


Arini duduk di kursi kosong, lalu pura-pura membuka buku yang ia bawa dan membacanya. Jujur Arini sangat gugup berada di ruangan asing yang baru saja ia masuki ini, tapi ia juga bersyukur karena orang-orang yang ada di ruangan ini, hanya mengabaikannya saja dan terlebih lagi belum ada dosen yang mengajar. Sungguh keberuntungan memihak pada Arini sekarang.


Terdengar suara tawa dari kedua teman Bian di luar sana, sambil berjalan terus melewati ruangan tempat Arini bersembunyi. Hingga tidak terdengar lagi suara dari ketiganya, Arini bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia membuka pintu itu perlahan lalu menoleh kepalanya ke arah yang telah di lewati oleh ketiga lelaki itu.


"Huft...." Arini bernapas lega ketika tidak melihat penampakan dari ketiga lelaki itu, ia berjalan keluar menutup pintu dan pergi menuju kelasnya yang sebenar-benarnya.


Orang-orang yang ada di ruangan persembunyian Arini, hanya mengedikan bahu melihat tingkah Arini. Lalu kembali pada urusannya masing-masing.


*****


Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya baru Author.


Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.


I Love You All...


*****


Bersambung...