My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pindah Kontrakan



Setelah diusir dari rumah kontrakannya, kini Arini dan keluarga mencari rumah kontrakan baru. Dan semoga saja di rumah kontrakan barunya nanti tidak akan ada orang-orang yang menghina mereka. Arini harap-harap cemas, karena kasihan pada ibunya. Ia tidak ingin ibunya juga mendapatkan hinaan seperti yang ia dapatkan.


Lama mereka mencari, akhirnya setelah siang berganti sore mereka mendapatkan rumah kontrakan baru. Rumah kontrakannya ini terdiri dari tiga buah kamar tidur, sebuah kamar mandi, sebuah dapur, dan satu buah ruang tamu. Memang tidak terlalu besar dari rumah kontrakan lamanya. Tapi, kawasan rumah kontrakan barunya ini terlihat bersih dan tidak kumuh seperti kawasan rumah kontrakannya dulu. Orang-orangnya juga terlihat ramah-ramah, tapi entahlah nanti. Yang penting, saat ini mereka terlihat ramah dimata Arini dan keluarganya.


"Penghuni baru ya, Neng." Tanya seorang ibu yang baru saja melewati kontrakan Arini. Terlihat Arini yang sedang menyapu halaman rumah kontrakannya, sedangkan Arumi dan ibunya membersihkan rumah kontrakan bagian dalam agar layak untuk dihuni.


"Eh iya, Bu. Perkenalkan nama saya Arini." Ujar Arini memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.


"Oh, Neng Arini ya. Perkenalkan nama ibu 'Ranti Rosmini' panggil aja ibu Ranti. Oh ya, kita tetanggaan sebelahan ya. Rumah ibu ada di sebelah kiri rumah Neng Arini." Ujar ibu tadi yang mengaku namanya ibu Ranti seraya menunjuk keberadaan rumahnya.


Arini mengangguk mengiyakan perkataan ibu Ranti. "Salam kenal ya, Bu. Semoga kita menjadi tetangga yang akur." Do'a Arini.


"Iya Neng, aamiin." Ibu Ranti mengamini.


"Oh ya, tadi ibu lihat ada dua orang lagi. Itu siapanya, Neng?" tanya ibu Ranti penasaran.


"Oh... dua orang tadi, itu ibu sama adek saya, Bu. Namanya ibu Syahra dan adek saya bernama Arumi." Jawab Arini memperkenalkan keluarganya.


Ibu Rasti mengangguk-anggukan kepalanya, lalu sesaat kemudian ia kembali bertanya. "Saya lihat perutnya sudah memasuki tiga bulan ya?" Arini mengangguk mengiyakan. "Terus suaminya mana, Neng. Kok saya tidak lihat dari tadi?" tanya ibu Ranti lagi menolehkan kepalanya ke segala arah mencari sosok lelaki.


Hufhh... Arini menghembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari ibu Ranti. "Ternyata ibu Ranti memiliki tingkat kekepoan yang tinggi." Gumam Arini dalam hati.


Akhirnya Arini pun mulai menjawab pertanyaan dari ibu Ranti, tentunya ia menjawab pertanyaan itu dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan.


"Jadi begitulah ceritanya, Bu." Ujar Arini menunduk sedih pada ibu Ranti.


"Apa?! Jadi kamu menikah sirih, terus ditalak sama suami kamu karena mendapatkan perempuan yang lebih kaya dan lebih cantik dari kamu." Ucap ibu Ranti mengulangi cerita Arini. Arini kembali mengangguk sedih.


"Dasar laki-laki brensek, tidak tahu diri, tidak tahu malu, main tabur benih begitu saja, syukur-syukur kamu nggak gugurin itu janin." Ucap ibu Ranti berapi-api menatap kasihan pada Arini.


"Iya, Bu. Saya tidak gugurin janin ini karena bagaimana pun janin ini adalah anak saya, titipan Yang Maha Kuasa yang harus saya jaga." Timpal Arini.


"Iya saya setuju sama kamu Arini, anak juga kan sumber rezeki. Dan tidak hanya itu, banyak orang di luar sana yang mengharapkan bisa punya anak, tapi Yang Maha Kuasa belum ngasih-ngasih karena mereka belum dipercayakan untuk menjaga anak. Jadi, bagaimana pun kamu harus tetap bersyukur dan tetap semangat dalam menjaga dan membesarkan anak mu, walaupun tanpa laki-laki brensek itu." Kata ibu Ranti menasihati Arini panjang lebar. Arini kembali mengangguk setuju.


"Eh... maaf ibu telah mengatakan ayah dari anak mu itu laki-laki brensek, tapi memang dia adalah laki-laki paling brensek dari sekian laki-laki brensek karena telah meninggal mu hanya demi perempuan yang kaya dan lebih cantik itu." Kembali ibu Ranti berkata dengan berapi-api.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa, memang dia pantas mendapatkannya." Kata Arini mendukung perkataan ibu Ranti.


"Oh ya, mantan suami siri mu itu tahu kalau kamu punya anak?" tanya ibu Ranti dengan suara yang agak tenang.


"Tidak, Bu. Emang kenapa?" jawab Arini sekaligus bertanya karena penasaran.


"Oh... bagus kalau begitu." Timpal ibu Ranti mendengar jawaban Arini.


Arini mengernyitkan dahi tambah bingung, lantas ia kembali bertanya. "Bagus kenapa, Bu?"


"Iya bagus Arini, dengan begitu laki-laki brensek itu tidak akan bisa mengangguk hidup kamu dan anakmu nanti." Jawab ibu Ranti memberi penjelasan pada Arini.


"Bu... ibu...." Panggil seseorang di sebelah sana, rupanya di rumah ibu Ranti.


Ibu Ranti yang mendengarkan panggilan dari anaknya, langsung menepuk jidatnya sendiri. "Oalah... karena asyik ngobrol sama kamu jadi lupa anterin pesanan anak saya." Kata ibu Ranti sambil nyengir sendiri. "Ya sudah kalau begitu, ngobrolnya di lanjut nanti aja ya... saya mau antar pesanan anak saya dulu, sama kamu juga silakan lanjutin nyapunya." Kata ibu Ranti sambil berlalu dari depan halaman rumah kontrakan Arini.


"Iya, Bu. Silakan." Kata Arini sopan.


*****


Hari semakin sore sebentar lagi berganti malam, Arini masuk ke dalam rumahnya ketika sudah menyelesaikan pekerjaannya yaitu menyapu halaman.


Ketika dia masuk, terlihat rumah sudah bersih, barang-barang sudah di susun pada tempatnya. Terlihat perfect dan sudah layak untuk dihuni.


"Wah... rumahnya bersih banget." Puji Arini seraya duduk di kursi tempat Arumi dan juga ibunya duduk untuk beristirahat.


"Iya dong, kan yang bersihin Arumi sama ibuuu." Jawab Arumi bangga akan hasil perkerjaannya dan sang ibu, seraya memukul dadanya bangga berulang kali. "Iya kan, Bu?" tanya Arumi beralih pada ibunya. Ibunya mengangguk mengiyakan.


"Wah... iya, kamu memang the best Rum." Kembali Arini memuji adiknya. "Makanya, kamu itu sangat cocok jadi---" Kata Arini tertahan karena suara Arumi.


"Hayooo... cocok jadi apa? Jangan bilang jadi cleaning servis. O-GA-H!!!" Kata Arumi menebak. "Pokoknya aku nggak mau dibilang jadi cleaning servis karena kata-kata itu adalah do'a." Lanjutnya lagi, tidak terima.


"Ih... ih... kamu ge'er banget! Siapa juga yang mau bilang kamu itu cocok jadi cleaning servis." Kata Arini menimpali perkataan Arumi. Karena memang ia tidak ingin mengatakan hal itu, tapi sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa memang Arumi cocok jadi adiknya yang paaaaliiing ter-the best. Tapi apalah daya, Arumi sudah memotong perkataannya. Jadi, pujian itu tidak tersampaikan di telinga sang adik.


"Terus, tadi kakak mau bilang apa?" tanya Arumi memicingkan matanya.


"Pikir aja sendiri." Jawab Arini mempermainkan adiknya.


"Ibuuuuu...." Panggil Arumi dengan nada memelas, berharap ibunya bisa membantu, agar Arini sang kakak mau menjawab pertanyaannya karena ia sudah dibuat penasaran oleh sang kakak.


Ibu yang di panggil seperti itu, hanya diam nyengir saja tidak berniat ingin ikut campur.


"Makanya, kalau orang lagi ngomong itu jangan sering dipotong. Jadi... mikir aja sendiri kelanjutan kata-katanya." Kata Arini tersenyum menang kepada sang adik, lalu sebelum Arumi kembali berteriak ia cepat-cepat berlalu dari situ dan masuk ke kamar mandi.


"Huftt... dasar bumil. Emang dia kira, hanya dia apa yang bisa mempermainkan orang. Tunggu aja nanti kalau lagi ngidam, nggak akan aku bantu." Runtuk Arumi kesal pada sang kakak, lalu membekap kedua tangannya di dada, tanda ia sedang kesal.


*****


Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya baru Author.


Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, Gift, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.


I Love You All...


*****


Bersambung...