My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Jadi Percayalah



Azzam yang di perlakukan begitu oleh teman-teman neneknya hanya bisa menghela napas, terpaksa menerima semua cubitan-cubitan yang mengarah pada pipi gembul nya yang sekarang semakin gembul saja. Ia berharap ada seseorang yang menolongnya dari semua cubitan ini.


Kegersangan Azzam tentu saja tidak diketahui oleh neneknya ini, mama Mira. Karena dia sibuk memamerkannya, tanpa melihat pipinya yang semakin gembul bahkan hampir memerah ini.


Alysha yang melihat perlakuan mama dan teman-teman sosialitanya pada sang ponakan, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan perlakuan mereka terhadap Azzam.


Lalu tanpa membuang banyak waktu lagi, ia pun memanggil nama keponakannya itu. Berniat menyelamatkannya dari para ibu-ibu ini.


"Azzam." Panggil Alysha menghampiri Azzam.


"Aunty Alysha." Azzam refleks menoleh, melihat kedatangan Alysha yang semakin menghampirinya. Matanya berbinar, berharap Alysha datang untuk membebaskan dirinya dari teman-teman neneknya ini.


"Tadi kamu bilang mau makan kue 'kan?" Tanya Alysha, mengedipkan satu mata, mengirim kode pada Azzam.


"Iya Aunty, Azzam mau makan kue." Ucap Azzam yang langsung mengerti kode dari Alysha, ia berusaha melepaskan kedua tangannya yang di pegang oleh nenek dan teman neneknya ini.


"Hehe... kalau begitu ayo." Alysha mengulurkan tangannya untuk Azzam, namun belum disambut oleh Azzam karena kedua tangannya masih belum dilepas oleh mama dan teman mamanya.


"Eh, biar nenek aja yang temani kamu makan kue yah...." Tawar mama Mira yang tidak mau jauh-jauh dengan cucunya.


"Iya, sekalian tante yang temani ya...." Teman mama Mira ikut menimpali.


"Tidak usah Mah, Tante, biar Alysha aja. Lagi pula kalian nggak takut dengan kesehatan kalian?!" Alysha berusaha menolak tawaran mereka.


"Ndak papa kok sekali-sekali, iya kan?" Teman mama Mira masih ngotot ingin menemani Azzam makan kue.


"Eh... bagaimana kalau kuenya nanti bisa bikin berat badan kalian naik? Kalian nggak takut apa tubuh sempurna kalian ini menjadi gendut dan berlemak?" Alysha masih berusaha menolak, bahkan ia mengeluarkan jurus terampuh-nya.


"Ah... masa!" Mereka masih tidak percaya.


"Iya, Tante. Kalau tidak percaya silakan dicoba, tapi nanti jangan salahkan Alysha. Kan Alysha sudah ingetin loh...." Alysha meyakinkan para ibu-ibu ini.


"Eh, kalau begitu tante minta maaf ya... nggak bisa temani Azzam makan kue." Teman mama Mira melepaskan genggamannya pada tangan Azzam, lalu mengusap kepala Azzam membiarkannya makan kue bersama Alysha saja.


"Ya udah Sha, kamu temani cucu mama untuk makan kue." Ujar mama Mira kemudian. "Jaga dia baik-baik ya, awas kalau sampai kenapa-napa sama cucu mama." Lanjut mama Mira, memberikan Azzam pada Alysha.


Mendengar itu, Alysha maupun Azzam tersenyum lebar dalam hati. Akhirnya ibu-ibu ini mengalah juga.


"Yuk... ikut Aunty." Alysha kembali mengulurkan tangannya pada Azzam, dan di terima oleh Azzam dengan senang hati.


*****


Di sisi lain Rangga sedang mencari kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan Arumi, ia sudah menunggunya sejak tadi, mengikuti di mana pun Arumi pergi.


Tapi perempuan itu seolah menghindarinya, ia sengaja berbicara berlama-lama dengan teman-temannya, bahkan pura-pura akrab dengan para tamu yang bahkan tidak di kenalnya.


Melihat perlakuan Arumi seperti itu, tentu saja Rangga tidak tinggal diam. Ia menghampiri Arumi dan langsung menariknya pelan, menuntun Arumi untuk mengikutinya di tempat yang nyaman untuk mereka berdua berbicara.


"Pinjam sebentar ya...." Ucap Rangga pada teman bicara Arumi.


"Eh iya, silakan. Pinjam lama-lama juga nggak papa kok." Jawab teman bicara Arumi, seraya melihat Rangga yang membawa Arumi pergi.


"Ih... apaan sih, lepaskan!" Arumi meronta, ingin dilepaskan oleh Rangga.


"Lepaskan...!" Lagi-lagi Arumi meronta.


"Diam atau aku cium!" Ancam Rangga, mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi.


Mata Arumi melebar, ia refleks menutup bibirnya. Dan mendorong pelan wajah Rangga dengan jari telunjuknya agar menjauh dari wajahnya.


Melihat itu Rangga menyunggingkan seulas senyum. Ternyata mengancam perempuan ini ada bagusnya juga.


Dan akhirnya Arumi pun mengikuti langkah Rangga tanpa meronta lagi. Karena itu adalah cara paling aman agar laki-laki ini tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada dirinya.


Kalau saja di sini tidak terlalu banyak orang, dan takut mengganggu acara pernikahan kakaknya. Tentu saja sudah Arumi beri pelajaran pada laki-laki ini, apalagi mengingat kejadian terakhir kali mereka bertemu, membuat emosi Arumi semakin naik saja.


Mereka tiba di tempat yang lumayan sepi, dan jauh dari jangkauan para tamu undangan.


Rangga melepaskan tangan Arumi yang sedari tadi ia genggam, lalu memandang wajahnya yang sepertinya tidak bersahabat untuk di ajak berbicara.


Tapi walaupun begitu Rangga tetap akan berbicara dengannya, menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka berdua.


"Aku ingin berbicara dengan mu." Ucap Rangga mulia berbicara.


"Ya... aku tahu, makanya kau mengajakku ke sini." Jawab Arumi ketus.


Rangga menghela napasnya, mendengar nada ketus dari Arumi. Namun, itu tidak mematahkan semangatnya untuk memperbaiki kesalahpahaman ini. Ia pun membalas sikap Arumi dengan senyum manis miliknya.


"Kau ketus begitu, semakin imut deh...." Puji Rangga, untuk mencairkan sikap Arumi.


"Sudah! Jangan basa-basi, cepat katakan apa yang mau kau katakan!" Nada Arumi semakin ketus saja, pujian Rangga tidak mempan padanya.


"Baiklah-baiklah... aku akan mengatakannya, tapi kau harus berjanji tidak akan pergi sebelum aku menyelesaikan semua cerita ku dulu." Rangga membuat kesepakatan.


"Cepat katakan! Atau tidak sama sekali!" Nada Arumi kini penuh penekanan, emosinya mulai memuncak. Membuat Rangga sedikit menciut.


"Kemari tidak seperti yang kamu lihat." Ucap Rangga mulai menjelaskan.


"Tidak seperti yang ku lihat? Nyata-nyatanya perempuan itu adalah pacar mu kan?!" Arumi menaikkan satu alisnya. "Ups... bukan, dia calon istri mu." Lanjut Arumi meralat ucapannya, rupanya ia sempat mendengar perkataan perempuan yang ada di perusahaan Rangga tempo hari, yang mengatakan 'kalau anak mereka mau makan'.


"Itu tidak benar! Dia bukanlah pacarku, apalagi calon istri ku!" Rangga membantah ucapan Arumi. "Dia memang pernah menjadi pacarku." Lanjut Rangga, membuat Arumi meradang mendengarnya.


"Tapi kami sudah putus, dan perempuan itu datang kembali serta mengakui kalau anak yang di perutnya itu adalah anak ku." Jelas Rangga.


"Tapi kenyataannya dia bukanlah anak ku." Ucap Rangga cepat, takut Arumi salah paham. "Aku memang mengakui kalau aku sangat playboy dulu, tapi se-playboy nya aku. Aku tidak pernah tidur dengan seorang perempuan pun." Lanjut Rangga, Arumi memicingkan mata, mencari kebohongan di mata laki-laki ini. Namun, Arumi tidak menemukannya.


"Perempuan itu menjebak ku, pada saat aku mabuk berat. Tapi, di situ kami tidak melakukan apa-apa sama sekali." Rangga masih menjelaskan.


"Jadi percayalah, perempuan itu bukanlah pacar atau pun calon istri ku." Ucap Rangga lagi.


*****


Bersambung...