My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pengganggu



Mobil menderu pelan di depan rumah, Arini yang sedang asik makan rujak dengan Lia dan Lula, segera menuju pintu utama.


Ternyata Bian yang pulang, ia berjalan sempoyongan dengan dibantu oleh Rio. Sindrom Couvade ini sungguh menyusahkannya.


Arini yang melihat suaminya dipapah oleh Rio segera berlari kecil menghampirinya. Rasa khawatir tiba-tiba menyelimuti.


"Mas...."


"Jangan lari sayang, aku tidak apa-apa." Bian memperingati dengan suaranya yang lirih.


Arini ingin mengambil alih memapah suaminya itu, tapi Bian tidak membiarkan. Ia tentu saja tidak mau membuat istrinya menahan beban tubuhnya yang berat. Alhasil pikiran perempuan yang tengah hamil muda itu jadi ke mana-mana.


"Tidak usah sayang, biarkan Rio saja. Ia akan mengantarkan ku sampai ke kamar." Bian mengusap kepala istrinya yang wajahnya tidak bisa diartikan. Entah ia sedang tersinggung karena ucapannya barusan.


Sampai di kamar, Bian langsung dibaringkan di tempat tidur. Ia menoleh ke arah pintu melihat istrinya yang ia kira mengikuti mereka dari belakang, namun nyatanya tidak.


"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" tanya Rio membuyarkan lamunan Bian yang tengah memikirkan istrinya.


"Tidak ada, kau boleh pergi." Bian mengusir Rio dengan lambaian tangan. Rio pun pergi dan tak lupa berpamitan pada bos besarnya itu.


Berselang Rio pergi, Arini pun masuk dengan membawa nampan di tangannya yang berisikan bubur dan air minum. Yaaa... raut wajahnya memang belum bisa diartikan, tapi kepeduliannya pada sang suami tentu saja tidak bisa diragukan.


"Mau ke mana sayang." Bian menghentikan langkah Arini yang tiba-tiba ingin pergi setelah menyimpan nampan yang ia bawa di atas nakas.


"Mau keluar, lagi pula aku tidak dibutuhkan." ucap Arini sedikit ketus membelakangi suaminya.  


Dan sekarang Bian tahu, ternyata istrinya sedang merajuk karena perkataannya tadi. Ia dengan gerak cepat memeluk pinggang wanita yang telah ia buat tersinggung ini, lalu menurunkannya pelan agar duduk di ranjang sampingnya.


"Maaf telah membuatmu tersinggung." Ia menempatkan hidungnya dipunggung Arini, aroma istrinya langsung membuat ia merasa tenang dan rileks, rasa mual serta pusingnya tiba-tiba sirna entah ke mana.


Bian menggerakkan hidungnya ke kiri dan ke kanan, membuat Arini kegelian namun ia tahan karena tidak mau berbicara dengan suami. Tak mendapatkan respon dari istrinya tentu tak membuat Bian menyerah, tangganya yang memang berada di perut istrinya itu ia bawa masuk menyelusup ke dalam baju. Perlahan tapi pasti, tangannya kini bertengger di benda favoritnya yang masih terbungkus dengan kacamata.


"Mas ihh... mesummm!" Ia memukul tangan nakal suaminya yang meremas dua bukit kembar itu.


"Kangen sayang, butuh energi." Hembusan napas hangat Bian menerpa daun telinga Arini, membuat ia merinding sendiri.


Tak tahu kapan Bian melakukan, kini Arini sudah duduk di atas pangkuannya dan wajah mereka saling berhadapan. Bian mendekatkan wajahnya dengan sang istri, tepatnya bibir  mereka. Ia mengecupnya sekilas.


"Maaf sayang, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, tapi takut kamu kelelahan." ucap Bian tulus, dan Arini melihat kelurusan itu dari suaminya. Ia juga tidak tahu kenapa ia tiba-tiba tersinggung tadi, mungkin bawaan janin.


Arini mengangguk, menerima permohonan maaf suaminya. Dengan malu-malu ia membalas kecupan suaminya. Pada saat ia ingin melepaskan, Bian tak membiarkan dan malah menarik tengkuk lehernya memperdalam ciuman mereka.


Niat mengecup sekilas, malah dijadikan kesempatan oleh suaminya. Tapi walaupun begitu Bian menciumnya dengan lembut namun menuntut, membuat Arini jadi terbawa suasana membalas setiap yang dilakukan suaminya.


Ciuman Bian turun ke leher jenjang Arini, terlihat meninggal jejak di sana yang tak terlalu kentara. Tangannya tentu saja tak tinggal diam, kini sudah kembali menaungi bukit kembar yang semakin montok saja menurutnya. Sedangkan Arini sendiri, mendongak ke atas agar memudahkan Bian mengakses leher jenjangnya, dan tangannya mengalun di leher sang suami.


Tiga kancing atas kemeja Arini terlepas, Bian bisa melihat dua bukit kembar istrinya yang menyembul keluar dari kacamata. Sungguh menggoda untuk dinikmati.


Tak menunggu waktu lama, kini Bian tengah bermain di tempat favorit nya itu. Mengecupnya dalam hingga meninggal jejak merah, lalu menyentuhnya dengan ujung lidah yang basa. Rasa aneh seperti disengat listrik menggelitik Arini, membuat ia ingin mendesah namun di tahan.


Bian membawa Arini di bawah kungkungannya dengan hati-hati, bibir mereka tak lepas, saling bertaut. Ia melanjutkan menanggalkan baju istrinya, dan tersisa kancing kemeja terakhir.


"Oh, Shittt!" maki Bian dalam hati, geram, karena tidak bisa melanjutkan aktivitas mereka.


Dari luar pintu semakin diketuk, lalu tak sabar orang itu menarik kenop pintu yang ternyata tak di kunci. Amarah Bian hampir sampai di ubun-ubun melihat keberanian orang ini. Namun sesaat kemudian amarah runtuh, lebur, berkeping-keping, tak kalah mendengar suara yang sangat mereka kenali. Bian menggaruk kepalanya, salah tingkah.


"Mamah... Papah...." Teriak Azzam tertahan. "K-kok?"


Tak berpikir panjang Bian mengambil bubur di nampan lalu menyuapi istrinya yang tengah berbaring di atas ranjang. Arini menerima saja suapan bubur itu dari suaminya karena ia tidak tahu harus melakukan apa.


"Mama kenapa? Bukannya papa yang baru keluar dari rumah sakit?" tanya Azzam bingung menghampiri kedua orang tuanya, ia baru saja pulang di antar Arumi dan langsung menuju kamar kedua orang tuanya. Bahkan tas sekolahnya belum ia simpan, masih ia tenteng di belakang punggung.


"Eh... mama tidak apa-apa sayang." jawab Arini kikuk, sembari terus menerima suapan bubur dari Bian.


"Terus—" ucapan Azzam terpotong oleh bubur yang tiba-tiba sudah ada di depan mulutnya. Sengaja Bian lakukan agar anaknya tidak bertanya yang macam-macam. Arini sendiri menahan napas, namum beberapa detik kemudian ia bernapas lega. Entah pertanyaan seperti apa yang akan Azzam lontarkan lagi, dan lebih-lebih jawaban seperti apa yang Arini dan Bian siapkan.


"Ih... Azzam nggak mau, nggak ada rasanya." Tolak Azzam menggeleng menghindari bubur itu, ia pernah memakannya sekali ketika sakit dulu, dan itu karena terpaksa.


"Kamu sudah makan kan sayang?" tanya Arini cepat mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sudah, di rumah nenek. Tadi kita singgah ke sana."


"Oh ya." Azzam ikut naik di atas tempat tidur, Bian membantu anaknya itu.


"Dedek bayi apa kabar? Kapan keluarganya biar kita bisa main sama-sama?" Azzam berbicara di depan perut mamanya.


"Yang pasti belum keluar sekarang, masih lama. Lebih baik anak papa keluar dulu yah...." Sahut Bian dengan nada tak biasanya, terselip penekan di sana, berharap anak tampan bak dewan ini bisa keluar secepat mungkin. Tahu saja dia waktu ketika orang tuanya ingin berdua, selalu  saja datang mengganggu.


"Ih... papa kenapa? Sensi bangat keliatan, 'kan Azzam juga mau sama mama, bukan papa aja." balas Azzam dengan nada yang sama.


Bian menghela napas. "Tapi—"


"Nggak ada tapi-tapi, Pah. Azzam mau bobo siang di sini... titik," ucap Azzam tak ingin di bantah.


Mata ayah dan anak itu saling pandang, seperti ada kilatan merah yang terhubung.


"Ya sudah, anak mama bobo di sini. Tapi tasnya lepasin dulu." Arini menyudahi aksi mereka.


"Siap mamah...." Azzam melepaskan tasnya lalu berbaring di tengah memeluk mamanya.


"Tapi sayang...." Wajah Bian pias, ingin protes.


"Sudah, kamu juga tidur Mas."


Bian kembali menghela napas, dan hanya bisa mengurut dadanya saat ini. Lalu ikut membaringkan tubuhnya dengan memeluk sang istri dan anak tersayang yang sayangnya sungguh menyebalkan.


*****


Bersambung...