My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Terima Kasih



"Mamaaa...." Teriak Azzam girang, karena hari ini mamanya lah yang menjemputnya.


Arini berjalan, menghampiri kedua orang itu. Memandangi wajah mereka yang saling berdekatan itu secara bergantian, sungguh mirip bagai pinang dibelah dua, hanya saja usai yang membedakan keduanya.


"Hm, kenapa dia begitu mirip dengan lelaki itu? Padahal aku yang mengandungnya dan membesarkannya!" runtuk Arini berjalan mendekati kedua orang itu.


Semakin Arini mendekat, semakin membuat Azzam girang. Bersiap mengulurkan tangannya agar di gendong oleh Arini. Sedangkan Bian, ia menjadi sangat gugup tak terkendali.


Baru kali ini, ia merasakan gugup yang sangat luar biasa seperti ini. Menghadapi proyek triliunan Rupiah saja, ia tak se-gugup ini. Malahan terkesan biasa saja, bahkan lebih santai.


Dan jangan di tanya lagi jantungnya, yang sekarang semakin berpacu cepat berkali-kali lipat. Sudah seperti lomba pacu kuda yang mendekati area finish.


"Mama." Azzam mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Arini dengan senang hati. Mengabaikan Bian yang berada sedikit dekat dengannya.


"Terima kasih, karena sudah menolong anak saya." Ucap Arini tanpa menoleh kepada Bian, setelah Azzam berada di gendongannya.


"Tunggu." Arini bersiap membalikkan badannya, tapi di tahan oleh tangan kekar Bian.


Arini melotot, melihat pergelangan tangannya yang dipegang oleh Bian. Mendapatkan reaksi itu, Bian pun cepat menyingkirkan tangannya dari pergelangan tangan Arini.


"Mm... maaf." Ucap Bian sedikit gugup.


"Ada apa lagi?" tanya Arini setelah tangan Bian terlepas dari pergelangan tangannya, seraya menatap tidak bersahabat pada Bian.


"Hmm... itu." Tunjuk Bian dengan memiringkan kepalanya pada sekerumunan orang-orang tadi.


"Kenapa?" tanya Arini melihat sekerumunan orang-orang itu, yang juga tengah melihat ke arah mereka.


"Apa kamu tidak melihat tatapan-tatapan mereka?" tanya Bian menelisik bola mata coklat Arini.


"Emangnya kenapa dengan tatapan mereka?" tanya Arini yang tidak mengerti dengan tatapan orang-orang itu.


"Mereka menatap kita sebagai keluarga kecil, dan kamu dengar sendiri 'kan? Aku mengatakan Azzam adalah anakku untuk menolongnya tadi." Bian menjelaskan, tampaknya kegugupannya mulai menghilang perlahan.


"Jadi...?" tanya Arini yang masih belum mengerti, sesekali menoleh ke arah kerumunan yang masih setiap melihat ke arah mereka.


"Jadi, kita harus tampak seperti keluarga kecil!" Bian menarik pinggang Arini, mendekapnya agar mendekat pada tubuhnya. Lalu membawa Arini dan Azzam berjalan keluar dari gedung sekolah itu.


"Kamu...!" Arini menatap tajam pada Bian, memberontak kecil. Karena tangan Bian sudah mendekap pinggangnya erat.


"Sudah, jangan memberontak. Nanti mereka akan curiga." Bian berbisik pada telinga Arini, membuat Arini terpaku menahan geli akibat perbuatan Bian itu. "Sungguh tidak etis, jika mereka tidak melihat keromantisan dari keluarga kecil ini." Lanjut Bian berbisik.


"Dasar! Pencari kesempatan dalam kesempitan." Runtuk Arini sepanjang jalan keluar dari gerbang sekolah itu yang pinggangnya masih setia di dekap oleh Bian.


Bian tersenyum semringah, biarlah ia di katakan seperti itu. Yang penting Arini dan Azzam terus berdekatan dengan dirinya, dan ini merupakan awal perkembangan dari perjuangannya selama ini. Azzam tertawa geli menutup mulutnya, melihat tingkah dua orang dewasa ini.


Sampai di gerbang, Arini berusaha melepaskan tangan Bian yang tak sadar dengan perlakuannya sejak tadi.


"Sudah, tidak ada lagi yang melihat kita." Ucap Arini masih berusaha melepaskan tangan Bian, ia sudah sangat risih dengan perlakuan ini. Dengan terpaksa Bian pun melepaskan tangannya itu.


Setelah tangan kekar itu terlepas, Arini melangkah kan kakinya menuju mobilnya berada. Bian menatap kepergian Arini dengan sangat tidak rela.


Baru beberapa langkah, satu suara menghentikan Arini.


Suara itu terus terngiang-ngiang, yang tak lain berasal dari perut Azzam.


"Hehehe... lapar." Ujar Azzam tersenyum malu, dengan pipi yang sudah memerah.


Arini menatap sang anak, tersenyum. "Baiklah, sebelum pulang bagaimana kalau kita makan dulu?" tanya Arini yang mendapatkan anggukan antusias dari Azzam.


"Ok, let's go to the restaurant." Ucap Arini menyemangati Azzam yang tengah lapar.


"Yes, let's... tunggu mah." Ujar Azzam tiba-tiba, menghentikan langkah Arini.


"Kenapa sayang?" tanya Arini bingung.


"Ajak Om Bian sekalian, sebagai tanda terima kasih karena telah menolong ku." Ujar Azzam menoleh kepalanya kepada Bian yang tengah tersenyum ke arahnya. Bian senang, semoga saja Arini mau mengajaknya dan makan siang bertiga.


"Tidak sayang." Ucap Arini menolak.


"Kenapa?" tanya Azzam menunduk sedih, dan membuat Bian seketika kecewa, senyum di wajahnya pun hilang.


"Om Bian sibuk, banyak kerjaan di kantor. Jadi tidak bisa membuang waktunya yang sangat berharga itu hanya untuk makan bersama kita." Ujar Arini mencari alasan, karena memang sebenarnya ia tak ingin mengajak Bian untuk makan bersama mereka.


"Apakah itu benar, Om?" tanya Azzam memastikan perkataan mamanya pada Bian.


"Tidak, om tidak sibuk kok." Jawab Bian menggeleng cepat. "Om bersedia makan bersama kalian berdua sebagai tanda menerima terima kasih dari Azzam." Lanjut Bian mendekat ke arah Arini dan Azzam.


"Om Bian tidak sibuk, mah. Jadi, ayo kita ajak dia makan bertiga." Ujar Azzam memelas pada Arini.


Arini menatap jengkel pada Bian, "Ya, Anda memang tidak sibuk. Tapi, masih ada beberapa pekerjaan di kantor, bukan?" Arini masih mencari alasan, agar Bian tidak ikut makan bersama mereka berdua.


"Ya, benar. Tapi tenang saja, sekretaris ku Rio akan menghandle semua itu." Ujar Bian mengambil kunci mobil di tangan Arini, dan memasuki mobil itu dengan santainya mengabaikan tatapan Arini yang semakin jengkel padanya.


"Ayo, mah. Om Bian sudah di atas mobil." Azzam antusias mengajak Arini menaiki mobil mereka, karena sudah ada Bian di dalam sana.


Arini melangkah, mendekati mobil itu, dan masuk ke dalamnya. Iya terpaksa mengikuti keinginan sang anak, tidak ingin merusak pancaran kebahagiaan di wajah Azzam. Mengabaikan egonya yang tidak bisa mencegah Bian untuk tidak ikut bersama mereka.


Bian tersenyum, dan mulai menyalakan mesin mobil itu ketika melihat Arini maupun Azzam sudah memakai sabuk pengamannya masing-masing.


Tanpa Bian sadari, seseorang yang berada di mobilnya terlonjak kaget mendengarkan perkataannya barusan.


"Ba-bagaimana bisa dia mengatakan tidak sibuk? Bukankah hari ini ada pertemuan dengan perusahaan Amazon Group, pertemuan dengan Tuan Leo di Mall Central Park, melakukan survei di taman bermain Kidzania, dan menandatangani berkas penting yang belum sempat ia tanda-tangani tadi pagi?" Rio menelusuri list pekerjaan tuannya hari ini pada sebuah buku kecil.


"A-apa...!" teriaknya, karena baru menyadari akan satu hal. "A-apakah aku tidak salah dengar? Kalau d-dia mengatakan sekretaris ku Rio akan menghandle semua itu?" Rio memukul-mukul kepalanya di dasboard mobil.


"Aakkh... sepertinya tidak, aku mendengar dengan sangat jelas ia mengatakan itu." Rio terlonjak, segera keluar dari mobilnya untuk menghentikan Bian. Tapi, mobil yang Bian naiki sudah melaju jauh dari tempatnya sekarang berdiri.


"Aaakhhh... nasib, aku harus mengerjakan sendiri lagi semua pekerjaan itu." Ujar Rio mengacak rambutnya frustrasi. Menatap gusar kepergian mobil itu yang semakin jauh, sampai hilang dari pandangannya.


*****


Bersambung...